Ringkasan Inovasi
Desa Bojong dan Desa Mekarsari di Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Banten, berhasil mewujudkan impian ribuan petani desa dengan mengekspor 93 ton manggis berkualitas tinggi ke pasar Tiongkok pada Januari 2019, sebuah pencapaian yang menandai babak baru pengembangan komoditas hortikultura desa menjadi produk bernilai ekspor internasional. Keberhasilan ini dicapai melalui kombinasi inovasi budidaya yang tertib, sistem sertifikasi kebun yang terstandar, dan dukungan fasilitasi ekspor dari Kementerian Pertanian yang memangkas birokrasi perizinan ekspor menjadi hanya tiga jam. [1][2]
Tujuan utama inovasi ini adalah mendorong kelompok tani manggis di tingkat desa untuk naik kelas dari sekadar pemasok pasar lokal menjadi eksportir yang berdaya saing internasional, sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui harga jual ekspor yang mencapai Rp18.000 per kilogram—jauh lebih tinggi dari harga pasar lokal Rp8.000–Rp12.000 per kilogram. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua desa tersebut, tetapi menjadi katalis yang membuktikan bahwa manggis Pandeglang dan Indonesia mampu bersaing di pasar internasional, mendorong kenaikan ekspor manggis nasional sebesar 300 persen dari 9.000 ton pada 2017 menjadi 35.000 ton pada 2018. [3][4]
| Nama Inovasi | : | Inovasi Budidaya Manggis Berorientasi Ekspor melalui Sertifikasi Kebun dan Packaging House – Desa Bojong dan Desa Mekarsari, Kecamatan Bojong, Pandeglang |
| Alamat | : | Desa Bojong dan Desa Mekarsari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten |
| Inovator | : | Kelompok Tani Barokah (Desa Bojong) dan Kelompok Tani Mekar Rahayu 2 (Desa Mekarsari), difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI (Dirjen Suwandi) dan Dinas Pertanian Provinsi Banten |
| Kontak | : | Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan RI: hortikultura.pertanian.go.id; Dinas Pertanian Kab. Pandeglang, Jl. Raya Serang–Labuan, Pandeglang, Banten |
Latar Belakang
Kabupaten Pandeglang memiliki potensi hortikultura yang luar biasa, dengan populasi 78.511 pohon manggis yang tersebar di lima kecamatan sentra produksi: Bojong, Saketi, Menes, Cikedal, dan Carita. Dengan total produksi mencapai 122.445 ton per tahun dan produktivitas 89.600 kilogram per hektare, Pandeglang merupakan salah satu produsen manggis terbesar di Provinsi Banten yang sudah lama menyuplai kebutuhan pasar regional Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Namun, meskipun kualitas manggis lokal sudah sangat baik, potensi besar ini selama bertahun-tahun hanya menghasilkan nilai tambah yang terbatas karena petani hanya menjual ke tengkulak dan pedagang pasar lokal dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya. [5][6]
Sebelum inovasi ini terwujud, petani manggis di Desa Bojong dan Desa Mekarsari tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor yang jauh lebih menguntungkan. Harga jual di tingkat petani hanya berkisar Rp8.000–Rp12.000 per kilogram, padahal harga di pasar ekspor mencapai Rp18.000 per kilogram—selisih yang sangat signifikan dan berpotensi menggandakan pendapatan petani jika rantai pasar diperpendek. Hambatan utama bukan pada kualitas buah, melainkan pada ketidaktahuan petani tentang prosedur registrasi kebun, persyaratan sertifikasi packaging house, dan mekanisme perizinan ekspor yang selama ini dianggap rumit, mahal, dan hanya bisa diakses oleh perusahaan besar. [1][4]
Peluang besar terbuka ketika pemerintah pusat mengidentifikasi bahwa pasar manggis di Tiongkok tumbuh sangat pesat, sementara Indonesia baru memanfaatkan sebagian kecil dari potensinya. Pada 2018, ekspor manggis Indonesia baru mencapai 35.000 ton, naik 300 persen dari 9.000 ton pada 2017, namun angka ini masih jauh di bawah potensi sesungguhnya mengingat Indonesia merupakan produsen manggis terbesar ke-5 di dunia setelah India, Tiongkok, Kenya, dan Thailand. Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi kemudian menetapkan Pandeglang sebagai salah satu sentra manggis yang diprioritaskan untuk dikembangkan menjadi daerah penghasil manggis kelas ekspor yang bisa langsung menembus pasar Tiongkok. [3][7]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah sistem pengembangan manggis berorientasi ekspor yang mengintegrasikan empat komponen secara simultan: peningkatan kualitas budidaya melalui pemupukan teratur dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), registrasi kebun secara resmi ke Kementerian Pertanian, sertifikasi packaging house untuk menjamin standar mutu pascapanen, dan fasilitasi ekspor langsung oleh Kementan yang memangkas prosedur perizinan dari hitungan hari menjadi hanya tiga jam. Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa hambatan petani desa untuk menembus pasar ekspor bukan terletak pada kualitas produk yang sudah mumpuni, melainkan pada kompleksitas regulasi dan birokrasi yang seharusnya bisa disederhanakan oleh pemerintah. [1][2]
Cara kerja sistem ini beroperasi melalui dua jalur yang saling melengkapi. Jalur pertama adalah jalur produksi: petani dibimbing untuk menerapkan praktik budidaya Good Agricultural Practices (GAP) yang mencakup pemupukan berimbang, pengendalian OPT secara terpadu, dan penanganan pascapanen yang higienis agar buah memenuhi standar mutu ekspor yang mensyaratkan buah bebas cacat, bebas hama, dan berukuran seragam. Jalur kedua adalah jalur akses pasar: Kementan melalui Dirjen Hortikultura berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan kelompok tani dengan eksportir PT Corona Jakarta, mempercepat pengurusan dokumen ekspor, bahkan melakukan inline inspection langsung ke kebun sehingga petani tidak perlu lagi datang ke kantor pemerintah untuk mengurus persyaratan. [4][8]
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama adalah penguatan kapasitas budidaya di tingkat petani melalui program pendampingan teknis yang menekankan pada tiga aspek kunci kualitas manggis ekspor: pemupukan yang tepat dosis dan waktu, pengendalian OPT yang ketat agar buah bebas dari noda dan cacat biologis, serta manajemen pascapanen yang menjaga kesegaran dan penampilan buah. Kelompok Tani Barokah di Desa Bojong dengan 65,62 ton dan Kelompok Tani Mekar Rahayu 2 di Desa Mekarsari dengan 27,77 ton menjadi percontohan penerapan standar produksi ini yang kemudian diverifikasi melalui inspeksi langsung oleh tim Kementan sebelum manggis boleh dikirim ke jalur ekspor. [2][4]
Tahap kedua adalah sertifikasi dan registrasi yang merupakan hambatan administratif terbesar yang selama ini menghalangi petani desa mengakses pasar ekspor. Kementan mengubah paradigma layanan dari “petani datang ke kantor” menjadi “pemerintah mendatangi petani” melalui mekanisme inline inspection di kebun dan kemudahan pengurusan dokumen ekspor yang diselesaikan hanya dalam tiga jam. Perubahan mekanisme layanan ini merupakan terobosan paling signifikan yang langsung menghilangkan hambatan terbesar yang selama ini membuat petani desa menyerah sebelum mencoba menembus jalur ekspor. [1][8]
Tahap ketiga adalah kemitraan dengan eksportir yang menjadi jembatan antara kelompok tani dan pembeli di Tiongkok. PT Corona dari Jakarta menjadi eksportir yang memfasilitasi pengiriman manggis Pandeglang ke daratan Tiongkok, memastikan aspek logistik, karantina, dan kepabeanan berjalan lancar. Pelepasan ekspor dilakukan secara resmi oleh Dirjen Hortikultura Suwandi yang hadir langsung ke Desa Bojong pada 23 Januari 2019, sebuah sinyal kuat dari pemerintah pusat bahwa petani desa didukung penuh untuk naik kelas menjadi pemain ekspor internasional. [3][4]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan adalah kekuatan kelembagaan kelompok tani yang solid dan terorganisir. Kelompok Tani Barokah dan Kelompok Tani Mekar Rahayu 2 bukan sekadar nama formal, melainkan wadah kerja nyata yang memungkinkan petani bergerak kolektif dalam menerapkan standar budidaya, mengumpulkan produksi, dan bernegosiasi langsung dengan eksportir dengan posisi tawar yang jauh lebih kuat dibanding petani yang bertindak sendiri-sendiri. Tanpa kelembagaan kelompok tani yang kuat, mustahil petani desa mampu mengumpulkan volume ekspor 93 ton sekaligus dalam satu pengiriman. [1][5]
Faktor kedua adalah kebijakan fasilitasi ekspor dari Kementan yang radikal dalam menyederhanakan birokrasi. Komitmen Dirjen Hortikultura untuk memangkas waktu pengurusan dokumen ekspor dari berhari-hari menjadi tiga jam, dikombinasikan dengan layanan inline inspection yang mendatangi kebun petani, mengubah secara mendasar persepsi petani bahwa ekspor adalah sesuatu yang rumit dan mahal. Kehadiran langsung Dirjen Suwandi dalam acara pelepasan ekspor di Desa Bojong memberikan sinyal keberpihakan yang kuat dari pemerintah pusat, meningkatkan motivasi petani dan kepercayaan eksportir terhadap konsistensi kualitas dan pasokan manggis dari Pandeglang. [4][7]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling langsung dan terukur adalah keberhasilan mengekspor 93,39 ton manggis ke Tiongkok dalam satu batch pengiriman pertama, terdiri dari 65,62 ton dari Kelompok Tani Barokah Desa Bojong dan 27,77 ton dari Kelompok Tani Mekar Rahayu 2 Desa Mekarsari. Selain ekspor, kelompok-kelompok tani manggis di lima kecamatan sentra Pandeglang secara bersamaan memasok 714 ton manggis ke pasar regional Jakarta, Bogor, Tangerang, Surabaya, dan Makassar, membuktikan bahwa kapasitas produksi Pandeglang cukup besar untuk melayani pasar domestik dan internasional secara bersamaan. [1][3]
Dari sisi pendapatan petani, dampak ekonominya sangat signifikan. Harga jual manggis untuk pasar ekspor mencapai Rp18.000 per kilogram, lebih tinggi 50 persen dibandingkan harga pasar lokal yang berkisar Rp10.000–Rp12.000 per kilogram. Dengan volume ekspor 93 ton, total nilai ekspor batch pertama ini setara dengan Rp1,674 miliar, sebuah nilai transaksi yang sangat besar bagi komunitas petani desa yang sebelumnya terbiasa menjual hasil panennya kepada tengkulak dengan harga yang jauh lebih rendah. [2][5]
Dampak jangka panjang yang tidak kalah penting adalah transformasi persepsi petani desa tentang batas kemampuan mereka. Sebelum ekspor perdana ini, petani di Desa Bojong dan Mekarsari tidak pernah membayangkan hasil kebun mereka bisa tersaji di meja makan konsumen di Tiongkok. Keberhasilan ini membuka kesadaran baru bahwa standar kualitas produk pertanian desa sudah cukup kompetitif di pasar internasional, dan hambatan selama ini bukan pada kualitas produk melainkan pada akses ke sistem pemasaran dan fasilitasi ekspor yang lebih terbuka. [4][8]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah konsistensi kualitas dan volume pasokan yang menjadi syarat mutlak dalam kontrak ekspor jangka panjang. Manggis adalah komoditas musiman yang produksinya sangat dipengaruhi oleh cuaca, hama, dan kondisi tanah, sehingga mempertahankan pasokan yang stabil sepanjang tahun untuk memenuhi komitmen kepada pembeli di Tiongkok merupakan tantangan agronomi yang tidak mudah. Serangan OPT seperti kutu putih dan penyakit getah kuning yang kerap menyerang manggis bisa secara tiba-tiba menurunkan kualitas buah di bawah standar ekspor, memaksa petani mengalihkan seluruh panen ke pasar lokal dengan harga yang jauh lebih rendah. [6][9]
Kendala lain adalah ketergantungan pada satu eksportir, PT Corona, sebagai satu-satunya pintu masuk pasar Tiongkok yang membuat posisi tawar kelompok tani lemah dalam negosiasi harga. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengakui perlunya diversifikasi eksportir ke depan agar petani Pandeglang tidak tergantung pada satu jalur pemasaran saja dan memiliki alternatif ketika terjadi perselisihan harga atau perubahan kebijakan impor dari sisi Tiongkok. Prosedur registrasi kebun dan sertifikasi packaging house yang membutuhkan biaya dan waktu juga masih menjadi hambatan bagi kelompok tani kecil yang belum dapat dukungan penuh dari program pemerintah. [7][8]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan program ekspor manggis Pandeglang dijaga melalui perluasan area registrasi kebun dan sertifikasi packaging house ke lebih banyak kelompok tani di lima kecamatan sentra manggis lainnya, sehingga volume ekspor bisa ditingkatkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Dirjen Hortikultura Suwandi secara eksplisit menyatakan bahwa realisasi ekspor 93 ton ini baru permulaan dan akan terus ditingkatkan, dengan target pasar regional terus dijaga pada kisaran 600–700 ton per musim sebagai jaring pengaman pendapatan petani ketika volume ekspor berfluktuasi. Pembangunan kapasitas kelompok tani melalui pelatihan GAP yang berkelanjutan dan pendampingan teknis oleh penyuluh pertanian menjadi investasi jangka panjang yang menentukan keberlangsungan standar kualitas ekspor. [4][6]
Dalam jangka panjang, Dinas Pertanian Kabupaten Pandeglang perlu membangun sistem kemitraan yang lebih beragam dengan lebih banyak eksportir dan mitra distribusi internasional, tidak hanya mengandalkan satu perusahaan. Pengembangan branding “Manggis Pandeglang” sebagai produk unggulan dengan identitas geografis yang kuat—didaftarkan sebagai Indikasi Geografis seperti yang sudah berhasil dilakukan oleh manggis Purwakarta—akan memberikan perlindungan nilai dan keunggulan kompetitif yang tahan terhadap persaingan dari produsen manggis negara lain di pasar Tiongkok. [9][7]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi ekspor manggis Desa Bojong dan Desa Mekarsari memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Peningkatan harga jual manggis dari Rp10.000–12.000 menjadi Rp18.000 per kilogram di jalur ekspor secara langsung meningkatkan pendapatan petani desa yang mayoritas termasuk kelompok menengah bawah. Volume ekspor 93 ton yang bernilai Rp1,674 miliar mendistribusikan pendapatan tambahan secara langsung kepada anggota kelompok tani yang selama ini hanya mengandalkan penjualan ke pasar lokal dengan harga lebih rendah. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan dan Ketahanan Pangan | : | Penerapan praktik budidaya Good Agricultural Practices (GAP) yang menjadi syarat ekspor secara tidak langsung meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman manggis secara keseluruhan, memperkuat ketahanan pangan hortikultura lokal dan nasional. Peningkatan produktivitas melalui pemupukan teratur dan pengendalian OPT yang disiplin menghasilkan buah yang lebih banyak, lebih sehat, dan bernilai gizi lebih baik bagi konsumen baik di dalam maupun luar negeri. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Penetrasi pasar ekspor Tiongkok membuka mata rantai ekonomi baru di tingkat desa yang menciptakan lapangan kerja di sektor budidaya, penanganan pascapanen, sortasi, pengemasan, dan logistik yang sebelumnya tidak ada. Peningkatan pendapatan kelompok tani manggis mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang multiplier, karena petani yang berpendapatan lebih tinggi akan meningkatkan konsumsi dan investasi di ekonomi lokal desa dan kecamatan. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | : | Standar budidaya GAP yang mensyaratkan pengendalian OPT secara terpadu dan pengurangan penggunaan pestisida kimia mendorong praktik pertanian yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan di kebun-kebun manggis Pandeglang. Sistem sertifikasi packaging house yang terstandar memastikan penanganan pascapanen yang higienis dan meminimalkan pemborosan produk akibat kerusakan yang bisa dicegah melalui penanganan yang benar. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | : | Kebun manggis yang dikelola secara berkelanjutan berperan sebagai tutupan lahan yang menjaga kestabilan tanah, menyerap karbon, dan mempertahankan kelembaban tanah di wilayah Pandeglang yang memiliki topografi perbukitan yang rentan terhadap erosi. Peningkatan nilai ekonomi kebun manggis yang sudah terbukti bisa menghasilkan pendapatan ekspor internasional memberikan insentif nyata bagi petani untuk mempertahankan lahan perkebunan mereka daripada mengonversinya ke penggunaan lain yang lebih merusak ekosistem. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Sinergi antara kelompok tani desa, Dinas Pertanian Provinsi Banten, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, dan eksportir PT Corona membangun ekosistem kemitraan multipihak yang menjadi model fasilitasi ekspor pertanian desa yang efektif dan dapat direplikasi. Skema inline inspection yang dilakukan pemerintah langsung di kebun petani merupakan bentuk konkret kemitraan antara negara dan masyarakat petani yang membuktikan bahwa birokrasi dapat disederhanakan untuk melayani kepentingan desa. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model ekspor manggis berbasis kelompok tani yang dikembangkan di Desa Bojong dan Desa Mekarsari sangat potensial direplikasi di seluruh lima kecamatan sentra manggis Pandeglang—Bojong, Saketi, Menes, Cikedal, dan Carita—yang secara total memiliki 78.511 pohon manggis dengan kapasitas produksi ratusan ton per musim. Kunci replikasi terletak pada tiga elemen: pembentukan kelompok tani yang solid dan terorganisir sebagai unit produksi kolektif, fasilitasi registrasi kebun dan sertifikasi packaging house yang didukung penuh oleh pemerintah daerah, dan penjaminan akses ke eksportir melalui program kemitraan yang dikurasi Dinas Pertanian. Daerah penghasil manggis lain seperti Sukabumi, Tasikmalaya, dan Sumatera Barat yang sudah menjadi sentra manggis nasional dapat langsung mengadopsi skema ini dengan dukungan fasilitasi ekspor serupa dari Dirjen Hortikultura. [5][7]
Untuk scale up ke tingkat nasional, Kementan perlu melembagakan program “Desa Ekspor Hortikultura” yang menjadikan Desa Bojong dan Desa Mekarsari sebagai model percontohan di Banten. Pengembangan sistem informasi pasar digital yang menghubungkan kelompok tani manggis secara langsung dengan eksportir dan pembeli internasional akan memotong peran perantara yang selama ini menyerap sebagian besar margin keuntungan petani. Dengan total produksi manggis Indonesia yang mencapai 160.000 ton per tahun dan pangsa ekspor baru 23 persen, masih ada potensi 77 persen produksi yang belum dioptimalkan untuk ekspor—sebuah ruang besar yang bisa diisi oleh ribuan desa penghasil manggis lainnya jika model Pandeglang direplikasi secara masif dan sistematis. [3][6]
Kata Kunci
Desa Bojong Pandeglang, Desa Mekarsari Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang Banten, ekspor manggis Tiongkok China, Kelompok Tani Barokah, Kelompok Tani Mekar Rahayu 2, 93 ton manggis ekspor, hortikultura desa ekspor, Dirjen Hortikultura Suwandi Kementan, registrasi kebun sertifikasi packaging house, inline inspection karantina pertanian, Good Agricultural Practices manggis, harga manggis ekspor Rp18000, PT Corona eksportir manggis, sentra manggis Pandeglang lima kecamatan, ekspor manggis Indonesia naik 300 persen, petani manggis desa pasar internasional, potensi hortikultura Banten, Dinas Pertanian Banten manggis China, pemberdayaan kelompok tani ekspor
Daftar Pustaka
[1] Kementerian Pertanian RI, “Kementan Lepas Ekspor Manggis dari Pandeglang ke China,” pertanian.go.id, 23 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.pertanian.go.id/?show=news&act=view&id=3576
[2] BKKBN, “Go Internasional, 93 Manggis Siap di Ekspor,” kampungkb.bkkbn.go.id, 2019. [Online]. Tersedia: https://kampungkb.bkkbn.go.id/kampung/47616/intervensi/853312/go-internasional-93-manggis-siap-di-ekspor
[3] Liputan6, “Manggis Pandeglang Tembus Pasar China,” liputan6.com, 22 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3878218/manggis-pandeglang-tembus-pasar-china
[4] Pilar Pertanian, “Kementan Lepas Ekspor Manggis dari Pandeglang ke China,” pilarpertanian.com, 22 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://pilarpertanian.com/kementan-lepas-ekspor-manggis-dari-pandeglang-ke-china
[5] Tempo.co, “Buah Manggis asal Pandeglang Siap Ekspor ke Cina,” tempo.co, 22 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.tempo.co/ekonomi/buah-manggis-asal-pandeglang-siap-ekspor-ke-cina-777710
[6] Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan RI, “Manggis Pandeglang Merambah ke China,” hortikultura.pertanian.go.id, 2019. [Online]. Tersedia: https://hortikultura.pertanian.go.id/manggis-pandeglang-merambah-ke-china/
[7] Antara News Banten, “Buah Manggis Asal Pandeglang Masuk Pasar China,” banten.antaranews.com, 21 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://banten.antaranews.com/berita/33498/buah-manggis-asal-pandeglang-masuk-pasar-china
[8] INA News, “Petani Manggis Kembali Ekspor ke China, Sebelumnya 2018 Sebanyak 36 Ribu Ton,” inanews.co.id, 23 Jan. 2019. [Online]. Tersedia: https://www.inanews.co.id/2019/01/petani-manggis-kembali-ekspor-ke-china-sebelumnya-2018-sebanyak-36-ribu-ton/
[9] Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan RI, Buku Lapang Budidaya Manggis, Jakarta: Kementan RI, 2024. [Online]. Tersedia: https://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2024/10/Buku-Lapang-Budidaya-Manggis_watermark.pdf
