Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Pulesari (Dewi Pule) di Dusun Pulesari, Kalurahan Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, lahir dari semangat gotong royong warga yang menolak menyerah setelah erupsi Gunung Merapi 2010 menghancurkan kebun salak pondoh mereka. [1] Bermodal potensi alam lereng Merapi, tradisi budaya lokal, dan kebun salak pondoh yang perlahan pulih, warga bersama Didik Irwanto dan Sarjana merancang konsep desa wisata berbasis komunitas yang resmi berdiri pada 9 November 2012. [2]

Dalam tujuh tahun pertama, Dewi Pule sudah menerima lebih dari 32.000 wisatawan hingga akhir 2014 dan meraih Juara I Desa Wisata Terbaik Kabupaten Sleman dua kali berturut-turut pada 2014 dan 2018. [3] Inovasi ini juga masuk nominasi Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2019, memperlihatkan bahwa model komunitas mandiri dari lereng Merapi ini layak menjadi rujukan nasional. [4]

Nama Inovasi:Desa Wisata Pulesari (Dewi Pule) — Wisata Alam, Budaya Tradisi, dan Agrowisata Salak Pondoh Berbasis Komunitas
Alamat:Dusun Pulesari, Kalurahan Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Inovator:Didik Irwanto (Ketua Desa Wisata Pulesari) bersama Sarjana dan seluruh masyarakat Dusun Pulesari (80 KK)
Kontak:Website: desawisatapulesari.wordpress.com | Email: dewipule@gmail.com | Hp: 085743128969 | FB & IG: Desa Wisata Pulesari | Twitter: WisataPulesari

Latar Belakang

Erupsi Gunung Merapi pada Oktober 2010 tidak hanya mengeluarkan lahar dan abu vulkanik, tetapi juga menghancurkan sumber hidup utama warga Dusun Pulesari: kebun salak pondoh. [1] Debu tebal merusak pohon-pohon salak yang menjadi tulang punggung perekonomian 80 kepala keluarga di dusun kecil ini. [2] Dibutuhkan waktu sekitar 2,5 tahun agar tanaman salak dapat tumbuh dan berbuah kembali, membuat warga hidup dalam ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan. [5]

Di tengah masa penantian itulah, Didik Irwanto dan Sarjana memanfaatkan waktu luang untuk berpikir: apa yang bisa dilakukan agar dusun ini tetap menghasilkan dan tidak bergantung sepenuhnya pada salak? [1] Mereka melihat bahwa Dusun Pulesari sesungguhnya menyimpan kekayaan yang belum tersentuh — sungai jernih, hamparan kebun salak, panorama lereng Merapi, dan tradisi budaya yang masih hidup. [6] Kekayaan ini belum pernah dikelola sebagai daya tarik wisata yang memberikan nilai ekonomi nyata bagi warga. [2]

Kebutuhan yang paling mendesak adalah menciptakan alternatif penghasilan yang merata, melibatkan semua lapisan warga, dan tidak merusak alam atau menghilangkan tradisi. [7] Konsep desa wisata berbasis komunitas dinilai paling tepat karena mampu mengakomodasi semua kelompok, mulai dari pemuda, ibu rumah tangga, lansia, hingga petani, masing-masing dengan peran yang menghasilkan pendapatan. [7] Dengan semangat gotong royong yang sudah lama mengakar, warga pun bersepakat membangun mimpi bersama. [2]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Desa Wisata Pulesari menggabungkan wisata alam sungai, agrowisata salak pondoh, dan pelestarian budaya tradisi dalam satu paket pengalaman desa yang autentik. [6] Sungai jernih yang mengalir di sisi kebun salak disulap menjadi wahana trekking dan outbound, sementara kebun salak dijadikan arena memetik buah sekaligus kelas mengolah salak menjadi 12 jenis produk olahan, mulai dari keripik, dodol, hingga sirup. [6] Di sisi budaya, tarian tradisional termasuk Tari Salak, permainan rakyat seperti engrang, bakiak, dan dakon, serta olahraga tradisional Jemparingan menjadi atraksi unggulan yang membuat wisatawan merasakan kehidupan desa yang sesungguhnya. [8]

Sistem bagi hasil yang adil menjadi inovasi sosial paling krusial di Dewi Pule. [7] Pengelola menerapkan dua sistem secara paralel: sistem nominal bergilir antar kelompok Dasa Wisma untuk layanan katering, dan sistem persentase untuk fasilitas seperti homestay milik warga yang dipasarkan oleh pengelola. [7] Mekanisme ini memastikan tidak ada satu keluarga pun yang merasa tersisih atau tidak mendapat bagian dari manfaat pariwisata desa. [7]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dari musyawarah desa yang intensif antara 2011 dan 2012, dengan Didik dan Sarjana sebagai penggerak utama. [1] Seluruh 80 kepala keluarga dilibatkan dari awal perencanaan, sehingga setiap warga memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap desa wisata ini. [7] Konsep ditetapkan, peran dibagi berdasarkan kelompok, dan pada 9 November 2012 Desa Wisata Pulesari resmi diluncurkan dengan diresmikan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman. [2]

Pada 2013, wisatawan pertama mulai berdatangan dan menjadi ujian nyata pertama bagi kesiapan seluruh sistem. [1] Tantangan terbesar pada fase awal adalah mengubah pola pikir petani salak menjadi pelaku wisata yang ramah, profesional, dan sadar pelestarian lingkungan. [7] Proses ini membutuhkan pelatihan, pendampingan, dan kesabaran karena perubahan budaya tidak bisa terjadi dalam semalam. [7]

Dukungan pemerintah Kabupaten Sleman hadir melalui pelatihan pengembangan SDM, pembangunan infrastruktur, serta keterlibatan Dewi Pule dalam pameran, festival, dan lomba desa wisata. [9] Lembaga-lembaga pendidikan seperti UGM dan UMY juga ikut meneliti dan mendampingi, menghasilkan rekomendasi yang memperkuat sistem kelembagaan dan strategi pemasaran desa wisata. [3] Proses yang panjang dan partisipatif inilah yang membuat Dewi Pule tumbuh kuat dari dalam, bukan sekadar proyek yang datang dari luar. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah model kepemilikan komunal yang sejati, di mana setiap dari 80 kepala keluarga merasa menjadi bagian dari desa wisata, bukan penonton atau buruh dari sistem yang dikendalikan pihak luar. [7] Sistem bagi hasil yang adil dan transparan secara efektif mencegah kecemburuan sosial dan mempertahankan kohesi komunitas bahkan ketika pendapatan mulai tumbuh signifikan. [7] Keterlibatan ibu-ibu melalui kelompok Dasa Wisma, pemuda karang taruna sebagai pemandu, dan lansia sebagai penjamu tamu menciptakan ekosistem yang menghargai setiap generasi. [7]

Faktor kedua adalah keunikan produk wisata yang benar-benar tidak bisa ditemukan di tempat lain: trekking sungai lereng Merapi, memetik salak pondoh langsung dari pohonnya, memasak 12 produk olahan salak, dan menyaksikan Tari Salak yang diciptakan warga sendiri sebagai ekspresi rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi. [8] Autentisitas ini sulit ditiru karena bersumber dari kehidupan nyata warga, bukan dari konstruksi artifisial untuk kepentingan wisata semata. [6]

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, dari nol wisatawan pada 2012 menjadi lebih dari 32.000 pengunjung hingga akhir 2014, Dewi Pule memperlihatkan pertumbuhan yang sangat pesat dalam kurun waktu dua tahun pertama operasionalnya. [3] Pada 2015, pengelola menargetkan 50.000 wisatawan, mencerminkan kepercayaan diri yang tumbuh seiring meningkatnya kapasitas 46 homestay yang mampu menampung rombongan hingga 600 orang sekaligus. [6] Pendapatan desa wisata menjadi sumber kas desa dan membuka peluang usaha bagi seluruh warga Dusun Pulesari. [10]

Dampak sosial paling nyata adalah terhentinya potensi konflik sosial pascabencana dan tumbuhnya rasa bangga kolektif terhadap desa sendiri. [7] Warga yang sebelumnya terancam kehilangan mata pencaharian kini memiliki identitas baru sebagai tuan rumah desa wisata yang ramah dan profesional. [8] Ini sejalan dengan Prinsip Sapta Pesona — aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan — yang menjadi standar layanan yang dihayati warga sebagai nilai hidup, bukan sekadar aturan. [7]

Pengakuan formal mengalir dalam bentuk penghargaan: Juara I Festival Desa Wisata Kabupaten Sleman kategori Desa Wisata Mandiri tahun 2014 dan 2018, Juara II tingkat Provinsi DIY, serta nominasi Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2019 dari Kementerian Pariwisata. [4] Berbagai penelitian dari UGM dan UMY juga menjadikan Pulesari sebagai objek studi model pemberdayaan komunitas pascabencana yang berhasil. [3]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengubah mentalitas petani salak menjadi pelaku wisata yang sadar hospitalitas, dan proses ini membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dari membangun infrastruktur fisik. [7] Tidak semua warga langsung percaya bahwa pariwisata akan memberi hasil nyata, sehingga motivasi perlu terus dijaga melalui musyawarah rutin dan transparansi pengelolaan keuangan desa wisata. [7]

Pandemi COVID-19 pada Maret 2020 menjadi ujian paling berat, memaksa Dewi Pule menutup diri dari wisatawan untuk pertama kalinya sejak berdiri. [1] Namun warga tidak berdiam diri; mereka memanfaatkan masa pandemi untuk berbenah, memperbaiki fasilitas, dan mempersiapkan diri menyambut era normal baru. [1] Semangat inilah yang menjadi bukti ketangguhan komunitas yang telah ditempa sejak hari pertama bangkit dari abu erupsi Merapi. [2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Dewi Pule dijamin melalui penerapan Sustainable Tourism Development (STD) secara konsisten, yang mencakup empat dimensi: kelembagaan yang kuat, peningkatan ekonomi masyarakat, pelestarian sosial budaya, dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. [9] SOP kepemanduan yang sudah ditetapkan memastikan setiap pemandu memahami prinsip pariwisata berkelanjutan, tidak hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai praktik harian dalam melayani wisatawan. [7]

Regenerasi pemandu dan pengelola melalui karang taruna menjadi fondasi utama keberlanjutan jangka panjang. [7] Keterlibatan anak-anak dalam menampilkan permainan rakyat kepada wisatawan secara tidak langsung menanamkan rasa cinta budaya sejak dini, memastikan tradisi tidak punah seiring modernisasi. [8] Dengan demikian, Dewi Pule tidak hanya melestarikan alam, tetapi juga mewariskan nilai budaya kepada generasi mendatang sebagai aset pariwisata yang tak ternilai harganya. [8]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Model pembangunan Desa Wisata Pulesari menyentuh hampir seluruh dimensi SDGs karena menggabungkan pemulihan pascabencana, pemberdayaan ekonomi inklusif, pelestarian budaya, dan pengelolaan lingkungan dalam satu ekosistem yang saling memperkuat. [3] Pendekatan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat ini menjadikan SDGs bukan dokumen kebijakan global yang abstrak, melainkan realitas kehidupan sehari-hari 80 kepala keluarga di lereng Gunung Merapi. [7]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Desa wisata memberi sumber penghasilan alternatif kepada seluruh 80 KK warga Dusun Pulesari yang kehilangan mata pencaharian utama akibat erupsi Merapi 2010, mengubah bencana menjadi peluang ekonomi komunitas.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan:Pengembangan agrowisata salak pondoh dan program 12 olahan salak memperkuat ketahanan pangan dan nilai ekonomi produk pertanian lokal, mengurangi ketergantungan pada satu komoditas tunggal.
SDGs 5: Kesetaraan Gender:Kelompok ibu-ibu Dasa Wisma berperan aktif dalam layanan katering wisatawan, memberi perempuan desa ruang ekonomi setara dan pengakuan atas kontribusi mereka dalam membangun desa wisata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Ekosistem desa wisata menciptakan lapangan kerja layak bagi seluruh lapisan masyarakat lintas generasi, dari pemandu wisata pemuda, pengusaha homestay, perajin, hingga kelompok lansia penjamu tamu.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Pengelolaan dusun lereng Merapi sebagai kawasan wisata yang memadukan alam, budaya, dan ekonomi komunitas membangun permukiman desa yang tangguh, inklusif, dan mampu pulih dari bencana secara mandiri.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim:Kemampuan masyarakat Pulesari bangkit dari dampak erupsi Merapi 2010 dan membangun ketahanan ekonomi berbasis wisata menjadi bukti nyata kapasitas adaptasi komunitas terhadap risiko bencana alam.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Konsep wisata yang mengandalkan keaslian alam lereng Merapi mendorong warga untuk menjaga dan melestarikan ekosistem sungai, kebun salak, dan vegetasi lereng gunung sebagai aset wisata jangka panjang.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara masyarakat Pulesari, pemerintah Sleman, perguruan tinggi (UGM, UMY), dan instansi pemerintah pusat menciptakan model kemitraan multipihak yang memperkuat dan mempertahankan kemandirian desa wisata.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Desa Wisata Pulesari sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pascabencana atau desa-desa agraris yang memiliki komoditas pertanian khas dan kekayaan budaya lokal yang belum dioptimalkan. [1] Kunci replikasinya terletak pada tiga elemen yang bisa dipindahkan ke konteks apa pun: musyawarah inklusif sejak awal, sistem bagi hasil yang adil dan transparan, serta komitmen seluruh warga sebagai subjek, bukan objek pembangunan. [7]

Untuk scale up, Dewi Pule sudah berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi lebih dari 22 desa wisata lain yang tergabung dalam Forum Komunikasi Desa Wisata Se-Kecamatan Turi. [4] Dokumentasi perjalanan Pulesari dari dusun pascaerupsi hingga Desa Wisata Mandiri Terbaik Sleman dapat dijadikan modul pelatihan resmi dalam program pengembangan desa wisata nasional. [9] Jika semangat “dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat” ini disebarkan ke ribuan desa lain, potensi dampaknya akan jauh melampaui lereng Gunung Merapi. [2]

Daftar Pustaka

[1] Universitas Gadjah Mada, “Pemberdayaan Masyarakat di Dusun Pulesari Menjadi Desa Wisata Pulesari pada Tahun 2010-2020,” etd.repository.ugm.ac.id, 2020. [Online]. Available: https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/204718

[2] Telkomsel, “Desa Wisata Pulesari: Surga Alam dan Budaya di Jogja yang Wajib Kamu Kunjungi,” telkomsel.com, 13 Feb. 2024. [Online]. Available: https://www.telkomsel.com/jelajah/jelajah-nusantara/desa-wisata-pulesari-surga-alam-dan-budaya-di-jogja-yang-wajib-kamu-kunjungi

[3] Universitas Gadjah Mada, “Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Pariwisata di Desa Wisata Pulesari,” etd.repository.ugm.ac.id, 2014. [Online]. Available: http://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/82359

[4] Kapanewon Turi Sleman, “Pertemuan Forkom Desa Wisata Se-Kecamatan Turi,” turi.slemankab.go.id, 17 Okt. 2019. [Online]. Available: https://turi.slemankab.go.id/2019/10/17/pertemuan-forkom-desa-wisata-se-kecamatan-turi/

[5] Scribd, “Profil Desa Wisata Pulesari Sleman,” scribd.com. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/439484666/Artikel-Pulesari

[6] Liputan6.com, “Pesona Dewi Pule: Treking Sungai dan Belajar 12 Olahan Salak,” liputan6.com, 6 Mei 2017. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/2943884/pesona-dewi-pule-treking-sungai-dan-belajar-12-olahan-salak

[7] Kementerian PAN-RB, “Melihat Kemandirian Desa Wisata Pulesari,” menpan.go.id, 3 Jun. 2019. [Online]. Available: https://www.menpan.go.id/site/berita-terkini/melihat-kemandirian-desa-wisata-pulesari

[8] BPPK Kemenkeu, “Capacity Building di Desa Wisata Pulesari,” bppk.kemenkeu.go.id, 14 Des. 2022. [Online]. Available: https://bppk.kemenkeu.go.id/balai-diklat-kepemimpinan-magelang/berita/capacity-building-di-desa-wisata-pulesari-020307

[9] ANTARA Jogja, “Desa Wisata di Sleman Dikembangkan untuk Tarik Wisatawan,” jogja.antaranews.com, 1 Sep. 2018. [Online]. Available: https://jogja.antaranews.com/berita/360098/desa-wisata-di-sleman-dikembangkan-untuk-tarik-wisatawan

[10] Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, “Model Pengelolaan Desa Wisata Pulesari,” digilib.uin-suka.ac.id. [Online]. Available: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/65825/1/20102030014_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

[11] Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, “Desa Wisata Terbaik 2018 Kabupaten Sleman,” repository.umy.ac.id. [Online]. Available: https://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/29627/11%20NASKAH%20PUBLIKASI.pdf

[12] SindoNews, “Pulesari, Desa Wisata Terbaik 2018 di Kabupaten Sleman,” daerah.sindonews.com, 17 Nov. 2018. [Online]. Available: https://daerah.sindonews.com/berita/1355758/189/pulesari-desa-wisata-terbaik-2018-di-kabupaten-sleman

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.