Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Besani di Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi wisata berbasis akulturasi budaya Jawa dan China yang melampaui batas wisata konvensional. Inovasi ini memadukan Kampung Jawa Mandarin, wisata alam perkebunan teh, seni budaya tradisional, dan produk UMKM dalam satu ekosistem wisata terpadu bertajuk “Gerbang Akulturasi Jawa-China” [1].

Tujuan utama inovasi ini ialah memperkuat daya saing sumber daya manusia desa melalui penguasaan bahasa Mandarin, sekaligus menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Dampak nyata inovasi ini terlihat dari pencapaian Dewi Besani masuk 75 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 dari Kemenparekraf RI [2].

Nama Inovasi:Kampung Jawa Mandarin — Gerbang Akulturasi Jawa-China Desa Wisata Besani (Dewi Besani)
Alamat:Desa Besani, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Nita Zanita (Pengelola Dewi Besani) bersama Pokdarwis dan Pemerintah Desa Besani
Kontak:Instagram: @dewibesani | Jadesta: jadesta.kemenparekraf.go.id

Latar Belakang

Kabupaten Batang menempati posisi strategis di pantai utara Jawa Tengah, tepat di jalur utama penghubung Jakarta dan Surabaya. Posisi ini menempatkan Batang sebagai simpul ekonomi yang prospektif, terutama dengan masuknya arus relokasi industri besar dari China yang mendorong pertumbuhan kawasan industri baru [2].

Gelombang investasi dari China membuka peluang besar bagi masyarakat desa, namun juga menampakkan kesenjangan nyata. Warga Desa Besani belum memiliki kemampuan komunikasi lintas budaya, terutama penguasaan bahasa Mandarin, yang menghambat interaksi produktif dengan investor dan tenaga kerja asing [1].

Desa Besani sesungguhnya menyimpan kekayaan luar biasa: hamparan perkebunan teh di dataran tinggi, seni tradisional Jawa, kuliner khas, dan kearifan lokal yang belum terkelola secara optimal. Potensi yang tersembunyi inilah yang mendorong warga dan pengelola desa merancang sebuah model wisata inovatif berbasis akulturasi budaya, alih-alih menyerah pada tekanan modernisasi yang datang dari luar [3].

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari keberanian pengelola desa untuk mengubah tekanan investasi asing menjadi peluang pemberdayaan lokal. Gagasan sederhana namun visioner itu melahirkan Kampung Jawa Mandarin, sebuah pusat belajar bahasa Mandarin yang terintegrasi penuh dengan paket wisata desa dan atraksi budaya Jawa [1].

Inovasi bekerja dalam dua dimensi sekaligus: dimensi edukasi dan dimensi pariwisata. Anak-anak desa mengikuti kelas bahasa Mandarin setiap minggu, sementara wisatawan dapat menyaksikan, berinteraksi, dan bahkan ikut belajar bersama. Seluruh atraksi—perkebunan teh, Curug Dewi Besani, Museum Teh, Tari Lengger, Kuda Lumping, Kuntulan, permainan tradisional, spot foto De Blado, layar tancap, hingga kuliner khas—dikemas dalam satu destinasi terpadu yang utuh [4].

Proses Penerapan Inovasi

Desa Wisata Besani resmi dikembangkan pada 2022 dengan mengusung tagline “Gerbang Akulturasi Jawa-China.” Proses awal dimulai dari pemetaan potensi desa oleh pengelola, Pokdarwis, dan warga, mengidentifikasi kekuatan lokal yang bisa dipadukan dengan peluang eksternal dari arus investasi China [3].

Tahap berikutnya adalah pembangunan infrastruktur wisata secara bertahap: De Blado Coffee & Tea sebagai pusat atraksi, spot foto instagrammable, homestay Joglo De Blado berkonsep rumah adat Jawa, dan layar tancap sebagai wahana nostalgia. Setiap elemen dirancang secara sadar untuk merangkul identitas Jawa sekaligus menghadirkan pengalaman kontemporer yang relevan bagi berbagai segmen wisatawan [2].

Pada fase awal, kelas Mandarin berjalan dengan jumlah peserta terbatas dan instruktur sukarela yang tersedia secara terbatas. Hambatan ketersediaan pengajar menjadi pembelajaran penting yang mendorong pengelola memperluas jaringan kemitraan dengan lembaga pendidikan bahasa di luar desa. Dari pengalaman itulah pengelola belajar bahwa keberlanjutan program edukasi membutuhkan ekosistem pengajar yang terstruktur dan terencana jauh sebelum program berjalan masif [1].

Faktor Penentu Keberhasilan

Kolaborasi multipihak menjadi fondasi utama keberhasilan inovasi ini. Pemerintah Kabupaten Batang, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pokdarwis, pengelola desa, dan antusiasme tinggi masyarakat berpadu membangun ekosistem wisata yang saling menopang dan bergerak bersama [2].

Kepemimpinan visioner Nita Zanita sebagai pengelola desa memainkan peran krusial dalam menerjemahkan peluang menjadi aksi nyata dan terstruktur. Komitmen warga desa untuk terlibat aktif—sebagai pengajar, pelaku UMKM, seniman tradisional, hingga pemandu wisata—mengukuhkan keunikan dan keautentikan Dewi Besani sebagai destinasi yang hidup dan berkelanjutan [3].

Hasil dan Dampak Inovasi

Dalam dua tahun beroperasi, Dewi Besani meraih pencapaian nasional yang luar biasa. Pada ADWI 2022, desa ini masuk nominasi 100 Desa Wisata Terbaik dan meraih nominasi 10 Besar Anugerah Pesona Indonesia Award kategori Teh Sangan dan Destinasi Kreatif. Puncaknya, pada 2023, Dewi Besani masuk 75 Besar ADWI 2023—sebuah pengakuan tertinggi dari Kemenparekraf RI atas inovasi yang dibangun bersama warga [4].

Penelitian Analisis SOAR terhadap Desa Wisata Besani menunjukkan bahwa desa ini memiliki keunggulan komparatif kuat berupa perpaduan unik antara alam, budaya, dan edukasi yang jarang ditemukan di desa wisata lain di Jawa Tengah. Keunggulan ini membuka peluang besar untuk menjadi destinasi pilihan utama wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya wisatawan dari China [3].

Secara kualitatif, program Kampung Jawa Mandarin berhasil meningkatkan keterampilan bahasa asing anak-anak desa sejak usia dini. Menparekraf Sandiaga Uno secara eksplisit menyebut inovasi ini sebagai model yang harus dicontoh desa-desa lain karena membuka peluang kerja nyata di kawasan industri bertenaga kerja China. Produk UMKM lokal seperti Rambak Besani, Teh Blado, dan Kembang Tahu Instan juga semakin dikenal dan memenuhi standar pasar yang lebih luas [1].

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar dalam pengembangan Dewi Besani adalah keterbatasan instruktur bahasa Mandarin berkualitas di tingkat desa. Kondisi ini sempat memperlambat perluasan kelas Mandarin kepada lebih banyak anak, sehingga cakupan program edukasi belum menjangkau seluruh generasi muda desa secara merata [1].

Infrastruktur jalan menuju Desa Besani yang terletak di dataran tinggi juga menjadi hambatan aksesibilitas wisatawan, terutama saat musim hujan. Perbaikan akses jalan masih membutuhkan dukungan lintas sektor yang lebih kuat dari pemerintah daerah agar arus kunjungan wisata tidak terganggu dan pertumbuhan desa wisata tidak terhambat di tengah jalan [4].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pengelola Dewi Besani merancang keberlanjutan inovasi melalui tiga pilar: pelestarian budaya Jawa, penguatan edukasi bahasa Mandarin, dan digitalisasi ekosistem wisata. Visi ini tertuang eksplisit dalam pernyataan resmi desa, yaitu mewujudkan Dewi Besani sebagai gerbang akulturasi Jawa-China yang berdaya saing global dengan dukungan digitalisasi [4].

Program kelas Mandarin dirancang berjalan terus dengan kurikulum yang terus diperbarui dan diperkuat melalui kemitraan dengan dunia usaha dan kawasan industri di sekitar Batang. Produk UMKM lokal seperti Rambak Besani, Teh Blado, dan Kembang Tahu Instan terus dikurasi agar memenuhi standar pasar internasional, sehingga pendapatan desa tidak bergantung semata pada kunjungan wisata yang bersifat musiman [2].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Dewi Besani sangat relevan untuk direplikasi di desa-desa lain yang berdekatan dengan kawasan industri asing, terutama sepanjang koridor industri Batang-Kendal-Semarang yang terus berkembang. Kunci replikasi terletak pada identifikasi potensi budaya lokal yang bisa dipadukan dengan kebutuhan SDM akibat masuknya investasi asing, sesuatu yang bisa dilakukan desa mana pun dengan konteks serupa [3].

Menparekraf Sandiaga Uno secara terbuka menyerukan agar desa-desa lain mencontoh model inovasi Dewi Besani sebagai strategi pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Strategi scale up dapat dilakukan melalui platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kemenparekraf untuk diseminasi modul Kampung Mandarin, membangun kemitraan dengan kawasan ekonomi khusus, dan mendorong kolaborasi antardesa wisata dalam satu klaster pengembangan pariwisata terpadu di Kabupaten Batang [1].

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, “Siaran Pers: Desa Besani Jateng Usung Tagline Gerbang Akulturasi Jawa-China Hingga Sukses Masuk 75 Besar ADWI 2023,” kemenparekraf.go.id, 10 Juni 2023. [Online]. Available: https://www.kemenparekraf.go.id
  2. Viva Wisata, “Desa Wisata Besani di Batang Raih Penghargaan ADWI 2023 dengan Gerbang Akulturasi Jawa-China dan Teh,” wisata.viva.co.id, Juni 2023. [Online]. Available: https://wisata.viva.co.id
  3. R. Wijayanti et al., “Analisis Potensi Wisata Budaya Desa Wisata Besani, Gerbang Akulturasi Jawa-Tiongkok di Kabupaten Batang,” JIIP – Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 7, no. 6, pp. 5651–5657, 2024. DOI: https://doi.org/10.54371/jiip.v7i6.4458
  4. MC Batang Jateng, “Desa Besani, Gerbang Akulturasi Budaya Dua Negeri,” berita.batangkab.go.id, 30 April 2023. [Online]. Available: https://berita.batangkab.go.id
  5. Dinas Pariwisata Jawa Tengah, “Pesona Desa Wisata Besani Batang yang Memikat Hati,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 16 April 2023. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id
  6. R. Pratiwi et al., “Dampak Pengembangan Kebijakan Anugerah Desa Wisata Indonesia terhadap Industri Pariwisata dan Perekonomian Masyarakat,” Jurnal Pariwisata, Universitas Gadjah Mada, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.ugm.ac.id
  7. A. Siannipar et al., “Strategi Pengembangan Desa Wisata dalam Peningkatan Perekonomian Masyarakat,” IKRAITH-EKONOMIKA, Universitas Persada Indonesia YAI, 2023. [Online]. Available: https://journals.upi-yai.ac.id

___________________________________________

DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.