Ringkasan Inovasi

“Kami membangun Pasar Pancingan bersama-sama—satu kolam, satu lapak, satu harapan—agar desa ini menjadi tempat wisata yang membuat warga tidak perlu pergi jauh untuk mencari rezeki.” — Komunitas GenPI & Desa Wisata Hijau Bilebante

Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan inovasi wisata desa yang berani dan kreatif melalui Pasar Pancingan—sebuah destinasi wisata berbasis budaya, kuliner, dan pengalaman yang mengubah bekas lahan galian C tambang pasir menjadi kawasan rekreasi bertema tempo dulu yang memadukan nuansa tradisional Sasak dengan konsep pasar wisata kekinian dan menarik. Inovasi ini lahir dari kolaborasi antara komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lombok-Sumbawa dengan Pemerintah Desa Bilebante untuk menciptakan atraksi wisata unggulan yang sekaligus menggerakkan ekonomi warga lokal melalui keterlibatan langsung sebagai pedagang, pemandu, dan pelaku UMKM. [1][2]

Dampak inovasi ini jauh melampaui ekspektasi awal: Desa Bilebante meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik 2017 dari Kementerian Desa PDTT, masuk 100 Besar ADWI 2021 Kemenparekraf, meraih runner-up Desa Wisata Terbaik Dunia 2023 versi UNWTO, dan akhirnya dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik Nasional 2025 dalam ajang Wonderful Indonesia Award—sebuah perjalanan transformasi dari desa tambang pasir yang terpinggirkan menjadi ikon desa wisata berkelanjutan bertaraf internasional. [3][4]

Nama Inovasi:Pasar Pancingan — Wisata Kuliner Budaya Tempo Dulu Berbasis Kolam Pancingan di Desa Wisata Hijau Bilebante
Alamat:Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (Kode Pos 83563)
Inovator:Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Lombok-Sumbawa berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Bilebante dan Pengelola Desa Wisata Hijau (DWH) Bilebante
Kontak:Website: bilebante.com; Jadesta Kemenpar: jadesta.kemenpar.go.id/desa/bilebante; Lokasi: Tapon Timur, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, NTB 83563

Latar Belakang

Sebelum menjadi desa wisata, Bilebante dikenal sebagai lokasi tambang pasir galian C yang meninggalkan lubang-lubang kolam besar di sebagian wilayah desanya—bekas eksploitasi sumber daya alam yang seolah hanya meninggalkan luka pada lanskap desa tanpa manfaat jangka panjang bagi warganya. Desa dengan hamparan persawahan yang subur berlatar Gunung Rinjani ini sesungguhnya menyimpan kekayaan alam, budaya Sasak, dan kearifan lokal yang sangat potensial untuk dijadikan modal pariwisata, namun belum ada yang berani merancang konsep wisata yang mengemas seluruh potensi itu secara terintegrasi dan menarik bagi wisatawan modern. [5][6]

Masalah ekonomi desa yang paling mendesak adalah keterbatasan lapangan kerja produktif yang mendorong warga—terutama generasi muda—untuk merantau ke luar daerah atau bahkan menjadi TKI/TKW di luar negeri, menguraskan potensi SDM terbaik desa yang seharusnya bisa menjadi motor penggerak pembangunan lokal. Desa Bilebante membutuhkan sumber pendapatan baru yang tidak bergantung pada musim pertanian dan tidak merusak lingkungan—sebuah kebutuhan yang sangat mendesak tetapi belum terjawab oleh model pembangunan desa konvensional yang selama ini berjalan. [4][7]

Peluang transformasi muncul ketika komunitas anak-anak muda Lombok-Sumbawa yang tergabung dalam Generasi Pesona Indonesia (GenPI)—sebuah gerakan nasional yang diprakarsai Kementerian Pariwisata untuk mendorong pemuda sebagai duta wisata digital—mulai melirik potensi Desa Bilebante sebagai kandidat destinasi wisata desa yang dapat dipromosikan secara viral melalui media sosial. Mereka melihat bahwa bekas kolam galian C yang selama ini dianggap tidak berguna justru dapat menjadi aset wisata yang unik jika dipadukan dengan konsep memancing, kuliner tradisional Sasak, dan pengalaman pasar tempo dulu yang autentik dan tidak ada di tempat lain. [1][8]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah transformasi kreatif bekas kolam tambang pasir menjadi Pasar Pancingan—sebuah konsep wisata imersif yang mengintegrasikan empat elemen sekaligus dalam satu kawasan: atraksi memancing di kolam-kolam bekas galian yang diisi ikan, pasar kuliner bertema tempo dulu dengan lebih dari 30 jenis makanan khas Sasak dan Lombok, pengalaman budaya autentik dengan seluruh pedagang mengenakan pakaian adat Sasak, serta sistem transaksi menggunakan uang kepeng tradisional yang menciptakan pengalaman immersive bagi setiap pengunjung yang masuk ke kawasan pasar. Keunikan sistem transaksi uang kepeng ini adalah jantung dari konsep inovasinya: setiap pengunjung wajib menukar uang rupiah ke uang kepeng senilai Rp2.500 (kepeng 2,5), Rp5.000 (kepeng 5), dan Rp10.000 (kepeng 10) di money changer khusus sebelum berbelanja, menciptakan pengalaman berbelanja yang terasa seperti benar-benar kembali ke zaman dahulu. [1][8]

Cara kerja Pasar Pancingan dirancang sebagai ekosistem wisata yang lengkap: pengunjung membeli tiket masuk Rp7.000 per orang, lalu memilih aktivitas yang diinginkan—memancing di kolam dengan hasil tangkapan yang langsung dapat diolah menjadi kuliner berbahan dasar ikan oleh pedagang pasar, mencicipi lebih dari 30 jenis kuliner khas Sasak yang disajikan di lapak bambu beratap alang-alang dengan alas daun pisang, berfoto di rumah pohon dan spot ayunan bernuansa pedesaan, mendengarkan live music tradisional, atau menikmati paket bersepeda mengelilingi desa. Evolusi Pasar Pancingan terus berlangsung hingga kini: jam operasional diperluas dari sekadar Minggu pagi menjadi setiap hari (dengan live music khusus di hari Minggu), makanan disajikan di atas piring dan mangkuk tanah liat, dan berbagai atraksi baru ditambahkan seperti belajar memanah, kelas memasak, dan spa di pinggir sawah. [2][6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan Pasar Pancingan dimulai dari kolaborasi intensif antara komunitas GenPI Lombok-Sumbawa dengan tokoh-tokoh masyarakat dan Pemerintah Desa Bilebante untuk memetakan aset desa yang dapat dijadikan daya tarik wisata. Tim GenPI yang terbiasa berpikir kreatif dari perspektif digital marketing membawa wawasan baru tentang apa yang viral dan dicari wisatawan modern—yakni pengalaman autentik yang “Instagram-able” dan bercerita—sementara warga lokal membawa pengetahuan mendalam tentang kekayaan kuliner, budaya, dan kearifan lokal Sasak yang tidak dimiliki orang luar. Perpaduan dua perspektif ini menghasilkan konsep Pasar Pancingan yang secara cerdas memenuhi kebutuhan wisatawan modern akan konten visual yang menarik sekaligus menawarkan pengalaman budaya yang genuine dan tidak dapat dibuat-buat. [1][7]

Pembangunan fisik Pasar Pancingan dilakukan secara gotong royong oleh warga desa dengan menggunakan material lokal yang mudah didapat dan selaras dengan konsep tempo dulu: bambu sebagai struktur lapak, alang-alang sebagai atap, daun pisang sebagai alas makanan, dan tanah liat sebagai peralatan makan. Pilihan material ini bukan sekadar estetika—ia juga merupakan keputusan bisnis yang cerdas karena menekan biaya pembangunan infrastruktur secara drastis, menggunakan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar desa, dan menciptakan identitas visual yang kuat dan konsisten yang membedakan Pasar Pancingan dari wisata kuliner konvensional. [5][8]

Proses pengembangan tidak berjalan tanpa hambatan. Pada tahap awal, Pasar Pancingan hanya buka setiap Minggu pagi pukul 07.00–11.00—model operasional yang terbatas namun sengaja dipilih untuk membangun eksklusivitas dan antusiasme pengunjung yang tidak ingin kehabisan waktu. Strategi ini terbukti berhasil menciptakan buzz dari mulut ke mulut yang kemudian menyebar viral di media sosial, mendatangkan semakin banyak pengunjung hingga pasar mampu memperluas jam operasional dan menambah atraksi secara bertahap sesuai pertumbuhan pendapatan dan kapasitas pengelolaan. [8][2]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan Pasar Pancingan adalah kekuatan konsep wisata imersif yang dirancang secara menyeluruh dan konsisten—mulai dari sistem uang kepeng, pakaian adat pedagang, material alami lapak, hingga cara penyajian makanan di daun pisang—yang menciptakan pengalaman total yang membawa pengunjung benar-benar masuk ke dalam suasana pasar Sasak tempo dulu. Konsistensi pengalaman ini sangat sulit ditiru karena ia bukan sekadar dekorasi visual, melainkan sistem operasional yang melibatkan seluruh warga yang berpartisipasi sebagai pedagang, pemandu, dan pemain musik dengan standar penampilan dan pelayanan yang terjaga. [1][5]

Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan komunitas GenPI Lombok-Sumbawa yang memiliki keahlian digital marketing dan jaringan promosi media sosial yang sangat kuat. Promosi digital yang agresif melalui foto-foto “Instagram-able” Pasar Pancingan yang tersebar di media sosial menjadi mesin pemasaran yang jauh lebih efektif dan hemat biaya dibanding iklan konvensional, menjangkau jutaan pengguna media sosial yang tertarik dengan wisata budaya otentik. Pengakuan resmi dari Kementerian Desa PDTT melalui penghargaan Desa Wisata Terbaik 2017 membuka pintu akses ke program pengembangan desa wisata nasional, pelatihan UMKM, dan eksposur media nasional yang mengangkat Pasar Pancingan ke level yang tidak bisa dicapai oleh promosi mandiri saja. [3][4]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak paling terukur dari Pasar Pancingan adalah transformasi ekonomi desa yang dramatis dan berkelanjutan. Desa Bilebante yang sebelumnya bergantung pada pertanian dan penambangan pasir kini menghasilkan pendapatan dari sektor pariwisata yang menyerap tenaga kerja lokal secara masif: pedagang kuliner, pengelola kolam pancingan, pemandu sepeda, pemandu memanah, pelaku UMKM produk olahan seperti keripik singkoling, tortila jarula, dan sambal cengeh lombok, hingga pemilik homestay yang mengisi kapasitas akomodasi yang terus berkembang. [9][6] Tiket masuk Pasar Pancingan yang terjangkau Rp7.000 per orang memastikan bahwa wisata ini inklusif dan dapat dinikmati semua segmen ekonomi, sekaligus mengumpulkan volume pendapatan yang signifikan mengingat jumlah pengunjung yang terus meningkat.

Pengakuan internasional yang diraih adalah bukti kualitatif paling kuat tentang keberhasilan inovasi ini: runner-up Desa Wisata Terbaik Dunia 2023 versi UNWTO menempatkan Bilebante sejajar dengan desa-desa wisata terbaik dari seluruh dunia, sebuah pencapaian luar biasa dari desa kecil di Lombok Tengah yang bahkan 10 tahun sebelumnya tidak pernah masuk peta wisata nasional. Penobatan sebagai Desa Wisata Terbaik Nasional 2025 dalam Wonderful Indonesia Award semakin mengukuhkan posisi Bilebante sebagai model desa wisata berkelanjutan yang berhasil memadukan kekayaan alam, budaya lokal, dan kreativitas komunitas menjadi produk wisata kelas dunia. [3][4]

Dampak ekologi juga sangat signifikan: bekas kolam tambang pasir yang menjadi “luka” lingkungan desa berhasil diremediasi menjadi kolam pancingan yang produktif dan estetis, membuktikan bahwa rehabilitasi ekosistem yang rusak dapat dilakukan secara ekonomis melalui pendekatan wisata yang tepat. Keberadaan wisata desa juga mendorong pengembangan kebun herbal, budidaya rumput laut di sawah, dan pelestarian pura tertua di Lombok Tengah (Pura Lingkar Kelud) sebagai aset wisata—menjadikan seluruh ekosistem desa semakin terjaga dan bernilai karena pariwisata memberikan insentif nyata untuk melestarikannya. [6][10]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi Pasar Pancingan adalah menjaga standar kualitas pengalaman pengunjung yang konsisten seiring meningkatnya jumlah wisatawan dan semakin banyaknya pedagang yang bergabung. Konsistensi penggunaan pakaian adat Sasak, sistem uang kepeng, dan kualitas kuliner yang autentik membutuhkan koordinasi dan pengawasan yang semakin kompleks seiring skala operasi yang terus berkembang—ada risiko bahwa standar autentisitas yang menjadi keunggulan utama Pasar Pancingan terdegradasi jika pengelolaan tidak cukup ketat dan terstandar. [1][7]

Kendala infrastruktur juga menjadi hambatan nyata: akses jalan menuju Desa Bilebante yang belum sepenuhnya optimal di semua jalur dapat mengurangi kenyamanan wisatawan, terutama bus wisata rombongan yang membutuhkan jalan yang lebih lebar. Keterbatasan kapasitas homestay dan parkir pada hari-hari puncak kunjungan seperti akhir pekan dan musim liburan membatasi jumlah wisatawan yang dapat dilayani secara optimal sekaligus menciptakan tekanan terhadap ketenangan dan kenyamanan lingkungan desa yang menjadi daya tarik utama. [2][5]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Pasar Pancingan dan Desa Wisata Hijau Bilebante dibangun di atas fondasi yang kuat: diversifikasi produk wisata yang terus berkembang—dari paket memancing dan kuliner di Pasar Pancingan hingga wisata sepeda, spa di pinggir sawah, kelas memasak, belajar memanah, kebun herbal, budidaya rumput laut, dan paket wisata keluarga lengkap—memastikan pengunjung selalu menemukan pengalaman baru yang membuat mereka kembali lagi. Pengelolaan oleh Desa Wisata Hijau (DWH) Bilebante sebagai badan pengelola yang terstruktur dengan sistem standar operasional yang baku menjadi jaminan bahwa kualitas dan keautentikan wisata akan terjaga meski terjadi pergantian pengurus atau perluasan skala operasi. [6][9]

Dalam jangka panjang, strategi keberlanjutan Bilebante berfokus pada penguatan ekonomi sirkular desa di mana seluruh rantai nilai pariwisata—dari bahan baku kuliner, kerajinan, jasa pemandu, hingga akomodasi—dipenuhi oleh warga lokal sendiri sehingga manfaat ekonomi tidak bocor keluar desa. Pengembangan platform digital dan pemasaran online yang kuat melalui website bilebante.com dan kehadiran aktif di platform Jadesta Kemenpar memastikan desa ini terus mudah ditemukan oleh calon wisatawan dari seluruh Indonesia dan dunia. Kemitraan berkelanjutan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta berbagai lembaga penelitian dan NGO yang tertarik pada model desa wisata berkelanjutan membuka akses ke sumber daya, pelatihan, dan jaringan internasional yang mendukung pengembangan jangka panjang. [3][4]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi Pasar Pancingan dan Desa Wisata Hijau Bilebante memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Pasar Pancingan menciptakan ratusan lapangan kerja baru bagi warga Bilebante sebagai pedagang kuliner, pemandu wisata, pengelola wahana, dan pelaku UMKM olahan makanan khas yang sebelumnya tidak memiliki sumber pendapatan alternatif selain bertani atau menambang pasir. Transformasi dari desa tambang pasir menjadi desa wisata terbaik nasional membuktikan bahwa inovasi berbasis potensi lokal mampu mengangkat taraf ekonomi warga secara masif dan berkelanjutan tanpa bergantung pada bantuan luar.
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas:Paket wisata edukasi Pasar Pancingan—termasuk kelas memasak, belajar memanah, kebun herbal, dan budidaya rumput laut di sawah—menghadirkan pengalaman belajar langsung di alam yang memperkaya pengetahuan pengunjung terutama pelajar tentang kearifan lokal Sasak, pertanian, dan keanekaragaman hayati. Pelatihan warga desa sebagai pemandu wisata profesional dan pedagang UMKM berstandar juga meningkatkan kapasitas SDM desa yang berdampak jangka panjang pada kualitas generasi penerus Bilebante.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Ekosistem wisata Desa Bilebante menciptakan lapangan kerja layak yang menyerap tenaga kerja lokal lintas usia dan gender—dari pemuda GenPI sebagai pengelola digital hingga ibu-ibu pengrajin dan pedagang kuliner—menghasilkan pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan merata. Tiket masuk Rp7.000 yang terjangkau memastikan pasar wisata yang luas dan volume pendapatan yang berkelanjutan, didukung oleh tujuh paket wisata keluarga yang menawarkan opsi harga beragam untuk semua segmen ekonomi.
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan:Rehabilitasi bekas kolam tambang pasir menjadi kolam pancingan dan kawasan wisata Pasar Pancingan adalah contoh transformasi lahan terdegradasi menjadi ruang komunitas produktif yang berkelanjutan secara ekonomi dan ekologi. Pelestarian Pura Lingkar Kelud—pura tertua di Lombok Tengah—sebagai aset wisata religi memastikan warisan budaya dan sejarah desa terjaga untuk generasi mendatang dengan dukungan insentif ekonomi dari pariwisata.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:Penggunaan material lokal alami—bambu, alang-alang, daun pisang, dan tanah liat—dalam seluruh infrastruktur Pasar Pancingan meminimalkan limbah konstruksi dan memastikan bahwa pembangunan wisata tidak meninggalkan jejak lingkungan yang merusak. Konsep “Desa Wisata Hijau” yang menjadi identitas Bilebante mencerminkan komitmen terhadap praktik pariwisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan menjaga daya dukung ekosistem desa dalam jangka panjang.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Transformasi Pasar Pancingan dan ekosistem wisata Bilebante memberikan insentif ekonomi yang kuat bagi warga untuk menjaga kelestarian sawah, kebun, hutan, dan sungai desa yang menjadi daya tarik utama wisatawan—membalik logika eksploitasi menjadi logika pelestarian yang menguntungkan. Pengembangan kebun herbal oleh pemuda desa sebagai atraksi wisata edukasi turut memperkuat keanekaragaman hayati lokal yang selama ini terancam oleh monokultur pertanian.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Model kolaborasi antara komunitas GenPI, Pemerintah Desa Bilebante, Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa PDTT, UNWTO, dan sektor swasta pariwisata membuktikan bahwa inovasi wisata desa yang berdampak global dapat terwujud melalui kemitraan multipihak yang sinergis dan berbagi nilai. Pengakuan UNWTO sebagai runner-up Desa Wisata Terbaik Dunia 2023 membuka peluang kemitraan internasional yang dapat membawa investasi, pengetahuan, dan jaringan global ke desa-desa Indonesia yang memiliki potensi serupa.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Pasar Pancingan sangat relevan untuk direplikasi di ratusan desa wisata di seluruh Indonesia yang memiliki pola masalah serupa: potensi alam dan budaya lokal yang melimpah tetapi belum dikemas menjadi produk wisata yang menarik dan memiliki nilai tambah ekonomi bagi warga. Kunci replikasinya terletak pada dua elemen yang dapat ditransfer: keberanian untuk menemukan konsep wisata yang benar-benar unik dari potensi lokal yang ada—termasuk melihat “kekurangan” seperti bekas tambang sebagai aset yang dapat dikreasikan—dan kemitraan aktif dengan komunitas digital lokal seperti GenPI yang mampu mempromosikan desa secara viral di media sosial. Dinas Pariwisata kabupaten/kota di seluruh Indonesia dapat menjadikan model bisnis Pasar Pancingan sebagai template pengembangan pasar wisata berbasis budaya lokal yang dapat disesuaikan dengan kekayaan kuliner dan tradisi masing-masing daerah. [1][7]

Untuk scale up nasional, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah mengambil langkah tepat dengan memasukkan Bilebante ke dalam program Desa Wisata Nasional (ADWI) yang mempromosikan model terbaik ke seluruh desa wisata di Indonesia melalui platform Jadesta. Pengembangan kurikulum pelatihan “Pasar Wisata Berbasis Budaya” yang mendokumentasikan metodologi Pasar Pancingan—dari konsep uang kepeng, standar pakaian adat, desain lapak alami, hingga sistem manajemen pengunjung—akan memungkinkan ribuan desa di seluruh Indonesia mengadopsi inovasi serupa dengan panduan yang jelas dan terstandar. Pencapaian internasional Bilebante sebagai runner-up Desa Wisata Terbaik Dunia UNWTO 2023 memberikan bukti yang tidak terbantahkan bahwa model ini mampu bersaing di level global dan layak dijadikan kebanggaan nasional yang dipromosikan ke panggung pariwisata internasional. [3][4]

Daftar Pustaka

[1] Kumparan/Suara Banyuurip (dikutip via Kolomdesa), “Desa Wisata Bilebante, Bekas Tambang Pasir Kini Jadi Kawasan Pelesir,” kolomdesa.com, 27 Mar. 2024. [Online]. Tersedia: https://kolomdesa.com/desa-wisata-bilebante-bekas-tambang-pasir-kini-jadi-kawasan-pelesir-24513/

[2] Desa Wisata Hijau Bilebante, “Serunya Rekreasi Bareng Tersayang di Pasar Pancingan,” bilebante.com. [Online]. Tersedia: https://bilebante.com/id_ID/pasar-pancingan/

[3] Kompas Travel, “Desa Wisata Hijau Bilebante Jadi Desa Wisata Terbaik Nasional 2025,” travel.kompas.com, 5 Des. 2025. [Online]. Tersedia: https://travel.kompas.com/read/2025/12/05/230203727/desa-wisata-hijau-bilebante-jadi-desa-wisata-terbaik-nasional-2025

[4] YouTube, “Desa Hijau Bilebante, Lombok Tengah: Runner-Up Desa Wisata Terbaik Dunia 2023 Versi UNWTO,” youtube.com, 22 Mei 2024. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=dUpBFILFgB0

[5] Zuppa Soupp Blog, “Minggu Manis di Pasar Pancingan Bilebante, Lombok Tengah,” zuppasoupp.wordpress.com, 12 Mar. 2018. [Online]. Tersedia: https://zuppasoupp.wordpress.com/2018/03/12/minggu-manis-di-pasar-pancingan-bilebante-lombok-tengah/

[6] Desa Wisata Hijau Bilebante, “Halaman Utama Desa Wisata Hijau Bilebante,” bilebante.com. [Online]. Tersedia: https://bilebante.com/id_ID/

[7] JPNN, “Mengintip Keindahan Alam di Desa Wisata Hijau Pasar Pancingan,” m.jpnn.com. [Online]. Tersedia: https://m.jpnn.com/news/mengintip-keindahan-alam-di-desa-wisata-hijau-pasar-pancingan

[8] YouTube, “Pasar Pancingan | bilebante #lombok,” youtube.com. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=996qn7cWHnA

[9] Niaga Asia, “7 Paket Wisata Keluarga di Desa Hijau Bilibante Lombok, Dijamin Kantong Tidak Jebol,” niaga.asia, 6 Des. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.niaga.asia/7-paket-wisata-keluarga-di-desa-hijau-bilibante-lombok-dijamin-kantong-tidak-jebol/

[10] Kementerian Pariwisata RI, “Desa Wisata Bilebante – Jadesta,” jadesta.kemenpar.go.id. [Online]. Tersedia: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/bilebante

[11] Indonesia Travel (Kemenparekraf), “5 Aktivitas Seru di Desa Wisata Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah,” indonesia.travel. [Online]. Tersedia: https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/adventure/ini-dia-5-aktivitas-seru-di-desa-wisata-bilebante-kabupaten-lombok-ten

[12] TRAC Astra, “Seru-seruan di Desa Bilebante Lombok yang Punya Kuliner Otentik,” trac.astra.co.id, 31 Jul. 2022. [Online]. Tersedia: https://www.trac.astra.co.id/blog/travel/seru-seruan-di-desa-bilebante-lombok-yang-punya-kuliner-otentik/1048

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.