Ringkasan Inovasi

BUMDes Tunjungtejo Barokah di Desa Tunjungtejo, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, meluncurkan inovasi penjualan minyak goreng curah berkualitas menggunakan mesin dispenser digital yang cara kerjanya menyerupai pompa bahan bakar di SPBU. Warga cukup membawa wadah sendiri dari rumah, mulai dari botol hingga jeriken, lalu mengisi sesuai kebutuhan tanpa batas minimal pembelian, sehingga harga lebih terjangkau karena bebas biaya kemasan. [1][2]

Tujuan utama inovasi ini adalah menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa di tengah fluktuasi harga minyak goreng kemasan yang kerap tidak terjangkau oleh rumah tangga berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM skala kecil. Dampaknya mencakup penghematan pengeluaran rumah tangga, peningkatan daya beli pelaku usaha mikro lokal, serta pengurangan sampah plastik kemasan secara signifikan sebagai kontribusi nyata terhadap kelestarian lingkungan desa. [2][3]

Nama Inovasi:Pom Migor Digital – Dispenser Minyak Goreng Curah Sistem SPBU BUMDes Tunjungtejo Barokah
Alamat:Desa Tunjungtejo, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Mubasir (Direktur BUMDes Tunjungtejo Barokah) bersama pengurus dan pemerintah Desa Tunjungtejo
Kontak:Jl. Klepu–Pituruh KM 2,5, Desa Tunjungtejo, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo; Jam operasional: 08.00–16.00 WIB

Latar Belakang

Minyak goreng merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang paling dirasakan dampaknya ketika harga bergejolak, terutama bagi rumah tangga miskin di perdesaan dan pelaku UMKM kuliner skala mikro. Sejak krisis minyak goreng pada 2021–2022 yang menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga di seluruh Indonesia, pemerintah desa di berbagai daerah mulai mencari solusi distribusi alternatif yang dapat menstabilkan akses warga terhadap komoditas ini. Kabupaten Purworejo sebagai daerah pertanian dengan banyak pelaku usaha rumahan yang bergantung pada minyak goreng murah merasakan tekanan yang sama. [1][4]

Sebelum inovasi ini hadir, warga Desa Tunjungtejo harus membeli minyak goreng dalam kemasan plastik atau botol standar yang harganya lebih tinggi karena sudah memasukkan biaya kemasan, biaya distribusi berlapis, dan margin pedagang eceran. Bagi ibu rumah tangga dengan anggaran belanja ketat dan pedagang kaki lima yang membutuhkan minyak dalam jumlah cukup besar setiap hari, selisih harga ini sangat terasa dan mengurangi margin keuntungan usaha. Kebutuhan akan alternatif pembelian yang lebih fleksibel dari sisi takaran dan lebih hemat dari sisi harga belum pernah dijawab oleh entitas usaha manapun di tingkat desa. [2][3]

Peluang inovasi semakin terbuka lebar ketika di daerah lain mulai bermunculan inisiatif serupa. Di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, pada Agustus 2025, Bupati Hendrajoni meluncurkan program “Pom Migor” berbasis mesin dispenser digital dengan paket investasi senilai Rp35 juta yang sudah mencakup mesin, tandon kapasitas 1.000 liter, stok awal, dan izin usaha. Di Gunungkidul, Yogyakarta, sebuah koperasi desa juga viral pada 2025 karena menjual minyak curah menggunakan sistem dispenser dengan harga mulai Rp5.000 per pembelian. BUMDes Tunjungtejo Barokah menangkap momentum ini dan mengadaptasinya menjadi unit usaha resmi desa yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. [5][6]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah unit usaha penjualan minyak goreng curah berbasis mesin dispenser digital berkonsep “Pom Migor” yang memungkinkan konsumen mengisi minyak secara mandiri sesuai takaran yang dibutuhkan, persis seperti mengisi bahan bakar di SPBU. Inovasi ini lahir dari kesadaran Direktur BUMDes Mubasir bahwa solusi terbaik untuk menekan harga bahan pokok di desa bukan dengan subsidi yang membebani anggaran, melainkan dengan memangkas mata rantai distribusi dan menghilangkan biaya kemasan dari struktur harga jual. Gagasan ini kemudian diwujudkan dengan mengintegrasikan mesin dispenser digital ke dalam unit usaha BUMDes yang sudah berjalan, yaitu depot air isi ulang, sehingga investasi infrastruktur bisa dioptimalkan. [2][4]

Cara kerja inovasi ini sederhana namun efektif. Mesin dispenser digital dilengkapi layar penampil yang menunjukkan secara real-time jumlah liter yang sudah terisi, memberikan kepastian takaran kepada konsumen. Pasokan minyak sawit berkualitas didatangkan dari Kalimantan melalui PT Bosco Sejahtera Jaya yang bermitra dengan pemasok di Yogyakarta, memastikan kualitas bahan baku terjaga dan rantai pasokan terdiversifikasi. Karena tidak ada biaya kemasan, harga jual per liter dapat ditekan lebih rendah dari harga minyak goreng kemasan di warung manapun di sekitar desa, sekaligus mengurangi produksi sampah plastik dari kemasan yang terbuang. [1][2]

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama adalah studi kelayakan dan pemilihan mitra pasokan yang terpercaya, mengingat reputasi kualitas minyak curah kerap menjadi kekhawatiran utama konsumen yang selama ini terbiasa dengan kemasan bermerek. Mubasir dan tim BUMDes melakukan negosiasi langsung dengan PT Bosco Sejahtera Jaya sebagai distributor yang dapat menjamin asal-usul bahan baku dan standar kualitas minyak sawit yang bersumber dari Kalimantan. Proses seleksi mitra ini menjadi langkah kritis karena kepercayaan warga terhadap kualitas produk adalah fondasi utama keberhasilan unit usaha ini. [2][3]

Pemilihan lokasi juga dilakukan secara strategis dengan menempatkan unit Pom Migor di area yang sama dengan depot air isi ulang BUMDes di Jalan Klepu–Pituruh KM 2,5. Integrasi dua unit usaha dalam satu lokasi memungkinkan efisiensi operasional karena pengelola yang sama dapat melayani kedua jenis produk, menekan biaya overhead yang harus ditanggung oleh masing-masing unit. Penggunaan mesin dispenser digital yang memiliki layar penampil takaran juga dipilih secara sengaja untuk membangun transparansi yang menjadi pembeda utama dari pedagang minyak curah konvensional yang rentan manipulasi takaran. [1][2]

Tantangan yang muncul di awal peluncuran adalah skeptisisme sebagian warga terhadap kualitas minyak curah yang diidentikkan dengan minyak daur ulang atau jelantah bekas pakai. Tim BUMDes merespons kekhawatiran ini dengan transparansi proaktif, yaitu memperlihatkan dokumen sertifikasi produk dan izin usaha resmi kepada warga yang bertanya, serta memberikan sampel minyak gratis untuk dicoba terlebih dahulu. Respons positif warga yang pertama kali mencoba kemudian menyebar dari mulut ke mulut dan mempercepat penerimaan inovasi ini jauh lebih cepat dari yang diproyeksikan. [2][4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah proposisi nilai yang sangat relevan dengan kebutuhan nyata warga: harga lebih murah, takaran lebih fleksibel, dan kualitas terjamin. Ketiga elemen ini menjawab secara langsung tiga kekhawatiran utama konsumen minyak goreng di tingkat desa. Penggunaan mesin digital yang menampilkan takaran secara transparan menjadi differentiator kuat yang membangun kepercayaan jauh lebih efektif dibanding sekadar klaim verbal tentang kejujuran dan higienitas produk. [1][2]

Faktor kedua adalah kepemimpinan Direktur BUMDes Mubasir yang berani mengambil risiko berinovasi di luar zona nyaman usaha BUMDes yang biasanya hanya bergerak di bidang simpan pinjam atau pengelolaan pasar tradisional. Dukungan ekosistem usaha yang sudah ada berupa depot air isi ulang yang beroperasi di lokasi yang sama mempercepat peluncuran unit usaha baru tanpa harus membangun infrastruktur operasional dari nol. Sinergi antara unit usaha lama dan inovasi baru ini menciptakan efisiensi yang langsung memperkuat kelayakan finansial Pom Migor sejak hari pertama. [2][3]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling langsung adalah penurunan pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan minyak goreng, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM kuliner yang membutuhkan minyak dalam volume yang lebih besar setiap harinya. Dengan menghilangkan biaya kemasan dari struktur harga, konsumen bisa mendapatkan minyak goreng berkualitas dengan harga yang secara signifikan lebih rendah dari harga eceran kemasan di toko manapun. Pelaku usaha mi ayam, gorengan, dan warung makan yang selama ini terbebani biaya minyak tinggi menjadi kelompok yang paling merasakan dampak langsung inovasi ini. [1][2]

Dari sisi lingkungan, sistem bawa wadah sendiri yang diterapkan BUMDes Tunjungtejo Barokah secara langsung mengurangi volume sampah plastik kemasan minyak goreng yang biasanya dibuang setelah sekali pakai. Jika setiap transaksi pembelian minyak goreng curah menggantikan satu kemasan plastik 1–2 liter, maka dalam satu bulan operasional unit ini berpotensi mencegah ratusan hingga ribuan sampah kemasan plastik masuk ke tempat pembuangan sampah desa. Dampak lingkungan ini memperkuat nilai inovasi sebagai solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah ekonomi, tetapi juga masalah pengelolaan sampah desa. [2][3]

Antusiasme warga yang besar sejak hari pertama peluncuran membuktikan bahwa pasar untuk produk ini sangat besar dan tidak jenuh. Pemberitaan dari Kompas.com dan berbagai media regional Jawa Tengah yang menyebut inovasi ini “bikin warga antusias” mencerminkan resonansi sosial yang kuat dari inovasi yang berangkat dari kebutuhan paling dasar masyarakat. BUMDes Tunjungtejo Barokah juga mendapatkan manfaat finansial tambahan dari pendapatan operasional unit Pom Migor yang memperkuat kapasitas BUMDes untuk mendanai program sosial dan pembangunan desa. [1][4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama adalah manajemen kepercayaan publik terhadap kualitas minyak curah yang selama ini kerap diasosiasikan negatif dengan minyak daur ulang atau minyak jelantah tidak layak pakai. Persepsi negatif ini sangat tertanam dalam pikiran konsumen yang terbiasa dengan minyak goreng bermerek dalam kemasan resmi yang dianggap lebih terjamin standar higienitasnya. Tanpa komunikasi publik yang proaktif dan pembuktian kualitas yang transparan, stigma ini dapat menghambat adopsi secara meluas. [2][3]

Kendala operasional yang perlu diantisipasi adalah ketergantungan pada satu jalur pasokan melalui PT Bosco Sejahtera Jaya dari Yogyakarta, yang rentan terhadap gangguan logistik, kenaikan harga bahan baku, atau masalah produksi di hulu. Gangguan pada rantai pasokan ini dapat menyebabkan kekosongan stok yang merusak kepercayaan warga dan mengalihkan mereka kembali ke minyak kemasan. Penjagaan kebersihan mesin dispenser secara rutin juga menjadi aspek operasional kritis yang harus dijaga konsisten agar standar higienitas produk tidak dipertanyakan oleh konsumen manapun. [1][2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan unit Pom Migor dijaga melalui diversifikasi mitra pasokan agar tidak bergantung pada satu distributor tunggal, sekaligus membuka peluang negosiasi harga yang lebih kompetitif dari berbagai pemasok. BUMDes Tunjungtejo Barokah perlu mengembangkan sistem manajemen stok digital yang terintegrasi dengan mesin dispenser agar ketersediaan produk selalu terpantau dan pengisian ulang dapat dijadwalkan sebelum stok habis. Penerapan program loyalitas pelanggan berbasis pencatatan digital, seperti kartu anggota BUMDes yang memberikan diskon tambahan bagi warga yang secara konsisten menggunakan layanan Pom Migor, akan memperkuat basis pelanggan tetap yang menjamin arus pendapatan yang stabil. [2][4]

Dalam jangka panjang, BUMDes Tunjungtejo Barokah perlu mengembangkan model usaha terintegrasi yang menghubungkan Pom Migor dengan unit depot air isi ulang dan keagenan minyak sawit dalam satu sistem manajemen yang efisien. Pengembangan aplikasi pemesanan daring sederhana yang memungkinkan warga memesan minyak goreng untuk diantar ke rumah akan memperluas jangkauan layanan ke warga lansia dan disabilitas yang tidak dapat mendatangi lokasi sendiri. Pengolahan minyak jelantah yang dikumpulkan dari warga dan UMKM menjadi produk bernilai tambah, seperti biodiesel atau sabun, dapat menjadi unit usaha baru yang melengkapi siklus ekonomi sirkular berbasis minyak goreng di Desa Tunjungtejo. [3][7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pom Migor Digital BUMDes Tunjungtejo Barokah memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Harga minyak goreng yang lebih murah karena bebas biaya kemasan secara langsung mengurangi beban pengeluaran rumah tangga miskin yang porsi besar pendapatannya habis untuk kebutuhan bahan pokok. Penghematan pengeluaran minyak goreng memberikan ruang fiskal bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi dan pendidikan anak yang selama ini harus dikorbankan.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan dan Ketahanan Pangan:Ketersediaan minyak goreng berkualitas dengan harga terjangkau di tingkat desa memperkuat ketahanan pangan lokal yang tidak bergantung pada fluktuasi harga di pasar kota. BUMDes Tunjungtejo Barokah berperan sebagai stabilisator harga pangan di tingkat desa yang menjamin akses minyak goreng tetap terbuka bagi semua lapisan warga tanpa syarat minimum pembelian.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Unit usaha Pom Migor menciptakan lapangan kerja langsung bagi pengelola dan operator dispenser di BUMDes, sekaligus mengurangi biaya operasional pelaku UMKM kuliner lokal yang selama ini mengalokasikan porsi besar pendapatannya untuk membeli minyak goreng kemasan. Penghematan biaya produksi bagi pedagang gorengan, warung makan, dan usaha kuliner rumahan meningkatkan margin keuntungan mereka dan mendorong pertumbuhan ekonomi mikro lokal.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:Sistem bawa wadah sendiri yang menjadi syarat wajib pembelian Pom Migor secara sistematis mengurangi produksi sampah plastik kemasan minyak goreng sekali pakai dari desa. Pendekatan ini mendorong perubahan perilaku konsumsi warga menuju pola yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan tanpa harus mengorbankan kenyamanan berbelanja.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim:Pengurangan sampah plastik kemasan dari distribusi minyak goreng curah berkontribusi pada penurunan emisi yang dihasilkan dari proses produksi, transportasi, dan pembuangan kemasan plastik sekali pakai. Potensi pengembangan unit pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel sebagai tahap lanjutan inovasi ini akan memberi kontribusi nyata pada pengurangan emisi dari sektor energi rumah tangga.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kemitraan antara BUMDes Tunjungtejo Barokah dengan PT Bosco Sejahtera Jaya sebagai pemasok bahan baku membangun rantai nilai yang menghubungkan produsen minyak sawit Kalimantan dengan konsumen akhir di desa Purworejo secara lebih efisien. Model kemitraan BUMDes dengan sektor swasta ini menjadi contoh nyata kolaborasi multipihak dalam mewujudkan ketahanan pangan desa yang berkelanjutan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pom Migor Digital BUMDes Tunjungtejo Barokah memiliki potensi replikasi yang sangat tinggi karena investasi awalnya relatif terjangkau dan mekanisme operasionalnya tidak memerlukan keahlian teknis yang rumit. Referensi dari program “Pom Migor” Kabupaten Pesisir Selatan yang sudah menghitung kebutuhan investasi secara rinci pada kisaran Rp35 juta per unit memberikan panduan biaya yang dapat diadopsi langsung oleh BUMDes-BUMDes lain. Kombinasi antara permintaan yang tinggi, harga yang kompetitif, dan dampak lingkungan yang positif menjadikan model ini sangat mudah dipresentasikan kepada calon BUMDes replikator. [5][6]

Untuk scale up yang lebih sistematis, Kementerian Desa PDTT perlu mendorong lahirnya standar nasional mesin dispenser minyak goreng curah untuk BUMDes yang mencakup spesifikasi teknis mesin, standar higienitas produk, persyaratan izin usaha, dan panduan kemitraan dengan distributor. Program pengadaan mesin dispenser digital bersubsidi melalui Dana Desa atau program bantuan peralatan BUMDes akan memperlancar adopsi oleh ribuan desa yang memiliki minat namun terkendala modal awal. Dengan lebih dari 50.000 BUMDes yang sudah terdaftar di seluruh Indonesia, jika bahkan 10 persennya mengadopsi unit Pom Migor, dampak stabilisasi harga minyak goreng di tingkat desa dapat dirasakan oleh jutaan keluarga Indonesia secara bersamaan. [4][7]

Daftar Pustaka

[1] T. Hendra, “Isi Sendiri Kayak di SPBU, Cara Unik Bumdes Tunjungtejo Jual Minyak Goreng Murah yang Bikin Warga Antusias,” Kompas.com, 9 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://regional.kompas.com/read/2026/04/09/100221878/isi-sendiri-kayak-di-spbu-cara-unik-bumdes-tunjungtejo-jual-minyak-goreng

[2] Pituruh News, “Tekan Harga Pangan, Bumdes Tunjungtejo Barokah Hadirkan Inovasi Minyak Goreng Curah Sistem ‘Pom SPBU’,” pituruhnews.com, 7 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.pituruhnews.com/2026/04/tekan-harga-pangan-bumdes-tunjungtejo.html

[3] DiengPost Purworejo, “Tekan Harga Pangan, Bumdes Tunjungtejo Barokah Luncurkan Pom SPBU Minyak,” purworejo.diengpost.com, 7 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://purworejo.diengpost.com/berita/2439/tekan-harga-pangan-bumdes-tunjungtejo-barokah-luncurkan-pom-spbu-minyak/

[4] Kompas, “BUMDes Tunjungtejo Barokah – Tag Berita Terkini,” kompas.com, 2026. [Online]. Tersedia: https://www.kompas.com/tag/bumdes-tunjungtejo-barokah

[5] Sorot Kabar, “Viral! Koperasi Desa Gunungkidul Jual Minyak Curah Pakai Dispenser,” sorotkabar.com, 22 Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://sorotkabar.com/detail/8348/viral-koperasi-desa-gunungkidul-jual-minyak-curah-pakai-dispenser

[6] Suara Tangerang, “Bupati Hendrajoni Luncurkan Pom Migor, Inovasi Tekan Harga Minyak Goreng dan Cetak Wirausaha,” sumbar.kabardaerah.com, 20 Ags. 2025. [Online]. Tersedia: https://sumbar.kabardaerah.com/2025/08/bupati-hendrajoni-luncurkan-pom-migor-inovasi-tekan-harga-minyak-goreng-dan-cetak-wirausaha/

[7] PPID Kabupaten Brebes, “Pertama di Nusantara, BUMDesma Pengemasan Minyak Goreng Ada di Kota Bawang,” ppid.brebeskab.go.id, 21 Apr. 2024. [Online]. Tersedia: https://ppid.brebeskab.go.id/berita/pertama-di-nusantara-bumdesma-pengemasan-minyak-goreng-ada-di-kota-bawang

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.