Ringkasan Inovasi
Desa Dasan Lekong di Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, di bawah kepemimpinan Kepala Desa Lalu Muhamad Rajabul Akbar, membangun ekosistem inovasi desa berbasis produktivitas aset yang memadukan agro wisata kebun jambu kristal seluas 2 hektare dengan 2.000 pohon, bank sampah senilai anggaran Rp300 juta, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) berkonsep taman senilai Rp500 juta, dan pengembangan kapasitas pemuda melalui sentra kreativitas terpadu — semuanya diarahkan untuk menggenjot PADes dari ratusan juta rupiah menuju target Rp1 miliar per tahun dari aset desa seluas 7 hektare. [1] Keberhasilan inovasi ini terlihat nyata ketika pada Februari 2021, Ketua DPRD NTB melakukan panen perdana jambu kristal di Dasan Lekong — sebuah momen simbolis yang menandai transformasi aset desa yang sebelumnya kurang produktif menjadi sumber PADes berbasis agrowisata yang berkelanjutan. [2]
Keunikan model Dasan Lekong terletak pada prinsip kepemimpinan Akbar: “tidak terlalu tertarik dana desa, tapi fokus meningkatkan PADes dari potensi yang ada.” [1] Filosofi ini menjadikan Dasan Lekong salah satu desa paling inovatif di Lombok Timur yang kini tercatat dalam Jadesta NTB sebagai Desa Wisata Berbasis Sampah — sebuah pengakuan resmi yang membuktikan bahwa bank sampah dan agro wisata yang dikembangkan bukan sekadar program percontohan, melainkan destinasi wisata yang sudah terverifikasi oleh Dinas Pariwisata NTB. [3]
| Nama Inovasi | : | Ekosistem Inovasi Desa Dasan Lekong — Agro Wisata Jambu Kristal, Bank Sampah Kreatif, IPAL Berkonsep Taman, dan Sentra Kreativitas Pemuda Berbasis PADes Mandiri |
| Alamat | : | Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (9.678 jiwa, kawasan strategis perbatasan Kota Selong) |
| Inovator | : | Lalu Muhamad Rajabul Akbar (Kepala Desa Dasan Lekong); didukung Pemerintah Desa Dasan Lekong, Karang Taruna, dan komunitas pemuda desa |
| Kontak | : | Jadesta NTB: ntb.jadesta.com/desa/_berbasis_sampah | Desa Dasan Lekong, Kec. Sukamulia, Kab. Lombok Timur, NTB 83661 | Email Yayasan: yayasancitralestaridasanlekong@gmail.com |
Latar Belakang
Desa Dasan Lekong adalah desa dengan populasi besar — 9.678 jiwa — yang bertahun-tahun memiliki aset tanah desa 7 hektare yang hanya menghasilkan PADes Rp8 juta hingga Rp100 juta per tahun, sebuah angka yang jauh dari mencukupi untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat secara bermakna. [1] Mata pencaharian utama warga adalah pertanian padi, tembakau, dan cabai, sementara potensi pengembangan buah hortikultura bernilai tinggi seperti jambu kristal belum dimanfaatkan secara terorganisasi meski kondisi lahan sangat mendukung. [4] Ketiadaan pemimpin desa yang berani bereksperimen dengan model bisnis desa non-konvensional membuat potensi aset ini terbengkalai dan tidak menghasilkan nilai ekonomi yang setimpal. [1]
Di sisi lingkungan, pengelolaan sampah rumah tangga dan limbah domestik warga belum memiliki sistem yang terstruktur, sementara kawasan padat permukiman Dasan Lekong yang berbatasan langsung dengan pusat Kota Selong menjadikan masalah sanitasi dan kebersihan lingkungan semakin mendesak untuk diatasi. [5] Ketika program IPAL dari Kementerian PUPR ditawarkan, desa-desa lain tidak memenuhi syarat — tetapi Dasan Lekong terpilih karena sudah memiliki kapasitas kelembagaan yang dinilai paling siap untuk mengelola infrastruktur sanitasi bernilai Rp500 juta tersebut secara mandiri. [5]
Peluang strategis yang ditangkap Akbar adalah konvergensi tiga tren sekaligus: meningkatnya minat wisata agro di Lombok seiring tumbuhnya pariwisata pascakemunduran Senggigi akibat gempa 2018, tren ekonomi sirkular berbasis sampah yang mulai mendapat perhatian besar dari pemerintah, dan potensi besar pemuda desa yang memiliki keterampilan namun belum memiliki wadah produktif untuk mengembangkan diri. [1] Ketiga peluang ini dipandang Akbar bukan sebagai program terpisah melainkan satu ekosistem yang saling memperkuat: agro wisata menarik pengunjung, bank sampah mengelola limbah pengunjung sekaligus menghasilkan pendapatan, dan sentra kreativitas pemuda menyediakan sumber daya manusia yang terlatih untuk mengelola seluruh ekosistem tersebut. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Dasan Lekong adalah pengembangan agro wisata jambu kristal seluas 2 hektare dengan 2.000 pohon di atas aset tanah desa, yang diintegrasikan dengan bank sampah senilai Rp300 juta sebagai fasilitas pengelolaan limbah wisatawan dan warga sekaligus sumber PADes dari penjualan sampah daur ulang. [1] Jambu kristal dipilih bukan secara acak: varietas ini termasuk buah premium bernilai jual tinggi dengan masa produktif panjang, mudah dibudidayakan di iklim NTB, dan memiliki daya tarik visual yang kuat untuk wisata petik buah langsung — wisatawan dapat melihat, memetik, dan langsung mengonsumsi buah segar dari pohon yang tumbuh di kebun desa. [2] Sistem agro wisata ini dirancang agar setiap kunjungan wisatawan menghasilkan pendapatan berlapis: tiket masuk, petik buah, penjualan produk olahan jambu, dan konsumsi di area wisata. [1]
Inovasi IPAL dengan konsep taman menjadi pembeda yang menarik perhatian: alih-alih membangun infrastruktur sanitasi yang tersembunyi dan terkesan tidak menarik, Dasan Lekong membangun taman di atas instalasi IPAL sehingga fasilitas sanitasi sekaligus menjadi ruang publik yang indah dan nyaman bagi warga. [5] IPAL menggunakan sistem Sanimas dengan Sistem Pengelolaan Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang mengumpulkan limbah dari 70 sambungan rumah (SR) secara terpusat, dengan iuran bulanan dibayar menggunakan sampah — sebuah terobosan yang sekaligus mengedukasi warga tentang nilai ekonomi sampah dan menjaga keberlanjutan operasional IPAL tanpa membebani kas desa. [5]
Proses Penerapan Inovasi
Akbar memulai dari yang paling dekat dan paling ia kuasai: mengujicobakan budidaya jambu kristal di pekarangan rumah pribadinya sebelum meyakinkan pemerintah desa untuk mengembangkannya di aset tanah desa yang jauh lebih luas. [1] Pohon jambu kristal yang sudah berbuah di pekarangan rumah Akbar menjadi bukti nyata yang lebih kuat dari proposal tertulis manapun — ketika wartawan Lombok Post berkunjung dan melihat sendiri pohon yang belum besar tapi sudah berbuah, keberhasilan skala kecil itu menjadi argumen paling persuasif untuk investasi skala desa. [1] Langkah ini mencerminkan metodologi Akbar: uji coba di skala terkecil, buktikan dengan hasil nyata, baru perluas secara bertahap. [1]
Pengembangan sentra kreativitas terpadu di kediamannya — yang mencakup jasa percetakan, sablon kaos dengan alat sablon putar, penyewaan terop, bengkel las, studio foto dan video Lintas Media, serta rumah tahfiz Bani Abdusshomad — bukan sekadar bisnis pribadi, melainkan laboratorium pelatihan terbuka bagi pemuda dan karang taruna Dasan Lekong. [1] Investasi dalam kapasitas sumber daya manusia ini memastikan bahwa ketika agro wisata dan bank sampah beroperasi penuh, sudah ada tenaga muda yang terlatih dan siap mengelolanya secara profesional. [1] Proses ini membutuhkan waktu beberapa tahun: bank sampah baru beroperasi signifikan menjelang 2020, IPAL selesai dibangun pada Desember 2020, dan panen perdana jambu kristal baru berlangsung pada Februari 2021. [2]
Penelitian efektivitas prioritas penggunaan Dana Desa di Dasan Lekong dari Universitas Brawijaya (2021) mencatat bahwa pemerintah desa memilih prioritas penggunaan Dana Desa yang tidak lazim — mengalokasikan anggaran besar untuk infrastruktur produktif seperti bank sampah senilai Rp300 juta dan agro wisata — dibanding yang umumnya digunakan untuk pembangunan jalan atau gedung. [6] Pilihan ini awalnya mendapat pertanyaan dari sebagian warga, namun hasil nyata yang kemudian terlihat — jambu kristal berbuah, bank sampah beroperasi, dan IPAL menghasilkan ruang taman publik — perlahan membangun kepercayaan warga pada visi Akbar. [6]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling menentukan adalah kepribadian dan kapasitas multidisiplin Akbar sendiri: ia bukan hanya kepala desa yang memerintah, tetapi seorang praktisi yang sudah membuktikan kemampuan wirausahanya di berbagai bidang — pertanian, percetakan, sablon, media, dan pendidikan — sebelum memimpin desa. [1] Ketika ia menganggarkan Rp300 juta untuk bank sampah, warga yang mengenal rekam jejak Akbar sebagai wirausahawan yang selalu berhasil memberi kepercayaan yang tidak akan diberikan kepada pemimpin desa tanpa pengalaman nyata yang terlihat. [1] Prinsip hidupnya — “Khairunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama” — bukan retorika kosong melainkan konsep yang hidup dalam kesediaan rumahnya membuka pintu untuk belajar siapapun yang datang. [1]
Faktor kedua adalah kemampuan Dasan Lekong menarik dukungan eksternal melalui kapasitas kelembagaan yang sudah terbukti: Kementerian PUPR memilih Dasan Lekong sebagai lokasi IPAL senilai Rp500 juta justru karena desa ini dinilai memiliki kriteria paling lengkap dan kapasitas pengelolaan yang paling siap. [5] Kesiapan kelembagaan yang dibangun Akbar — mulai dari dokumen perencanaan yang terstruktur, transparansi pengelolaan anggaran, hingga partisipasi aktif warga dalam program desa — menjadikan Dasan Lekong magnet bagi program-program pemerintah pusat yang membutuhkan desa mitra yang terpercaya. [5]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling nyata dan terukur adalah panen perdana jambu kristal pada Februari 2021 yang dihadiri Ketua DPRD NTB — sebuah momen yang membuktikan bahwa kebun agro wisata seluas 2 hektare dengan 2.000 pohon sudah mulai berproduksi dan siap menghasilkan PADes dari penjualan buah dan kunjungan wisata petik buah. [2] Ketua DPRD NTB yang hadir dalam panen perdana tersebut menyampaikan apresiasi langsung atas keberhasilan program agro wisata Dasan Lekong, sebuah dukungan politis penting yang membuka akses ke program-program dukungan anggaran provinsi. [2] Bank sampah yang dianggarkan Rp300 juta beroperasi dengan sistem inovatif iuran menggunakan sampah, mendidik warga tentang nilai ekonomi sampah sambil membiayai operasional IPAL secara mandiri tanpa subsidi anggaran desa berkelanjutan. [5]
Dampak pengakuan kelembagaan terlihat dari ditetapkannya Desa Dasan Lekong sebagai Desa Wisata Berbasis Sampah dalam Jadesta NTB oleh Dinas Pariwisata NTB — sebuah status resmi yang membuka pintu promosi wisata melalui jaringan Jadesta nasional Kementerian Pariwisata. [3] Sentra kreativitas yang dibangun Akbar di kediamannya juga memberi dampak sosial nyata bagi pemuda Dasan Lekong: keterampilan percetakan, sablon, media, dan kerajinan yang dipelajari di sentra ini membuka peluang usaha mandiri yang tidak bergantung pada sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan iklim. [1]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama yang dihadapi agro wisata jambu kristal adalah lamanya masa tunggu sebelum kebun berproduksi secara optimal: meski panen perdana sudah berlangsung Februari 2021, kapasitas produksi penuh baru tercapai setelah beberapa tahun, sementara biaya operasional kebun tetap berjalan dan membutuhkan sumber pembiayaan yang tidak bisa sepenuhnya mengandalkan PADes yang belum masuk. [6] Selain itu, manajemen kawasan agro wisata membutuhkan kapasitas pengelolaan hospitality dan promosi wisata yang berbeda dari kapasitas pertanian biasa — dan gap ini membutuhkan pelatihan tambahan bagi pengelola yang tidak selamanya tersedia melalui program dinas pariwisata kabupaten. [6]
Di sisi IPAL, jangkauan sistem Sanimas hanya mampu melayani dua dusun — Peken dan Bongkot — dengan 70 SR dan 400 jiwa, sementara total populasi Dasan Lekong mencapai 9.678 jiwa. [5] Perluasan sistem sanitasi ke seluruh desa membutuhkan investasi infrastruktur yang jauh melampaui kapasitas Dana Desa semata dan memerlukan dukungan alokasi anggaran dari pemerintah kabupaten dan provinsi secara berkelanjutan. [5]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan agro wisata dijaga melalui siklus produksi jambu kristal yang bersifat perennial: satu kali tanam menghasilkan buah bertahun-tahun dengan biaya perawatan yang lebih rendah dari modal awal, sehingga PADes dari kebun terus mengalir tanpa harus mengulang investasi besar secara berkala. [2] Pengembangan produk olahan jambu kristal — jus, selai, keripik buah, dan produk kering — memperpanjang rantai nilai dari sekadar penjualan buah segar menjadi produk bernilai tambah yang bisa dipasarkan ke luar desa melalui jaringan pasar dan e-commerce. [1]
Bank sampah dan IPAL dikelola dengan model iuran berbasis sampah yang memisahkan pendanaan operasional dari Dana Desa, memastikan keberlanjutan finansial jangka panjang yang tidak bergantung pada siklus anggaran tahunan pemerintah. [5] Sentra kreativitas yang sudah membangun kapasitas pemuda desa menjadi fondasi SDM yang memungkinkan regenerasi pengelola agro wisata, bank sampah, dan media promosi digital desa secara organik dari dalam komunitas tanpa harus merekrut tenaga dari luar. [1]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Model inovasi ekosistem Dasan Lekong menunjukkan bahwa seorang pemimpin desa yang memiliki visi kewirausahaan sosial yang kuat dapat menggerakkan berbagai pilar SDGs secara bersamaan — dari ekonomi, lingkungan, hingga pendidikan — tanpa harus menunggu instruksi dari atas atau anggaran yang lebih besar dari yang sudah ada. [1] Kunci integrasinya adalah kepemimpinan yang memandang setiap masalah desa sebagai peluang inovasi yang menunggu solusi kreatif, bukan sebagai beban yang harus dilimpahkan ke pemerintah yang lebih tinggi. [6]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Target PADes Rp1 miliar dari aset desa yang semula hanya menghasilkan Rp8–100 juta per tahun memungkinkan desa membiayai program sosial yang lebih luas, sementara lapangan kerja di kebun agro wisata, bank sampah, dan sentra kreativitas mengurangi angka pengangguran secara langsung. |
| SDGs 2: Tanpa Kelaparan | : | Agro wisata jambu kristal meningkatkan ketersediaan dan variasi pangan lokal berkualitas tinggi, sementara diversifikasi mata pencaharian warga dari sekadar petani padi-tembakau ke pengusaha wisata dan pengelola bank sampah memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. |
| SDGs 6: Air Bersih dan Sanitasi | : | IPAL berkonsep taman dengan sistem SPALD-T yang melayani 70 SR dan 400 jiwa di Dasan Lekong memastikan pengelolaan limbah domestik yang aman dan higienis, mengurangi pencemaran air tanah dan sungai, serta meningkatkan kualitas sanitasi permukiman padat di perbatasan Kota Selong. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Sentra kreativitas terpadu Akbar yang membuka akses belajar percetakan, sablon, media, dan kerajinan bagi pemuda desa menciptakan enterpreneur lokal yang terampil dan siap mengelola ekosistem wisata desa, sementara agro wisata dan bank sampah membuka lapangan kerja formal berbasis potensi lokal. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | : | Pembangunan taman di atas IPAL mengubah infrastruktur sanitasi menjadi ruang publik hijau yang multifungsi, meningkatkan kualitas lingkungan permukiman padat Dasan Lekong sekaligus menjadi daya tarik estetika desa yang mendukung citra Dasan Lekong sebagai desa wisata yang bersih dan nyaman. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab | : | Bank sampah yang memungkinkan iuran IPAL menggunakan sampah mendidik warga tentang nilai ekonomi dan lingkungan dari pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, mendorong pola konsumsi yang lebih sadar lingkungan melalui insentif ekonomi yang nyata dan terasa langsung oleh warga. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Keberhasilan Dasan Lekong menarik program IPAL Kementerian PUPR senilai Rp500 juta, dukungan DPRD NTB dalam panen perdana jambu kristal, dan pendampingan LSM Asri dalam perancangan IPAL membuktikan bahwa kapasitas kelembagaan desa yang kuat menarik kemitraan multipihak yang saling menguntungkan. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Dasan Lekong paling relevan direplikasi oleh desa-desa yang memiliki aset tanah milik desa yang belum dikelola produktif — kondisi yang ada di ribuan desa di seluruh Indonesia di mana tanah kas desa hanya disewakan dengan harga murah tanpa mengoptimalkan nilai produktifnya. [6] Langkah kunci replikasinya adalah: inventarisasi aset tanah desa secara menyeluruh, hitung potensi PADes jika aset dikelola sebagai kebun hortikultura agro wisata, pilih satu komoditas buah premium yang sesuai dengan iklim lokal, dan integrasikan dengan bank sampah sebagai komplemen pengelolaan lingkungan. [1]
Untuk scale up, Kementerian Desa PDTT dapat mengembangkan program “Desa Aset Produktif” yang mendampingi 1.000 desa mengoptimalkan aset tanah desa sebagai kebun agro wisata, dengan paket dukungan yang mencakup pelatihan pengelolaan kebun buah premium, subsidi bibit dari Dana Desa, pendampingan manajemen agro wisata, dan akses ke program IPAL Kementerian PUPR untuk desa yang sudah siap secara kelembagaan. [5] Kisah Dasan Lekong membuktikan bahwa angaran Rp300 juta untuk bank sampah dan investasi awal agro wisata — yang awalnya tampak berani — adalah keputusan bisnis yang rasional jika pemimpinnya memiliki kapasitas dan visi yang memadai. [1]
Daftar Pustaka
[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Dasan Lekong Akan Dijadikan Desa Agro Wisata,” lombokpost.jawapos.com, 6 Mar. 2019. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/selong/06/03/2019/dasan-lekong-akan-dijadikan-desa-agro-wisata/
[2] DPRD NTB, “Ketua DPRD Panen Perdana Jambu Kristal,” dprd-ntbprov.go.id, 25 Feb. 2021. [Online]. Available: https://dprd-ntbprov.go.id/ketua-dprd-panen-perdana-jambu-kristal/
[3] Dinas Pariwisata NTB/Jadesta NTB, “Desa Wisata Berbasis Sampah — Desa Dasan Lekong Kecamatan Sukamulia Kabupaten Lombok Timur,” ntb.jadesta.com. [Online]. Available: https://ntb.jadesta.com/desa/_berbasis_sampah
[4] Tim KKN Universitas Mataram, “Profil dan Potensi Desa Dasan Lekong,” Scribd/Akademisi, 2018. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/410391794/1537836887015-0-BUKU-KKN-DESA-DASAN-LEKONG-2018-docx
[5] Inside Lombok, “IPAL Unik di Desa Dasan Lekong, Ada Taman di Atasnya,” insidelombok.id, 1 Des. 2020. [Online]. Available: https://insidelombok.id/berita-utama/ipal-unik-di-desa-dasan-lekong-ada-taman-di-atasnya/
[6] W. P. Astuti, “Efektivitas Prioritas Utama Penggunaan Dana Desa di Desa Dasan Lekong,” Skripsi, Universitas Brawijaya, 2021. [Online]. Available: https://repository.ub.ac.id/186808/6/Wahyu%20Puji%20Astuti.pdf
[7] Pemerintah Desa Dasan Lekong dan Indorelawan, “Desa Dasan Lekong Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur NTB,” indorelawan.org, 2019. [Online]. Available: https://www.indorelawan.org/activity/NmYBOI8C/desa-dasan-lekong
[8] L. Mahesa et al., “Analisis Peran Pemerintah Desa dalam Pengembangan Potensi Desa Wisata,” Jurnal Kybernology, Wiyata Publisher, 2023. [Online]. Available: https://journal.wiyatapublisher.or.id/index.php/kybernology/article/download/90/54
