Ringkasan Inovasi

“Di sini hampir 90 persen masyarakat merupakan perajin sapu ijuk. Dengan BUMDes, ke depan warga tidak lagi menjual pada tengkulak, tapi langsung ke BUMDes.” — M. Rohdi, Kepala Desa Telaga Waru

Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan inovasi pemberdayaan ekonomi desa berbasis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang secara strategis berfungsi sebagai agregator produksi, penyedia modal, dan agen pemasaran bagi sekitar 90 persen warganya yang berprofesi sebagai perajin sapu dari serabut kelapa—komoditas tradisional yang sudah digeluti masyarakat lebih dari 30 tahun dan telah menjangkau pasar Sumbawa dan Pulau Jawa. Inovasi ini lahir dari keberanian Pemerintah Desa Telaga Waru untuk merekonstruksi peran BUMDes dari sekadar lembaga simpan pinjam konvensional menjadi mitra strategis yang memutus ketergantungan perajin pada tengkulak, menyediakan modal kerja, menampung seluruh hasil produksi, dan meningkatkan nilai jual melalui kemasan yang lebih menarik. [1][2]

Tujuan utama inovasi ini adalah memastikan bahwa nilai tambah ekonomi dari kerajinan sapu serabut kelapa yang selama ini terkaptus oleh tengkulak dapat dialihkan kembali kepada perajin dan desa melalui sistem tata niaga yang adil dan terorganisir oleh BUMDes. Dampak yang diharapkan sangat konkret: perajin mendapat harga jual yang lebih baik, modal kerja tanpa ketergantungan pada tengkulak, pasar yang lebih luas dan stabil, serta peningkatan standar kemasan yang membuka peluang masuk ke pasar yang lebih premium—sebuah transformasi rantai nilai yang menggerakkan ekonomi desa secara fundamental dari akar rumput. [3][4]

Nama Inovasi:BUMDes sebagai Agregator dan Agen Pemasaran Kerajinan Sapu Serabut Kelapa Desa Telaga Waru
Alamat:Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Inovator:M. Rohdi (Kepala Desa Telaga Waru) bersama pengurus BUMDes Desa Telaga Waru dan dukungan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Lombok Timur (Kadis M. Juaini Taofik)
Kontak:Kantor Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, NTB; Dinas PMD Lombok Timur, Jl. Raya Selong, Lombok Timur, NTB

Latar Belakang

Desa Telaga Waru merupakan satu-satunya desa sentra produksi kerajinan sapu serabut kelapa di Kabupaten Lombok Timur, dengan sekitar 90 persen warga Dusun Benyer—dusun utama penghasil kerajinan—menggantungkan nafkah pada usaha turun-temurun yang sudah berjalan lebih dari tiga dekade ini. [1][5] Kerajinan ini bermula dari gagasan almarhum Pak Badaruddin, penduduk asli Dusun Benyer yang memperkenalkan teknik pengolahan serabut kelapa menjadi sapu, keset, dan pot bunga kepada warga sekitarnya, dan sejak itu menyebar menjadi mata pencaharian utama yang menggerakkan roda ekonomi seluruh desa. Dari 100 bungkul serabut kelapa yang diproses, seorang perajin dapat menghasilkan sekitar 80 buah sapu atau 4 kodi, dengan harga jual per buah hanya sekitar Rp5.000 di tingkat perajin—nilai yang sangat rendah dibandingkan potensi nyata produk tersebut di pasar yang lebih luas. [5][6]

Masalah struktural yang paling menggerogoti ekonomi perajin Desa Telaga Waru adalah dominasi tengkulak dalam rantai pasok yang tidak adil. Para perajin yang membutuhkan modal kerja untuk membeli bahan baku serabut kelapa terpaksa bergantung pada tengkulak yang memberikan pinjaman modal sekaligus menetapkan harga beli hasil produksi—sebuah jebakan ketergantungan yang membuat perajin tidak pernah bisa menikmati harga terbaik dari produk yang mereka kerjakan sendiri. [4][5] Ketidakmampuan untuk bernegosiasi harga karena posisi tawar yang lemah, ditambah keterbatasan akses pasar langsung di luar Lombok, menjadikan perajin hanya menerima sebagian kecil dari nilai akhir produk yang sebenarnya sudah diminati pasar hingga ke Pulau Jawa.

Peluang transformasi terbuka ketika Pemerintah Desa Telaga Waru mengikuti Lomba Desa Tingkat Kabupaten Lombok Timur yang mendorong desa menampilkan potensi unggulan lokalnya. Momentum lomba ini menjadi katalis bagi Kepala Desa M. Rohdi untuk mengartikulasikan visi baru peran BUMDes—bukan sekadar unit simpan pinjam konvensional, melainkan mesin penggerak ekonomi kerajinan desa yang mengambil alih fungsi-fungsi strategis yang selama ini dikuasai tengkulak. [2][4] Penelitian dari Universitas Islam Negeri dan Universitas Mataram yang sama-sama mengkaji kerajinan serabut kelapa di Desa Telaga Waru mengkonfirmasi bahwa potensi ekonomi komoditas ini jauh lebih besar dari yang selama ini dinikmati perajin, dan sistem pemasaran yang lebih baik adalah kunci utama untuk merealisasikan potensi tersebut.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah repositioning BUMDes Desa Telaga Waru menjadi entitas ekonomi multipungsi yang secara simultan menjalankan tiga peran strategis yang sebelumnya terpisah dan tidak terkoordinasi: penyedia modal kerja bagi perajin sebagai pengganti tengkulak, agregator produksi yang menampung dan mengonsolidasikan seluruh hasil kerajinan dari seratusan rumah tangga perajin menjadi volume yang signifikan untuk pemasaran skala besar, dan agen pemasaran yang meningkatkan nilai produk melalui perbaikan kemasan sebelum menjualnya ke pasar regional yang lebih menguntungkan. Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa BUMDes yang ada selama ini beroperasi jauh di bawah potensinya karena terbatas hanya pada fungsi simpan pinjam, sementara masalah terbesar perajin justru ada di sisi rantai nilai yang sama sekali tidak disentuh oleh model BUMDes konvensional. [2][4]

Cara kerja sistem BUMDes baru ini beroperasi melalui alur yang sederhana namun merombak total ketergantungan perajin pada tengkulak. BUMDes menyediakan modal kerja kepada perajin untuk membeli bahan baku serabut kelapa dengan skema yang lebih ringan dan adil dibanding pinjaman dari tengkulak. Perajin kemudian menyerahkan hasil produksinya kepada BUMDes dengan harga yang lebih baik karena BUMDes tidak mengambil margin dari dua sisi sekaligus seperti yang dilakukan tengkulak. BUMDes selanjutnya melakukan penyempurnaan kemasan produk agar lebih menarik dan kompetitif sebelum memasarkannya ke jaringan distribusi yang lebih luas di Lombok, Sumbawa, dan Pulau Jawa—jalur pasar yang sudah terbukti ada dan berkembang. [1][3]

Proses Penerapan Inovasi

Langkah pertama adalah identifikasi dan pemetaan mendalam tentang rantai nilai kerajinan sapu serabut kelapa yang selama ini berjalan secara informal dan tidak menguntungkan perajin. Pemerintah Desa Telaga Waru melalui kepala desa M. Rohdi melakukan dialog langsung dengan perajin untuk memahami titik-titik ketergantungan pada tengkulak, besaran margin yang terambil dari nilai produksi, dan kebutuhan modal kerja nyata yang selama ini tidak terpenuhi secara adil. Temuan dari proses dialog ini menjadi dasar perancangan ulang fungsi BUMDes yang benar-benar menjawab kebutuhan perajin, bukan sekadar menambah satu unit usaha baru tanpa koneksi dengan masalah yang sesungguhnya dihadapi warga. [2][4]

Langkah kedua adalah perancangan model bisnis BUMDes yang layak secara ekonomi dan menarik bagi perajin untuk beralih dari tengkulak. Model ini harus mampu menawarkan dua hal sekaligus yang tengkulak tidak bisa tawarkan: harga beli hasil produksi yang lebih tinggi bagi perajin, dan harga penjualan modal bahan baku yang lebih rendah atau setara dengan yang disediakan tengkulak. Kepala Dinas PMD Lombok Timur M. Juaini Taofik secara aktif memberikan bimbingan dan dorongan dalam proses ini, menegaskan bahwa BUMDes harus berani mengambil peran sebagai fasilitator modal sekaligus pemasaran agar tidak terus kalah bersaing dengan tengkulak yang sudah memiliki jaringan dan kepercayaan perajin selama bertahun-tahun. [2][5]

Tahap ketiga yang menjadi kunci pembeda adalah inovasi kemasan produk. Selama ini sapu serabut kelapa dijual sebagai produk curah tanpa kemasan yang menarik, membatasi akses ke segmen pasar yang lebih premium seperti toko suvenir, minimarket, dan pasar ekspor. Kepala Dinas PMD Taofik secara khusus menekankan aspek kemasan ini sebagai prioritas yang harus segera dibenahi: “Hanya saja saran saya, kemasan ini yang penting untuk diperhatikan. Tinggal kita kemas saja menjadi lebih menarik.” Inovasi kemasan tidak membutuhkan investasi teknologi besar, tetapi dampaknya terhadap nilai jual produk sangat signifikan dan membuka ceruk pasar baru yang sama sekali belum dimanfaatkan oleh perajin Desa Telaga Waru. [2][4]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah kekuatan warisan sosial-budaya kerajinan sapu serabut kelapa yang sudah tertanam kuat selama lebih dari 30 tahun di komunitas Desa Telaga Waru, menciptakan modal sosial berupa pengetahuan teknis yang tersebar merata di hampir seluruh rumah tangga desa. Basis perajin yang besar dengan sekitar 90 persen warga Dusun Benyer berprofesi sebagai pengrajin serabut kelapa berarti BUMDes memiliki sumber pasokan produksi yang sangat besar dan konsisten tanpa harus membangun kapasitas produksi dari nol. [1][6] Kekuatan kolektif ini adalah aset kompetitif yang tidak dimiliki desa-desa lain dan menjadi fondasi yang kokoh untuk membangun sistem tata niaga yang lebih adil melalui BUMDes.

Faktor kedua adalah dukungan aktif dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas PMD yang tidak sekadar memberikan arahan normatif tetapi juga terlibat langsung dalam memberi orientasi strategis tentang model BUMDes yang perlu dikembangkan. Pernyataan Kadis PMD Taofik yang secara eksplisit mendorong BUMDes Telaga Waru mengambil alih fungsi pembiayaan dari tengkulak dan memperbaiki kemasan merupakan endorsement kelembagaan yang sangat berharga karena memberi legitimasi dan kepercayaan diri bagi perangkat desa untuk melangkah lebih jauh. [2][4] Penelitian dari Universitas Mataram yang secara akademis mengkonfirmasi signifikansi dampak usaha kerajinan serabut kelapa terhadap pendapatan masyarakat juga memperkuat basis bukti bahwa intervensi yang tepat pada rantai nilai ini akan menghasilkan dampak ekonomi yang substansial dan terukur.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekonomi yang paling mendasar dari inovasi BUMDes Telaga Waru adalah terputusnya siklus ketergantungan perajin pada tengkulak yang selama bertahun-tahun menjadi penyebab utama nilai tukar yang tidak adil bagi produsen. Penelitian dari Universitas Mataram mengkonfirmasi secara akademis bahwa usaha kerajinan serabut kelapa berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan masyarakat Desa Telaga Waru, dengan nilai t-hitung sebesar 3,524 yang jauh di atas t-tabel 1,984 dan nilai signifikansi 0,00—menunjukkan hubungan yang sangat kuat antara optimalisasi sistem produksi dan pemasaran kerajinan dengan peningkatan pendapatan perajin. [5][6] Dengan BUMDes yang berperan sebagai pembeli utama hasil produksi, perajin mendapat kepastian pasar dan harga yang lebih baik tanpa harus terjebak dalam siklus hutang modal yang selama ini mengikat mereka pada tengkulak.

Dari sisi jangkauan pasar, produk sapu serabut kelapa Desa Telaga Waru sudah membuktikan kemampuannya menembus pasar lintas pulau—tidak hanya di Lombok tetapi juga di Sumbawa dan Pulau Jawa—sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kualitas produk sudah memenuhi standar pasar nasional. Penelitian tentang usaha produksi kerajinan sapu berbahan serabut kelapa dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang mengkaji kelompok usaha Namira dan Bina Taruna di Desa Telaga Waru memberikan landasan akademis yang komprehensif tentang potensi bisnis kerajinan serabut kelapa yang masih sangat besar untuk dikembangkan. [7][1] Fakta bahwa sapu ijuk dan serabut kelapa dari Indonesia bahkan diminati pasar ekspor seperti Jepang—sebagaimana dicatat Tempo.co terkait ekspor sapu ijuk dari Malang senilai US$8,03 juta pada 2014—membuka cakrawala potensi ekspor yang belum dimanfaatkan oleh perajin Desa Telaga Waru. [8]

Dampak kelembagaan yang paling penting adalah transformasi citra BUMDes di Desa Telaga Waru dari lembaga keuangan mikro sederhana menjadi motor penggerak ekonomi desa yang memiliki fungsi strategis dalam sistem produksi dan pemasaran komoditas unggulan. Kepala Dinas PMD Taofik dengan gamblang menyatakan bahwa keberhasilan model BUMDes Telaga Waru membuktikan bahwa BUMDes sudah seharusnya tidak lagi berfungsi hanya sebagai tempat simpan pinjam—sebuah evaluasi kelembagaan yang relevan bagi ratusan BUMDes lain di Lombok Timur yang masih terjebak dalam model konvensional yang minim dampak. [2][4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi BUMDes Telaga Waru dalam mengambil alih peran tengkulak adalah membangun kepercayaan perajin yang sudah terjalin dengan tengkulak selama bertahun-tahun melalui hubungan personal dan jaringan kredit informal yang sudah berjalan. Perajin yang sudah terbiasa mendapat akses modal instan dari tengkulak—meski dengan harga yang tidak adil—membutuhkan bukti nyata bahwa BUMDes dapat memberikan layanan yang sama cepatnya dengan kemudahan akses yang setara, sebelum mereka berani beralih sepenuhnya. Proses membangun kepercayaan ini tidak bisa dipaksakan dalam semalam dan membutuhkan kesabaran serta konsistensi pelayanan BUMDes dalam jangka menengah. [4][5]

Kendala lain adalah keterbatasan modal awal BUMDes untuk dapat membiayai pembelian bahan baku dan menampung hasil produksi dalam volume yang cukup besar mengingat jumlah perajin yang mencapai sekitar 90 persen dari total warga Dusun Benyer. Kerajinan sapu serabut kelapa memerlukan bahan baku yang dibeli secara rutin dan dalam jumlah besar, sehingga BUMDes membutuhkan likuiditas yang cukup kuat agar dapat memberikan kepastian pembelian kepada perajin tanpa keterlambatan yang bisa merusak kepercayaan. Inovasi kemasan yang direkomendasikan Kadis PMD juga memerlukan investasi tambahan dalam desain, bahan kemasan, dan pelatihan SDM yang tidak bisa serta merta tersedia dari pendapatan BUMDes yang baru mulai berkembang. [2][6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi BUMDes Telaga Waru sebagai agregator dan agen pemasaran kerajinan sapu serabut kelapa bergantung pada kemampuan BUMDes membangun sistem keuangan yang sehat dan mandiri dari surplus operasional, mengurangi ketergantungan pada injeksi modal awal dari APBDes yang jumlahnya terbatas. Diversifikasi produk yang menambahkan sapu dengan kemasan premium, keset, pot bunga, dan produk serabut kelapa olahan lainnya—yang sudah terbukti dapat diproduksi oleh perajin Desa Telaga Waru—akan memperluas sumber pendapatan BUMDes sekaligus meningkatkan rata-rata nilai jual per unit kerajinan yang dipasarkan. [5][6] Digitalisasi pemasaran melalui e-commerce dan media sosial akan membuka akses ke pasar lebih luas di seluruh Indonesia bahkan potensi ekspor, sebagaimana sudah dibuktikan oleh perajin sapu ijuk dari Malang yang menembus pasar Jepang.

Dalam jangka panjang, Desa Telaga Waru perlu membangun branding geografis “Sapu Serabut Kelapa Telaga Waru” sebagai produk kerajinan tradisional Lombok Timur yang memiliki identitas dan keunggulan kompetitif yang diakui secara resmi sebagai kekayaan intelektual komunal. Kemitraan dengan lembaga pelatihan desain kemasan dari perguruan tinggi setempat seperti Universitas Mataram yang sudah aktif meneliti potensi kerajinan desa ini akan memberikan akses ke pengetahuan desain yang profesional tanpa biaya yang besar. Kolaborasi BUMDes antar desa di Kecamatan Pringgabaya untuk mengonsolidasikan volume produksi yang lebih besar akan meningkatkan posisi tawar terhadap pembeli besar dan membuka peluang kerjasama dengan program ekspor kerajinan daerah yang dikelola oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTB. [3][7]

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi BUMDes Desa Telaga Waru sebagai agregator dan agen pemasaran kerajinan sapu serabut kelapa memberikan kontribusi nyata pada berbagai tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sebagaimana dijabarkan dalam tabel berikut.

SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:BUMDes yang memutus ketergantungan perajin pada tengkulak dan memberikan harga beli yang lebih adil secara langsung meningkatkan pendapatan bersih rumah tangga perajin yang selama ini kehilangan sebagian besar margin produknya kepada tengkulak. Riset dari Universitas Mataram mengkonfirmasi secara statistik bahwa pemanfaatan optimal usaha serabut kelapa berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan dan taraf hidup masyarakat Desa Telaga Waru.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:BUMDes sebagai aggregator dan agen pemasaran kerajinan sapu serabut kelapa memastikan perajin memiliki akses pasar yang lebih stabil dan adil, mengubah pekerjaan kerajinan dari pekerjaan yang eksploitatif menjadi pekerjaan yang layak dengan imbalan yang setara dengan nilai kerja yang dikeluarkan. Inovasi kemasan dan perluasan pasar yang difasilitasi BUMDes membuka peluang pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan berbasis kekayaan sumber daya dan keterampilan yang sudah dimiliki masyarakat secara turun-temurun.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan:Pemutusan rantai eksploitasi tengkulak melalui BUMDes mempersempit kesenjangan ekonomi antara perajin kecil yang selama ini berada di posisi tawar yang lemah dengan pedagang besar yang menikmati margin terbesar dari rantai nilai kerajinan. Akses modal kerja yang lebih adil melalui BUMDes juga mengurangi kesenjangan antara perajin yang memiliki modal sendiri dan yang tidak, memungkinkan semua perajin berproduksi dalam kondisi ekonomi yang lebih setara.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:Kerajinan sapu serabut kelapa merupakan contoh produksi yang bertanggung jawab karena memanfaatkan limbah sabut kelapa—sumber daya yang melimpah dan terbarukan—menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mengurangi volume limbah pertanian. Perbaikan kemasan yang diadvokasi oleh BUMDes tidak hanya meningkatkan nilai jual produk tetapi juga mendorong standardisasi mutu produksi yang lebih konsisten dan bertanggung jawab terhadap konsumen akhir.
SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan:Pelestarian kerajinan sapu serabut kelapa sebagai warisan industri tradisional yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun menjaga identitas budaya dan ekonomi Desa Telaga Waru sebagai komunitas pengrajin yang kohesif dan mandiri. BUMDes sebagai lembaga komunitas yang mengelola sistem ekonomi kerajinan membangun fondasi komunitas yang berkelanjutan karena sumber ekonomi utamanya berbasis sumber daya lokal yang dapat diperbaharui dan diwariskan ke generasi berikutnya.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Sinergi antara Pemerintah Desa Telaga Waru, BUMDes, Dinas PMD Lombok Timur, dan peneliti dari universitas lokal menciptakan ekosistem multipihak yang mendukung pengembangan ekonomi kerajinan desa secara menyeluruh. Model kemitraan BUMDes antar desa yang direncanakan untuk mengonsolidasikan volume produksi lintas desa di Kecamatan Pringgabaya akan menciptakan nilai kolektif yang jauh lebih besar dibandingkan desa-desa yang bekerja secara terpisah-pisah.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model BUMDes sebagai agregator dan agen pemasaran kerajinan lokal yang dikembangkan Desa Telaga Waru sangat relevan untuk direplikasi di ratusan desa sentra kerajinan di NTB dan seluruh Indonesia yang menghadapi pola masalah serupa: produk kerajinan berkualitas yang tersandera oleh sistem tata niaga tengkulak yang tidak adil dan keterbatasan akses pasar langsung. Kunci replikasi terletak pada satu perubahan paradigma yang sederhana namun transformatif: menggeser BUMDes dari fungsi simpan pinjam pasif menjadi agregator aktif yang masuk ke rantai nilai produk unggulan desa. Dinas PMD Kabupaten Lombok Timur dapat mendokumentasikan model Telaga Waru sebagai panduan praktis replikasi yang disebarkan kepada seluruh desa di Lombok Timur yang memiliki klaster kerajinan tradisional. [2][4]

Untuk scale up ke level provinsi dan nasional, Kementerian Desa PDTT perlu menjadikan model BUMDes agregator kerajinan Telaga Waru sebagai salah satu standar tipe BUMDes yang diakomodasi dalam regulasi dan pedoman pengembangan BUMDes nasional yang saat ini masih sangat didominasi oleh model BUMDes simpan pinjam dan pengelola sarana fisik. Koneksi dengan program Bangga Buatan Indonesia dan platform e-commerce nasional yang memprioritaskan produk desa akan memberikan akses pasar digital yang masif dan mengubah produk sapu serabut kelapa Telaga Waru dari komoditas pasar lokal menjadi produk kerajinan desa yang dikenal secara nasional. Potensi ekspor yang sudah terbukti ada—ditunjukkan oleh permintaan pasar Jepang terhadap sapu ijuk—menjadi target jangka menengah yang realistis jika standar kualitas dan kemasan terus ditingkatkan secara konsisten. [3][8]

Daftar Pustaka

[1] ADBMI, “Sapu dari Serabut Kelapa, Kontribusi Keluarga Pekerja Migran Desa Telagawaru dalam Pemanfaatan Potensi Lokal,” adbmi.org, 25 Agu. 2024. [Online]. Tersedia: https://www.adbmi.org/kabar/sapu-dari-serabut-kelapa-kontribusi-keluarga-pekerja-migran-desa-telagawaru-dalam-pemanfaatan-poten

[2] Lombok Post, “Desa Telaga Waru Optimalkan Peran BUMDes,” lombokpost.jawapos.com, 5 Apr. 2019. [Online]. Tersedia: https://lombokpost.jawapos.com/selong/1904050026/desa-telaga-waru-optimalkan-peran-bumdes

[3] Diskominfo Lombok Timur, “Desa Telaga Waru Optimalkan Peran BUMDes,” diskominfo.lomboktimurkab.go.id. [Online]. Tersedia: https://diskominfo.lomboktimurkab.go.id/baca-berita-167-desa-telaga-waru-optimalkan-peran-bumdes.html

[4] YouTube, “Inovasi Desa Telaga Waru Kec. Pringgabaya Kab. Lombok Timur,” youtube.com, 2022. [Online]. Tersedia: https://www.youtube.com/watch?v=oq8ERnSMu9E

[5] S. F. Dina, “Analisis Produktivitas Tenaga Kerja, Pendapatan dan Saluran Pemasaran Sapu Sabut Kelapa di Desa Telaga Waru Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur,” Skripsi S1, Universitas Mataram, 2021. [Online]. Tersedia: https://eprints.unram.ac.id/25793/

[6] Cahaya Mandalika Journal, “Pengaruh Usaha Kerajinan Serabut Kelapa Terhadap Pendapatan Masyarakat Desa Telaga Waru,” ojs.cahayamandalika.com, 2022. [Online]. Tersedia: https://ojs.cahayamandalika.com/index.php/jcm/article/download/1403/1158/

[7] D. H. Saputra et al., “Usaha Produksi Kerajinan Sapu Berbahan Serabut Kelapa di Desa Telaga Waru,” International Journal of Community Service and Learning (IJCSL), Undiksha, 2018. [Online]. Tersedia: https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/IJCSL/article/view/14157

[8] Tempo.co, “Kalau Sapu Ijuk Jadi Andalan Ekspor,” tempo.co, 26 Feb. 2015. [Online]. Tersedia: https://www.tempo.co/ekonomi/kalau-sapu-ijuk-jadi-andalan-ekspor-1469515

[9] Universitas Mataram, “Konsertasi Entrepreneur: Pemanfaatan Limbah Serabut Kelapa terhadap Pendapatan Masyarakat Dusun Benyer Desa Telaga Waru,” repository.ummat.ac.id. [Online]. Tersedia: https://repository.ummat.ac.id/6038/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.