Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Pentingsari di lereng Gunung Merapi, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, bertransformasi dari dusun miskin menjadi desa wisata berbasis komunitas bertaraf internasional. [1] Mulai dirintis pada 2008 dengan hanya 5 homestay dan kurang dari 1.000 pengunjung per tahun, kini Pentingsari menerima sekitar 25.000 wisatawan setiap tahunnya dengan pendapatan rata-rata Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulan. [2]

Inovasi utamanya terletak pada model wisata pengalaman berbasis budaya dan pertanian yang menjadikan seluruh warga sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek pembangunan. [3] Hasilnya, pada 2023 Pentingsari meraih ASEAN Tourism Award kategori Community-Based Tourism dan pada 2025 kembali meraih ASEAN Tourism Award, menegaskan posisinya sebagai model desa wisata berkelanjutan berkelas dunia. [4]

Nama Inovasi:Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri) — Wisata Pengalaman Berbasis Budaya, Pertanian, dan Komunitas Lereng Merapi
Alamat:Dusun Pentingsari, Kalurahan Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Inovator:Masyarakat Dusun Pentingsari bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Peri, diprakarsai oleh Doto Yogantoro (Ketua) dan didampingi Bakti BCA; kontak pengelola: Bayu Hindra Wijaya dan Ciptaningtias
Kontak:Website: www.desawisatapentingsari.com | Email: id.desawisatapentingsari@gmail.com | Hp: 08563927865 | FB & IG: desawisatapentingsari.official

Latar Belakang

Pada 1990-an, Dusun Pentingsari tercatat sebagai salah satu dusun termiskin di lereng Gunung Merapi. [5] Kondisi geografis yang terpencil, lahan kurang subur seluas 103 hektare, dan keterbatasan akses membuat warga sulit meningkatkan taraf hidupnya. [2] Mayoritas warga dari 390 jiwa atau 127 kepala keluarga mengandalkan pertanian sederhana sebagai satu-satunya sumber penghidupan. [2]

Di balik keterbatasan itu, terdapat kekayaan yang belum disentuh: alam hijau yang terjaga, kearifan lokal yang hidup, tradisi gotong royong yang kuat, dan panorama lereng Merapi yang memukau. [1] Generasi sebelumnya telah mewariskan semangat merawat alam dan budaya, tetapi kekayaan ini belum pernah dimanfaatkan sebagai daya tarik ekonomi. [3] Masyarakat hidup dengan nilai-nilai luhur, namun tertutup dari dunia luar dan belum memiliki kemampuan mengubah potensi menjadi peluang. [2]

Kebutuhan yang paling mendesak adalah menciptakan sumber penghasilan baru yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa harus meninggalkan desa atau merusak lingkungan. [3] Pada awal 2008, tokoh masyarakat mulai melihat pariwisata berbasis komunitas sebagai jalan keluar yang tepat. [2] Pendekatan desa wisata dinilai mampu mengakomodasi semua komponen warga sebagai pelaku utama, sekaligus membuka pintu bagi kemitraan dengan pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi. [2]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Desa Wisata Pentingsari adalah model wisata pengalaman berbasis budaya, pertanian, dan kearifan lokal dengan pendekatan community-based tourism yang menjadikan warga sebagai subyek penuh, bukan penonton. [4] Wisatawan tidak hanya datang melihat, tetapi tinggal di homestay warga, belajar bertani, mengikuti tradisi seni pertunjukan, menjajal kuliner lokal, dan menyusuri DAS Kali Kuning sebagai jalur petualangan. [1] Tema besar yang diusung adalah “Budaya dan Pertanian yang Berwawasan Lingkungan,” menempatkan pelestarian alam sebagai fondasi seluruh aktivitas wisata. [1]

Sistem pembayaran di Dewi Peri pun unik: setiap tamu diberikan koin bambu senilai Rp15.000 yang digunakan sebagai alat tukar untuk mengakses berbagai layanan dari warga. [6] Mekanisme ini memastikan distribusi pendapatan yang adil dan merata kepada semua kelompok warga yang terlibat, mulai dari petani, seniman, ibu-ibu kuliner, hingga pemuda pemandu wisata. [6] Sistem koin ini menjadi inovasi sosial yang menjawab tantangan pemerataan pendapatan di dalam komunitas. [6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai pada 2008 dengan modal semangat, tanpa modal materi, hanya 5 homestay dan lapangan seadanya. [2] Tahun itu, Pentingsari meraih Juara II Lomba Desa Wisata se-Kabupaten Sleman, sebuah pengakuan awal yang membangkitkan kepercayaan diri masyarakat. [5] Pada 2009, pendampingan dari berbagai pihak menghadirkan perbaikan sarana perkemahan, aula, kamar mandi, dan akses jalan, sehingga kunjungan melonjak menjadi 5.000 orang. [2]

Puncak ujian datang pada Oktober 2010 ketika erupsi Gunung Merapi menghancurkan 20 hektare sawah di DAS Kali Kuning dan memutus 2 jembatan akses. [2] Butuh lebih dari enam bulan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan wisatawan. [2] Namun bencana itu justru memperkuat solidaritas warga: lebih banyak kelompok masyarakat yang mengambil peran aktif, dan pada 2011 kunjungan melonjak pesat mencapai 20.000 orang. [2]

Pada 2014, Bakti BCA masuk sebagai mitra CSR dan menjadi katalis percepatan profesionalisasi layanan. [7] Sejak saat itu, serangkaian pelatihan dijalankan secara sistematis: layanan prima (2014–2015), manajemen dan seni budaya (2016), kepemimpinan dan standarisasi homestay (2017), serta komunikasi, pemasaran, dan leadership (2018). [7] Program ini menanamkan budaya hospitalitas dengan formula tiga S — Senyum, Sapa, Salam — sebagai fondasi pelayanan Dewi Peri. [8]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah kepemilikan masyarakat yang sesungguhnya terhadap desa wisata ini. [3] Setiap warga, mulai dari petani, ibu rumah tangga, pemuda, seniman, hingga pedagang warung, memegang peran spesifik yang memberi mereka penghasilan nyata dari pariwisata. [2] Keterlibatan kaum perempuan dan pemuda menjadi modal terbesar bagi keberlanjutan Dewi Peri karena regenerasi terjadi secara alami dari dalam komunitas. [2]

Faktor kedua adalah kemitraan jangka panjang yang konsisten dengan Bakti BCA dan berbagai lembaga pendidikan. [7] BCA tidak hanya memberi bantuan finansial, tetapi mendampingi perubahan mentalitas warga dari petani menjadi pelaku wisata profesional yang bangga dengan identitas desanya. [8] Kemitraan ini membuktikan bahwa program CSR yang dilakukan dengan komitmen jangka panjang mampu melahirkan transformasi komunitas yang berkelanjutan. [7]

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, lonjakan kunjungan dari kurang dari 1.000 orang pada 2008 menjadi stabil di angka 25.000 orang per tahun pada 2018 mencerminkan pertumbuhan luar biasa dalam satu dekade. [2] Pendapatan desa wisata mencapai Rp150 juta hingga Rp200 juta per bulan, yang didistribusikan kepada 55 homestay, 25 penampil seni budaya, 30 pemandu wisata lokal, 60 pelaku kuliner, 20 pelaku home industri, 6 warung kelontong, dan 30 tenaga keamanan. [2] Lebih dari 70 persen anggota masyarakat sudah terlibat aktif dalam ekosistem desa wisata ini. [2]

Dampak sosial yang paling signifikan adalah terhentinya arus urbanisasi generasi muda. [3] Desa wisata memberi pemuda alasan untuk tinggal dan berkarya di desa sendiri sebagai pemandu, pengelola, atau pengembang paket wisata. [3] Kelompok perempuan juga mendapat ruang ekonomi yang nyata melalui unit kuliner dan home industri yang tumbuh seiring meningkatnya kunjungan. [2]

Pengakuan internasional mengalir deras: Best Practice of Tourism Ethics at Local Level dari WCTE-UNWTO (2011), Green Destination Top 100 Dunia di Belanda (2019), ASEAN Sustainable Tourism Award di Kamboja (2022), ASEAN Tourism Award kategori Community-Based Tourism (2023), dan kembali meraih ASEAN Tourism Award (2025). [4] Setiap penghargaan memperkuat citra Pentingsari dan menarik lebih banyak kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara. [1]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mengelola potensi konflik di dalam komunitas ketika pendapatan mulai meningkat dan sebagian warga merasa belum mendapat bagian yang adil. [2] Kesenjangan partisipasi dan distribusi pendapatan sempat menimbulkan kecemburuan sosial di antara warga pada 2014. [2] Inovasi sistem koin bambu dan pendampingan BCA terbukti membantu meredam konflik tersebut dengan menciptakan mekanisme distribusi yang lebih transparan dan merata. [6]

Tantangan lain adalah risiko bencana alam yang tidak dapat dihindari karena lokasi desa berada hanya 12,5 km dari puncak Merapi. [1] Erupsi 2010 membuktikan bahwa infrastruktur wisata dapat hancur dalam sekejap, sehingga desa wisata perlu selalu memiliki rencana manajemen risiko bencana yang matang. [2] Pengalaman bangkit dari erupsi 2010 justru memperkuat kapasitas warga dalam menghadapi ketidakpastian dan membangun ketangguhan komunitas. [2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Pentingsari dibangun di atas tiga pilar: pelestarian alam dan lingkungan, pemeliharaan nilai sosial budaya pedesaan, dan penguatan kapasitas SDM secara berkelanjutan. [3] Ke depan, pengembangan Dewi Peri diarahkan pada upaya konservasi yang lebih sistematis, termasuk pengelolaan DAS Kali Kuning dan kawasan vegetasi lereng Merapi sebagai aset ekowisata jangka panjang. [2]

Di sisi kelembagaan, Pokdarwis Dewi Peri terus diperkuat agar mampu beroperasi secara mandiri dan profesional. [3] Integrasi penjualan tiket wisata melalui aplikasi BCA mobile membuka babak baru pemasaran digital yang memperluas jangkauan tanpa kehilangan karakter komunitas. [7] Keterlibatan generasi muda dalam kepemimpinan pengelolaan wisata menjadi jaminan bahwa model inovasi ini dapat terus berjalan melampaui satu generasi. [8]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Desa Wisata Pentingsari adalah salah satu contoh paling lengkap dalam mengimplementasikan SDGs di tingkat desa. [4] Setiap aspek pengembangannya, mulai dari ekonomi inklusif, pelestarian ekosistem, hingga kelembagaan yang partisipatif, mencerminkan komitmen nyata terhadap pembangunan berkelanjutan yang diakui dunia. [1]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Transformasi dari dusun miskin menjadi desa wisata yang memberikan penghasilan tambahan bagi lebih dari 70% warga membuktikan bahwa pariwisata komunitas mampu menjadi instrumen pengentasan kemiskinan berbasis potensi lokal.
SDGs 5: Kesetaraan Gender:Pelibatan aktif kaum perempuan dalam unit kuliner, home industri, dan layanan homestay membuka ruang ekonomi setara bagi perempuan desa yang sebelumnya tidak memiliki sumber penghasilan mandiri.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Ekosistem desa wisata menciptakan lapangan kerja layak bagi 350 lebih warga dalam berbagai peran, dari pemandu wisata, pengelola homestay, seniman, hingga pelaku kuliner, tanpa harus meninggalkan desa.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Pengelolaan permukiman lereng Merapi yang memadukan pelestarian lingkungan, tradisi budaya, dan aktivitas ekonomi wisata membangun komunitas desa yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim:Ketangguhan masyarakat Pentingsari dalam bangkit dari bencana erupsi Merapi 2010 menjadi bukti nyata kemampuan komunitas menghadapi risiko iklim dan bencana alam secara adaptif.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Tema “Berwawasan Lingkungan” menjadi fondasi seluruh aktivitas wisata, mendorong pelestarian vegetasi lereng Merapi, DAS Kali Kuning, dan keanekaragaman hayati yang menjadi modal utama daya tarik wisata.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kemitraan multipihak antara masyarakat, Pokdarwis, Bakti BCA, pemerintah Sleman, perguruan tinggi, dan lembaga internasional seperti UNWTO memperlihatkan model kolaborasi yang menghasilkan dampak transformatif jangka panjang.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pentingsari sangat relevan direplikasi oleh desa-desa di kawasan rawan bencana atau daerah tertinggal yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang belum dimanfaatkan. [3] Kunci replikasinya bukan pada fasilitas mewah, melainkan pada perubahan mentalitas masyarakat dari petani menjadi pelaku wisata yang percaya diri dan bangga terhadap identitas desanya. [8] BCA sendiri sudah memanfaatkan Pentingsari sebagai destinasi studi tiru bagi desa wisata binaan lain, memperlihatkan bahwa model ini sudah berjalan sebagai mekanisme replikasi yang hidup. [10]

Untuk scale up, kunci terletak pada konsistensi kemitraan jangka panjang dan penguatan SDM yang tidak berhenti setelah satu siklus pelatihan. [7] Dokumentasi perjalanan Pentingsari dari dusun miskin hingga peraih ASEAN Tourism Award dapat dikemas menjadi modul kurikulum pengembangan desa wisata nasional. [4] Jika narasi transformasi Pentingsari dikenal luas dan diadaptasi oleh ratusan desa lain, dampaknya akan jauh melampaui batas satu lereng Gunung Merapi. [3]

Daftar Pustaka

[1] Kompas Travel, “Desa Wisata Pentingsari di Yogyakarta, Peraih ASEAN Tourism Award,” travel.kompas.com, 12 Mei 2025. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2025/05/12/080800027/desa-wisata-pentingsari-di-yogyakarta-peraih-asean-tourism-award

[2] Kemenparekraf/Baparekraf, “Desa Wisata Pentingsari – Jadesta,” jadesta.kemenparekraf.go.id. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pentingsari

[3] Dinas Pariwisata DIY, “Desa Wisata Pentingsari,” visitingjogja.jogjaprov.go.id, 18 Mar. 2025. [Online]. Available: https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/42349/desa-wisata-pentingsari-2/

[4] Pemerintah Kecamatan Cangkringan, “Penghargaan Desa Wisata Pentingsari Cangkringan Sleman,” cangkringan.slemankab.go.id, 6 Feb. 2023. [Online]. Available: https://cangkringan.slemankab.go.id/penghargaa-desa-wisata-penting-sari-cangkringansleman/

[5] Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, “Deskripsi Desa Wisata Pentingsari,” repository.umy.ac.id. [Online]. Available: https://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/21102/6.%20BAB%20II.pdf

[6] Harian Jogja, “Dewi Peri Ubah Desa Miskin Jadi Berprestasi,” jogjapolitan.harianjogja.com, 10 Des. 2021. [Online]. Available: https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2021/12/11/512/1090505/dewi-peri-ubah-desa-miskin-jadi-berprestasi

[7] PT Bank Central Asia Tbk, “Tingkatkan Kualitas Layanan Desa Binaan, BCA Adakan Pelatihan,” bca.co.id, 25 Jan. 2022. [Online]. Available: https://www.bca.co.id/id/tentang-bca/media-riset/pressroom/siaran-pers/2022/01/26/09/52/tingkatkan-kualitas-layanan-desa-binaan

[8] SWA Magazine, “Transformasi Desa Pentingsari Menjadi Primadona Desa Wisata Bakti BCA,” swa.co.id, 30 Jul. 2025. [Online]. Available: https://swa.co.id/read/462215/transformasi-desa-pentingsari-menjadi-primadona-desa-wisata-bakti-bca

[9] Alumni IPB Pedia, “Ciptaningtyas – Kisah Transformasi Pentingsari,” alumniipbpedia.id, 17 Feb. 2025. [Online]. Available: https://www.alumniipbpedia.id/post/ciptaningtyas

[10] ANTARA Jogja, “BCA Ajak Desa Wisata Studi ke Pentingsari,” jogja.antaranews.com, 13 Jun. 2015. [Online]. Available: https://jogja.antaranews.com/berita/332339/bca-ajak-desa-wisata-studi-ke-pentingsari

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.