Ringkasan Inovasi
BUMDes Srikandi Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, merintis unit usaha baru peternakan bebek petelur dengan mendatangkan 600 ekor bebek sebagai modal perdana. Inovasi ini merupakan diversifikasi strategis dari usaha pengelolaan sampah yang sudah berjalan, untuk memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus menambah Pendapatan Asli Desa (PADes). [1]
Langkah BUMDes Srikandi tidak berhenti pada produksi telur mentah saja — dalam waktu singkat, BUMDes melangkah ke tahap pengolahan dengan menghadirkan produk telur asin bernilai tambah tinggi untuk meningkatkan daya saing dan margin keuntungan. [2] Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Mohamad Mansyursah dan Direktur BUMDes Joyo Mulyo, inovasi multi-unit ini menempatkan Desa Tempeh Tengah sebagai desa yang membangun kemandirian ekonomi secara sistematis dari bawah.
| Nama Inovasi | : | Peternakan Bebek Petelur BUMDes Srikandi — Inovasi Diversifikasi Usaha BUMDes Menuju Ketahanan Pangan dan Kemandirian Ekonomi Desa |
| Alamat | : | Desa Tempeh Tengah, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur |
| Inovator | : | Joyo Mulyo (Direktur BUMDes Srikandi); Mohamad Mansyursah (Kepala Desa Tempeh Tengah); Pengurus BUMDes Srikandi |
| Kontak | : | portalberita.lumajangkab.go.id | Dinas PMD Kabupaten Lumajang | lumajangkab.go.id |
Latar Belakang
Desa Tempeh Tengah adalah desa yang bergerak aktif membangun sistem ekonomi desa berbasis BUMDes. Sebelum unit bebek petelur hadir, BUMDes Srikandi sudah menjalankan usaha pengelolaan sampah — melayani seluruh wilayah desa dengan armada triseda roda tiga dan menjadi tulang punggung layanan kebersihan desa. [3]
Namun, usaha pengelolaan sampah memiliki keterbatasan skalabilitas pendapatan. Pada 2025, unit ini bahkan pernah mengalami krisis manajemen yang mengakibatkan kerugian Rp17 juta dan pergantian ketua BUMDes. [4] Pengalaman ini mendorong refleksi mendalam: BUMDes membutuhkan diversifikasi unit usaha yang lebih produktif dan berorientasi pada sektor pangan untuk memperkuat ketahanan pendapatan desa.
Di level nasional, pemerintah mendorong penguatan ketahanan pangan berbasis desa. Program Kabupaten Lumajang secara aktif mendorong desa-desa untuk mengembangkan pertanian modern adaptif, dengan BUMDes sebagai motor penggeraknya. [5] Momentum kebijakan ini bertemu dengan semangat BUMDes Srikandi yang ingin membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa mengelola sampah, tetapi juga berinovasi di sektor pangan strategis.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan unit usaha peternakan bebek petelur sebagai diversifikasi usaha BUMDes Srikandi — dimulai dengan 600 ekor bebek di kandang perdana yang dirancang dengan sistem kebersihan terstandar dan pemberian pakan bergizi. Pilihan bebek petelur didasarkan pada tiga pertimbangan kunci: permintaan telur yang terus meningkat di pasar, investasi awal yang lebih terjangkau dibanding komoditas ternak besar, serta siklus produksi yang cepat dan berulang. [1]
Inovasi ini tidak berhenti pada produksi telur mentah. BUMDes Srikandi langsung merancang rantai nilai yang lebih panjang dengan mengolah telur menjadi telur asin — produk dengan nilai jual lebih tinggi, daya simpan lebih panjang, dan pasar yang lebih luas. [2] Strategi “produksi plus pengolahan” ini mencerminkan pendekatan agribisnis yang matang, bukan sekadar ternak subsisten. Di samping itu, BUMDes juga mengembangkan sistem pemasaran aktif langsung kepada warga sekitar melalui program “BUMDes on The Road.” [6]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari kesiapan BUMDes yang disampaikan secara resmi kepada Pemerintah Kabupaten Lumajang pada November 2025 dalam forum pengembangan ketahanan pangan desa. BUMDes Srikandi menyatakan bebek petelur sebagai prioritas unit usaha baru, mengikuti dorongan Pemkab Lumajang untuk memperkuat produksi pangan di level desa. [7]
Tahap berikutnya adalah pengadaan 600 ekor bebek petelur, pembangunan kandang berstandar kebersihan yang baik, dan perekrutan tenaga pengelola. Sistem pemeliharaan dirancang dengan memperhatikan dua faktor kritis kualitas telur: kebersihan kandang yang konsisten dan komposisi pakan bergizi yang mendukung produktivitas bertelur maksimal. [1]
Setelah unit produksi stabil, BUMDes bergerak ke fase pengolahan dengan membangun kapasitas produksi telur asin. Proses ini memerlukan pembelajaran teknis pembuatan telur asin berkualitas konsisten — termasuk standarisasi waktu pemeraman, komposisi campuran garam dan media, serta pengemasan yang menarik untuk pasar. [2] BUMDes juga aktif menghadiri pelatihan pertanian modern yang difasilitasi Pemkab Lumajang untuk terus meningkatkan kapabilitas teknis pengelolanya. [5]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan kepala desa Mohamad Mansyursah yang secara aktif mendukung inovasi BUMDes dan menyelaraskannya dengan visi desa mandiri. Dukungan dari pemerintah desa tidak hanya bersifat moral, tetapi juga berupa fasilitasi regulasi, koordinasi antar-pemangku kepentingan, dan keterbukaan untuk mempercepat penetapan kebijakan pendukung seperti Perdes yang relevan. [8]
Faktor kedua adalah kemampuan BUMDes Srikandi untuk membangun kepercayaan warga melalui transparansi dan keterlibatan komunitas. Program “BUMDes on The Road” yang membawa produk telur langsung ke permukiman warga membangun koneksi emosional antara produk desa dan konsumen lokal. [6] Keterlibatan masyarakat sebagai konsumen pertama sekaligus promotor organik produk BUMDes menjadi kekuatan pemasaran yang murah namun efektif.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dengan 600 ekor bebek petelur, BUMDes Srikandi berpotensi menghasilkan sekitar 480–540 butir telur per hari (asumsi tingkat bertelur 80–90%). Pada harga jual telur bebek Rp2.500–3.000 per butir, unit ini mampu menghasilkan pendapatan kotor Rp1,2–1,6 juta per hari atau sekitar Rp36–48 juta per bulan — jauh melampaui kapasitas pendapatan unit pengelolaan sampah. [1]
Produk telur asin yang dikembangkan sebagai nilai tambah membuka pasar yang lebih luas di luar Desa Tempeh Tengah. Telur asin memiliki daya simpan lebih panjang — 10–14 hari dibanding telur segar yang hanya 3–5 hari — sehingga memungkinkan distribusi ke pasar kecamatan dan kabupaten. [2]
Dari sisi sosial, unit bebek petelur membuka lapangan kerja baru: pengelola kandang, peternak, pekerja pengolahan telur asin, hingga tenaga pemasaran. Warga yang sebelumnya tidak memiliki akses pekerjaan di desa kini dapat berpartisipasi aktif dalam rantai nilai produksi pangan desa. [1] Selain itu, ketersediaan telur lokal yang terjangkau berkontribusi langsung pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat Tempeh Tengah.
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama yang dihadapi BUMDes Srikandi adalah menjaga konsistensi kualitas dan produktivitas ternak dalam jangka panjang. Fluktuasi harga pakan ternak, terutama dedak dan konsentrat, dapat menggerus marjin keuntungan usaha bebek petelur secara signifikan jika tidak diantisipasi dengan strategi pengadaan pakan yang cerdas. [1]
Pengalaman pahit unit pengelolaan sampah yang pernah merugi Rp17 juta juga menjadi pengingat bahwa tata kelola keuangan yang lemah dapat menghancurkan unit usaha yang sebenarnya potensial. [4] BUMDes perlu menerapkan sistem pencatatan keuangan yang ketat, audit berkala, dan mekanisme pengawasan internal yang lebih kuat untuk mencegah skenario serupa terulang di unit bebek petelur.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan usaha bebek petelur BUMDes Srikandi bertumpu pada strategi rantai nilai terpadu: produksi telur segar untuk pasar harian, pengolahan telur asin untuk pasar yang lebih luas dan margin lebih tinggi, serta kemungkinan pengembangan produk turunan lain seperti abon telur atau olahan berbasis telur untuk diversifikasi produk. [2]
Kolaborasi dengan Pemkab Lumajang yang sudah terjalin — termasuk keterlibatan BUMDes dalam forum ketahanan pangan kabupaten — membuka akses BUMDes ke program bantuan teknis, subsidi pakan, dan jaringan distribusi yang lebih luas. [5] Penetapan Perdes yang mengatur tata kelola seluruh unit BUMDes — termasuk bebek petelur — juga menjadi prioritas kebijakan yang akan memberikan kepastian hukum dan perlindungan operasional jangka panjang. [8]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model BUMDes Srikandi — diversifikasi dari usaha layanan (pengelolaan sampah) ke usaha produksi pangan (bebek petelur) yang dilengkapi pengolahan bernilai tambah (telur asin) — sangat relevan direplikasi oleh ratusan BUMDes di Kabupaten Lumajang dan Jawa Timur yang saat ini hanya menjalankan satu jenis usaha. Kuncinya adalah keberanian untuk mendiversifikasi, bukan menggantikan usaha yang sudah ada. [7]
Untuk scale up, penambahan populasi bebek dari 600 ke 1.000–2.000 ekor akan meningkatkan efisiensi biaya secara signifikan karena biaya tetap kandang dan pengelolaan terbagi lebih banyak unit produksi. Pembentukan koperasi peternak bebek lintas BUMDes di Kecamatan Tempeh juga memungkinkan negosiasi harga pakan kolektif yang lebih murah dan akses ke distributor telur skala yang lebih besar. [9]
Daftar Pustaka
[1] Portal Berita Lumajang, “BUMDes Srikandi Rintis Usaha Peternakan Bebek Petelur, 600 Ekor Masuk Kandang Perdana,” portalberita.lumajangkab.go.id. [Online]. Available: https://portalberita.lumajangkab.go.id/main/baca/aXKGgZNs
[2] BUMDes Srikandi, “Produk Desa Naik Kelas — Telur Asin BUMDes Srikandi Tempeh Tengah,” Instagram @bumdessrikanditempeh, Jan. 18, 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DTuTS_Aj-fd/
[3] Portal Berita Lumajang, “BUMDes Srikandi Rutin Rawat Armada Pengangkut Sampah,” portalberita.lumajangkab.go.id. [Online]. Available: https://portalberita.lumajangkab.go.id/main/baca/aXKFgZRs
[4] Global Today, “Ketua BUMDes Srikandi Tempeh Tengah Dicopot, Usaha Pengelolaan Sampah Rugi Rp17 Juta,” globaltoday.id, Apr. 15, 2025. [Online]. Available: https://globaltoday.id/2025/04/16/ketua-bumdes-srikandi-tempeh-tengah-dicopot-usaha-pengelolaan-sampah-rugi-rp17-juta-dan-sempat
[5] BUMDes Srikandi, “BUMDes Srikandi Tempeh Tengah Terus Berinovasi — Pelatihan Pertanian Modern Kabupaten Lumajang,” Instagram @bumdessrikanditempeh, Jul. 19, 2025. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DMVNUInPU4t/
[6] BUMDes Srikandi, “BUMDes On The Road — Inovasi Produk Telur Bebek,” Instagram @bumdessrikanditempeh, Des. 5, 2025. [Online]. Available: https://www.instagram.com/reel/DR8_4GWAOWR/
[7] Portal Berita Lumajang, “Perkuat Ketahanan Pangan Desa, BUMDes Srikandi Siap Masuk Sektor Peternakan Bebek,” portalberita.lumajangkab.go.id, Nov. 18, 2025. [Online]. Available: https://portalberita.lumajangkab.go.id/main/baca/aXKHfJFu
[8] Portal Berita Lumajang, “Desa Tempeh Tengah Genjot Manajemen Pengolahan Sampah Berbasis BUMDes,” portalberita.lumajangkab.go.id, Apr. 13, 2025. [Online]. Available: https://portalberita.lumajangkab.go.id/main/baca/aXKFfJJq
[9] Banyuwangi Times, “Kelompok Ternak di Desa Padang Dibentuk, Embrio Sentra Bebek Baru di Banyuwangi,” banyuwangi.times.co.id, Feb. 15, 2026. [Online]. Available: https://banyuwangi.times.co.id/news/ekonomi/SzV6suXHU/kelompok-ternak-desa-padang-dibentuk-embrio-sentra-bebek-baru-di-banyuwangi
