Ringkasan Inovasi

Desa Senteluk di Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mengubah Pantai Tanjung Bias — yang sebelumnya dikenal sebagai tempat pembuangan sampah warga — menjadi destinasi wisata kuliner halal bertema seafood dengan deretan puluhan warung makan artistik tepi pantai yang menawarkan panorama sunset Lombok yang memukau, menggunakan anggaran Dana Desa hanya Rp110 juta sebagai modal awal. [1] Inovasi yang diinisiasi oleh Kepala Desa Fuad Abdurrahman ini berhasil menyerap ratusan tenaga kerja dari pemuda desa, menarik 1.000 pengunjung domestik per hari saat puncak kunjungan, dan mendapat pengakuan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT Anwar Sanusi sebagai calon ikon wisata halal NTB. [2]

Melampaui sekadar destinasi wisata makan, Tanjung Bias tumbuh menjadi ekosistem ekonomi kreatif desa yang mengintegrasikan hasil tangkapan nelayan lokal, UMKM kuliner halal berbasis cita rasa Sasak, dan BUMDes Senteluk sebagai pengelola retribusi lapak yang langsung mengalir ke Pendapatan Asli Desa (PADes). [3] Pada November 2020, Tanjung Bias meraih penghargaan Juara I Wisata Sehat Tingkat Provinsi NTB dalam ajang Kampung Sehat Award yang digelar Polda NTB, bukti bahwa inovasi sederhana berbasis potensi pantai ini mampu menghasilkan prestasi regional yang membanggakan. [4]

Nama Inovasi:Wisata Kuliner Halal Pantai Tanjung Bias Desa Senteluk — Transformasi Pantai Kumuh Menjadi Destinasi Wisata Seafood Bertema Halal Berbasis BUMDes
Alamat:Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (±10 menit dari Kota Mataram, dekat kawasan wisata Senggigi)
Inovator:Fuad Abdurrahman (Kepala Desa Senteluk, lahir 5 Mei 1980, putra asli Desa Senteluk) bersama BUMDes Senteluk (Ketua: Munajab) dan komunitas pemuda desa
Kontak:Wisata Kuliner Pantai Tanjung Bias, Desa Senteluk, Kec. Batulayar, Kab. Lombok Barat, NTB | Pengalaman wisata: Romantic Dinner at Tanjung Bias — Atourin.com

Latar Belakang

Sebelum bertransformasi menjadi destinasi wisata, Pantai Tanjung Bias adalah cerminan masalah lingkungan dan sosial yang saling berkaitan: pantai penuh sampah, warga muda menganggur tanpa lapangan kerja yang tersedia, dan potensi kemaritiman nelayan belum memberikan nilai tambah ekonomi yang setimpal. [1] Ketika gempa bumi dahsyat mengguncang Lombok pada 2018, kondisi ini semakin parah — banyak warga Desa Senteluk yang dirumahkan dari pekerjaan akibat sektor pariwisata Senggigi yang juga terdampak gempa, menambah jumlah pengangguran di desa yang jaraknya hanya 10 menit dari pusat Kota Mataram ini. [3]

Kawasan Batulayar yang bersebelahan dengan Senggigi seharusnya mendapat limpahan manfaat ekonomi pariwisata yang besar, namun faktanya warga Desa Senteluk belum terkoneksi secara nyata dengan rantai nilai industri wisata yang ada di sekitar mereka. [2] Nelayan lokal menjual tangkapan segar ke tengkulak dengan harga rendah, sementara wisatawan yang melintas menuju Senggigi tidak singgah karena tidak ada daya tarik spesifik yang ditawarkan Senteluk. [5] Inilah gap ekonomi yang dilihat Kepala Desa Fuad Abdurrahman sebagai peluang: jika tangkapan nelayan diolah langsung di tepi pantai dengan cita rasa khas Sasak dalam suasana sunset yang dramatis, Tanjung Bias bisa menjadi destinasi tersendiri yang menarik perhatian wisatawan tanpa harus bersaing langsung dengan Senggigi. [5]

Label “Wisata Halal” yang sedang dibangun NTB pasca-terbitnya Perda Pariwisata Halal NTB menjadi momentum strategis yang memperkuat positioning Tanjung Bias. [6] Desa Senteluk memiliki keunggulan natural: penduduk yang mayoritas Muslim, tradisi memasak seafood dengan bumbu Sasak yang kaya rempah halal, serta budaya lokal yang kohesif — semua bahan baku destinasi wisata halal yang autentik dan tidak perlu direkayasa. [6]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Desa Senteluk adalah transformasi aset desa tak terkelola — pantai bermasalah — menjadi kawasan wisata kuliner halal tepi laut yang dibangun secara swadaya bersama masyarakat menggunakan Dana Desa Rp110 juta sebagai investasi awal untuk pembersihan pantai, pembangunan lahan parkir, pendirian berugaq (gazebo tradisional Sasak) berjejer di bibir pantai, dan dua warung makan semi-permanen percontohan yang menghadap langsung ke laut. [1] Setelah dua warung percontohan membuktikan antusiasme pasar dengan kunjungan membludak, BUMDes Senteluk membuka sistem sewa lapak bagi warga yang ingin membuka warung sendiri dengan iuran Rp250 ribu hingga Rp1 juta per bulan sesuai luas lapak, di mana iuran ini masuk langsung sebagai PADes yang dikelola BUMDes. [1]

Setiap warung diwajibkan memenuhi standar minimum: menyediakan toilet, tempat ibadah, dan menjamin kehalalan seluruh menu yang disajikan — standar yang selaras dengan branding resmi “Wisata Halal Wisata Kuliner Pantai Tanjung Bias Desa Senteluk Lombok Barat” yang diluncurkan bersama oleh pemerintah desa dan BUMDes. [5] Menu unggulan yang menjadi ciri khas Tanjung Bias adalah seafood segar hasil tangkapan nelayan lokal yang langsung dimasak di tempat — ikan kerapu, baronang, dan kakap bakar dengan bumbu khas Sasak, pelecing kangkung, beberoq, dan ayam bakar taliwang — memastikan bahwa seluruh rantai nilai dari laut ke meja makan dinikmati dan diterima oleh perekonomian Desa Senteluk sendiri. [5]

Proses Penerapan Inovasi

Fuad Abdurrahman memulai dengan langkah paling fundamental: bersih-bersih pantai bersama pemuda desa, sebuah tindakan simbolis sekaligus praktis yang mengubah pandangan warga dari “pantai itu tempat sampah” menjadi “pantai itu aset kita.” [5] Setelah pantai bersih dan berugaq terpasang, dua warung percontohan dibangun semi-permanen dengan konsep sederhana namun kuat: kursi menghadap laut, menu seafood segar, suasana sunset yang natural. [1] Tidak diperlukan konsultan atau desainer mahal — modal utamanya adalah warga yang yakin, kepala desa yang turun tangan langsung, dan pantai yang memang sudah cantik jika bersih. [5]

Animo pasar meledak jauh melampaui perkiraan: ratusan hingga ribuan pengunjung datang setiap bulan, memaksa dua warung percontohan kewalahan melayani tamu. [1] Momen ini menjadi titik infleksi: alih-alih membangun lebih banyak warung pemerintah desa, Fuad membuka peluang bagi warga untuk membuka lapak sendiri dengan sistem sewa BUMDes, menjadikan ekosistem wisata tumbuh secara organik dan inklusif berdasarkan permintaan pasar yang sudah terbukti. [3] Pembelajaran terpenting dari proses ini adalah bahwa uji coba pasar dengan dua warung percontohan jauh lebih efektif daripada perencanaan besar di atas meja yang belum tentu sesuai dengan minat warga dan wisatawan. [6]

Saat pandemi Covid-19 melanda 2020, Tanjung Bias membuktikan ketangguhannya dengan mempertahankan operasional sesuai protokol kesehatan dan meraih Juara I Wisata Sehat Tingkat Provinsi NTB dari Polda NTB pada November 2020. [4] Kepatuhan seluruh pengelola lapak pada protokol kesehatan yang ketat bukan hanya menyelamatkan usaha dari penutupan, tetapi justru membangun citra Tanjung Bias sebagai destinasi yang bertanggung jawab dan terpercaya di mata wisatawan. [4] Kepala Desa Fuad mengatribusikan keberhasilan ini pada kerja keras bersama seluruh aparatur desa, BUMDes, Polsek Senggigi, dan masyarakat yang solid menghadapi tekanan pandemi. [4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama adalah kepemimpinan berbasis keteladanan Fuad Abdurrahman yang turun langsung ke pantai, tidak sekadar memerintahkan dari kantor desa. [5] Penelitian UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tentang pengembangan pariwisata halal Desa Senteluk menyimpulkan bahwa figur kepala desa yang aktif, inovatif, dan memiliki kemampuan meyakinkan warga untuk bersama-sama membangun merupakan faktor kunci yang tidak bisa digantikan oleh program manapun. [6] “Berkat tekad yang sama, pusat wisata kuliner ini bisa terbangun,” ungkap Fuad saat mengisahkan proses pembangunan Tanjung Bias kepada Republika. [5]

Faktor kedua adalah ketepatan membaca tren wisata halal NTB dan mengintegrasikannya ke dalam identitas produk Tanjung Bias sejak awal. [6] Branding “wisata halal” bukan sekadar label, melainkan sistem standar operasional yang mencakup jaminan kehalalan menu, ketersediaan fasilitas ibadah di setiap warung, dan kebersihan lingkungan — ketiga standar ini yang menjadikan Tanjung Bias mendapat kepercayaan wisatawan Malaysia yang mulai berdatangan sebagai segmen pasar internasional yang sangat menjanjikan. [5] Jurnal Ekonomi Islam (STIE AAS) yang meneliti wisata syariah berbasis BUMDes di NTB menemukan bahwa integrasi nilai syariah dalam pengelolaan BUMDes wisata memberikan dampak positif pada komunitas lokal, wisatawan, dan lingkungan sekitar secara bersamaan. [7]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi yang paling terukur adalah transformasi dari pantai nol pendapatan menjadi kawasan bisnis aktif yang menghasilkan PADes dari retribusi lapak Rp250 ribu hingga Rp1 juta per bulan per warung, dengan puluhan lapak aktif yang berarti puluhan juta rupiah PADes mengalir setiap bulan melalui BUMDes Senteluk. [1] Setiap warung makan individu mencatat omzet dan keuntungan puluhan juta rupiah per bulan pada masa puncak kunjungan, menciptakan kelas pengusaha kuliner baru dari kalangan warga Desa Senteluk yang sebelumnya tidak memiliki usaha formal. [1] Pada puncak kunjungan di masa normal pada 2020, Tanjung Bias mencatat 1.000 pengunjung domestik per hari — angka yang sangat signifikan untuk destinasi desa yang baru dibangun kurang dari dua tahun. [4]

Dampak sosial paling nyata adalah penyerapan ratusan tenaga kerja pemuda desa yang sebelumnya menganggur, terutama mereka yang dirumahkan pasca-gempa Lombok 2018. [3] Seluruh rantai nilai wisata — dari nelayan yang memasok ikan segar, koki dan pelayan warung, petugas parkir, dan pengelola BUMDes — terisi oleh warga Senteluk sendiri, menjadikan Tanjung Bias benar-benar menjadi mesin ekonomi yang manfaatnya tidak bocor ke luar desa. [2] Pada 2026, inovasi Desa Senteluk terus berkembang dengan kehadiran wisata kuliner tepi sawah di Dusun Penyangget yang dijuluki “Ubud-nya Lombok” — bukti bahwa semangat inovasi berbasis potensi alam lokal terus bergulir. [8]

Tantangan dan Kendala

Pada September 2023, Tanjung Bias mengalami penurunan kunjungan hingga 35 persen. [9] Penyebabnya adalah munculnya banyak kompetitor yang mengadopsi konsep serupa — warung kuliner tepi pantai dengan menu seafood — di berbagai titik di Lombok Barat dan sekitarnya, sehingga Tanjung Bias tidak lagi satu-satunya pilihan bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman makan di tepi pantai dengan sunset indah. [9] “Saat ini sudah sangat banyak yang memakai konsep Tanjung Bias,” aku Ketua BUMDes Senteluk Munajab saat dikonfirmasi Inside Lombok, September 2023. [9]

Tantangan kedua adalah mempertahankan standar kualitas kuliner dan layanan yang konsisten di antara puluhan warung yang dikelola oleh pengelola berbeda-beda dengan kapasitas dan komitmen yang tidak seragam. [9] BUMDes Senteluk kini mendorong setiap pengelola lapak untuk terus berinovasi dalam menu, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memperindah desain warung agar pengalaman berkunjung ke Tanjung Bias tetap terasa istimewa dan berbeda dari kompetitor yang bermunculan di mana-mana. [9]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Strategi keberlanjutan Tanjung Bias bertumpu pada diversifikasi pengalaman wisata agar tidak hanya mengandalkan sunset dan seafood sebagai daya tarik utama. [8] Kehadiran wisata kuliner tepi sawah di Dusun Penyangget yang mulai berkembang pada 2026 menunjukkan arah pengembangan Desa Senteluk ke depan: bukan hanya satu destinasi, melainkan desa wisata terintegrasi yang menawarkan beragam pengalaman dari pantai ke sawah dalam satu kunjungan. [8] Dengan dukungan yang dijanjikan dari Pemerintah Provinsi NTB dan Kementerian Kelautan, penguatan infrastruktur kawasan Tanjung Bias akan meningkatkan daya tampung dan kualitas fasilitas yang dibutuhkan untuk bersaing di era wisata yang semakin kompetitif. [1]

BUMDes Senteluk perlu mengembangkan program loyalitas wisatawan dan pemasaran digital yang lebih agresif melalui media sosial, platform ulasan, dan kemitraan dengan agen perjalanan yang melayani wisatawan Malaysia dan Singapura yang sudah menunjukkan minat nyata pada destinasi halal Lombok. [6] Standarisasi kualitas kuliner dan layanan melalui program sertifikasi halal resmi dari MUI Lombok Barat untuk seluruh lapak, serta pelatihan manajemen usaha bagi pengelola lapak, menjadi investasi paling penting untuk menjaga reputasi Tanjung Bias di tengah persaingan yang semakin ketat. [7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Wisata Kuliner Halal Tanjung Bias merupakan model inovasi desa yang membuktikan bahwa aset alam yang tidak terkelola — bahkan yang menjadi masalah lingkungan sekalipun — dapat ditransformasi menjadi mesin pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan ketika dipimpin oleh pemimpin yang visioner dan didukung komunitas yang solid. [6] Model ini juga mengintegrasikan dimensi lingkungan, ekonomi, dan tata nilai budaya dalam satu paket destinasi wisata yang tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga memelihara identitas budaya Sasak dan menjaga kelestarian ekosistem pesisir. [7]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Ekosistem wisata kuliner Tanjung Bias menciptakan lapangan kerja dan penghasilan tetap bagi ratusan warga yang sebelumnya menganggur pasca-gempa Lombok 2018, termasuk nelayan yang kini mendapat nilai jual lebih tinggi dari tangkapan mereka yang langsung diolah di tempat.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Sistem lapak BUMDes yang terbuka bagi semua warga menciptakan kewirausahaan kuliner inklusif berbasis modal rendah, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang dinikmati merata oleh nelayan, pedagang, pemuda desa, dan BUMDes yang seluruh pendapatannya kembali ke PADes.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Transformasi pantai kumuh menjadi ruang publik wisata yang bersih, nyaman, dan produktif mengubah identitas Desa Senteluk menjadi permukiman pesisir yang dibanggakan warganya, mendorong warga muda untuk tetap tinggal dan membangun usaha di desa alih-alih merantau ke kota.
SDGs 14: Ekosistem Lautan:Pembersihan pantai sebagai fondasi inovasi dan standar kebersihan kawasan wisata yang ditegakkan BUMDes secara konsisten membantu menjaga ekosistem pesisir Tanjung Bias dari ancaman sampah dan polusi, menjadikan pantai yang sehat sebagai prasyarat keberlanjutan usaha wisata itu sendiri.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh:BUMDes Senteluk sebagai pengelola kawasan wisata dengan sistem retribusi yang transparan dan akuntabel memperkuat kelembagaan desa yang tangguh, sementara proses musyawarah desa yang melibatkan seluruh lapisan warga dalam pengembangan wisata membangun tata kelola yang partisipatif dan adil.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, nelayan lokal, komunitas pemuda, Polsek Senggigi, Pemerintah Provinsi NTB, dan Kemendes PDTT menciptakan ekosistem kemitraan multipihak yang mendukung pengembangan wisata halal Senteluk sebagai destinasi unggulan yang berkelanjutan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Tanjung Bias sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pesisir di seluruh Indonesia yang memiliki pantai bermasalah sampah, potensi hasil tangkapan nelayan yang belum bernilai tambah, dan populasi muda yang menganggur — karakteristik yang dimiliki oleh ribuan desa pesisir dari Sabang sampai Merauke. [3] Tiga langkah kunci yang dapat langsung ditiru adalah: bersih-bersih pantai sebagai pembuka jiwa komunitas, bangun dua warung percontohan sebagai uji pasar nyata dengan anggaran minimal, dan buka sistem lapak BUMDes bagi warga setelah pasar terbukti ada. [1]

Untuk scale up, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kelautan dapat mengembangkan program “Desa Wisata Pesisir Halal” yang mereplikasi model Tanjung Bias di 100 desa pesisir terpilih di Indonesia, dengan paket dukungan yang mencakup Dana Desa untuk pembangunan infrastruktur dasar, pelatihan pengelolaan BUMDes wisata, sertifikasi halal MUI untuk lapak kuliner, dan akses ke platform digital pariwisata halal nasional. [7] Keberhasilan Desa Senteluk membuktikan bahwa investasi Rp110 juta Dana Desa — jika diarahkan dengan tepat oleh pemimpin desa yang visioner — mampu menggerakkan roda ekonomi yang jauh melampaui nilai investasi awalnya. [2]

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Cara Jitu Kades Senteluk Mengurangi Pengangguran,” lombokpost.jawapos.com, 11 Jun. 2019. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/giri-menang/11/06/2019/cara-jitu-kades-senteluk-mengurangi-pengangguran/

[2] Antara NTB, “Sekjen Kemendes Sebut Senteluk Ikon Wisata NTB,” antaranews.com, 18 Mar. 2019. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/812530/sekjen-kemendes-sebut-senteluk-ikon-wisata-ntb

[3] Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, “Wisata Senteluk Lombok Barat Jadi Ikon Wisata Halal di NTB,” lombokbaratkab.go.id, 18 Mar. 2019. [Online]. Available: https://lombokbaratkab.go.id/wisata-senteluk-lombok-barat-jadi-ikon-wisata-halal-di-ntb/

[4] Mata Nusantara, “Dinobatkan Jadi Wisata Sehat di NTB, Tanjung Bias Membludak,” matanusantara.com, 12 Nov. 2020. [Online]. Available: https://www.matanusantara.com/2020/11/dinobatkan-jadi-wisata-sehat-di-ntb.html

[5] Radar Lombok, “Mengunjungi Destinasi Wisata Halal Pantai Tanjung Bias Desa Senteluk,” radarlombok.co.id. [Online]. Available: https://radarlombok.co.id/mengunjungi-destinasi-wisata-halal-pantai-tanjung-bias-desa-senteluk.html

[6] UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, “Pengembangan Pariwisata Halal dalam Perspektif: Studi Desa Senteluk,” Tesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2021. [Online]. Available: http://etheses.uin-malang.ac.id/42694/1/16750015.pdf

[7] STIE AAS, “Wisata Syariah Berbasis BUMDes di NTB: Strategi dan Dampak,” Jurnal Ekonomi Islam, STIE AAS Surakarta, ISSN: 2477-6157. [Online]. Available: https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jei/article/download/13764/6098

[8] Lombok Post/JawaPos Group, “Kuliner Tepi Sawah Desa Senteluk Jadi Wajah Baru Dusun Penyangget Ala Ubud,” lombokpost.jawapos.com, 27 Jan. 2026. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/giri-menang/2601280038/kuliner-tepi-sawah-desa-senteluk-jadi-wajah-baru-dusun-penyangget-ala-ubud

[9] Inside Lombok, “Sempat Jadi Primadona Wisata Kuliner, Kini Tanjung Bias Merasa Tak Diperhatikan Pemda,” insidelombok.id, 5 Sep. 2023. [Online]. Available: https://insidelombok.id/lombok-barat/sempat-jadi-primadona-wisata-kuliner-kini-tanjung-bias-merasa-tak-diperhatikan-pemda/

[10] Republika Online, “Kuliner Desa Senteluk Bisa Menjadi Ikon Wisata Halal NTB,” republika.co.id, 19 Mar. 2019. [Online]. Available: https://news.republika.co.id/berita/pomgxx414/kuliner-desa-senteluk-bisa-menjadi-ikon-wisata-halal-ntb

[11] SMPN 11 Bima, “Tanjung Bias Pantai Kuliner,” smpn11.bimakota.sch.id, 21 Apr. 2024. [Online]. Available: https://smpn11.bimakota.sch.id/web/detail-berita/524/-

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.