Ringkasan Inovasi
Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi wisata berbasis kawasan hutan yang unik dan bernilai edukasi tinggi dengan meluncurkan Wana Wisata Wono Aji pada 1 Januari 2019—sebuah destinasi ekowisata yang memanfaatkan lahan hutan Perhutani KPH Cepu seluas 1,5–2 hektare menjadi ruang rekreasi, edukasi, dan pemberdayaan ekonomi warga desa secara terpadu. BUMDes Gemah Ripah Ngraho bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat menjadi pengelola yang mengintegrasikan wahana petualangan, edukasi sejarah sumur minyak kolonial, kuliner, dan kerajinan lokal dalam satu kawasan yang mudah diakses dari tepi Jalan Raya Cepu–Randublatung. [1][2]
Tujuan utama inovasi ini adalah mengubah paradigma masyarakat desa dari yang semula menggantungkan hidup pada hasil hutan secara ekstraktif—termasuk penebangan pohon—menjadi masyarakat yang menjaga dan melestarikan hutan karena hutan yang terpelihara menghasilkan pendapatan wisata yang jauh lebih berkelanjutan. Dampak langsung yang sudah dirasakan adalah terbukanya lapangan kerja baru di sektor pariwisata, berkembangnya usaha UMKM warga dari 17 desa sekitar, dan muncul identitas baru Desa Ngraho sebagai desa wisata edukasi sumur minyak pertama di Blora bagian selatan. [3][4]
| Nama Inovasi | : | Wana Wisata Wono Aji Kedungtuban — Ekowisata Edukasi Hutan dan Sumur Minyak Kolonial Desa Ngraho |
| Alamat | : | Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Sumarji (Kepala Desa Ngraho), BUMDes Gemah Ripah Ngraho, LMDH Kedinding, Pemerintah Kecamatan Kedungtuban (Camat Dasiran), difasilitasi oleh Perhutani KPH Cepu |
| Kontak | : | Kantor Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah; Instagram: @wanawisatawono (pantau perkembangan terkini di media sosial Desa Ngraho) |
Latar Belakang
Desa Ngraho terletak di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah—sebuah wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan Perhutani KPH Cepu yang kaya akan potensi alam namun selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan warga desa. Dukuh Kedinding tempat Wana Wisata Wono Aji berada menyimpan warisan sejarah yang luar biasa: puluhan titik sumur minyak tua peninggalan masa Kolonial Belanda yang tersebar di kawasan pegunungan Kedinding, yang merupakan bagian dari Lapangan Minyak Kedinding yang pernah menjadi lokasi penambangan aktif. Potensi sejarah industri minyak ini belum pernah dikemas sebagai produk wisata edukasi yang dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat desa sekitar. [1][5]
Masalah utama yang melatarbelakangi inovasi ini adalah keterbatasan pilihan mata pencaharian warga Desa Ngraho yang berbatasan dengan kawasan hutan, sehingga aktivitas penebangan dan pengambilan hasil hutan secara liar menjadi ancaman nyata terhadap kelestarian ekosistem hutan Kedinding. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Blora mengidentifikasi bahwa desa-desa pinggir hutan membutuhkan alternatif diversifikasi mata pencaharian yang berkelanjutan agar warga tidak lagi bergantung pada eksploitasi hutan. Tanpa alternatif ekonomi yang nyata dan menggiurkan, ajakan untuk menjaga hutan hanya akan menjadi slogan tanpa daya ubah. [6][3]
Peluang transformasi terbuka ketika Pemerintah Kecamatan Kedungtuban bersama Perhutani KPH Cepu dan Pemerintah Desa Ngraho mengidentifikasi bahwa kawasan hutan Kedinding memiliki kombinasi aset wisata yang sangat langka: panorama pegunungan yang indah, air terjun tiga bidadari di tengah hutan, jalur petualangan jeep dan trabas ke puncak Gunung Purwosuci, dan yang paling unik adalah puluhan sumur minyak tua bersejarah yang tidak ada duanya di wilayah Blora bagian selatan. Dalam waktu hanya 10 hari setelah mendapat persetujuan pinjam pakai lahan dari Administratur Perhutani KPH Cepu, masyarakat desa bergotong royong membangun fasilitas wisata pertama dari nol. Kecepatan pembangunan yang luar biasa ini mencerminkan antusiasme dan kepemilikan komunitas yang sangat kuat terhadap proyek wisata yang mereka harapkan mengubah nasib ekonomi desa. [4][7]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan Wana Wisata berbasis ekowisata dan wisata edukasi sejarah yang mengintegrasikan tiga pilar secara sinergis dalam satu kawasan hutan: pilar petualangan dan rekreasi alam, pilar edukasi sejarah warisan kolonial, dan pilar pemberdayaan ekonomi lokal melalui UMKM dan kerajinan tradisional. Inovasi ini lahir dari gagasan sederhana namun cerdas: mengubah aset alam dan sejarah yang selama ini “tidur” tidak produktif menjadi magnet wisata yang mengalirkan pendapatan langsung kepada masyarakat desa yang selama ini menjadi penjaga ekosistem hutan tanpa kompensasi yang memadai. [1][3]
Cara kerja Wana Wisata Wono Aji beroperasi melalui sistem pengelolaan terpadu oleh BUMDes Gemah Ripah Ngraho dan LMDH Kedinding. Pengunjung yang datang dapat menikmati berbagai wahana dan atraksi yang dikembangkan secara bertahap: flying fox dan wahana permainan anak, spot swafoto eksotik berlatar panorama hutan dan pegunungan, arena trabas dan rute mobil jeep menyusuri jalur pegunungan Kedinding menuju puncak Gunung Purwosuci yang memiliki nilai wisata religi karena terdapat makam Tumenggung Windunotonegoro, air terjun tiga bidadari di tengah hutan, serta edukasi sumur minyak tua peninggalan Kolonial Belanda yang menjadi keunikan utama yang tidak ditemukan di destinasi wisata manapun di wilayah ini. Selain wisata alam, pengunjung juga dapat belajar langsung cara pembuatan garam tradisional, pembuatan sepatu dan sandal, serta pembuatan angklo (tungku tradisional) di Dukuh Ningalan yang terintegrasi dalam paket wisata edukasi desa. [1][2]
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama dan paling menentukan adalah negosiasi dan pengurusan izin pinjam pakai lahan hutan kepada Administratur Perhutani KPH Cepu yang menjadi landasan legal seluruh pengembangan wisata. Setelah izin diperoleh, masyarakat desa langsung bergerak dalam mode gotong royong intensif: dalam 10 hari saja mereka berhasil membangun rumah pohon, spot selfie, ayunan, wahana permainan anak, dan flying fox dari material yang sebagian besar diambil dari sumber daya lokal. Kecepatan dan semangat swadaya ini menjadi bukti nyata bahwa ketika warga merasa memiliki proyek dan manfaatnya langsung kembali kepada mereka, kapasitas komunitas untuk bergerak sangat luar biasa. [4][7]
Soft opening pada 1 Januari 2019 yang dihadiri langsung oleh Bupati Blora Djoko Nugroho memberikan momentum publik yang sangat kuat dan sekaligus menjadi ajang identifikasi tahap pengembangan berikutnya. Camat Kedungtuban Dasiran mengumumkan rencana pengembangan rute wisata yang lebih panjang, menembus Desa Kalen melalui kerjasama BUMDes antar desa—sebuah visi ambisius yang membutuhkan kerjasama lintas desa dan lintas institusi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kepala Desa Sumarji secara bersamaan mengajukan permohonan izin pengelolaan sumur-sumur minyak tua yang sudah tidak beroperasi agar dapat dijadikan objek wisata edukasi resmi yang menghadirkan pengalaman unik bagi pengunjung. [1][4]
Proses pengembangan fasilitas dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran BUMDes, dimulai dari wahana yang paling cepat bisa dioperasikan dan menghasilkan pendapatan awal. Stand UMKM untuk 17 desa sekitar, kamar mandi, mushola, dan ruang pertemuan dari bahan portakem dibangun pada tahap berikutnya untuk melengkapi ekosistem wisata yang lebih komprehensif. Perkembangan paling menggembirakan terlihat pada April 2025 ketika media sosial merekam keramaian Pasar Wisata Wono Aji di Dukuh Kedinding yang menyajikan kuliner dan jajanan tradisional, membuktikan bahwa wisata ini terus berkembang dan semakin hidup enam tahun setelah diluncurkan. [8][6]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan adalah terwujudnya ekosistem kolaborasi multipihak yang solid antara empat aktor kunci: Pemerintah Desa Ngraho sebagai inisiator dan pengarah kebijakan, BUMDes Gemah Ripah sebagai pengelola profesional, LMDH Kedinding sebagai mitra yang menguasai pengetahuan tentang kawasan hutan dan memiliki relasi kerja sama yang sudah terbentuk dengan Perhutani, dan Perhutani KPH Cepu sebagai penyedia lahan yang memberikan legitimasi hukum bagi operasional wisata. Tanpa izin Perhutani, tidak ada satu meter pun fasilitas wisata yang bisa dibangun secara legal; tanpa LMDH, pengelolaan kawasan hutan tidak bisa dilakukan secara bertanggung jawab. [1][2]
Faktor kedua adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Sumarji yang memiliki keunikan latar belakang personal: beliau adalah mantan penambang sumur minyak tua di kawasan Lapangan Kedinding, sehingga memiliki pengetahuan mendalam tentang potensi dan sejarah kawasan yang ingin dikembangkan menjadi wisata. Pengetahuan insider ini memungkinkan Sumarji merumuskan konsep wisata edukasi sumur minyak yang autentik dan berbeda dari destinasi wisata biasa, sekaligus membangun kredibilitas dan kepercayaan warga bahwa wisata ini dipimpin oleh seseorang yang benar-benar memahami kekayaan lokal yang mereka miliki. Dukungan eksplisit Bupati Djoko Nugroho yang hadir dalam soft opening dan berjanji membantu pengembangan wisata menjadi jaminan politis yang memperkuat komitmen semua pemangku kepentingan. [3][7]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling terukur dari inovasi Wana Wisata Wono Aji adalah terbukanya ruang ekonomi baru bagi warga dari 17 desa sekitar melalui stand UMKM yang disediakan di kawasan wisata, mengubah kawasan hutan yang sebelumnya berstatus “tidak produktif bagi warga” menjadi ruang penghidupan bersama yang berkelanjutan. BUMDes Gemah Ripah Ngraho sebagai pengelola mulai menghasilkan pendapatan dari tiket masuk, sewa wahana, parkir, dan bagi hasil dengan pengelola UMKM—aliran pendapatan yang seluruhnya tidak ada sebelum wisata ini diluncurkan. Aktivitas wisata yang terus berkembang terbukti mampu mengaktifkan ekonomi lokal secara organik, sebagaimana terlihat dari tumbuhnya Pasar Wisata Wono Aji yang semakin ramai pada 2025 dengan deretan pedagang kuliner dan jajanan tradisional. [4][8]
Dampak lingkungan yang paling penting adalah terciptanya insentif ekonomi yang nyata bagi warga untuk menjaga dan melestarikan hutan. Bupati Blora Djoko Nugroho secara eksplisit menyatakan harapan bahwa dengan berkembangnya wisata ini, warga tidak lagi menebang pohon melainkan justru ikut menjaga dan melestarikan hutan demi keberlanjutan ekonomi wisata mereka sendiri. Transformasi motivasi dari “menebang hutan karena butuh pendapatan” menjadi “menjaga hutan karena hutan yang terjaga menghasilkan lebih banyak pendapatan” adalah dampak paling strategis yang jauh melampaui nilai ekonomi wisata itu sendiri. [3][5]
Dari sisi posisi wisata di level nasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui platform Jadesta (Jaringan Desa Wisata) telah mengakui Wisata Edukasi Sumur Minyak Tua sebagai atraksi desa wisata di Blora, sebuah pengakuan formal dari pemerintah pusat yang membuka pintu akses ke program pengembangan desa wisata nasional dan pemasaran wisata yang lebih luas. Kabupaten Blora juga memasukkan Wano Wisata Wono Aji ke dalam peta diversifikasi destinasi wisata kabupaten, menempatkan Kecamatan Kedungtuban untuk pertama kalinya dalam peta wisata Blora yang sebelumnya didominasi oleh kawasan utara seperti Cepu dan Randublatung. [9][6]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan modal pengembangan fasilitas wisata yang harus bersaing dengan kebutuhan operasional desa lainnya. BUMDes yang baru terbentuk dan belum memiliki cadangan modal yang besar harus mengandalkan pendapatan organik dari wisata untuk membiayai pengembangan fasilitas berikutnya—sebuah model bootstrap yang lambat namun berkelanjutan. Konsekuensinya adalah beberapa rencana pengembangan ambisius seperti jalur jeep yang menembus Desa Kalen dan pengelolaan resmi sumur minyak tua untuk edukasi terpaksa menunggu kesiapan modal dan perizinan yang tidak bisa diselesaikan dalam jangka pendek. [1][3]
Kendala kedua adalah kepastian hukum pinjam pakai lahan Perhutani yang bersifat temporal dan harus diperpanjang secara periodik, menciptakan ketidakpastian jangka panjang bagi BUMDes dalam merencanakan investasi infrastruktur yang nilainya cukup besar. Tanpa kepastian tenure lahan yang lebih permanen, investor dan lembaga keuangan akan ragu membiayai pengembangan fasilitas wisata yang lebih besar karena khawatir investasi mereka hangus jika izin pinjam pakai tidak diperpanjang. Dibutuhkan kesepakatan kerjasama jangka panjang yang lebih kuat antara BUMDes, LMDH, dan Perhutani yang memberikan kepastian operasional minimal 10–20 tahun. [5][6]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Wana Wisata Wono Aji dijaga melalui pengembangan produk wisata yang terus diperluas dan diperbarui agar wisatawan selalu menemukan pengalaman baru setiap kali berkunjung. Kerjasama BUMDes antar desa—khususnya dengan BUMDes Desa Kalen untuk membuka rute jeep lintas desa—akan menciptakan paket wisata yang lebih komprehensif dan bernilai lebih tinggi, sekaligus mendistribusikan manfaat ekonomi wisata ke desa-desa yang lebih luas di Kecamatan Kedungtuban. Integrasi dengan platform Jadesta Kemenparekraf yang sudah diakui akan membuka akses ke program pengembangan desa wisata nasional, pelatihan SDM pariwisata, dan pemasaran digital yang dapat meningkatkan jumlah kunjungan secara signifikan. [7][9]
Dalam jangka panjang, BUMDes Gemah Ripah perlu mengembangkan model pendapatan yang lebih beragam dengan menambahkan layanan paket wisata edukasi untuk pelajar dan mahasiswa yang menjadikan sumur minyak tua Kedinding sebagai laboratorium sejarah industri perminyakan Indonesia. Sinergi dengan Pertamina sebagai penerus sejarah industri minyak di Blora dapat membuka peluang pendanaan corporate social responsibility (CSR) untuk pengembangan infrastruktur wisata dan pelatihan pemandu wisata lokal yang profesional. Model keberlanjutan yang paling kuat adalah ketika seluruh warga desa—dari pedagang UMKM hingga pemandu wisata dan pengelola wahana—merasakan manfaat ekonomi langsung yang membuat mereka secara kolektif termotivasi menjaga kualitas wisata dan kelestarian kawasan hutan Kedinding. [3][5]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Wana Wisata Wono Aji Desa Ngraho memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Wana Wisata Wono Aji membuka sumber pendapatan baru bagi warga Desa Ngraho dan 17 desa sekitar yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian dan hasil hutan, menciptakan lapangan kerja di sektor pariwisata, kuliner, kerajinan, dan jasa pemandu wisata yang menyerap tenaga kerja lokal. Stand UMKM untuk 17 desa yang disediakan di kawasan wisata mendistribusikan manfaat ekonomi wisata secara luas kepada pelaku usaha kecil yang sebelumnya tidak memiliki akses ke pasar yang ramai dikunjungi. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | : | Wisata edukasi sumur minyak tua peninggalan Kolonial Belanda menjadi ruang pembelajaran sejarah industri perminyakan Indonesia yang autentik dan berbasis pengalaman langsung, jauh lebih berkesan bagi pelajar dibandingkan membaca di buku teks. Program edukasi pembuatan garam tradisional, pembuatan sepatu/sandal, dan pembuatan angklo di Dukuh Ningalan memberikan pengetahuan keterampilan lokal yang memperkaya wawasan dan apresiasi pelajar terhadap kearifan teknologi tradisional yang terancam hilang. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | BUMDes Gemah Ripah Ngraho sebagai pengelola wisata menciptakan lapangan kerja formal yang layak bagi pemuda desa di sektor pariwisata, mengurangi tekanan urbanisasi yang selama ini menjadi masalah desa-desa di Blora bagian selatan. Pertumbuhan Pasar Wisata Wono Aji yang terus berkembang sejak 2019 hingga 2025 membuktikan bahwa sektor pariwisata berbasis sumber daya lokal mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi desa yang berkelanjutan. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | : | Pengembangan Wana Wisata Wono Aji yang mengintegrasikan warisan sejarah sumur minyak kolonial ke dalam destinasi wisata memberikan contoh bagaimana komunitas desa dapat merawat warisan budaya dan sejarah lokal sekaligus menjadikannya aset ekonomi yang menguntungkan. Kawasan wisata yang dilengkapi fasilitas mushola, kamar mandi, ruang pertemuan, dan stand UMKM menjadikan Dukuh Kedinding sebagai ruang publik komunitas yang hidup dan inklusif. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | : | Pengembangan ekowisata di lahan hutan Perhutani KPH Cepu menciptakan insentif ekonomi yang nyata bagi warga untuk melindungi dan melestarikan kawasan hutan Kedinding, menggantikan motivasi eksploitasi yang selama ini mendorong penebangan liar. Kemitraan antara BUMDes, LMDH, dan Perhutani dalam pengelolaan wisata hutan membangun sistem tata kelola sumber daya alam berbasis komunitas yang menempatkan masyarakat desa sebagai penjaga ekosistem yang termotivasi secara ekonomi untuk menjaga kelestariannya. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Model kemitraan multipihak antara Pemerintah Desa, BUMDes, LMDH, Perhutani KPH Cepu, Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Kabupaten Blora membuktikan bahwa inovasi wisata desa yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas institusi yang terorganisir dengan baik. Rencana kerjasama BUMDes antar desa untuk membuka rute wisata yang menembus Desa Kalen merupakan model kemitraan antardesa yang menciptakan nilai bersama lebih besar dari yang bisa dihasilkan oleh satu desa secara sendiri-sendiri. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Wana Wisata Wono Aji sangat relevan untuk direplikasi di ratusan desa pinggir hutan di seluruh Indonesia yang memiliki pola masalah serupa: kawasan hutan yang kaya potensi alam dan sejarah namun belum termanfaatkan, warga yang bergantung pada ekstraksi hutan, dan BUMDes yang membutuhkan unit usaha yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan. Kunci keberhasilan replikasi terletak pada tiga elemen yang bisa ditransfer: terbentuknya kemitraan formal dengan Perhutani atau KLHK untuk akses legal ke lahan hutan, keberadaan LMDH yang aktif sebagai mitra pengelola kawasan, dan kepemimpinan desa yang kreatif dalam mengidentifikasi keunikan aset lokal yang tidak dimiliki destinasi lain. Desa-desa di sekitar kawasan hutan di Blora, Rembang, Pati, dan Grobogan yang memiliki karakteristik serupa dapat langsung belajar dari model Wono Aji tanpa harus memulai dari nol. [2][6]
Untuk scale up yang lebih sistematis, Kementerian Desa PDTT bersama Kemenparekraf perlu mengintegrasikan model wisata hutan berbasis BUMDes–LMDH–Perhutani ke dalam program pengembangan Desa Wisata Nasional yang sudah berjalan melalui platform Jadesta. Pengembangan kurikulum pelatihan “Desa Wisata Hutan” yang mendokumentasikan metodologi dan pelajaran dari Wona Wisata Wono Aji akan memungkinkan ribuan desa pinggir hutan di seluruh Indonesia mengadopsi inovasi serupa secara lebih cepat. Dengan lebih dari 10.000 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan negara di Indonesia, potensi replikasi model ini sangat besar untuk mengubah kawasan hutan yang selama ini diperlakukan sebagai ladang eksploitasi menjadi sumber kehidupan yang terjaga dan berkelanjutan. [9][7]
Daftar Pustaka
[1] Suara Banyuurip, “Wono Aji, Wisata Baru di Blora yang Layak Dikunjungi,” suarabanyuurip.com, 1 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://suarabanyuurip.com/2019/01/01/wono-aji-wisata-baru-di-blora-yang-layak-dikunjungi/
[2] Infodesanews, “Wana Wisata Wono Aji Kedungtuban telah di Lounching,” infodesanews.com, 31 Des. 2018. [Online]. Tersedia: https://www.infodesanews.com/wana-wisata-wono-aji-kedungtuban-telah-di-lounching/
[3] Berita Bojonegoro, “Wana Wisata Wono Aji Blora jadi Destinasi Wisata Baru,” beritabojonegoro.com, 1 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://beritabojonegoro.com/read/16444-wana-wisata-wono-aji-blora-jadi-destinasi-wisata-baru.html
[4] Jateng Provinsi, “Bupati Sambut Baik Soft Opening Rintisan Wana Wisata Wono Aji,” jatengprov.go.id, 1 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://jatengprov.go.id/beritadaerah/bupati-sambut-baik-soft-opening-rintisan-wana-wisata-wono-aji/
[5] Bloranews, “Flying Fox dan Wahana Permainan Anak Jadi Daya Tarik di Wana Wisata Wono Aji,” bloranews.com, 1 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.bloranews.com/flying-fox-dan-wahana-permainan-anak-jadi-daya-tarik-di-wana-wisata-wono-aji/
[6] Dinas PMD Kabupaten Blora, “Program Dinas PMD untuk Desa Pinggir Hutan,” pmd.blorakab.go.id. [Online]. Tersedia: https://pmd.blorakab.go.id/index.php/berita/detail/31
[7] Perhutani, “Desa Ngraho Rintis Destinasi Wana Wisata,” perhutani.co.id, 2 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.perhutani.co.id/desa-ngraho-rintis-destinasi-wana-wisata/
[8] Instagram @desangraho, “Pasar Wisata Wono Aji Dukuh Kedinding Desa Ngraho Kecamatan Kedungtuban,” instagram.com, 4 Apr. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.instagram.com/reel/DIFxIOuyHtm/
[9] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Atraksi Wisata Edukasi Sumur Minyak Tua – Jadesta,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/atraksi/wisata_edukasi_sumur_minyak_tua
[10] Pemerintah Kabupaten Blora, “68 LMDH Terima Dana Sharing dari Perhutani,” blorakab.go.id, 8 Agu. 2017. [Online]. Tersedia: https://www.blorakab.go.id/index.php/public/berita/detail/353/68-lmdh-terima-dana-sharing-dari-perhutani
[11] Infodesaku, “Air Terjun Tiga Bidadari Andalan Wisata Desa Ngraho,” infodesaku.co.id, 12 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.infodesaku.co.id/2019/01/12/air-terjun-tiga-bidadari-andalan-wisata-desa-ngraho/
