Ringkasan Inovasi
Wahana Wisata Edukasi Religi dan Kebangsaan Jabal Rahmah yang berdiri di Desa Jango, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat menghadirkan replika Ka’bah berukuran 8×8 meter dengan tinggi 11 meter — lengkap dengan replika Hajar Aswad, Hijr Ismail, Makam Nabi Ibrahim, Maqam Ibrahim, kawasan Mina dengan area lempar jumrah tiga tugu (Ula, Wustha, Aqabah), jalur Sa’i Shafa-Marwa, dan Tugu Jabal Rahmah — sebagai destinasi wisata edukasi religi pertama di Lombok Tengah yang memadukan simulasi ibadah haji dan umrah dengan paket outbond kebangsaan, pelatihan batik, keramik, dan berkemah dalam satu kawasan terpadu. [1] Diresmikan pada November 2019, destinasi ini langsung menarik kunjungan dari sekolah-sekolah, kelompok calon jamaah haji dan umrah dari seluruh Lombok bahkan dari Malaysia, membuktikan bahwa wisata religi berbasis replika tanah suci memiliki daya tarik yang melampaui batas geografis dan menjadi model inovasi pariwisata desa yang belum pernah ada sebelumnya di NTB. [1]
Model bisnis Jabal Rahmah menawarkan dua segmen paket: paket manasik haji anak-anak Rp67.000 per peserta dan paket dewasa Rp100.000 per peserta — keduanya sudah mencakup makan-minum, panduan manasik lengkap, pemateri, dan akses ke semua fasilitas replika — ditambah jasa sewa pakaian ihram Rp10.000 per kain bagi pengunjung individual yang ingin menambah kesan religius dalam foto. [1] Keberadaan wisata ini mengubah Desa Jango dari desa pertanian biasa menjadi pusat wisata edukasi religi yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi pedagang lokal, pengelola wisata, dan komunitas sekitar yang terlibat dalam pengelolaan wahana. [2]
| Nama Inovasi | : | Wahana Wisata Edukasi Religi dan Kebangsaan Jabal Rahmah Desa Jango — Replika Ka’bah, Jabal Rahmah, Mina, Sa’i Shafa-Marwa, dan Paket Manasik Haji Terpadu |
| Alamat | : | Desa Jango, Kecamatan Janapria, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat | Instagram: @jabalrahmah_lombok |
| Inovator | : | Pengelola Wahana Wisata Edukasi Jabal Rahmah Desa Jango (Hadis, pengelola; Asmaul Husna, karyawan wisata); didukung pemerintah Desa Jango dan pemerintah Kecamatan Janapria, Lombok Tengah |
| Kontak | : | Instagram: @jabalrahmah_lombok | Website: www.jabalrahmah.id | Desa Jango, Kec. Janapria, Kab. Lombok Tengah, NTB |
Latar Belakang
Desa Jango di Kecamatan Janapria adalah wilayah pertanian di Lombok Tengah yang tidak memiliki pantai, tidak memiliki hutan wisata, dan tidak memiliki air terjun — potensi wisata alam yang menjadi andalan sebagian besar desa wisata di Lombok. [1] Tanpa aset alam yang spektakuler, desa ini membutuhkan inovasi wisata yang tidak bergantung pada keindahan geografi tetapi pada kedalaman makna spiritual dan edukatif yang relevan bagi mayoritas penduduk Lombok yang beragama Islam. [2] Di sinilah celah peluang yang dibaca dengan tepat oleh para penggagas Jabal Rahmah: bahwa mimpi ke Tanah Suci adalah aspirasi universal setiap muslim Lombok, namun kemampuan finansial untuk berhaji atau berumrah masih jauh dari jangkauan sebagian besar masyarakat pedesaan. [1]
Kebutuhan yang nyata namun belum terpenuhi adalah fasilitas manasik haji yang berbasis pengalaman visual dan fisik yang imersif, bukan sekadar ceramah di aula atau ruang kelas. [3] Calon jamaah haji dan umrah di NTB dan seluruh Indonesia selama ini hanya bisa membayangkan prosesi tawaf, sa’i, dan lempar jumrah berdasarkan deskripsi verbal dari pembimbing manasik — sebuah keterbatasan yang mempengaruhi kesiapan fisik dan mental mereka saat menjalankan ibadah sesungguhnya di Mekkah dan Madinah. [3] Replika fisik yang memungkinkan simulasi prosesi manasik secara langsung menjadi solusi yang tidak hanya lebih efektif secara edukatif, tetapi juga lebih menarik secara wisata dan berpotensi menghasilkan pendapatan desa yang berkelanjutan. [1]
Inspirasi konkret datang dari wisata replika Ka’bah di Semarang, Jawa Tengah — destinasi yang sudah lebih dulu dibangun dan terbukti menarik jutaan pengunjung dari seluruh Indonesia. [4] Keberhasilan Semarang membuktikan bahwa ada pasar besar untuk wisata religi berbasis replika tanah suci yang tidak harus berada di kota besar — dan peluang inilah yang dilihat pengelola Jabal Rahmah sebagai momentum untuk menghadirkan konsep serupa namun dengan karakter yang khas NTB di Desa Jango, Lombok Tengah. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Jabal Rahmah adalah konsep “wisata edukasi religi imersif” — di mana pengunjung tidak hanya melihat replika fisik Ka’bah, tetapi menjalani secara fisik simulasi prosesi ibadah haji dan umrah dari awal hingga akhir dalam satu kawasan: memakai pakaian ihram, tawaf mengelilingi replika Ka’bah 8×8 meter, berlari-lari kecil di jalur Shafa-Marwa, melempar kerikil ke tiga tugu jumrah di kawasan Mina, berdoa di Hajar Aswad dan Hijr Ismail, hingga berfoto di kaki Tugu Jabal Rahmah persis seperti tradisi di tanah suci. [1] Semua elemen dihadirkan dengan detail yang terasa autentik: area lempar jumrah dipenuhi batu kerikil layaknya selesai dilempari jamaah, papan nama “Mina” berdiri di samping tugu-tugu jumrah, dan replika Ka’bah memiliki keempat rukun — Hajar Aswad, Yamani, Syrian, dan Iraqi — yang bisa dilihat dan disentuh meski tanpa kiswah. [1]
Di luar simulasi ibadah, Jabal Rahmah mengembangkan paket wisata kebangsaan dan pendidikan karakter yang menjadikannya relevan bagi kelompok non-pilgrim: paket napak tilas kebangsaan, pelatihan membatik, pelatihan membuat keramik, outbond, dan berkemah di area yang sama. [2] Diversifikasi paket wisata ini memastikan bahwa destinasi tidak hanya bergantung pada segmen calon jamaah haji-umrah yang bersifat musiman, tetapi juga menarik sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan sebagai klien tetap sepanjang tahun yang menjadikan kunjungan ke Jabal Rahmah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan karakter dan agama. [1]
Proses Penerapan Inovasi
Pembangunan Wahana Wisata Jabal Rahmah dimulai pada akhir 2018 dengan konstruksi replika Ka’bah dan Tugu Jabal Rahmah sebagai elemen utama — keduanya menjadi magnet visual yang pertama kali membangun rasa penasaran masyarakat Lombok Tengah bahkan sebelum wahana ini resmi dibuka. [1] Proses pembangunan selama hampir satu tahun ini mencakup perencanaan teknis replika yang mengacu pada proporsi arsitektur Ka’bah asli — menghasilkan bangunan 8×8 meter dengan tinggi 11 meter dari pondasi — sebuah skala yang cukup monumental untuk menghadirkan rasa “berada di tanah suci” meski tanpa kiswah. [1] Sebelum peresmian, pengelola juga merancang tata kelola pengunjung dengan membuat papan peraturan kunjungan Ka’bah, panduan simulasi tawaf, dan jadwal paket manasik yang terstruktur. [1]
Peresmian pada November 2019 langsung memicu antusiasme luar biasa: sekolah-sekolah dari berbagai daerah di Lombok langsung mengagendakan kunjungan edukasi ke Jabal Rahmah, dan calon jamaah haji serta umrah dari hampir semua daerah di NTB bahkan dari Malaysia sudah mengunjungi wahana ini dalam beberapa bulan pertama operasionalnya. [1] Tantangan besar datang ketika pandemi COVID-19 melanda pada awal 2020: seluruh kegiatan wisata grup terhenti, namun justru situasi inilah yang menghadirkan pengunjung dari segmen baru — calon jamaah umrah yang keberangkatannya ditunda mendadak akibat pandemi datang ke Jabal Rahmah untuk mengobati kerinduan mereka kepada Tanah Suci. [1] Kejadian ini menjadi pembelajaran berharga bahwa Jabal Rahmah memiliki daya tarik emosional yang sangat kuat — bahkan di luar konteks manasik — yang perlu dikembangkan sebagai nilai jual tersendiri. [1]
Prosedur operasional standar wahana kemudian terus disempurnakan berdasarkan masukan pengunjung: sistem pemesanan paket dilengkapi informasi harga per kategori, pengelola menyiapkan inventaris pakaian ihram sewaan Rp10.000 per kain yang langsung diminati pengunjung individual untuk keperluan foto, dan jadwal pemandu manasik diatur agar sesuai dengan kapasitas wahana tanpa membuat pengunjung menunggu terlalu lama. [2] Pengelola juga membangun sarana penunjang seperti berugak-berugak tradisional Sasak di area sekitar Ka’bah yang menambah kenyamanan pengunjung sambil memperkuat nuansa budaya Lombok yang khas. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor terkuat adalah resonansi spiritual yang sangat dalam di antara masyarakat Muslim Lombok: bagi umat Islam yang belum pernah ke Mekkah — yang merupakan mayoritas besar penduduk Lombok — melihat, menyentuh, dan mengelilingi replika Ka’bah memberikan pengalaman emosional yang sangat bermakna dan sulit digantikan oleh bentuk wisata apapun. [2] Pengalaman ini menciptakan “word-of-mouth effect” yang sangat kuat: warga yang berkunjung langsung mengajak keluarga, tetangga, dan komunitasnya dengan candaan “ayo kita umrah ke Jango” — sebuah promosi organik yang tidak membutuhkan anggaran iklan. [1] Riset menunjukkan bahwa wisata religi berbasis replika mampu memotivasi pengunjung untuk menabung dan mendaftar haji, menjadikan destinasi ini bukan sekadar hiburan tetapi penggerak perubahan perilaku yang signifikan. [3]
Faktor kedua adalah strategi segmentasi pasar yang tepat: dengan memiliki paket terpisah untuk anak-anak (Rp67.000) dan dewasa (Rp100.000) serta program diskon berkala, Jabal Rahmah membuka akses wisata religi bagi semua lapisan ekonomi — dari keluarga sederhana pedesaan hingga kelompok calon jamaah yang dikirim lembaga perjalanan haji umrah premium. [1] Diversifikasi paket ke pelatihan batik, keramik, outbond, dan berkemah memperlebar segmen pasar ke sekolah dan lembaga pendidikan yang membutuhkan destinasi wisata edukatif dengan muatan karakter yang kuat. [2]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dalam bulan-bulan pertama operasionalnya, Wahana Wisata Jabal Rahmah berhasil menarik kunjungan dari sekolah-sekolah dari berbagai daerah di Lombok, jamaah calon haji dan umrah dari hampir seluruh kabupaten di NTB, dan bahkan wisatawan dari Malaysia — sebuah jangkauan geografis yang melampaui harapan awal pengelola dan membuktikan bahwa konsep wisata religi berbasis replika memiliki daya tarik lintas daerah yang sangat kuat. [1] Popularitas Jabal Rahmah yang langsung tersebar dari mulut ke mulut setelah peresmian November 2019 menunjukkan bahwa Desa Jango berhasil menciptakan destinasi wisata yang memenuhi kebutuhan spiritual yang belum terlayani — “umrah terjangkau” yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang belum memiliki kemampuan finansial untuk menunaikan ibadah umrah atau haji sesungguhnya. [1]
Dampak ekonomi terlihat dari tumbuhnya lapangan usaha di sekitar area wisata: pedagang makanan dan minuman yang berjualan di area Jabal Rahmah mendapat aliran pelanggan rutin dari pengunjung wahana, pemandu manasik dari komunitas lokal mendapat penghasilan dari jasa kepemanduan, dan pengelola wahana serta karyawan mendapat lapangan kerja formal yang tidak tersedia sebelumnya di Desa Jango. [1] Kehadiran Jabal Rahmah dalam peta digital dan media sosial — dengan akun Instagram @jabalrahmah_lombok yang aktif — juga mengangkat profil Desa Jango dari desa yang tidak dikenal menjadi destinasi yang dicari wisatawan dari luar Lombok Tengah. [2]
Tantangan dan Kendala
Tantangan paling berat adalah penolakan dari sebagian warga sekitar yang memandang replika Ka’bah dengan kecurigaan religius: ketika musim hujan terlambat datang, ada warga yang menuduh replika Ka’bah sebagai penyebab kemarau panjang — tuduhan yang mencerminkan ketegangan antara nilai spiritual Islam yang dijunjung tinggi masyarakat Lombok dengan representasi visual sakral yang dianggap tidak layak hadir di tengah sawah. [1] Bahkan beredar desas-desus tentang sekelompok warga yang ingin membongkar replika tersebut, sebuah ancaman yang membutuhkan respons komunikasi yang bijaksana dari pengelola untuk menjelaskan niat dan fungsi edukatif wahana ini. [1]
Pengelola Hadis menghadapi tantangan ini dengan pendekatan argumentasi berbasis niat dan fungsi nyata: kunjungan nyata dari calon jamaah haji dan umrah yang mendapat manfaat edukatif dari simulasi manasik menjadi bukti paling kuat yang sulit dibantah oleh penentang. [1] Ia menegaskan bahwa replika ini tidak bertujuan menggantikan ibadah haji — “tergantung niatan kita” — dan dengan humor yang mencerminkan kearifan lokalnya, ia berkata: “Kecuali sepulang dari sini pengunjung menambah gelar haji di depan namanya, itu baru sesat.” [1] Pendekatan komunikatif yang humanis dan tidak konfrontatif ini secara bertahap meredakan resistensi dan membangun penerimaan masyarakat sekitar. [1]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Jabal Rahmah bertumpu pada dua pilar: pangsa pasar sekolah sebagai klien tetap dan pangsa pasar jamaah haji-umrah yang selalu ada setiap tahun seiring meningkatnya antrian haji di Indonesia yang kini mencapai puluhan tahun. [3] Semakin panjang antrian haji — yang di beberapa daerah sudah mencapai 30–40 tahun — semakin besar kebutuhan calon jamaah yang ingin mempersiapkan diri secara fisik dan mental melalui simulasi manasik yang imersif, menjadikan Jabal Rahmah semakin relevan dari waktu ke waktu. [3]
Pengembangan jangka panjang mencakup penambahan fasilitas replika seperti miniatur Masjid Nabawi Madinah, area Muzdalifah, dan Padang Arafah untuk melengkapi rangkaian simulasi manasik haji yang lebih komprehensif — mengikuti model Fatimah Zahra di Semarang yang memiliki luas 4,8 hektare dengan replika bandara, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi dalam satu kawasan. [4] Pengembangan platform digital melalui Instagram @jabalrahmah_lombok dan website jabalrahmah.id perlu diperkuat dengan konten video manasik edukatif yang menjangkau calon pengunjung dari luar NTB secara organik. [2]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Wahana Wisata Edukasi Religi dan Kebangsaan Jabal Rahmah Desa Jango membuktikan bahwa inovasi wisata yang berakar pada nilai spiritual dan kebutuhan edukatif masyarakat dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan, tanpa harus bergantung pada keunggulan sumber daya alam yang tidak dimiliki semua desa. [2] Model ini membuka peluang pembangunan wisata berbasis nilai budaya dan agama yang bisa direplikasi oleh desa-desa di seluruh Indonesia yang tidak memiliki daya tarik alam tetapi memiliki komunitas religius yang kuat dan kohesif. [3]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Wahana wisata Jabal Rahmah menciptakan lapangan kerja bagi pengelola, pemandu manasik, pedagang kuliner, dan karyawan wahana di Desa Jango — menghasilkan penghasilan rutin bagi warga yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pertanian sebagai satu-satunya sumber pendapatan. |
| SDGs 4: Pendidikan Berkualitas | : | Paket wisata edukasi untuk sekolah yang mencakup manasik haji, napak tilas kebangsaan, pelatihan batik, dan keramik menghadirkan pengalaman belajar berbasis experiential learning yang tidak bisa diperoleh di ruang kelas, meningkatkan kualitas pendidikan karakter dan keagamaan peserta didik secara nyata. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Model bisnis paket wisata religi dengan harga terjangkau Rp67.000–100.000 dan diversifikasi ke paket kebangsaan, pelatihan, dan berkemah menciptakan ekonomi wisata yang inklusif di Desa Jango, menarik pengunjung dari seluruh NTB dan Malaysia yang memberikan multiplier effect ekonomi bagi komunitas sekitar. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Dengan menawarkan “pengalaman spiritual tanah suci” dengan harga Rp67.000–100.000, Jabal Rahmah mendemokratisasi akses pada pengalaman religius yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu membayar biaya umrah jutaan rupiah, menjembatani kesenjangan spiritual antara masyarakat kaya dan miskin. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | : | Transformasi Desa Jango dari desa pertanian biasa menjadi destinasi wisata edukasi religi berdampak pada peningkatan kualitas infrastruktur desa — jalan akses, fasilitas sanitasi, area parkir, dan berugak-berugak publik — yang meningkatkan kualitas lingkungan permukiman bagi seluruh warga desa. |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | : | Proses penanganan penolakan warga oleh pengelola Jabal Rahmah yang dilakukan melalui dialog terbuka, argumentasi berbasis fakta, dan edukasi publik tentang fungsi edukatif wahana memperkuat kapasitas resolusi konflik komunitas secara damai — sebuah praktik tata kelola sosial yang inklusif dan demokratis. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kemitraan Jabal Rahmah dengan sekolah-sekolah, lembaga perjalanan haji umrah, komunitas wisatawan dari Malaysia, dan pemerintah daerah Lombok Tengah membangun ekosistem wisata kolaboratif yang memperkuat keberlangsungan inovasi melalui diversifikasi sumber kunjungan dari berbagai segmen secara bersamaan. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Jabal Rahmah dapat direplikasi di desa-desa mayoritas Muslim di seluruh Indonesia yang tidak memiliki keunggulan wisata alam namun memiliki komunitas keagamaan yang solid dan antusiasme tinggi terhadap wisata religi — kondisi yang ada di ribuan desa di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan NTB. [3] Kunci replikasinya adalah skala replika yang proporsional dengan anggaran desa: tidak harus selengkap Fatimah Zahra Semarang, cukup dengan Ka’bah mini, tugu Jabal Rahmah, dan tiga tugu jumrah sebagai inti, lalu dikembangkan bertahap sesuai pertumbuhan pendapatan wisata. [4]
Untuk scale up nasional, Kementerian Desa PDTT bersama Kementerian Agama dapat mengembangkan program “Desa Manasik Nusantara” yang mendampingi 500 desa mayoritas Muslim membangun wahana replika tanah suci skala desa dengan dukungan Dana Desa dan panduan teknis konstruksi replika yang terstandar. [3] Program ini tidak hanya membuka destinasi wisata baru di pedesaan tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kesiapan jutaan calon jamaah haji Indonesia yang memiliki masa antri puluhan tahun untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik melalui simulasi manasik yang imersif dan terjangkau. [1]
Daftar Pustaka
[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Wisata Replika Ka’bah di Janapria, Paket Lengkap Rp 100 Ribu, Sewa Ihram Rp 10 Ribu,” lombokpost.jawapos.com, 16 Mar. 2020. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/feature/16/03/2020/wisata-replika-kabah-di-janapria-paket-lengkap-rp-100-ribu-sewa-ihram-rp-10-ribu/
[2] Pengelola Jabal Rahmah Lombok, “Wahana Wisata Edukasi Religi dan Kebangsaan Jabal Rahmah,” jabalrahmah.id. [Online]. Available: https://www.jabalrahmah.id
[3] Kompasiana, “Replika Bangunan Ka’bah, Permudah Praktek Manasik,” kompasiana.com, 13 Feb. 2020. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/penaulum/5e4675e3d541df2bb43b2592/replika-bangunan-kabah-permudah-praktek-manasik
[4] detikTravel, “Bukan di Makkah, Ini Replika Ka’bah di Semarang,” travel.detik.com, 23 Jun. 2019. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4598160/bukan-di-makkah-ini-replika-kabah-di-semarang
[5] ANTARA Jateng, “Disporapar Boyolali Kembangkan Wisata Religi Miniatur Ka’bah,” jateng.antaranews.co, 21 Feb. 2024. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.co/berita/525009/disporapar-boyolali-kembangkan-wisata-religi-miniatur-kabah
[6] detikTravel, “Bukan di Mekkah, Ini Replika Ka’bah hingga Area Sa’i di Tangerang Selatan,” travel.detik.com, 24 Feb. 2021. [Online]. Available: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-5469081/bukan-di-mekkah-ini-replika-kabah-hingga-area-sai-di-tangerang-selatan
[7] Instagram @jabalrahmah_lombok, “Wisata Edukasi Religi Jabal Rahmah Lombok,” instagram.com/jabalrahmah_lombok, 2024. [Online]. Available: https://www.instagram.com/jabalrahmah_lombok/
[8] Instagram @realudinsedunia, “Wisata Edukasi Religi Jabal Rahmah Desa Jango Kec. Janapria Kab. Lombok Tengah,” instagram.com, 26 Mar. 2024. [Online]. Available: https://www.instagram.com/reel/C4-Tot-xc3e/
