Ringkasan Inovasi

Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan budidaya madu trigona — dikenal warga setempat sebagai madu nyanteng — dari usaha rumah tangga perintis menjadi unit usaha BUMDes yang merangkap destinasi wisata edukasi lebah, dengan cakupan pemasaran yang sudah menjangkau Sukabumi, Surabaya, dan berbagai kota di Pulau Jawa sejak produksi dimulai pada 2013. [1] Inovasi yang dirintis oleh Imamul Azkar ini memanfaatkan keunggulan madu trigona sebagai madu kelas satu dunia dengan kandungan propolis tertinggi di antara jenis madu lainnya — menjadikannya produk bernilai jual Rp450.000 per liter, jauh melampaui titik impas produksi di Rp260.418 per liter — untuk membangun ekosistem agroekowisata desa yang mengintegrasikan produksi, pengolahan, dan pariwisata dalam satu rantai nilai lokal yang kuat. [2]

Penelitian kelayakan usaha INSTIPER Yogyakarta (2025) membuktikan bahwa budidaya madu trigona Desa Bengkaung sangat menguntungkan: rata-rata pendapatan bersih petani mencapai Rp292.956.129 per tahun dengan R/C Ratio 19,73 — artinya setiap Rp1 biaya produksi menghasilkan Rp19,73 penerimaan, sebuah angka kelayakan yang luar biasa tinggi untuk usaha pedesaan. [2] Desa Bengkaung kini tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata sebagai desa wisata penghasil produk madu trigona, menjadikan kombinasi produksi dan wisata edukasi lebah sebagai identitas khas yang tidak dimiliki desa lain di Lombok Barat. [3]

Nama Inovasi:Budidaya Madu Trigona Nyanteng Bengkaung — Agro-Ekowisata Lebah Tanpa Sengat Berbasis BUMDes sebagai Ikon Desa Wisata Lombok Barat
Alamat:Desa Bengkaung, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat | Terdaftar di Jadesta Kemenpar: jadesta.kemenpar.go.id/paket/madu_trigona_10
Inovator:Imamul Azkar (perintis budidaya dan pengusaha madu trigona Desa Bengkaung sejak 2013); Mudaham (Ketua Kelompok Penggiat Trigona Dusun Seraye); didukung BUMDes Desa Bengkaung dan Pemerintah Desa Bengkaung
Kontak:Website resmi desa: bengkaung.desa.id | Wisata Madu Trigona Bengkaung, Jl. Desa Bengkaung, Kec. Batulayar, Kab. Lombok Barat, NTB | Produk wisata: Jadesta Kemenpar

Latar Belakang

Desa Bengkaung terletak di Kecamatan Batulayar, kawasan yang bersebelahan dengan destinasi wisata Senggigi namun selama bertahun-tahun belum memiliki produk unggulan desa yang bisa memberi nilai tambah ekonomi nyata bagi warganya. [4] Sebagian besar warga menggantungkan penghasilan dari pertanian dan pekerjaan informal di sektor wisata Senggigi sebagai karyawan bayaran — bukan sebagai pelaku usaha yang menikmati margin keuntungan dari industri pariwisata yang tumbuh di sekitar mereka. [4] Ironisnya, hutan dan kebun-kebun desa menyimpan koloni lebah Trigona sp. liar yang belum dimanfaatkan secara optimal, padahal lebah ini telah lama dikenal masyarakat Sasak sebagai penghasil madu nyanteng berkualitas tinggi. [5]

Madu trigona atau stingless bee honey merupakan produk dari lebah tanpa sengat yang secara ilmiah mengandung kadar propolis, antioksidan, dan senyawa bioaktif yang jauh lebih tinggi dibanding madu lebah biasa (Apis mellifera), menjadikannya termasuk dalam kategori madu kelas satu di pasar internasional dengan harga jual yang sangat kompetitif. [6] Namun potensi ini tidak tergarap karena ketiadaan pengetahuan teknis budidaya yang terstandar, keterbatasan akses modal, serta tidak adanya jejaring pemasaran yang bisa membawa produk lokal ke pasar luar daerah. [5] Inilah jurang antara potensi dan realisasi yang dilihat Imamul Azkar sebagai peluang bisnis sekaligus misi pemberdayaan ekonomi desa. [1]

Di sisi lain, tren wisata edukasi alam dan agrowisata sedang tumbuh pesat di Lombok seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang tidak hanya ingin menikmati pantai, tetapi juga mengalami langsung proses produksi produk alam yang autentik. [3] Fenomena ini membuka peluang bagi Desa Bengkaung untuk memposisikan diri bukan sekadar sebagai produsen madu, tetapi sebagai destinasi wisata edukasi lebah yang menawarkan pengalaman langsung menyaksikan proses lebah trigona menghasilkan madu — sebuah daya tarik yang unik dan berbeda dari semua destinasi wisata di kawasan Batulayar. [3]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Desa Bengkaung adalah transformasi budidaya madu trigona skala rumah tangga menjadi ekosistem agroekowisata terpadu di bawah naungan BUMDes Desa Bengkaung: di satu sisi, produksi madu trigona distandarisasi melalui teknik budidaya modern berbasis stup (kotak sarang buatan) yang memungkinkan pemanenan berkala tanpa merusak koloni; di sisi lain, instalasi budidaya lebah dibuka sebagai objek wisata edukasi bagi pengunjung yang ingin menyaksikan langsung siklus produksi madu dari koloni lebah ke dalam botol kemasan. [1] Selain madu trigona murni, inovasi produk berkembang menjadi jus berbasis madu, serta — setelah kolaborasi dengan KKN Tematik Universitas Mataram pada 2022–2023 — dua produk baru berlabel Moana (Minuman Olahan Bee Pollen Trigona) dan Madona (Madu Trigona kemasan premium), yang memperluas segmen pasar ke konsumen urban yang menginginkan produk kesehatan berbasis alam dengan kemasan modern. [7]

Sistem kerja BUMDes sebagai pengelola menjadikan pendapatan dari retribusi wisata edukasi lebah, penjualan madu, dan produk turunannya masuk sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang kemudian diputar kembali sebagai modal perluasan koloni lebah dan penguatan infrastruktur wisata. [4] “Mereka datang lalu kita arahkan ke sentra budidaya kita yang kebetulan dibiayai oleh BUMDes,” ungkap Imam kepada Radar Lombok, menggambarkan bagaimana setiap kunjungan wisatawan sekaligus menjadi sesi promosi produk yang paling efektif. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan inovasi ini dimulai dari keberanian Imamul Azkar yang pada 2013 memulai budidaya di lahan sempit di kediamannya menggunakan koloni trigona liar yang ditangkap dari hutan di sekitar desa, tanpa pengetahuan teknis formal — murni berdasarkan pengamatan terhadap perilaku lebah dan pengetahuan tradisional masyarakat Sasak tentang madu nyanteng. [1] Hasilnya tidak langsung memuaskan: kualitas madu awal tidak konsisten, pengemasan masih seadanya, dan pemasaran terbatas di lingkup lokal Lombok Barat. [1] Kegagalan inilah yang menarik perhatian pemerintah desa dan pemerintah daerah Lombok Barat yang kemudian memberikan bantuan teknis tentang cara pengemasan standar dan membukakan akses ke jejaring pemasaran luar daerah hingga ke Jawa. [1]

Pemerintah desa kemudian melangkah lebih jauh dengan memasukkan usaha madu trigona Imam ke dalam struktur BUMDes Desa Bengkaung, memberikan suntikan modal kelembagaan yang memungkinkan perluasan jumlah stup koloni secara signifikan. [1] Pada Desember 2022 – Januari 2023, KKN Tematik Desa Preneur Universitas Mataram masuk Bengkaung dan melakukan inovasi produk bersama Kelompok Penggiat Trigona Dusun Seraye yang diketuai Mudaham, menghasilkan dua produk baru Moana dan Madona yang sudah terjual 59 buah dalam dua minggu pertama pemasaran — membuktikan bahwa inovasi kemasan dan branding langsung direspons positif oleh pasar. [7] Kolaborasi akademisi-desa ini menjadi model kemitraan pentahelix yang efektif dan bisa direplikasi. [7]

Standarisasi teknis budidaya trigona di kawasan Batulayar mendapat dukungan dari program Pengabdian Masyarakat (PKM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB yang memfasilitasi pelatihan teknik budidaya, manajemen koloni, dan peningkatan kualitas madu bagi pelaku budidaya di desa-desa Kecamatan Batulayar termasuk Bengkaung. [8] Pelatihan ini memperkuat kapasitas teknis yang selama ini menjadi hambatan utama dalam menjaga konsistensi kualitas madu yang dipasarkan ke luar daerah. [8]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah keunggulan intrinsik produk madu trigona itu sendiri: sebagai madu dengan kandungan propolis tertinggi di dunia yang secara ilmiah terbukti memiliki sifat anti-inflamasi, anti-bakteri, dan imunomodulator, madu trigona memasarkan dirinya sendiri kepada konsumen yang sudah melek informasi kesehatan. [6] Penelitian menunjukkan bahwa madu trigona mengandung flavonoid dan fenolik yang lebih tinggi dari madu lebah madu biasa, menjadikannya produk yang memiliki proposisi nilai kesehatan yang kuat dan defensible di pasar premium. [6] Kemampuan mengobati maag kronis, asam urat, diabetes, dan berbagai penyakit degeneratif yang diklaim konsumen membentuk komunitas pelanggan loyal yang merekomendasikan produk secara organik dari mulut ke mulut. [1]

Faktor kedua adalah sinergi antara Imamul Azkar sebagai inovator akar rumput, pemerintah desa sebagai fasilitator kelembagaan dan permodalan, pemerintah daerah Lombok Barat sebagai pendukung teknis pengemasan dan pemasaran, serta Universitas Mataram sebagai mitra inovasi produk. [7] Tanpa sinergi ini, madu trigona Bengkaung kemungkinan besar akan tetap menjadi produk rumahan yang tidak pernah mencapai pasar Jawa atau masuk dalam Jadesta Kemenpar. [3] Setiap aktor memainkan peran yang tidak bisa saling menggantikan: inovator menyediakan semangat dan keahlian produksi, pemerintah desa menyediakan modal dan legitimasi kelembagaan, akademisi menyediakan inovasi produk dan branding, serta pemerintah daerah membuka akses pasar. [8]

Hasil dan Dampak Inovasi

Penelitian INSTIPER Yogyakarta (2025) yang menganalisis kelayakan usaha budidaya madu trigona Desa Bengkaung menghasilkan temuan yang sangat menggembirakan: rata-rata penerimaan Rp307.800.000 per tahun per petani dengan biaya produksi rata-rata hanya Rp14.843.871 per tahun, menghasilkan pendapatan bersih rata-rata Rp292.956.129 per tahun — angka yang jauh melampaui standar penghidupan layak di pedesaan NTB. [2] Produksi rata-rata 57 liter per tahun per petani melampaui BEP produksi 32,98 liter, sementara harga jual Rp450.000 per liter hampir dua kali lipat BEP harga Rp260.418 per liter, memberikan cushion keuntungan yang sangat besar terhadap fluktuasi harga pasar. [2] R/C Ratio 19,73 menjadikan budidaya madu trigona Bengkaung salah satu usaha dengan kelayakan finansial tertinggi yang pernah dianalisis untuk komoditas perdesaan NTB. [2]

Dampak wisata juga signifikan: Desa Bengkaung kini terdaftar resmi dalam Jadesta Kemenpar sebagai desa wisata penghasil madu trigona, membuka aliran wisatawan edukasi yang tidak hanya membeli madu tetapi juga menikmati pengalaman menyaksikan koloni lebah trigona bekerja — sebuah pengalaman yang sudah direkam dan dipublikasikan oleh banyak pengunjung di media sosial, menciptakan promosi organik yang tidak memerlukan biaya iklan. [3] Pemasaran ke luar daerah yang mencakup Sukabumi, Surabaya, dan berbagai kota di Jawa dengan pengiriman per empat bulan menunjukkan bahwa produk Bengkaung sudah memiliki basis pelanggan loyal lintas pulau yang terbentuk dari kualitas produk yang konsisten dan khasiat yang terbukti oleh konsumen. [1]

Tantangan dan Kendala

Tantangan paling mendasar yang dihadapi budidaya madu trigona Bengkaung adalah konsistensi produksi yang bergantung pada ketersediaan pakan lebah dari flora di sekitar desa — di musim kemarau ketika bunga tidak banyak tersedia, produksi madu menurun tajam sementara permintaan pasar yang sudah terbentuk tetap stabil, menciptakan gap antara suplai dan permintaan yang belum terpecahkan secara optimal. [5] Keterbatasan lahan untuk menanam tanaman pakan lebah trigona di lingkungan permukiman padat menjadi hambatan teknis yang membutuhkan solusi berbasis tata ruang desa, bukan sekadar pengetahuan budidaya semata. [5]

Tantangan kedua adalah standardisasi kualitas produk di tengah berkembangnya jumlah pelaku budidaya yang bergabung setelah melihat keberhasilan Imam: tanpa sistem sertifikasi mutu yang jelas, ada risiko penurunan reputasi produk “madu trigona Bengkaung” jika satu pelaku menjual madu berkualitas rendah dengan label yang sama. [4] Pemerintah Desa Bengkaung melalui BUMDes perlu membangun sistem standar mutu internal dan sertifikasi halal-BPOM untuk seluruh produk yang keluar dari desa agar reputasi yang sudah terbangun terlindungi dari risiko pemalsuan atau penurunan kualitas. [7]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan produksi dijaga melalui program pengembangan tanaman pakan lebah trigona sebagai bagian dari lansekap desa, sebuah pendekatan yang juga sedang dikembangkan oleh Universitas Mataram melalui program pengabdian masyarakat budidaya tanaman hias sekaligus pakan lebah trigona di desa-desa Kecamatan Batulayar. [9] Dengan memastikan ketersediaan pakan bunga sepanjang tahun melalui penanaman tanaman pakan yang terencana, siklus produksi madu dapat distabilkan dan gap suplai-permintaan di musim kemarau dapat dipersempit. [9] Pengembangan produk turunan seperti propolis ekstrak, bee pollen kapsul, dan madu fermentasi menjadi strategi diversifikasi produk yang memperlebar basis pendapatan tanpa harus meningkatkan jumlah koloni lebah secara proporsional. [7]

Untuk keberlanjutan wisata, pendaftaran resmi di Jadesta Kemenpar perlu diperkuat dengan pengelolaan konten digital yang aktif — foto, video proses produksi, dan testimoni wisatawan — yang dipublikasikan di media sosial dan platform wisata untuk menjangkau segmen wisatawan urban yang membuat keputusan perjalanan berbasis rekomendasi digital. [3] Website resmi desa bengkaung.desa.id perlu dikembangkan menjadi etalase digital yang memungkinkan pembelian madu trigona secara langsung oleh pelanggan luar daerah, memangkas ketergantungan pada agen pengiriman per empat bulan dan memungkinkan penjualan yang lebih responsif terhadap permintaan pasar. [4]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi madu trigona Desa Bengkaung menunjukkan bagaimana kekayaan biodiversitas lokal — lebah trigona yang secara ekologis sudah ada di lingkungan desa — dapat dioptimalkan menjadi motor penggerak ekonomi dan pariwisata yang berkelanjutan, sekaligus menjaga fungsi ekologis lebah sebagai penyerbuk alami yang mendukung produktivitas pertanian setempat. [6] Model ini membuktikan bahwa konservasi dan pemberdayaan ekonomi tidak harus bertentangan — justru dapat saling memperkuat dalam ekosistem agroekowisata yang dirancang dengan baik. [8]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Pendapatan bersih rata-rata petani madu trigona Bengkaung mencapai Rp292.956.129 per tahun — jauh di atas ambang kemiskinan — membuktikan bahwa budidaya lebah tanpa sengat ini secara riil mengangkat taraf hidup petani dan keluarganya dari garis kemiskinan secara permanen.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan:Pendapatan yang stabil dari budidaya madu trigona menjamin ketahanan pangan keluarga petani, sementara peran ekologis lebah trigona sebagai penyerbuk alami tanaman di sekitar desa secara tidak langsung meningkatkan produktivitas pertanian dan ketersediaan pangan lokal.
SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera:Madu trigona dengan kandungan propolis, antioksidan, flavonoid, dan senyawa bioaktif tertinggi di antara semua jenis madu memberikan manfaat kesehatan nyata bagi konsumen — mengobati maag kronis, asam urat, dan diabetes — menjadikan produk desa ini kontributor langsung pada peningkatan kesehatan masyarakat luas.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Ekosistem madu trigona Bengkaung menciptakan lapangan kerja layak bagi pembudidaya, pengolah produk, pengelola wisata edukasi, dan staf BUMDes, sementara R/C Ratio 19,73 membuktikan tingkat produktivitas ekonomi yang luar biasa dari investasi modal dan tenaga yang relatif kecil.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Budidaya lebah trigona mendukung pelestarian biodiversitas lebah tanpa sengat asli Lombok yang terancam oleh alih fungsi lahan, sementara kebutuhan koloni lebah terhadap flora beragam mendorong penanaman tanaman pakan yang memperkaya ekosistem hijau di sekitar desa.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh:Pengelolaan budidaya madu trigona melalui BUMDes Desa Bengkaung dengan sistem pelaporan keuangan yang transparan dan bisa diakses oleh seluruh warga memperkuat tata kelola desa yang akuntabel, sementara website bengkaung.desa.id menjamin keterbukaan informasi publik tentang pengelolaan usaha desa.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara inovator lokal (Imamul Azkar), pemerintah desa (BUMDes), pemerintah daerah Lombok Barat, Universitas Mataram (KKN Tematik), UNU NTB (PKM-PMP), dan Kemenpar (Jadesta) membentuk ekosistem kemitraan pentahelix yang menjadi fondasi keberhasilan transformasi madu trigona dari produk rumahan menjadi ikon desa wisata nasional.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Bengkaung sangat mudah direplikasi oleh desa-desa di seluruh Indonesia yang memiliki ekosistem hutan atau kebun yang menjadi habitat alami lebah trigona — kondisi yang ada di hampir seluruh kepulauan Indonesia dari Sumatera hingga Papua. [6] Tiga elemen kunci yang dapat langsung ditiru adalah: identifikasi koloni trigona liar di sekitar desa sebagai modal biologis nol biaya, pelatihan teknik stup berbasis pengetahuan petani lokal yang tidak membutuhkan peralatan mahal, dan integrasi wisata edukasi sejak awal agar arus wisatawan membantu memasarkan produk secara organik. [8]

Untuk scale up, Kementerian Desa PDTT dapat merancang program “Desa Madu Trigona Nusantara” yang mereplikasi model Bengkaung di 500 desa terpilih di seluruh Indonesia, dengan paket dukungan yang mencakup pelatihan teknik budidaya trigona, bantuan stup koloni awal dari Dana Desa, pendampingan inovasi produk dari perguruan tinggi mitra, sertifikasi halal-BPOM, dan integrasi ke Jadesta Kemenpar sebagai desa wisata edukasi lebah. [3] Potensi pengganda ekonomi program ini sangat besar: dengan R/C Ratio 19,73 yang terbukti di Bengkaung, investasi Dana Desa senilai Rp50 juta untuk stup dan pelatihan awal berpotensi menghasilkan pendapatan petani ratusan juta rupiah per tahun secara berkelanjutan. [2]

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Mencicipi Madu Trigona Desa Bengkaung, Lombok Barat,” lombokpost.jawapos.com, 5 Apr. 2019. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/giri-menang/05/04/2019/mencicipi-madu-trigona-desa-bengkaung-lombok-barat/

[2] H. N. Faadilah, “Analisis Biaya Usaha Budidaya Madu Trigona di Desa Bengkaung Lombok Barat,” Jurnal Online Mahasiswa, Institut Pertanian STIPER (INSTIPER) Yogyakarta, 2025. [Online]. Available: https://jurnal.instiperjogja.ac.id/index.php/JOM/article/view/1990

[3] Kementerian Pariwisata RI, “Produk Wisata Madu Trigona Desa Bengkaung,” Jadesta (Jaringan Desa Wisata), Kemenpar RI. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/paket/madu_trigona_10

[4] Radar Lombok, “Banyak Potensi, Bengkaung Tidak Lagi Terisolir,” radarlombok.co.id, 22 Jan. 2022. [Online]. Available: https://radarlombok.co.id/banyak-potensi-bengkaung-tidak-lagi-terisolir.html

[5] M. Yusuf et al., “Penguatan Ekonomi Masyarakat Melalui Usaha Budidaya Lebah Madu Trigona,” JALTN — eJournal Universitas Mataram, 2024. [Online]. Available: https://www.ejournalunwmataram.org/index.php/jaltn/article/download/2178/1125

[6] B. Ervan et al., “Penyuluhan Budidaya Lebah Trigona sebagai Sumber Pendapatan Tambahan Masyarakat,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, Universitas Riau, 2022. [Online]. Available: https://jurnal.faperta-unras.ac.id/index.php/pakdemas/article/download/45/77

[7] KKN Tematik Desa Preneur Unram, “Kelompok KKN Tematik Desa Preneur Unram Optimalkan Potensi Madu Trigona di Desa Bengkaung,” Kompasiana, 23 Jan. 2023. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/kknbengkaung0157/63ceb67e4addee09b60b9412/kelompok-kkn-tematik-desa-preneur-unram-optimalkan-potensi

[8] M. Mashur et al., “Pemberdayaan Budidaya Madu Trigona Desa Batulayar Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat,” Jurnal Gema Ngabdi, Universitas Nahdlatul Ulama NTB, 2024. [Online]. Available: https://gemangabdi.unram.ac.id/index.php/gemangabdi/article/download/504/231

[9] A. A. Putri et al., “Budidaya Tanaman Hias sebagai Pakan Lebah Trigona di Desa Suranadi Kecamatan Narmada Lombok Barat,” Jurnal Abdi Mas TPB Unram, Universitas Mataram, 2023. [Online]. Available: https://abdimastpb.unram.ac.id/index.php/AMTPB/article/download/130/96

[10] K. Karnan et al., “Pemanfaatan Budidaya Lebah Madu Klanceng (Trigona sp) dalam Kawasan Rumah Pangan Lestari,” Neliti, 2023. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/433448-none-034daae8.pdf

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.