Ringkasan Inovasi

Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit LIII Kabupaten Boven Digoel menginisiasi Program Pengembangan Industri Abon Wambon sejak Mei 2021 di Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Papua Selatan. [1] Program ini menggerakkan 20 ibu rumah tangga dari Suku Wambon untuk mengolah ikan mujair dan gabus dari Sungai Digoel menjadi produk abon bersertifikat yang bernilai jual tinggi. [2]

Tujuan program adalah memecahkan dua masalah sekaligus: melimpahnya ikan tangkapan nelayan yang tidak habis terjual dan hilangnya lapangan kerja ibu rumah tangga akibat penutupan galian batu dan pasir. [3] Hasilnya, Abon Wambon telah mengantongi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dan sempat dipasarkan di perhelatan PON XX Papua pada Oktober 2021. [1]

Nama Inovasi:Abon Wambon — Industri Abon Ikan Berbasis Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Suku Wambon
Alamat:Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan
Inovator:KPHP Unit LIII Boven Digoel (Ketua: Ade John Moesieri) bersama Yayasan EcoNusa, Dinas Perikanan Boven Digoel, dan Koperasi Cahaya Senta Mata
Kontak:Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab. Boven Digoel; econusa.id; Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Boven Digoel

Latar Belakang

Kampung Persatuan di Distrik Mandobo, Boven Digoel, terletak di kawasan perbatasan RI–Papua Nugini yang dialiri tiga sungai besar: Digoel, Bian, dan Fly. [2] Masyarakat setempat menggantungkan hidup pada nelayan, bertani, dan menambang batu serta pasir—dengan nelayan menjadi mata pencaharian utama karena kampung mereka berdiri di tepian sungai. [3] Setiap hari seorang nelayan bisa membawa pulang 50–100 ekor ikan, sehingga total hasil tangkap seluruh nelayan bisa mencapai ratusan hingga seribu ekor per hari.

Permintaan di pelabuhan perbatasan tidak mampu menyerap semua tangkapan itu. [3] Pedagang besar memborong ikan dengan harga sangat rendah, hanya Rp7.000–Rp12.000 per tali, lalu menjualnya kembali dengan harga Rp25.000–Rp30.000 per tali. [3] Ratusan ekor ikan yang tidak terbeli setiap harinya akhirnya terbuang sia-sia dan menciptakan kerugian nyata bagi para nelayan.

Masalah semakin berat ketika Pemkab Boven Digoel menutup seluruh lokasi galian batu dan pasir di tengah kota demi memperbaiki infrastruktur jalan dan mencegah pencemaran sungai. [3] Puluhan ibu rumah tangga yang selama ini mengandalkan upah buruh dari galian kehilangan penghasilan secara mendadak. [3] KPHP Unit LIII melihat dua krisis ini sebagai satu peluang: potensi ikan sungai yang melimpah bisa menjadi modal pemberdayaan bagi ibu-ibu yang kehilangan pekerjaan.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari kepekaan KPHP Unit LIII yang tidak hanya mengelola hutan produksi, tetapi juga aktif memperhatikan kesejahteraan masyarakat di wilayah kerjanya. [1] Berangkat dari potensi ikan mujair dan gabus yang berlimpah di Sungai Digoel, KPHP menginisiasi kelompok abon pada Mei 2021 dengan merekrut 20 ibu dari Suku Wambon yang tinggal di sekitar kantor KPHP di Tanah Merah. [1] Nama “Wambon” sengaja dipilih sebagai identitas produk untuk membangun kebanggaan suku dan memperkuat nilai lokal pada setiap kemasan.

Inovasi bekerja melalui rantai nilai pendek yang efisien: ikan segar dari nelayan lokal diolah menjadi abon tanpa bahan pengawet, dikemas higienis, dan dipasarkan dengan harga lebih tinggi dari ikan mentah. [1] Produk tersedia dalam dua varian ikan—gabus dan mujair—serta dua pilihan rasa, pedas dan manis. [1] Dari 10 kilogram daging ikan segar, proses produksi menghasilkan empat kilogram abon kering yang tahan disimpan hingga tiga bulan pada suhu ruang tanpa bahan pengawet apapun. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Proses diawali dengan pelatihan teknis pengolahan ikan yang dipandu oleh Kepala Seksi Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Boven Digoel, Hasrina Hamid, yang hadir mendampingi setiap sesi produksi. [4] Para mama pertama belajar memilih ikan yang segar dan memenuhi syarat halal, kemudian mempelajari teknik penyiangan: membuang sisik, duri, dan isi perut sebelum mencuci ikan hingga bersih. [4] Untuk menghilangkan bau amis dan bau tanah, ikan direndam garam dan air jeruk nipis selama 15 menit sebelum direbus.

Koperasi Cahaya Senta Mata yang ditugaskan oleh Dinas Perdagangan dan Koperasi membimbing pembuatan bumbu rempah lengkap: bawang merah, bawang putih, kemiri, jahe, lengkuas, serai, daun salam, kunyit, ketumbar, merica, lada, dan gula merah. [4] Ikan yang sudah disuir-suir digoreng bersama bumbu hingga kuning kecokelatan, lalu dikeringkan menggunakan mesin spinner untuk membuang seluruh sisa minyak. [4] Pengeringan sempurna adalah kunci kualitas: abon yang benar-benar kering bisa tahan tiga bulan tanpa jamuran dan tanpa bau.

Pada sesi pertama produksi, beberapa batch menghasilkan abon yang belum cukup kering karena teknik penirisan manual yang tidak merata. [1] Masalah ini diatasi dengan pengadaan mesin spinner bertenaga listrik yang memastikan konsistensi kekeringan setiap batch produksi. [4] Proses pengajuan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) dilakukan paralel dengan peningkatan kapasitas produksi agar kelompok siap masuk ke jaringan distribusi formal. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Ketua KPHP Ade John Moesieri menjadi fondasi utama inovasi ini karena beliau berani membuktikan bahwa KPHP bukan sekadar pengelola kayu, melainkan agen pembangunan manusia di kawasan hutan. [1] Kemampuan Ade John merangkul Yayasan EcoNusa sebagai mitra teknis dan advokasi membuka akses pada keahlian pengolahan pangan, jaringan pasar, dan dokumentasi yang tidak dimiliki KPHP secara internal. [2] Kolaborasi ini menjadi formula yang saling melengkapi: KPHP membawa otoritas dan jaringan pemerintah, sementara EcoNusa membawa kapasitas teknis dan akses ke publik nasional.

Ketua Kelompok Abon Wambon, Ida Ngolongga, menjadi kunci penggerak dari sisi komunitas karena ia mampu menerjemahkan pengetahuan baru ke dalam bahasa dan konteks yang dipahami para mama di kampung. [4] Semangat para mama yang sudah terbiasa bekerja keras sebagai buruh menjadi energi kolektif yang mendorong kelompok melewati fase-fase sulit di awal produksi. [3] Rasa kepemilikan terhadap produk yang menyandang nama suku sendiri—Wambon—membangun kebanggaan lokal yang menjadi bahan bakar motivasi yang tidak bisa digantikan oleh insentif materi semata.

Hasil dan Dampak Inovasi

Abon Wambon berhasil mengantongi SPP-IRT, sebuah pencapaian besar bagi kelompok produksi baru dari pedalaman Papua yang baru memulai usaha beberapa bulan. [1] Produk ini sempat dipasarkan di PON XX Papua pada Oktober 2021 sehingga dikenal oleh ribuan pengunjung dari seluruh Indonesia sekaligus memperkenalkan cita rasa Papua ke panggung nasional. [1] Pencapaian ganda—sertifikasi dan eksposur nasional—dalam waktu kurang dari enam bulan adalah bukti nyata percepatan yang luar biasa dari program ini.

Secara ekonomi, inovasi mengubah ikan yang sebelumnya dijual seharga Rp7.000–Rp12.000 per tali atau bahkan dibuang menjadi produk kemasan bernilai jauh lebih tinggi per kilogram. [3] Riset tentang pemberdayaan perempuan melalui pengolahan abon ikan gabus menunjukkan bahwa program serupa mampu meningkatkan pendapatan peserta secara signifikan dan menumbuhkan kemandirian ekonomi keluarga. [5] Kandungan nutrisi Abon Wambon juga sangat tinggi: ikan gabus mengandung albumin sebesar 2,459 g/100 g yang bermanfaat untuk penyembuhan luka dan keseimbangan cairan tubuh, sehingga produk ini sekaligus bernilai fungsional sebagai pangan kesehatan. [6]

Secara sosial, program ini mendorong ibu rumah tangga Kampung Persatuan untuk belajar berkreasi, memahami potensi lokal, membangun jejaring, dan mengadvokasi kebutuhan kelompok kepada pemerintah. [3] Partisipasi aktif ibu rumah tangga lahir dari kolaborasi nyata antara KPHP, EcoNusa, dan masyarakat yang menumbuhkan prinsip sukarela dan kemandirian dalam pemberdayaan. [3] KPHP pun merencanakan diversifikasi produk berikutnya berupa pil albumin dari ikan gabus sebagai produk kesehatan berbasis sumber daya hutan lokal. [7]

Tantangan dan Kendala

Dari 20 ibu yang semula bergabung, hanya 11 orang yang masih bertahan pada akhir November 2021 karena sebagian memilih mundur akibat jiwa kewirausahaan yang belum cukup kuat. [1] Penurunan jumlah anggota ini mencerminkan tantangan mendasar dalam membangun mentalitas usaha di komunitas yang sebelumnya hanya terbiasa bekerja sebagai buruh upahan. [3] Kehilangan motivasi diperparah oleh belum tersedianya lapak penjualan tetap dan jaringan distribusi lokal yang memastikan pendapatan rutin bagi anggota kelompok.

Dari sisi kelembagaan, KPHP belum sepenuhnya menjalankan dua fungsi kritis: bina lembaga dan bina usaha. [3] Keterbatasan anggaran operasional sebagai UPTD membuat KPHP belum mampu menyediakan modal lanjutan, rumah produksi mandiri, dan pendampingan pemasaran yang aktif dan berkelanjutan. [3] Rendahnya literasi digital anggota kelompok juga menjadi penghalang serius bagi pemanfaatan media sosial sebagai saluran pemasaran yang efektif dan murah.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Langkah paling mendesak adalah memfasilitasi transformasi Kelompok Abon Wambon dari kelompok binaan informal menjadi badan usaha formal—koperasi atau BUMKam—yang memiliki kapasitas hukum untuk mengakses kredit usaha rakyat dan bermitra dengan distributor resmi. [3] Formalisasi ini memastikan keberlangsungan program tidak bergantung pada pergantian pejabat KPHP dan mampu berjalan secara mandiri. [1] Penyediaan rumah produksi bersertifikat yang diimpikan para mama juga menjadi prioritas investasi jangka menengah yang harus diwujudkan bersama pemerintah daerah.

Kemitraan jangka panjang dengan Yayasan EcoNusa perlu diikat dalam perjanjian formal yang menjamin pendampingan berkelanjutan di bidang pemasaran, pengemasan, dan pengembangan produk baru. [7] Rencana KPHP mengembangkan pil albumin dari ikan gabus membuka peluang diversifikasi produk yang akan memperluas segmen pasar ke konsumen kesehatan dan farmasi tradisional. [7] Dengan dua pilar ini—kelembagaan usaha yang kuat dan diversifikasi produk berbasis sains lokal—Abon Wambon berpotensi tumbuh menjadi merek pangan dan kesehatan kebanggaan Papua Selatan.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program Abon Wambon mengintegrasikan pemberdayaan perempuan, ketahanan pangan, pelestarian ekosistem sungai, dan pertumbuhan ekonomi lokal dalam satu program terpadu yang berpihak pada masyarakat adat. [2] Inovasi ini membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan bisa dimulai dari dapur komunal di tepian sungai pedalaman Papua. [1]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Program membuka sumber penghasilan baru bagi ibu rumah tangga yang kehilangan pekerjaan buruh, mengurangi kerentanan ekonomi keluarga paling rentan di perbatasan.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan:Pengolahan ikan segar yang terbuang menjadi abon bergizi tinggi mengurangi pemborosan pangan dan meningkatkan ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal berkelanjutan.
SDGs 5: Kesetaraan Gender:Program menjadikan ibu rumah tangga sebagai pelaku ekonomi aktif dan meningkatkan kapasitas advokasi perempuan Papua dalam proses pembangunan kampung mereka sendiri.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Industri abon ikan menciptakan lapangan kerja produktif dan bermartabat, mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam lokal, dan meningkatkan nilai tambah hasil sungai secara signifikan.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:KPHP membuktikan pengelolaan hutan produksi berkelanjutan bisa menggerakkan ekonomi warga lewat hasil hutan bukan kayu tanpa merusak ekosistem sungai dan hutan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Abon Wambon sangat relevan direplikasi di kabupaten-kabupaten lain yang memiliki sungai besar dan potensi ikan air tawar melimpah, seperti Asmat, Mappi, Nduga, dan Merauke di Papua Selatan. [2] Kerangka kolaborasi tiga pihak antara KPHP, mitra swasta (EcoNusa), dan Dinas Perikanan yang sudah terbukti efektif di Boven Digoel dapat menjadi cetak biru yang diadaptasi sesuai konteks lokal. [1] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan perlu mereplikasi model ini sebagai standar program pemberdayaan masyarakat di seluruh KPHP Indonesia yang berada di kawasan kaya sumber daya perairan.

Untuk memperluas skala dampak, kemitraan dengan Bank Indonesia dapat dikembangkan—seperti yang berhasil pada program Abon Ikan Miareto di Sorong—untuk membangun rumah produksi bersertifikat dan mengakses jaringan pasar modern secara nasional. [8] Digitalisasi pemasaran melalui platform e-commerce dan marketplace UMKM Papua harus diprioritaskan agar Abon Wambon menjangkau konsumen di Jawa, Sulawesi, dan pasar diaspora Papua di luar negeri. [5] Langkah-langkah strategis ini akan mengangkat Abon Wambon dari produk lokal Distrik Mandobo menjadi duta produk pangan kesehatan unggulan Papua Selatan di panggung nasional dan internasional.

Daftar Pustaka

[1] EcoNusa, “Abon Wambon, Oleh-oleh Baru dari Boven Digoel,” econusa.id, Nov. 2021. [Online]. Available: https://econusa.id/id/ecoblog/abon-wambon-oleh-oleh-baru-dari-boven-digoel/

[2] YouTube KPHP Boven Digoel / EcoNusa, “Abon Ikan Wambon Produk Pangan Lokal Kabupaten Boven Digoel,” youtube.com, Nov. 2021. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=fnBZQ0oRGGQ

[3] R. Y. K. Ampasoy, “Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Melalui Program Pengembangan Industri Abon Ikan di Kampung Persatuan Distrik Mandobo Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua Selatan,” Skripsi, Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), 2023. [Online]. Available: http://eprints.ipdn.ac.id/12746/

[4] Republika Ameera, “Cara Mama-Mama Papua Bikin Abon Ikan Gabus-Mujair,” ameera.republika.co.id, Des. 2021. [Online]. Available: https://ameera.republika.co.id/berita/r3sag1414/cara-mamamama-papua-bikin-abon-ikan-gabusmujair

[5] Jurnal Dedikasi UNM, “Pemberdayaan Perempuan Melalui Teknologi Pembuatan Abon Ikan Gabus di Desa Barangmamase,” ojs.unm.ac.id, Nov. 2023. [Online]. Available: https://ojs.unm.ac.id/dedikasi/article/view/58140

[6] E. Polnep, “Pemanfaatan Ekstrak Albumin Ikan Gabus (Channa Striata),” repository.polnep.ac.id. [Online]. Available: http://repository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/1247/05-evi%20dan%20ika.pdf

[7] EcoNusa, “Pil Albumin, Olahan Hasil Hutan Bukan Kayu dari Boven Digoel,” econusa.id, Sep. 2024. [Online]. Available: https://econusa.id/id/ecoblog/pil-albumin-olahan-hasil-hutan-bukan-kayu-dari-boven-digoel/

[8] ANTARA Papua, “BI Membangun Rumah Produksi Abon Ikan Miareto Sorong,” papua.antaranews.com, Apr. 2022. [Online]. Available: https://papua.antaranews.com/berita/681377/bi-membangun-rumah-produksi-abon-ikan-miareto-sorong

[9] TVOne News, “Menggali Potensi Boven Digoel,” tvonenews.com, Nov. 2021. [Online]. Available: https://www.tvonenews.com/lifestyle/travel/16240-menggali-potensi-boven-digoel

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.