Ringkasan Inovasi
Desa Manemeng di Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengembangkan inovasi ekosistem ekonomi kerakyatan yang berlandaskan filosofi lokal “Marenta Barmak” atau bekerja bersama, yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan produksi material bangunan dalam satu gerak kolektif berbasis komunitas. Inovasi ini diperkuat oleh BUMDes Sukses Mandiri yang berdiri sejak 2018 dan Program Desa BRILiaN dari BRI, yang bersama-sama membangun fondasi kelembagaan, akses pembiayaan, dan digitalisasi ekonomi desa secara terpadu. [1][2]
Tujuan utama inovasi ini adalah mengubah potensi lokal yang selama ini belum terorganisir menjadi kekuatan ekonomi produktif yang memberdayakan seluruh lapisan masyarakat desa. Dampak yang nyata mencakup diversifikasi penghasilan warga dari sekadar petani subsisten menjadi pelaku UMKM yang melek digital, terbentuknya klaster peternakan kolektif yang mengakses KUR, dan berkembangnya pemasaran produk batu bata serta pangan desa ke pasar yang lebih luas melalui platform digital. [2][3]
| Nama Inovasi | : | Ekosistem Ekonomi Kerakyatan Berbasis Gotong Royong “Marenta Barmak” – BUMDes Sukses Mandiri Desa Manemeng |
| Alamat | : | Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat |
| Inovator | : | Jayadi (Kepala Desa Manemeng) bersama pengurus BUMDes Sukses Mandiri dan masyarakat Desa Manemeng |
| Kontak | : | Kantor Desa Manemeng, Kecamatan Brang Ene, Kabupaten Sumbawa Barat, NTB |
Latar Belakang
Desa Manemeng adalah desa yang homogen dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani dan buruh tani yang mengandalkan sawah dan ladang sebagai sumber penghidupan utama. Kabupaten Sumbawa Barat, meskipun dikenal sebagai daerah penghasil tembaga dan emas terbesar di Indonesia, masih menyisakan kantong-kantong kemiskinan di desa-desa yang tidak terhubung langsung dengan rantai nilai industri pertambangan. Petani Manemeng menghadapi ketidakpastian musim dan rendahnya harga jual hasil panen yang membuat penghasilan mereka sangat rentan terhadap gejolak cuaca dan pasar. [2][3]
Sebelum BUMDes Sukses Mandiri berdiri dan Program Desa BRILiaN masuk pada 2018, tidak ada entitas ekonomi formal yang mengorganisir potensi produktif desa secara kolektif. Produksi batu bata dan batako yang sudah lama menjadi kegiatan sampingan warga berjalan secara individual tanpa jaringan pemasaran yang terstruktur, sehingga daya tawar penjual sangat lemah. Potensi peternakan sapi yang dimiliki beberapa keluarga pun belum berkembang karena keterbatasan modal dan absennya akses pembiayaan formal. [1][4]
Nilai budaya Marenta Barmak yang sudah mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat Manemeng sejatinya menyimpan potensi ekonomi kolektif yang sangat besar namun belum pernah dikristalisasi menjadi sistem usaha bersama yang terorganisir. Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Mataram menegaskan bahwa BUMDes yang berhasil di NTB selalu bertumpu pada penguatan modal sosial komunitas sebagai fondasi pertama sebelum membangun kapasitas modal finansialnya. [5][6]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan ekosistem ekonomi multisektoral yang menempatkan filosofi gotong royong Marenta Barmak sebagai prinsip operasional sekaligus identitas merek desa yang membedakan Manemeng dari desa-desa lainnya. Inovasi ini terwujud melalui tiga pilar yang saling menopang: BUMDes Sukses Mandiri sebagai penggerak kelembagaan ekonomi desa, Program Desa BRILiaN BRI sebagai akselerator kapasitas usaha dan akses keuangan, serta digitalisasi pemasaran produk lokal sebagai jembatan menuju pasar yang lebih luas. [2][4]
Cara kerja inovasi ini beroperasi secara integratif. BUMDes Sukses Mandiri mengelola distribusi dan pemasaran produk pangan desa sekaligus menjadi pintu masuk bagi warga untuk mengakses program pemberdayaan yang lebih besar. Klaster peternakan sapi dikelola secara kolektif dengan skema bagi hasil antaranggota kelompok, dibiayai melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang difasilitasi oleh agen BRILink setempat. Pemasaran produk batu bata dan batako yang tadinya hanya melingkupi pasar lokal kini mulai merambah pasar yang lebih luas melalui platform digital BRImo dan media sosial. [1][3]
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama dimulai pada 2018 dengan pendirian BUMDes Sukses Mandiri yang menjadi lembaga payung bagi konsolidasi berbagai aktivitas ekonomi warga yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri. Pembentukan BUMDes didahului oleh musyawarah desa yang menggali dan memetakan potensi lokal secara partisipatif, mengidentifikasi tiga komoditas utama: hasil pertanian pangan, material bangunan (batu bata dan batako), serta ternak sapi. Proses konsolidasi ini tidak berjalan mulus karena beberapa warga awalnya meragukan manfaat bergabung dalam sistem kolektif yang menuntut mereka berbagi keuntungan. [2][4]
Titik akselerasi terjadi ketika Desa Manemeng bergabung dalam Program Desa BRILiaN dari BRI, sebuah program pemberdayaan desa berbasis empat pilar: penguatan BUMDes, pengembangan kapasitas SDM, digitalisasi ekonomi desa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program ini menghadirkan pelatihan manajemen usaha bagi pengurus BUMDes, fasilitasi akses KUR bagi kelompok peternak, dan onboarding digital bagi warga agar dapat menggunakan BRImo dan bergabung sebagai agen BRILink. Kepala Desa Jayadi menyaksikan perubahan nyata: “Sekarang masyarakat sudah mulai menggunakan BRImo, ada juga yang menjadi BRILink Agen. Layanan digital seperti ini membantu aktivitas ekonomi masyarakat dan mampu mengurangi tingkat kemiskinan di desa.” [3][1]
Pengembangan pemasaran digital produk batu bata dan batako dimulai dari percobaan sederhana menggunakan media sosial dan WhatsApp Business untuk menjangkau pembeli di luar wilayah desa. Awalnya banyak pengrajin batu bata yang skeptis karena belum pernah bertransaksi secara digital dan khawatir dengan risiko penipuan. Pendampingan intensif dari fasilitator Program Desa BRILiaN secara bertahap membangun kepercayaan diri warga hingga pemasaran digital menjadi rutinitas baru yang diterima luas. [4][5]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan adalah kekuatan budaya Marenta Barmak yang sudah mengakar sangat dalam di masyarakat Manemeng sebagai modal sosial yang mempermudah konsolidasi usaha kolektif. Ketika BUMDes dan klaster peternakan mengajak warga bergabung dalam sistem bersama, respons positif yang diterima jauh lebih besar dibanding desa-desa yang tidak memiliki tradisi gotong royong yang sekuat ini. Modal sosial ini memangkas biaya koordinasi yang biasanya menjadi hambatan terbesar dalam pengembangan usaha kolektif di perdesaan. [2][3]
Faktor kedua adalah sinergi kelembagaan yang terbangun antara pemerintah desa, BUMDes Sukses Mandiri, dan BRI melalui Program Desa BRILiaN. Kepemimpinan Kepala Desa Jayadi yang mampu menjaga kepercayaan warga sekaligus membangun hubungan yang produktif dengan mitra eksternal seperti BRI menjadi katalis yang mempercepat realisasi berbagai program. Penelitian Universitas Muhammadiyah Mataram mengkonfirmasi bahwa sinergi antara pemimpin desa yang visioner dengan lembaga keuangan formal adalah kombinasi paling efektif dalam mendorong pertumbuhan BUMDes di kawasan NTB. [5][6]
Hasil dan Dampak Inovasi
Diversifikasi ekonomi yang berhasil dikembangkan telah mengubah struktur pendapatan warga Manemeng secara signifikan. Warga yang sebelumnya hanya mengandalkan hasil panen kini memiliki sumber penghasilan ganda dari usaha batu bata, batako, peternakan, dan layanan keuangan digital sebagai agen BRILink. Dalam sehari, produksi batu bata desa mampu mencapai ribuan unit yang dipasarkan ke wilayah-wilayah di sekitar Kabupaten Sumbawa Barat, memberikan arus kas harian yang stabil bagi para pengrajin. [1][3]
Klaster peternakan yang dikelola secara kolektif dengan dukungan KUR memberikan dampak ganda: meningkatkan populasi ternak sapi milik warga sekaligus membangun budaya literasi keuangan formal di kalangan peternak yang sebelumnya tidak pernah berhubungan dengan perbankan. Akses terhadap layanan keuangan digital melalui BRImo dan agen BRILink yang kini beroperasi di desa juga mengurangi biaya transaksi warga secara signifikan karena mereka tidak perlu lagi bepergian jauh ke kota untuk urusan perbankan. [3][4]
Dampak sosial yang paling terasa adalah meningkatnya kepercayaan diri komunitas Manemeng sebagai desa yang mampu membuktikan bahwa kearifan lokal berbasis gotong royong dapat bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi modern yang berdaya saing. Keterlibatan dalam Program Desa BRILiaN juga membawa pengakuan eksternal yang menempatkan Manemeng sebagai salah satu model desa inklusif di NTB yang layak dijadikan percontohan bagi ribuan desa lain di Indonesia. [2][4]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah mengubah pola pikir warga yang terbiasa dengan ekonomi subsisten dan transaksi tunai menuju ekosistem usaha yang lebih formal, terdigitalisasi, dan berorientasi pasar. Resistensi terhadap digitalisasi terutama datang dari generasi yang lebih tua yang merasa tidak percaya diri menggunakan aplikasi digital untuk bertransaksi. Proses edukasi dan pendampingan yang dibutuhkan untuk mengubah kebiasaan ini memerlukan waktu dan sumber daya pendamping yang konsisten dan sabar. [3][4]
Kendala lain adalah keterbatasan infrastruktur konektivitas internet di kawasan pedesaan Sumbawa Barat yang masih menjadi hambatan teknis bagi operasional pemasaran digital secara penuh. Fluktuasi harga material bangunan dan produk pertanian di pasar regional juga menjadi ketidakpastian eksternal yang sulit dikontrol oleh BUMDes dan mempengaruhi proyeksi pendapatan komunitas. Ketergantungan pada satu program pendampingan eksternal seperti Desa BRILiaN juga berisiko jika dukungan tersebut berkurang atau dihentikan di masa mendatang. [1][5]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan ekosistem ekonomi Desa Manemeng dijaga melalui penguatan kapasitas internal BUMDes Sukses Mandiri agar semakin mandiri secara manajerial dan tidak bergantung pada pendampingan eksternal secara permanen. BUMDes perlu mengembangkan unit usaha baru yang bernilai tambah lebih tinggi, seperti pengolahan hasil pertanian menjadi produk pangan olahan bermerk Manemeng yang dapat dipasarkan hingga ke luar NTB melalui platform e-commerce nasional. Pengembangan profil digital desa yang kuat melalui website resmi dan media sosial aktif akan membangun reputasi Manemeng sebagai merek desa yang dikenal dan dipercaya oleh pembeli dari berbagai wilayah. [2][4]
Dalam jangka panjang, Desa Manemeng perlu memformalisasi kemitraan dengan offtaker tetap untuk komoditas batu bata, batako, dan sapi, sehingga produksi desa tidak bergantung pada fluktuasi pasar spot yang tidak menentu. Penguatan kapasitas generasi muda desa sebagai pengelola digital dan wirausahawan lokal melalui program magang dan pelatihan vokasi akan memastikan regenerasi kepemimpinan ekonomi desa berjalan tanpa terputus. Pengembangan pariwisata berbasis budaya Marenta Barmak juga dapat menjadi diversifikasi pendapatan desa yang memanfaatkan keunikan filosofi gotong royong sebagai daya tarik wisata edukatif yang tidak dimiliki desa manapun. [3][6]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ekosistem ekonomi gotong royong Desa Manemeng memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Diversifikasi sumber penghasilan warga dari sekadar petani subsisten menjadi pelaku usaha multi-sektor (batu bata, batako, peternakan, agen BRILink) secara langsung mengurangi kerentanan ekonomi rumah tangga desa. Kepala Desa Jayadi menyebut layanan keuangan digital “mampu mengurangi tingkat kemiskinan di desa” dengan memberikan akses ke instrumen ekonomi formal yang sebelumnya tidak terjangkau. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan dan Ketahanan Pangan | : | BUMDes Sukses Mandiri yang fokus pada distribusi dan pemasaran produk pangan desa memperkuat rantai pasokan pangan lokal dan memastikan ketersediaan pangan yang lebih stabil bagi warga. Pengembangan klaster peternakan sapi secara kolektif meningkatkan ketersediaan protein hewani dan nilai ekonomi peternak lokal secara bersamaan. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Ekosistem usaha multi-sektor Desa Manemeng menciptakan lapangan kerja produktif di klaster batu bata, batako, peternakan, pertanian, dan layanan keuangan digital yang menyerap tenaga kerja dari berbagai kelompok usia warga desa. Akses KUR yang difasilitasi melalui program Desa BRILiaN membuka pembiayaan usaha formal bagi warga yang sebelumnya tidak bankable. |
| SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur | : | Digitalisasi pemasaran produk batu bata, batako, dan pangan desa melalui platform digital membangun infrastruktur ekonomi digital desa yang memperluas jangkauan pasar jauh melampaui batas wilayah kabupaten. Inovasi klaster usaha bersama berbasis BUMDes merupakan model industri kerakyatan skala desa yang inovatif dan dapat direplikasi. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Sistem ekonomi kolektif berbasis Marenta Barmak mendistribusikan manfaat ekonomi secara lebih merata di seluruh lapisan masyarakat desa, bukan hanya kepada pemilik modal besar. Kehadiran agen BRILink di desa menghapus kesenjangan akses keuangan antara warga desa terpencil Sumbawa Barat dengan warga perkotaan yang selama ini lebih mudah mengakses layanan perbankan. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Sinergi tiga pihak antara pemerintah desa, BUMDes Sukses Mandiri, dan BRI melalui Program Desa BRILiaN membangun model kemitraan multipihak yang mengintegrasikan sumber daya publik, komunitas, dan korporasi untuk mencapai tujuan pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan. Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa pendekatan ini mencakup penguatan kelembagaan desa, akses pembiayaan, serta integrasi ekosistem usaha agar desa lebih produktif dan berdaya saing. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model ekosistem ekonomi gotong royong Desa Manemeng sangat relevan direplikasi di desa-desa berbasis pertanian di NTB, NTT, Sulawesi, dan Kalimantan yang masih memiliki kekayaan nilai budaya gotong royong namun belum berhasil mengkonversinya menjadi kekuatan ekonomi terorganisir. Kunci replikasinya terletak pada tiga langkah: identifikasi dan dokumentasi filosofi gotong royong lokal yang ada, pendirian BUMDes sebagai kelembagaan ekonomi pemersatu, dan koneksi dengan program pembiayaan serta pendampingan eksternal seperti Desa BRILiaN. Program BRI Desa BRILiaN yang sudah menjangkau ribuan desa di Indonesia menjadi mekanisme scale up yang paling siap pakai untuk mereplikasi model Manemeng tanpa perlu membangun infrastruktur pendampingan dari nol. [2][4]
Untuk scale up yang lebih sistematis, Kementerian Desa PDTT perlu mendokumentasikan model Desa Manemeng sebagai modul nasional ekosistem ekonomi desa berbasis nilai budaya lokal yang dapat diadaptasi di berbagai konteks budaya daerah di Indonesia. Setiap desa memiliki filosofi gotong royong yang berbeda-beda namanya namun sama maknanya: Marenta Barmak di Sumbawa, Marsipature Hutana Be di Batak, Pela Gandong di Maluku, atau Mapalus di Minahasa. Semangat lokal inilah yang perlu diangkat sebagai identitas merek dan fondasi kelembagaan dalam setiap replikasi, sehingga model tidak sekadar ditiru secara teknis tetapi dihidupi secara kultural oleh komunitas yang menerapkannya. [5][6]
Daftar Pustaka
[1] Prokalteng JawaPos, “Desa Manemeng Bangkit dari Gotong Royong, UMKM hingga Peternakan Melesat Lewat Program Desa BRILiaN,” prokalteng.jawapos.com, 30 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://prokalteng.jawapos.com/ekonomi/30/03/2026/desa-manemeng-bangkit-dari-gotong-royong-umkm-hingga-peternakan-melesat-lewat-program-desa-brilian/
[2] Merdeka.com, “BRI dan BUMDes Sukses Bangun Ekosistem Ekonomi Desa Manemeng, dari Pertanian hingga Usaha Rakyat,” merdeka.com, 29 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.merdeka.com/uang/bri-dan-bumdes-sukses-bangun-ekosistem-ekonomi-desa-manemeng
[3] Harian Disway, “Desa Manemeng Perkuat Ekonomi Kerakyatan Lewat Gotong Royong dan Program Desa BRILiaN,” harian.disway.id, 30 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://harian.disway.id/read/938348/desa-manemeng-perkuat-ekonomi-kerakyatan-lewat-gotong-royong-dan-program-desa-brilian
[4] MetroTV News, “Berbasis Gotong Royong, Desa Manemeng Perkuat Ekosistem Ekonomi Kerakyatan melalui Program Desa BRILiaN,” metrotvnews.com, 30 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://www.metrotvnews.com/read/b2lC6XDW
[5] Stockwatch, “Gotong Royong Jadi Kekuatan Ekonomi, Desa Manemeng Melesat Lewat Program Desa BRILiaN,” stockwatch.id, 2 Apr. 2026. [Online]. Tersedia: https://stockwatch.id/gotong-royong-jadi-kekuatan-ekonomi-desa-manemeng-melesat-lewat-program-desa-brilian/
[6] F. Furqan et al., “Role of Village-Owned Business Entities (BUMDes) in Strengthening Village Economy in NTB,” Jurnal Akuntansi dan Bisnis Bisnis, Universitas Muhammadiyah Mataram. [Online]. Tersedia: https://journal.ummat.ac.id/index.php/JABB/article/download/7590/8080
[7] Radar Bogor JawaPos, “Melalui Program Desa BRILiaN, Desa Manemeng Sumbawa Barat Perkuat Ekosistem Ekonomi Kerakyatan Berbasis Gotong Royong,” radarbogor.jawapos.com, 31 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://radarbogor.jawapos.com/ekonomi/2477341597/
[8] Kompas Lestari, “Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal,” lestari.kompas.com, 31 Mar. 2026. [Online]. Tersedia: https://lestari.kompas.com/read/2026/03/31/185000586/mengintip-desa-manemeng-yang-kembangkan-ekonomi-berbasis-gotong-royong-dan
