Ringkasan Inovasi

Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, menerapkan dua inovasi tata kelola desa secara bersamaan: inovasi lingkungan hidup berbasis partisipasi warga yang mengantarkan desa ini meraih Juara I Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS) Tingkat Kabupaten Demak 2021, serta inovasi sistem informasi pelaporan keuangan real-time yang menghasilkan predikat bergengsi Desa Waskita Tanpa Cidera (WTC) pada September 2024. Kedua inovasi ini berjalan secara sinergis—lingkungan yang bersih mencerminkan tata kelola yang baik, sementara akuntabilitas keuangan menjamin program pembangunan lingkungan berjalan transparan.

Desa Pulosari membuktikan bahwa desa di kawasan dataran rendah yang rawan banjir pun mampu bertransformasi menjadi desa unggul dalam dua dimensi sekaligus: lingkungan hidup yang bersih-sehat dan pengelolaan keuangan yang akuntabel. [1] Dampak utamanya adalah peningkatan kualitas kesehatan warga, penguatan kepercayaan publik terhadap pemerintah desa, dan menjadi role model tata kelola desa bagi desa-desa lain di Kabupaten Demak.

Nama Inovasi:Inovasi Tata Kelola Desa Terpadu: Lingkungan Bersih Sehat (LBS) dan Sistem Informasi Waskita Tanpa Cidera
Alamat:Desa Pulosari, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Slamet Setiyo Budi (Kepala Desa Pulosari), Pemerintah Desa Pulosari, didukung Dinas Lingkungan Hidup dan Inspektorat Kabupaten Demak
Kontak:Website Pemkab Demak: demakkab.go.id | Dinkominfo Demak: dinkominfo.demakkab.go.id

Latar Belakang

Desa Pulosari berada di dataran rendah Kecamatan Karangtengah—wilayah yang secara geografis rawan banjir akibat luapan Sungai Tuntang. [2] Kondisi ini secara historis menciptakan tantangan ganda: di satu sisi banjir kerap merusak sanitasi dan kebersihan lingkungan permukiman, di sisi lain tekanan fisik lingkungan yang berat kerap menurunkan semangat warga untuk menjaga kebersihan secara konsisten dan mandiri.

Persoalan pengelolaan sampah dan sanitasi di desa-desa Indonesia—termasuk di kawasan Demak—masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai. Riset tentang sanitasi lingkungan desa menunjukkan bahwa tanpa program edukasi dan infrastruktur yang terstruktur, perilaku warga cenderung kembali ke kebiasaan lama: membuang sampah sembarangan dan mengabaikan kebersihan lingkungan rumah. [3]

Pada dimensi tata kelola keuangan, banyak desa di Kabupaten Demak masih menghadapi persoalan akuntabilitas pelaporan penggunaan dana desa yang lambat, tidak real-time, dan rawan manipulasi. Inspektorat Kabupaten Demak merespons kebutuhan ini dengan mengembangkan Sistem Informasi Waskita—platform pelaporan keuangan desa pertama dan satu-satunya di Kabupaten Demak yang menilai kepatuhan desa secara otomatis setiap bulan. [4]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi pertama adalah program Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS) berbasis partisipasi aktif masyarakat yang dikembangkan secara kolaboratif antara pemerintah desa, TP PKK, Karang Taruna, dan seluruh elemen warga. LBS bukan sekadar program kebersihan musiman, melainkan sistem pemeliharaan lingkungan yang terinstitusionalisasi melalui kerja bakti terjadwal, pengelolaan sampah berbasis RT, pembangunan fasilitas sanitasi, dan kampanye edukasi hidup bersih yang konsisten. [5]

Inovasi kedua adalah adopsi Sistem Informasi Waskita—platform digital yang dikembangkan Inspektorat Kabupaten Demak untuk memantau kepatuhan pengelolaan keuangan desa secara real-time. [6] Sistem ini bekerja dengan meminta pemerintah desa mengunggah laporan keuangan—mulai dari dokumen perencanaan, realisasi anggaran, hingga laporan pertanggungjawaban—ke dalam platform secara rutin setiap bulan. Penilaian dilakukan secara otomatis oleh sistem berdasarkan kelengkapan, ketepatan waktu, dan konsistensi pelaporan.

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan LBS dimulai dari identifikasi titik-titik masalah lingkungan di setiap RT dan dusun melalui musyawarah desa partisipatif. Pemerintah Desa Pulosari kemudian menyusun rencana aksi yang membagi tanggung jawab pengelolaan lingkungan ke setiap RT—termasuk penempatan tempat sampah, jadwal kerja bakti, dan pengawasan kebersihan saluran drainase. [3] Program ini diperkuat dengan dukungan TP PKK desa yang menggerakkan ibu-ibu rumah tangga sebagai garda terdepan menjaga kebersihan lingkungan permukiman.

Ketika tim penilai dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak melakukan verifikasi lapangan sebagai bagian dari seleksi Lomba LBS, mereka menemukan konsistensi program yang nyata: bukan lingkungan yang dipercantik sesaat untuk penilaian, melainkan kondisi yang mencerminkan kebiasaan sehari-hari warga yang benar-benar terjaga. Kepala DinLH Kabupaten Demak Agus Musyafak menegaskan bahwa esensi LBS bukan pada kemenangan lomba, melainkan pada perubahan perilaku masyarakat yang berkelanjutan. [1]

Untuk Sistem Informasi Waskita, proses adopsi oleh Desa Pulosari berlangsung melalui pelatihan yang difasilitasi Inspektorat Kabupaten Demak. Perangkat desa belajar mengunggah dokumen keuangan secara digital, mengikuti jadwal pelaporan bulanan, dan merespons notifikasi otomatis dari sistem ketika ada dokumen yang belum lengkap. [4] Komitmen Kepala Desa Slamet Setiyo Budi memastikan seluruh perangkat desa mematuhi protokol pelaporan tanpa pengecualian—sebuah disiplin yang tidak mudah di awal, namun menjadi kebiasaan yang membentuk budaya akuntabilitas desa.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan Kepala Desa Slamet Setiyo Budi yang konsisten dan mau turun tangan langsung menjadi faktor penentu utama. Riset tentang program sanitasi desa membuktikan bahwa keberhasilan program lingkungan hidup sangat ditentukan oleh figur kepemimpinan lokal yang dipercaya warga—tanpa keteladanan pemimpin desa, gerakan kebersihan berbasis masyarakat sulit bertahan lebih dari satu siklus program. [3]

Dukungan kelembagaan dari DinLH Kabupaten Demak dan Inspektorat menjadi katalis yang memperkuat kapasitas desa. DinLH menyediakan pendampingan teknis dan kerangka penilaian LBS, sementara Inspektorat membangun platform Waskita yang menjadi instrumen akuntabilitas yang terstruktur. [4] Sinergi antara komitmen kepala desa, partisipasi warga, dan dukungan institusi ini menciptakan ekosistem tata kelola yang sehat dan berkelanjutan.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak terukur dari inovasi LBS adalah raihan Juara I Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat Tingkat Kabupaten Demak Tahun 2021—bersama piala, piagam penghargaan, dan uang pembinaan Rp 4 juta yang diserahkan langsung Wakil Bupati Ali Makhsun di Gedung Ghradika Bina Praja pada 9 Desember 2021. Desa Pulosari mengalahkan pesaing tangguh: Desa Mutih Kulon (Juara II) dan Desa Teluk (Juara III) dari kecamatan yang berbeda.

Dari inovasi Sistem Informasi Waskita, Desa Pulosari meraih predikat Desa Waskita Tanpa Cidera (WTC) pada September 2024—penghargaan tertinggi dalam kategori kepatuhan keuangan desa di Kabupaten Demak. [7] Sebagai reward, Desa Pulosari menerima dana insentif desa dari Pemkab Demak sebagai apresiasi nyata atas kualitas pelaporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Predikat WTC ini juga menjadi jaminan kepercayaan publik bahwa setiap rupiah dana desa dikelola dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Secara kualitatif, kedua prestasi ini mengubah cara pandang warga Desa Pulosari terhadap desa mereka sendiri. Warga yang semula pesimis—karena letak geografis desa yang rawan banjir dianggap sebagai hambatan permanen—kini melihat bahwa prestasi desa tidak ditentukan oleh kondisi geografis, melainkan oleh komitmen kolektif dan kualitas kepemimpinan. [1]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama dalam mempertahankan prestasi LBS adalah mengubah perilaku warga dari yang bersifat seremonial—bersih karena ada penilaian—menjadi budaya hidup bersih yang benar-benar menjadi kebiasaan harian. Penelitian sanitasi desa mengidentifikasi bahwa tanpa pengawasan sosial yang berkelanjutan dan insentif komunitas, perilaku bersih lingkungan kerap mengalami relaps dalam 6–12 bulan setelah program berakhir. [5]

Pada inovasi Waskita, tantangan terbesar adalah memastikan seluruh perangkat desa—terutama yang berusia lebih tua dan kurang familiar dengan teknologi digital—mampu mengoperasikan platform secara mandiri dan konsisten setiap bulan. Keterlambatan satu dokumen saja dapat memengaruhi skor penilaian otomatis sistem, sehingga diperlukan pengawasan internal yang ketat dan kultur disiplin pelaporan yang kuat dari seluruh jajaran pemerintah desa. [6]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan program LBS dijamin melalui integrasi program kebersihan lingkungan dalam RPJMDes dan RKPDes tahunan Desa Pulosari—memastikan ketersediaan anggaran dari Dana Desa untuk perawatan fasilitas sanitasi, pengadaan tempat sampah, dan kegiatan edukasi lingkungan secara berkala. TP PKK Desa menjadi pilar kelembagaan yang menjaga konsistensi program—menggerakkan warga dari level rumah tangga secara berkelanjutan melebihi satu periode kepemimpinan. [3]

Sistem Informasi Waskita yang dikembangkan Inspektorat Kabupaten Demak secara teknis dirancang sebagai platform jangka panjang yang terus diperbarui. Bupati Demak Eisti’anah menegaskan komitmen memberikan dana insentif desa secara rutin bagi desa-desa berpredikat Waskita—menciptakan mekanisme reward yang memotivasi Desa Pulosari dan desa-desa lain untuk terus mempertahankan standar akuntabilitas tertinggi dari tahun ke tahun. [7]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Keberhasilan Desa Pulosari meraih dua predikat bergengsi sekaligus mendorong Inspektur Kabupaten Demak Kurniawan Arifendi dan Bupati Eisti’anah untuk memperluas program ke semua desa di Kabupaten Demak. Sistem Informasi Waskita yang menilai secara otomatis setiap bulan berpotensi menjadi platform nasional tata kelola keuangan desa—saat ini menjadi satu-satunya sistem pelaporan keuangan desa yang diterapkan di Kabupaten Demak dan menjadi inovasi unggulan yang ditawarkan ke pemerintah pusat. [4]

Model program LBS Desa Pulosari juga sangat mudah direplikasi karena tidak membutuhkan teknologi mahal—hanya memerlukan komitmen kepemimpinan desa, partisipasi warga, dan pendampingan DinLH. Wakil Bupati Ali Makhsun secara eksplisit mendorong Desa Pulosari untuk melayang lebih tinggi menuju Lomba LBS Tingkat Provinsi Jawa Tengah—sebuah tantangan yang sekaligus membuka potensi replikasi model ini ke ratusan desa di seluruh Jawa Tengah. [1]

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Kabupaten Demak, “Desa Rejosari dan Desa Pulosari Raih Desa Waskita Tanpa Cidera 2024,” demakkab.go.id, 17 Sep. 2024. [Online]. Available: https://demakkab.go.id

[2] A. F. Huda et al., “Kajian Penanganan Banjir Sungai Tuntang di Desa Pulosari Kabupaten Demak,” Jurnal Teknik Sipil, 2014. [Online]. Available: http://download.garuda.kemdikbud.go.id

[3] R. Prasetyo et al., “Optimalisasi Sanitasi dan Kebersihan Lingkungan dalam Mewujudkan Desa Sehat dan Sejahtera,” Jurnal Aksi Nyata PKM LPKD, 2025. [Online]. Available: https://pkm.lpkd.or.id

[4] Arus Utama, “Gelar Pengawasan Desa Waskita: Upaya Demak Perbaiki Transparansi Keuangan Desa,” arusutama.com, 17 Sep. 2024. [Online]. Available: https://arusutama.com

[5] Y. Fitriani et al., “Penerapan Program Sanitasi Lingkungan sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Desa,” JPMI, 2023. [Online]. Available: https://jpmi.journals.id

[6] Radar Semarang, “Sebagai Upaya Preventif, Program Pengawasan Desa Waskita Bantu Pelaporan Desa,” radarsemarang.jawapos.com, 2024. [Online]. Available: https://radarsemarang.jawapos.com

[7] Pemerintah Kabupaten Demak, “Dua Desa di Demak Raih Predikat Desa Waskita Tanpa Cidera,” demakkab.go.id, 9 Sep. 2024. [Online]. Available: https://demakkab.go.id

[8] Pemerintah Kabupaten Demak, “Lomba Kampung Juara, Bupati Demak Tekankan Kebersihan,” inilahjateng.com, 5 Mei 2024. [Online]. Available: https://inilahjateng.com

[9] N. Rahayu dan A. Wulandari, “Manajemen Sanitasi Lingkungan dan Rumah Sehat Desa,” Jurnal Profesi Kesehatan, STIKES Cendekia Utama Kudus, 2024. [Online]. Available: https://www.jpk.jurnal.stikescendekiautamakudus.ac.id

[10] BPS Kabupaten Demak, “Karakteristik Fisik Dasar Kabupaten Demak,” cjip.jatengprov.go.id, 2023. [Online]. Available: https://cjip.jatengprov.go.id

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.