Ringkasan Inovasi

Desa Wisata Bedagung di Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, mengembangkan inovasi wisata berbasis masyarakat yang mengintegrasikan agrowisata kopi bersejarah, wisata alam pegunungan, camping ground, dan kearifan lokal dalam satu ekosistem destinasi yang utuh. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Marga Jati menjadi motor penggerak utama yang mengorganisasi warga desa untuk bersama-sama membangun dan mengelola destinasi wisata secara kolektif.

Inovasi ini berhasil membawa Desa Wisata Bedagung menembus 10 Besar Gelar Desa Wisata (GDW) Jawa Tengah 2025—menjadi satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan yang mencapai babak final ajang bergengsi yang diikuti perwakilan dari 29 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. [1] Dampak utamanya adalah peningkatan ekonomi lokal, pemberdayaan warga desa, dan menaikkan citra Kabupaten Pekalongan sebagai destinasi wisata pegunungan unggulan di Jawa Tengah bagian barat.

Nama Inovasi:Pengembangan Desa Wisata Berbasis Agrowisata Kopi dan Alam Pegunungan oleh Pokdarwis Marga Jati Desa Bedagung
Alamat:Desa Bedagung, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Pokdarwis Marga Jati Desa Bedagung bersama Pemerintah Desa Bedagung dan petani kopi lokal Gunung Lumping. Contact Person: Cahyo (prakosocahyo55@gmail.com | 085712686513)
Kontak:Website: bedagung.id | Jadesta Kemenpar: jadesta.kemenpar.go.id/desa/bedagung | IG: @desa_wisata_bedagung

Latar Belakang

Desa Bedagung berada di dataran tinggi sekitar 1.200 mdpl, dikelilingi hutan pinus, perkebunan kopi, teh, dan hamparan tanaman kapulaga yang subur. Selama bertahun-tahun, potensi alam dan agrikultur yang luar biasa ini belum terkelola sebagai aset wisata—warga hanya menjual komoditas mentah tanpa menangkap nilai tambah dari pesona alam dan warisan pertanian yang mereka miliki.

Komoditas paling unik di Desa Bedagung adalah Kopi Gunung Lumping—varietas kopi robusta yang ditanam di ketinggian 1.200 mdpl yang menurut catatan sejarah merupakan warisan perkebunan era VOC sejak tahun 1700-an. [2] Kopi berusia tiga abad ini tumbuh secara organik di tanah perawan Gunung Lumping dan dijaga keasliannya dari generasi ke generasi—sebuah aset wisata dan budaya yang sangat bernilai namun belum pernah dikemas sebagai produk wisata yang menarik.

Ditetapkannya Desa Wisata Bedagung melalui Surat Keputusan Bupati Pekalongan Nomor 500 13.2/365 tanggal 27 November 2023 menjadi titik balik penting. [3] Penetapan resmi ini membuka pintu bagi Pokdarwis Marga Jati untuk mengorganisasi warga desa secara sistematis—mengubah desa pertanian pegunungan yang tenang menjadi destinasi wisata berbasis masyarakat yang kompetitif di tingkat provinsi.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi utama Desa Wisata Bedagung adalah pengembangan model wisata desa terintegrasi yang menggabungkan dua pilar utama: agrowisata kopi bersejarah (heritage agrotourism) dan wisata alam petualangan. Kedua pilar ini saling memperkuat—pengunjung yang datang untuk berkemah di hutan pinus juga diajak mengenal warisan Kopi Gunung Lumping, sementara pecinta agrowisata kopi juga dapat menikmati trekking ke air terjun dan hamparan alam pegunungan yang menakjubkan.

Secara operasional, inovasi ini bekerja melalui Pokdarwis Marga Jati yang mengelola beberapa unit wisata sekaligus: Jungle What Campground, Pinus Siampel, Sijangkung Coffee & Campground, Curug Bajang, paket edukasi kopi, jeep tour hutan, serta paket homestay bersama warga. [4] Wisatawan dapat memilih paket sesuai minat mereka—dari menyeduh kopi langsung dari perkebunan berusia tiga abad, hingga menikmati malam bertabur bintang di camping ground pegunungan yang sejuk.

Proses Penerapan Inovasi

Proses pengembangan Desa Wisata Bedagung dimulai dengan pembentukan Pokdarwis Marga Jati sebagai kelembagaan pengelola wisata berbasis masyarakat. Pokdarwis kemudian mendaftarkan Desa Bedagung ke platform Jadesta (Jejaring Desa Wisata) Kemenpar sebagai langkah awal membangun visibilitas digital di tingkat nasional. [4] Registrasi di Jadesta memungkinkan wisatawan dari seluruh Indonesia menemukan Bedagung melalui portal resmi pemerintah.

Untuk mengikuti Gelar Desa Wisata (GDW) Jawa Tengah 2025 bertema “Harmoni Desa Wisata: Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama,” Pokdarwis memproduksi video kreatif yang berhasil menarik perhatian tim juri provinsi. [1] Proses kompetisi berlangsung ketat: unggah video dan administrasi (23 Juni–15 Juli 2025), penilaian juri (21–26 Juli 2025), verifikasi lapangan (Agustus 2025), hingga pengumuman pemenang (11 September 2025) di Banjarnegara.

Tahap verifikasi lapangan oleh tim provinsi menjadi ujian sesungguhnya—tim datang langsung untuk menilai kesiapan fasilitas, manajemen pokdarwis, dan autentisitas produk wisata. Pengalaman ini mengajarkan Pokdarwis Marga Jati pentingnya konsistensi antara narasi promosi dan kondisi nyata di lapangan—sebuah pembelajaran berharga yang mendorong mereka terus meningkatkan standar pelayanan dan pengalaman wisatawan. [5]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keunikan produk wisata menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru. Kopi Gunung Lumping—warisan perkebunan VOC dari abad ke-18 yang tumbuh organik di ketinggian 1.200 mdpl—adalah produk wisata dengan nilai historis dan autentisitas yang sangat tinggi. [2] Riset tentang agrowisata kopi menunjukkan bahwa wisatawan semakin mencari pengalaman autentik yang terhubung dengan sejarah dan kearifan lokal—persis ceruk pasar yang berhasil diisi Bedagung.

Pengelolaan berbasis komunitas melalui Pokdarwis Marga Jati memastikan semua warga memiliki peran dan manfaat dari perkembangan wisata desa. Semangat kolektif “Merajut Langkah Menjemput Asa Berdaya Bersama”—tagline resmi Desa Wisata Bedagung—bukan sekadar slogan, melainkan cerminan nyata dari model pengelolaan wisata partisipatif yang membuat seluruh ekosistem wisata desa bergerak sinergis. [6]

Hasil dan Dampak Inovasi

Pencapaian terbesar dan terukur adalah masuknya Desa Wisata Bedagung dalam 10 Besar Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025—sebagai satu-satunya wakil Kabupaten Pekalongan dari 29 peserta kabupaten/kota se-Jawa Tengah. [1] Pencapaian ini setara dengan Juara 1 Gelar Desa Wisata Jateng 2025 kategori eksposur daerah bagi Kabupaten Pekalongan.

Dampak ekonomi langsung dirasakan warga melalui pendapatan dari pengelolaan camping ground, penjualan Kopi Gunung Lumping, jasa pemandu wisata, homestay, dan kuliner lokal. Kehadiran Bedagung di platform Jadesta Kemenpar dan pengakuan provinsi meningkatkan visibilitas digital desa secara signifikan—menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah di Jawa dan sekitarnya yang sebelumnya belum mengenal Bedagung. [4]

Secara kualitatif, pengembangan wisata desa mengubah persepsi warga tentang potensi kampung halaman mereka sendiri. Pemuda desa yang sebelumnya cenderung merantau kini memiliki alasan untuk tetap tinggal dan berkontribusi sebagai pengelola wisata, pemandu trekking, barista kopi lokal, atau pengembang konten digital desa. [5]

Tantangan dan Kendala

Kendala utama yang masih dihadapi Desa Wisata Bedagung adalah aksesibilitas jalan menuju lokasi yang masih dalam tahap pengembangan. Kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus menjadi hambatan bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan roda empat biasa—berpotensi mengurangi kunjungan terutama dari wisatawan keluarga dan kelompok usia lanjut. [4]

Tantangan lain adalah menjaga autentisitas dan kualitas produk Kopi Gunung Lumping seiring meningkatnya permintaan wisata. Peningkatan kunjungan wisatawan memerlukan kapasitas produksi kopi yang lebih besar, sementara kopi warisan VOC ini ditanam secara organik dengan jumlah terbatas. Keseimbangan antara pertumbuhan wisata dan pelestarian warisan perkebunan bersejarah menjadi dilema yang perlu dikelola dengan bijaksana oleh Pokdarwis Marga Jati. [2]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Desa Wisata Bedagung bertumpu pada penguatan kelembagaan Pokdarwis Marga Jati sebagai pengelola profesional yang tidak bergantung pada satu generasi kepemimpinan. Digitalisasi pemasaran melalui website resmi bedagung.id, platform Jadesta Kemenpar, media sosial Instagram dan TikTok menjamin visibilitas desa secara berkelanjutan tanpa biaya promosi konvensional yang mahal. [6]

Dukungan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam mendaftarkan Bedagung ke ajang GDW Jawa Tengah secara berkala memberikan momentum tahunan untuk terus meningkatkan standar pengelolaan wisata. Pengembangan infrastruktur jalan yang sedang berlangsung akan membuka aksesibilitas lebih luas—memungkinkan Bedagung menyambut lebih banyak wisatawan dan mengoptimalkan dampak ekonomi bagi seluruh warga desa. [1]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model pengembangan wisata desa berbasis komunitas dan agrowisata komoditas lokal yang diterapkan Bedagung sangat relevan direplikasi oleh desa-desa pegunungan lain di Kecamatan Paninggaran dan Kabupaten Pekalongan. Desa-desa dengan komoditas perkebunan khas—teh, manggis, cengkeh—dapat mengadopsi pendekatan serupa: mengubah proses produksi pertanian menjadi pengalaman wisata edukasi yang bernilai tinggi bagi wisatawan urban. [2]

Pada skala provinsi, keberhasilan Bedagung masuk 10 Besar GDW 2025 membuka peluang kolaborasi dengan desa-desa wisata finalis lain untuk membangun paket wisata lintas desa di Jawa Tengah bagian barat. Pengakuan di platform Jadesta Kemenpar juga mendorong desa-desa di Kabupaten Pekalongan lainnya untuk mendaftar dan mengembangkan model wisata berbasis potensi lokal masing-masing—memperluas dampak ekonomi wisata desa secara berganda. [1]

Daftar Pustaka

[1] Visit Jawa Tengah, “Gelar Desa Wisata Jawa Tengah 2025: 29 Desa Tampilkan Pesona Wisata Unggulan,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 28 Jul. 2025. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id

[2] Jadesta Kemenpar, “Produk Wisata: Kopi Lokal Gunung Lumping Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2024. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/paket/kopi_lokal_gunung_lumping_bedagung

[3] DESA WISATA BEDAGUNG, “Desa Wisata Bedagung – GDW 2025,” YouTube, 15 Jul. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=0f4V1M9neEM

[4] Jadesta Kemenpar, “Desa Wisata Bedagung,” jadesta.kemenpar.go.id, 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/bedagung

[5] Radar CBS, “Desa Wisata Bedagung Pekalongan: Surga Tersembunyi di Lereng Pegunungan,” radarcbs.com, 2025. [Online]. Available: https://radarcbs.com

[6] Pemerintah Desa Bedagung, “Website Resmi Desa Bedagung,” bedagung.id, 2025. [Online]. Available: https://bedagung.id

[7] Solopos/Espos, “Selamat! Desa Jarum Klaten Juara Harapan Anugerah Gelar Desa Wisata Jateng 2025,” solopos.espos.id, 14 Sep. 2025. [Online]. Available: https://solopos.espos.id

[8] A. P. Sari dan B. Kusuma, “Agrowisata Glamping Kopi Robusta: Integrasi Wisata dan Edukasi Berbasis Pertanian Lokal,” Jurnal Arsitektur UNS, Surakarta, 2023. [Online]. Available: https://digilib.uns.ac.id

[9] RRI Purwokerto, “Desa Wanadadi Juara Favorit Desa Wisata Jateng 2025,” rri.co.id, 11 Sep. 2025. [Online]. Available: https://rri.co.id

[10] Instagram @desa_wisata_bedagung, “10 Besar Desa Wisata Tahun 2025,” instagram.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DOm7OG3k0_6/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.