Ringkasan Inovasi

Ahmad Jumaili, pemuda dari Dusun Paoq Dandaq, Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mendirikan Berugak Buku pada 2017 — sebuah gerakan literasi berbasis gazebo tradisional Sasak (berugak) di tengah hamparan sawah hijau — yang mengintegrasikan perpustakaan terbuka, kelas inspirasi, wifi gratis, forum diskusi tematik, apresiasi sastra, pelatihan pertanian organik, dan kelas bersama turis mancanegara dalam satu ekosistem literasi desa yang hidup dan tumbuh secara organik. [1] Dengan koleksi awal dari buku-buku pribadi Jumaili yang kemudian berkembang menjadi lebih dari 500 judul melalui donasi buku yang digalang via Facebook, Berugak Buku membuktikan bahwa ketiadaan perpustakaan dan toko buku di desa bukan halangan untuk membangun budaya membaca — cukup dengan sebuah berugak di tepi sawah, kemauan seorang pemuda, dan komunitas yang mau bersama-sama tumbuh. [2]

Berugak Buku berkembang menjadi salah satu dari 15 titik gerakan literasi yang berafiliasi dengan Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paoq Dandak yang dipimpin Jumaili — dan gerakan ini bahkan mendapat pengakuan dari Senator DPD RI Helmy Faishal Zaini yang mendirikan Berugak Baca HFZ sebagai salah satu titik berugak buku resmi dalam jaringan ini pada 2018. [3] Gerakan yang dimulai dari keresahan sederhana seorang pemuda desa ini kini menarik perhatian nasional, dari media sosial hingga liputan media cetak dan digital, sebagai model inovasi literasi pedesaan berbasis kearifan budaya lokal yang layak direplikasi di seluruh Nusantara. [4]

Nama Inovasi:Berugak Buku Sirajul Huda Paoq Dandak — Gerakan Literasi Desa Berbasis Gazebo Tradisional Sasak dengan Program #BBWeekEndForum, Kelas Inspirasi, Wifi Gratis, dan Wisata Edukasi Tani Organik
Alamat:Dusun Paoq Dandak (Paoq Dandaq), Desa Durian, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator:Ahmad Jumaili, S.Pd.I (Pendiri Berugak Buku; Ketua Yayasan Pondok Pesantren Sirajul Huda Paoq Dandak; Media Partner & Community Organizer)
Kontak:Facebook: facebook.com/berugakbuku | LinkedIn: Ahmad Jumaili (Jhellie Maestro) | Kumparan: kumparan.com/jhellie-maestro | Dusun Paoq Dandak, Desa Durian, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah, NTB

Latar Belakang

Indeks literasi masyarakat pedesaan Indonesia secara umum masih jauh tertinggal dibanding masyarakat perkotaan, dan Desa Durian di Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, bukan pengecualian. [5] Tidak ada toko buku, tidak ada perpustakaan desa, dan tidak ada ruang publik yang secara khusus mendorong warga — anak-anak maupun dewasa — untuk membaca, berdiskusi, dan mengembangkan pengetahuan mereka secara mandiri. [2] Kondisi ini bukan semata disebabkan oleh rendahnya minat baca warga desa, tetapi oleh ketiadaan fasilitas yang memadai dan aksesibel — sebuah argumen yang dengan tegas disuarakan Jumaili: “Bukan tak minat baca, orang desa butuh fasilitas.” [2]

Kebutuhan yang paling kritis adalah ruang baca yang nyaman, gratis, dan kontekstual dengan kehidupan pedesaan — bukan gedung perpustakaan formal yang terasa asing dan jauh dari keseharian warga desa. [1] Penelitian tentang peningkatan literasi anak di desa-desa NTB menunjukkan bahwa ketiadaan pengelola kegiatan rutin dan fasilitas yang menarik adalah hambatan utama yang menyebabkan pojok baca atau perpustakaan desa tidak dimanfaatkan secara optimal oleh warga. [6] Kebutuhan akan pendekatan literasi yang menyatu dengan budaya lokal Sasak — bukan memindahkan model perpustakaan kota ke desa — inilah yang menjadi roh dari gerakan Berugak Buku. [1]

Peluang besar ada di depan mata: Lombok Tengah adalah kawasan pariwisata yang mulai dikenal wisatawan mancanegara, dan desa-desa di sekitar Janapria mulai mendapat limpahan tamu asing yang tertarik pada kehidupan pedesaan autentik. [1] Jumaili menangkap peluang ini dengan menjadikan Berugak Buku tidak hanya sebagai ruang baca lokal, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi pertanian organik yang menarik puluhan turis dari berbagai negara untuk berkunjung, belajar, dan berbagi inspirasi bersama anak-anak desa. [1]

Inovasi yang Diterapkan

Berugak Buku adalah inovasi literasi berbasis kearifan budaya lokal: meminjam bentuk gazebo tradisional Suku Sasak yang sudah menjadi pusat sosialisasi warga desa sejak berabad-abad lalu, Jumaili mengisinya dengan rak buku, koleksi majalah dan literatur ilmiah, taman kecil dengan kolam ikan, tanaman sayuran dan obat-obatan, serta jaringan wifi gratis. [2] Berugak yang berdiri di tengah sawah dengan atap ilalang dan hamparan hijau di sekelilingnya secara psikologis menciptakan suasana belajar yang sangat berbeda dari ruang kelas atau perpustakaan formal: nyaman, segar, bebas, dan menyatu dengan alam — semua elemen yang membuat warga desa merasa “di rumah” dan tidak ada hambatan psikologis untuk masuk dan membaca. [1]

Inovasi program #BBWeekEndForum setiap Sabtu menjadi roh Berugak Buku yang menghidupkan koleksi buku menjadi diskusi nyata: pagi hari diisi Kelas Inspirasi oleh praktisi, akademisi, aktivis, penulis, dan wartawan yang diundang berbagi tentang profesi mereka kepada anak-anak SD dan MI, sementara sore harinya diisi diskusi tematik atau apresiasi sastra yang membuka ruang ekspresi dan pemikiran kritis warga desa. [1] Wifi gratis yang disediakan Berugak Buku memperbarui konsep gerakan literasi dari sekadar membaca buku fisik menjadi literasi digital — sebuah jembatan antara pengetahuan lokal dan akses informasi global yang sangat relevan bagi pemuda desa di era digital. [2]

Proses Penerapan Inovasi

Jumaili memulai dari titik yang paling tersedia: koleksi buku pribadinya sendiri. Pada 2017, ia mendirikan berugak sederhana di kawasan Yayasan Ponpes Sirajul Huda Paoq Dandak dan menaruh buku-buku miliknya di rak terbuka untuk dipinjam dan dibaca siapapun yang datang. [1] Langkah pertama yang sangat rendah hambatan ini — tidak membutuhkan izin birokrasi, tidak membutuhkan anggaran besar, tidak membutuhkan gedung — membuktikan bahwa inisiatif literasi desa bisa dimulai dari nol dengan modal yang ada. [2] Tanaman sayuran, kunyit, selada, dan pohon mahkota dewa yang mengelilingi berugak sekaligus menjadi laboratorium pertanian organik mini yang menambah daya tarik Berugak Buku melampaui sekadar tempat membaca. [1]

Setahun kemudian, pada 2018, Jumaili memanfaatkan Facebook untuk menggalang donasi buku secara terbuka — sebuah eksperimen digital yang hasilnya melampaui ekspektasi: lebih dari 500 judul buku dari berbagai disiplin keilmuan mengalir masuk dari donatur dari berbagai penjuru Indonesia. [1] Strategi “donasi terbuka seluas-luasnya” ini juga menjadi mesin promosi organik yang efektif: setiap donatur yang mengirim buku secara tidak langsung menjadi duta Berugak Buku yang menceritakan gerakan ini ke jaringan sosialnya, menciptakan efek viral yang jauh lebih kuat dari iklan berbayar. [2] Momentum ini dimanfaatkan Jumaili untuk membangun program yang lebih terstruktur, termasuk #BBWeekEndForum dan Kelas Inspirasi yang mengundang pembicara eksternal dan turis mancanegara. [1]

Pengakuan dari Senator DPD RI Helmy Faishal Zaini yang mendirikan Berugak Baca HFZ sebagai salah satu titik dalam jaringan Berugak Buku pada Februari 2018 menjadi tonggak penting: untuk pertama kalinya, gerakan yang berawal dari kamar Jumaili mendapat dukungan dari pejabat negara yang melihat potensi model ini sebagai instrumen pembangunan literasi nasional. [3] PBNU turut mengapresiasi inisiatif ini dengan mendorong pimpinan pesantren untuk lebih kreatif seperti Jumaili dalam membangun ekosistem literasi berbasis lembaga pendidikan Islam. [4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor paling menentukan adalah kedalaman pemahaman Jumaili tentang psikologi masyarakat desanya sendiri: ia tidak mencoba mengimpor model perpustakaan kota yang terasa asing, melainkan menggunakan berugak — ruang sosial yang sudah menjadi bagian dari DNA budaya Suku Sasak — sebagai wadah literasi yang langsung diterima tanpa resistensi oleh warga. [1] Pilihan lokasi di tengah sawah dengan pemandangan alam yang menenangkan, taman kecil, kolam ikan, dan angin sepoi-sepoi bukan kebetulan: ini adalah desain pengalaman yang disengaja untuk menciptakan asosiasi positif antara membaca dan kenyamanan, menghilangkan persepsi bahwa belajar itu membosankan. [2]

Faktor kedua adalah kemampuan Jumaili membangun ekosistem relasi yang luas: sebagai Ketua Yayasan Ponpes Sirajul Huda, ia memiliki akses ke jaringan santri, guru, dan tokoh masyarakat yang menjadi agen penggerak literasi; sebagai Media Partner dan Community Organizer, ia memiliki kapasitas komunikasi digital yang kuat untuk menjangkau donatur buku dan pembicara Kelas Inspirasi dari luar desa. [4] Keterbukaan Berugak Buku untuk menerima kontribusi dari siapapun — turis asing, akademisi, wartawan, bahkan politisi — menciptakan ekosistem yang terus mendapat energi dari berbagai sumber tanpa bergantung pada satu pihak saja. [1]

Hasil dan Dampak Inovasi

Koleksi buku Berugak Buku berkembang dari nol menjadi lebih dari 500 judul mencakup novel, majalah, dan literatur ilmiah dalam waktu kurang dari dua tahun — sebuah pertumbuhan koleksi yang melampaui banyak perpustakaan desa yang dibangun dengan anggaran pemerintah. [1] Berugak Buku menjadi bagian dari jaringan 15 titik berugak buku di kawasan Paoq Dandak dan sekitarnya, memperluas jangkauan literasi dari satu gazebo menjadi jaringan ruang baca komunitas yang menyelimuti berbagai sudut desa. [3] Hampir setiap hari, pelajar dan warga memanfaatkan berugak untuk membaca, belajar, dan berdiskusi — sebuah perubahan kebiasaan yang sangat bermakna di komunitas yang sebelumnya tidak memiliki ruang baca apapun. [1]

Dampak sosial yang paling unik adalah jembatan budaya antara masyarakat desa Sasak dengan dunia internasional: puluhan turis dari berbagai negara sudah mengunjungi Berugak Buku, sebagian mengisi Kelas Inspirasi dan menjadi guru tamu sehari bagi anak-anak desa, sementara anak-anak secara tidak langsung mendapat pelajaran bahasa Inggris dan Arab dari interaksi dengan tamu asing. [1] Pengakuan dari Senator DPD RI, PBNU, dan liputan media nasional menempatkan Berugak Buku sebagai model inovasi literasi desa yang diakui di tingkat nasional — sebuah dampak reputasional yang membuka pintu bagi kemitraan dan dukungan baru yang terus mengalir ke Desa Durian. [4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan operasional paling nyata adalah keberlangsungan pengelolaan harian: Jumaili menyebutkan bahwa sebenarnya ada petugas yang ditugaskan merapikan buku setiap hari, namun ketika kunjungan Lombok Post pada hari Minggu, petugas libur dan buku-buku berserakan di berugak. [1] Ketergantungan pada satu atau beberapa individu untuk menjaga keteraturan operasional adalah kerentanan yang perlu diatasi dengan sistem pengelolaan yang lebih terdistribusi dan tidak bergantung pada kehadiran pengelola utama. [6]

Tantangan kedua adalah keberlanjutan donasi buku dan kebaruan koleksi: kampanye donasi via Facebook yang berhasil pada 2018 tidak bisa diandalkan sebagai sumber rutin, sementara koleksi buku yang tidak diperbarui secara berkala akan membuat pembaca reguler kehabisan bahan bacaan baru dan berisiko menurunkan frekuensi kunjungan. [2] Mengembangkan skema donasi yang lebih sistematis — misalnya kemitraan dengan penerbit, program book-drop dari sekolah dan kampus, atau program Taman Bacaan Masyarakat yang terdaftar di Perpustakaan Nasional — menjadi kebutuhan strategis yang mendesak untuk menjaga momentum literasi yang sudah terbentuk. [6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Berugak Buku dibangun di atas fondasi kelembagaan Yayasan Ponpes Sirajul Huda Paoq Dandak yang memberikan payung hukum, sumber daya manusia dari santri dan alumni pondok, dan jaringan komunitas yang stabil sebagai basis pengelola jangka panjang. [3] Integrasi Berugak Buku ke dalam ekosistem pesantren memastikan bahwa generasi pengelola akan terus diregenerasi secara alami dari komunitas santri yang keluar masuk pondok — sebuah mekanisme suksesi organik yang tidak bergantung pada satu individu. [1]

Pengembangan wisata edukasi pertanian organik sebagai komponen Berugak Buku membuka potensi sumber pendapatan yang membiayai operasional secara mandiri: kunjungan wisatawan yang membayar untuk belajar bertani organik, workshop menulis, dan kelas batik dapat menghasilkan aliran kas yang berkelanjutan tanpa harus mengandalkan donasi. [1] Pendaftaran Berugak Buku sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) resmi yang terdaftar dalam program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) Perpustakaan Nasional RI akan memberikan akses ke bantuan koleksi buku, pelatihan pengelola, dan jaringan TBM nasional yang memperkuat keberlanjutan program. [7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Berugak Buku membuktikan bahwa literasi adalah fondasi dari semua tujuan pembangunan: tanpa kemampuan membaca, memahami, dan menganalisis informasi, masyarakat desa tidak dapat secara optimal memanfaatkan program pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, maupun hak-hak sipil mereka. [5] Dengan menyemai budaya baca dari anak-anak SD dan MI hingga warga dewasa melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual, Berugak Buku berinvestasi pada kapasitas manusia desa yang hasilnya akan terasa lintas generasi. [2]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 4: Pendidikan Berkualitas:Berugak Buku menghadirkan akses pendidikan informal yang inklusif dan gratis bagi seluruh warga Desa Durian — anak-anak, remaja, dan dewasa — melalui perpustakaan terbuka, Kelas Inspirasi, wifi gratis, diskusi tematik, dan apresiasi sastra yang meningkatkan kualitas pembelajaran di luar sekolah formal.
SDGs 5: Kesetaraan Gender:Keterbukaan Berugak Buku yang menerima semua warga tanpa diskriminasi gender memberikan perempuan desa akses yang setara ke sumber pengetahuan, ruang diskusi, dan jaringan inspirasi yang sebelumnya tidak mereka miliki, mendukung pemberdayaan perempuan berbasis literasi di kawasan pedesaan Lombok Tengah.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan:Berugak Buku mengurangi kesenjangan akses informasi antara masyarakat desa dan kota dengan menyediakan lebih dari 500 judul buku, wifi gratis, dan pembicara inspiratif berkualitas tinggi — termasuk turis mancanegara — yang dapat dinikmati warga pedesaan tanpa harus pergi ke kota.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Desain Berugak Buku yang mengintegrasikan taman kecil, kolam ikan, tanaman sayuran dan obat-obatan, serta hamparan sawah di sekelilingnya menciptakan ruang publik berkelanjutan yang memperindah lingkungan desa sekaligus menjadi contoh nyata bagaimana permukiman desa dapat memiliki ruang budaya yang estetis dan fungsional.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh:Forum diskusi tematik dan Kelas Inspirasi yang rutin di Berugak Buku membangun kemampuan berpikir kritis, dialog antar perspektif, dan partisipasi warga dalam wacana publik — fondasi penting bagi masyarakat desa yang demokratis, kritis, dan mampu mengawasi jalannya pemerintahan secara aktif.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Berugak Buku membangun kemitraan lintas batas yang luar biasa: dari donatur buku via Facebook, pembicara Kelas Inspirasi dari berbagai profesi, turis mancanegara dari puluhan negara, senator DPD RI Helmy Faishal Zaini, hingga dukungan PBNU — sebuah jaringan multipihak yang memperkuat ekosistem literasi desa secara berkelanjutan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Berugak Buku sangat mudah direplikasi karena hambatan awalnya sangat rendah: yang dibutuhkan hanyalah satu gazebo atau ruang terbuka yang sudah ada di desa, koleksi buku awal dari donasi, dan satu individu atau komunitas yang berkomitmen mengelolanya secara rutin. [2] Kunci keberhasilan replikasi bukan pada anggaran besar, tetapi pada konsistensi program mingguan seperti #BBWeekEndForum yang menjaga ritme komunitas dan memastikan warga selalu punya alasan untuk datang kembali setiap minggu. [1]

Untuk scale up nasional, Kementerian Desa PDTT dan Perpustakaan Nasional RI dapat mengembangkan program “Berugak Buku Nusantara” yang mendukung pengembangan 5.000 ruang baca berbasis kearifan budaya lokal di seluruh Indonesia — joglo di Jawa, rumah panggung di Kalimantan, bale-bale di Bali, dan berugak di Lombok — dengan dukungan paket 500 buku awal dari Perpustakaan Nasional, pelatihan pengelolaan komunitas, dan akses ke jaringan pembicara inspiratif nasional. [7] Berugak Buku Desa Durian telah membuktikan bahwa yang dibutuhkan Indonesia bukan hanya lebih banyak gedung perpustakaan, tetapi lebih banyak Ahmad Jumaili — pemuda desa yang percaya bahwa satu berugak dengan satu rak buku bisa mengubah wajah literasi sebuah komunitas. [2]

Daftar Pustaka

[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Berkunjung ke Berugak Buku di Desa Durian, Lombok Tengah,” lombokpost.jawapos.com, 9 Jul. 2019. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/ntb/09/07/2019/berkunjung-ke-berugak-buku-di-desa-durian-lombok-tengah/

[2] A. Jumaili (Jhellie Maestro), “Jumaili: Bukan Tak Minat Baca, Orang Desa Butuh Fasilitas,” Kumparan, 25 Feb. 2018. [Online]. Available: https://kumparan.com/jhellie-maestro/jumaili-bukan-tak-minat-baca-orang-desa-butuh-fasilitas

[3] A. Jumaili (Jhellie Maestro), “Helmy Faishal Zaini Dirikan Berugak Baca HFZ di Lombok Tengah,” Kumparan, 21 Feb. 2018. [Online]. Available: https://kumparan.com/jhellie-maestro/helmy-faishal-zaini-dirikan-berugak-baca-hfz-di-lombok-tengah

[4] NU Online, “PBNU Berharap Pimpinan Pesantren Lebih Kreatif,” nu.or.id, 20 Feb. 2018. [Online]. Available: https://nu.or.id/amp/nasional/pbnu-berharap-pimpinan-pesantren-lebih-kreatif-BMOvT

[5] SALUT: Journal of Social and Education, “Peran Kepala Desa Dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat,” ripublis.com, vol. 1, no. 2, Mar. 2025. [Online]. Available: http://ripublis.com/index.php/salut/article/download/24/10

[6] Raehanah et al., “Meningkatkan Literasi Anak-Anak Desa melalui Pengelolaan Pojok Baca,” Participative Journal (PJ): Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, vol. 3, no. 1, 2023. [Online]. Available: https://jurnal.jurmat.com/index.php/pj/article/download/67/80/243

[7] Perpustakaan Nasional RI, “SIM Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial — Data Mitra TBM NTB,” transformasi.perpusnas.go.id, 2022–2024. [Online]. Available: https://transformasi.perpusnas.go.id/dashboard/mitra

[8] A. Jumaili, “Jumaili, Bukan Tak Minat Baca, Orang Desa Kurang Fasilitas,” Kompasiana, 25 Feb. 2018. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/jhelliemaestro/5a940aa95e137376e210d722/jumaili-bukan-tak-minat-baca-orang-desa-kurang-fasilitas

[9] Tim Redaksi Jurnal Wicara Desa, “Perpustakaan sebagai Ruang Literasi Cerdas: Peningkatan Budaya Baca dan Literasi Digital di Desa,” Jurnal Wicara Desa, vol. 3, no. 4, Agust. 2025, Universitas Mataram. [Online]. Available: https://jurnal.unram.ac.id/index.php/wicara/en/article/download/8832/4415/31369

[10] Facebook/Berugak Buku, “Berugak Buku Lombok Tengah, Paok Dandak, Desa Durian,” facebook.com/berugakbuku, Jan. 2025. [Online]. Available: https://www.facebook.com/berugakbuku/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.