Ringkasan Inovasi
Desa Pelambik di Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan kerajinan tenun songket khas yang memiliki motif-motif unik dan eksklusif, salah satunya motif “Selingkuh” yang tidak ditemukan di desa mana pun di Lombok, sebagai identitas budaya sekaligus komoditas ekonomi kreatif unggulan desa. [1] Inovasi ini bertujuan mendorong kemandirian ekonomi perajin lokal melalui penguatan kapasitas produksi, akses pasar, dan pengelolaan kelembagaan berbasis BUMDes, sekaligus melestarikan tradisi menenun yang merupakan warisan budaya Suku Sasak yang telah turun-temurun. [2]
Dengan dukungan pemerintah kabupaten, DPRD Lombok Tengah, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta Dinas Koperasi dan UKM, songket Pelambik diproyeksikan masuk ke pasar seni Desa Kuta, Bazar Mandalika, dan menjangkau pengunjung ajang olahraga internasional MotoGP Mandalika sebagai produk fesyen budaya NTB yang mendunia. [1] Kekhasan motif selingkuh sebagai diferensiasi produk yang tidak ada di desa lain menjadi daya tawar utama Pelambik dalam persaingan industri songket Lombok yang didominasi Desa Sukarara. [3]
| Nama Inovasi | : | Pengembangan Songket Motif Eksklusif Pelambik — Kerajinan Tenun Berbasis BUMDes dengan Identitas Motif Khas “Selingkuh” dan Motif Tradisional Sasak |
| Alamat | : | Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Pelambik (Kepala Desa Jumasah) bersama perajin tenun lokal, BUMDes Pelambik, difasilitasi DPRD Lombok Tengah dan Dinas Perindag serta Dinas Koperasi dan UKM Lombok Tengah |
| Kontak | : | Kantor Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah, NTB | Instagram pemasaran aktif: @ida_songket_lombok (perajin Pelambik) |
Latar Belakang
Kain tenun songket Lombok adalah warisan budaya Suku Sasak yang sudah ada sejak 1832, ditenun menggunakan alat tenun tradisional dari kayu dengan bahan benang katun, sutera, benang emas, dan benang perak yang menghasilkan kain dengan makna filosofis mendalam dalam setiap motifnya. [2] Selama puluhan tahun, nama besar Desa Sukarara di Kecamatan Jonggat mendominasi industri songket Lombok dan menjadi satu-satunya sentra yang dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara, sementara desa-desa lain yang juga memiliki tradisi menenun tersisihkan dari narasi utama pariwisata NTB. [3] Desa Pelambik adalah salah satu dari sekian banyak desa yang menyimpan potensi tenun songket tak terdengar itu. [1]
Para perajin tenun di Desa Pelambik menghadapi tiga hambatan struktural yang saling berkaitan: akses pasar yang sempit karena tidak terekspos dalam jalur wisata utama, keterbatasan alat tenun dan bahan baku yang memadai, serta jumlah perajin terlatih yang terus menyusut karena tidak adanya regenerasi sistematis. [1] Tanpa akses pasar, tidak ada insentif ekonomi yang cukup untuk mendorong generasi muda belajar menenun, dan tanpa perajin baru, kapasitas produksi stagnan — sebuah lingkaran setan yang mengancam kesinambungan tradisi tenun Pelambik. [4] Minimnya promosi membuat keberadaan songket Pelambik hanya diketahui warga sekitar, meski secara kualitas produk mampu bersaing dengan songket dari desa lain. [1]
Peluang besar terbuka ketika Sirkuit Mandalika mulai menjadi tuan rumah ajang balap internasional MotoGP, yang dalam satu musim mampu mendatangkan puluhan ribu wisatawan domestik dan mancanegara ke Lombok Tengah. [5] Pasar seni di Desa Kuta yang lokasinya dekat dengan Mandalika dan Bazar Mandalika yang digelar setiap musim balapan membuka ruang distribusi baru yang belum dimanfaatkan oleh Pelambik. [1] Momentum inilah yang mendorong Kepala Desa Jumasah dan DPRD Lombok Tengah untuk secara serius mendorong pengembangan songket Pelambik sebagai produk ekonomi kreatif yang bisa bersaing di pasar wisata internasional. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Pelambik adalah positioning produk songket berbasis kekhasan motif eksklusif yang tidak dimiliki desa lain, di mana motif “Selingkuh” menjadi identitas visual dan nilai diferensiasi tertinggi dalam kompetisi pasar songket Lombok yang selama ini dikuasai Desa Sukarara. [1] Selain motif Selingkuh, Pelambik juga mengembangkan songket bermotif bulan getap, ceker ayam, wayang, mahkota dewa, dan kembang komaq — masing-masing membawa nilai filosofis Sasak yang kuat dan menjadikan koleksi Pelambik lengkap secara budaya. [1] Strategi “satu motif eksklusif yang tidak ada di desa lain” menjadi pesan pemasaran yang sederhana, menancap kuat, dan sulit ditiru oleh kompetitor karena motif Selingkuh adalah hak kultural eksklusif Pelambik. [6]
Secara operasional, inovasi ini bekerja melalui penguatan kelembagaan BUMDes sebagai agregator produksi yang mengumpulkan hasil tenun perajin rumahan, menyediakan bahan baku kolektif, dan membuka akses pasar ke luar desa. [1] Program pendidikan dan pelatihan menenun yang diselenggarakan pemerintah desa memastikan regenerasi perajin berjalan, sementara kelompok usaha di bawah BUMDes berfungsi sebagai payung formal yang memudahkan akses dana aspirasi DPRD dan program pendampingan dari Dinas Perindag serta Dinas Koperasi dan UKM Lombok Tengah. [1] Model ini menjadikan BUMDes bukan sekadar badan usaha, melainkan ekosistem pemberdayaan lengkap dari produksi hingga pemasaran. [4]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari inisiatif Kepala Desa Jumasah yang secara aktif mendorong perhatian publik dengan menyuarakan potensi songket Pelambik kepada media dan pemangku kebijakan, sebuah langkah advokasi yang sederhana namun efektif dalam membuka pintu kolaborasi dengan DPRD Lombok Tengah. [1] Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah Lalu Sarjana merespons dengan berkomitmen memanggil Dinas Perindag dan Dinas Koperasi dan UKM untuk membahas secara konkret dukungan modal usaha, pengemasan produk, dan akses pasar bagi perajin Pelambik. [1] Langkah pertama ini membuktikan bahwa advokasi kepala desa yang tepat sasaran dapat menggerakkan dukungan kebijakan yang jauh melampaui kapasitas desa secara mandiri. [4]
Tahap berikutnya adalah pembentukan kelompok usaha perajin di bawah naungan BUMDes, yang menjadi syarat formal agar desa dapat mengakses dana aspirasi DPRD dan program pendampingan dinas terkait. [1] Proses pembentukan kelompok usaha ini tidak selalu mudah: diperlukan penyamaan visi antara perajin yang terbiasa bekerja secara individual dengan pendekatan kolektif berbasis kelembagaan yang membutuhkan komitmen bersama dalam hal standar kualitas, harga jual, dan jadwal produksi. [4] Penelitian tentang pengembangan tenun songket di Desa Setanggor, Praya Barat — desa tetangga Pelambik — menunjukkan bahwa hambatan utama dalam organisasi perajin adalah ketidakseragaman standar kualitas dan harga jual yang memerlukan pendampingan intensif dari fasilitator eksternal untuk diselesaikan. [7]
Dari sisi produk, pemerintah desa mendorong standarisasi pengemasan songket Pelambik agar memenuhi syarat masuk ke toko suvenir premium di kawasan Mandalika dan pasar seni Kuta. [1] Pembuatan songket dengan motif yang rumit seperti motif wayang dan motif mahkota dewa dapat memakan waktu satu hingga tiga bulan, sehingga manajemen stok dan perencanaan produksi yang baik menjadi kritis agar pasokan tidak putus di musim puncak kunjungan wisatawan. [7] Pengalaman dari perajin Setanggor menunjukkan bahwa penggunaan benang berkualitas baik secara konsisten merupakan investasi awal yang menentukan reputasi produk di pasar jangka panjang. [7]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor paling menentukan adalah keberanian kepemimpinan desa untuk tampil ke publik dan mengangkat isu kerajinan lokal ke ranah kebijakan kabupaten, sebuah inisiatif yang terlihat sederhana namun membutuhkan kepercayaan diri dan keberanian politik yang tidak dimiliki setiap kepala desa. [1] Kepala Desa Jumasah memahami bahwa “kalah promosi” bukan takdir, melainkan masalah yang bisa diselesaikan melalui advokasi yang tepat kepada pemangku kekuasaan yang memiliki akses anggaran dan jaringan pasar. [1] Respons cepat DPRD dan komitmen konkret dari Lalu Sarjana untuk menggerakkan Dinas Perindag dan Dinas Koperasi membuktikan bahwa komunikasi vertikal yang efektif antara desa dan kabupaten adalah kunci pembuka sumber daya yang selama ini tidak terjangkau. [1]
Faktor kedua adalah keunikan motif Selingkuh sebagai unique selling proposition yang tidak dapat direplikasi oleh desa lain, memberikan Pelambik posisi merek yang kuat dalam pasar songket Lombok yang sudah ramai. [6] Penelitian tentang motif kain songket Lombok menunjukkan bahwa diferensiasi motif adalah strategi utama dalam membedakan produk tenun antar sentra, karena wisatawan dan kolektor cenderung mencari kekhasan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. [6] Nama “Selingkuh” yang mengundang tawa dan rasa penasaran secara alami menjadi pembicaraan organik yang mempercepat penyebaran cerita tentang Pelambik dari mulut ke mulut tanpa biaya promosi apapun. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak awal yang paling terasa adalah meningkatnya visibilitas Desa Pelambik di tingkat kabupaten dan provinsi: pemberitaan di media Lombok Post dan perhatian formal DPRD Lombok Tengah menempatkan Pelambik dalam peta pengembangan industri kreatif NTB yang sebelumnya hanya mencakup Sukarara dan beberapa desa yang sudah lebih dulu dikenal. [1] Perajin tenun Pelambik mulai aktif memasarkan produk mereka secara digital melalui media sosial, termasuk akun Instagram aktif yang memperlihatkan koleksi songket berbagai motif dari Pelambik kepada pasar yang lebih luas. [8] Momentum ini membuka harapan konkret bagi perajin bahwa keahlian tenun mereka memiliki nilai pasar yang nyata dan bisa menjadi sumber penghasilan utama, bukan sekadar kegiatan sambilan. [4]
Dari sisi perekonomian desa, pengembangan songket berpotensi memberikan dampak berganda: peningkatan penghasilan perajin langsung, penciptaan lapangan kerja bagi penyedia bahan baku, pengepak produk, dan pemandu wisata tenun, serta peningkatan PADes melalui BUMDes sebagai pengelola rantai nilai. [4] Di Desa Setanggor yang memiliki karakteristik serupa, harga songket berkisar antara Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per lembar tergantung kerumitan motif dan kualitas benang, memberikan gambaran potensi pendapatan yang signifikan bagi perajin Pelambik jika akses pasar terbuka. [7] Secara kualitatif, semangat melestarikan tradisi menenun Sasak kembali hidup di Pelambik seiring dengan terbukanya harapan bahwa kerajinan leluhur ini bisa menghidupi generasi yang akan datang. [2]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah persaingan dengan dominasi Desa Sukarara yang sudah memiliki infrastruktur pariwisata, jaringan distributor, dan reputasi internasional yang dibangun selama puluhan tahun. [3] Kain tenun Sukarara bahkan memiliki kebijakan eksklusif tidak dijual di tempat lain guna menarik wisatawan langsung ke desa, sebuah strategi yang membutuhkan ekosistem pariwisata matang yang Pelambik belum miliki. [3] Membangun reputasi pasar dari nol membutuhkan waktu, konsistensi kualitas, dan investasi promosi yang melebihi kemampuan desa secara mandiri tanpa dukungan berkelanjutan dari pemerintah kabupaten dan provinsi. [4]
Tantangan kedua adalah ketersediaan dan konsistensi bahan baku berupa benang emas, benang perak, dan benang katun berkualitas yang harganya berfluktuasi dan seringkali tidak tersedia di tingkat lokal, sehingga perajin harus mendatangkan dari Mataram atau Surabaya dengan biaya tambahan yang menekan margin keuntungan. [7] Proses produksi yang panjang — satu hingga tiga bulan untuk motif rumit — juga membutuhkan modal kerja yang tidak kecil untuk menutup kebutuhan hidup perajin selama proses berlangsung, sehingga sistem pembiayaan mikro dari BUMDes atau koperasi menjadi kebutuhan mendesak. [7]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang bergantung pada kemampuan BUMDes Pelambik membangun ekosistem bisnis yang melingkupi pengadaan bahan baku kolektif, pengelolaan stok produk, standarisasi kemasan, dan pemasaran multi-kanal yang mencakup platform digital, pasar seni Kuta, dan Bazar Mandalika. [1] Regenerasi perajin melalui program pelatihan tenun bagi generasi muda perempuan desa — mengikuti tradisi Sasak di mana kemampuan menenun menjadi bagian dari kematangan perempuan yang diakui komunitas — menjadi investasi sumber daya manusia paling kritis untuk masa depan songket Pelambik. [2]
Sertifikasi dan paten motif Selingkuh sebagai kekayaan intelektual komunitas Desa Pelambik perlu segera diproses melalui Kementerian Hukum dan HAM untuk memberikan perlindungan hukum dan nilai eksklusivitas yang lebih kuat di pasar. [6] Integrasi songket Pelambik ke dalam paket wisata Mandalika dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika melalui kerja sama dengan hotel-hotel dan agen perjalanan di kawasan tersebut akan menciptakan pasar captive yang stabil dan tidak bergantung sepenuhnya pada musim balapan. [5]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Pengembangan songket Pelambik mengintegrasikan pelestarian warisan budaya takbenda Suku Sasak dengan pemberdayaan ekonomi perempuan dan penguatan kelembagaan desa dalam satu gerakan yang sejalan dengan prinsip-prinsip SDGs secara menyeluruh. [2] Inovasi ini membuktikan bahwa aset budaya lokal, jika dikelola dengan strategi ekonomi kreatif yang tepat, mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi inklusif yang sekaligus menjaga identitas budaya dari ancaman kepunahan. [4]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Pengembangan songket sebagai komoditas ekonomi kreatif memberikan sumber penghasilan baru yang berkelanjutan bagi perajin dan keluarga mereka, mengurangi kerentanan ekonomi warga Pelambik yang selama ini bergantung pada sektor pertanian musiman. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | : | Menenun songket adalah tradisi perempuan Sasak yang memberi perempuan Pelambik peran ekonomi produktif sebagai penghasil kain bernilai tinggi, menjadikan mereka aktor ekonomi utama dalam rumah tangga dan komunitas desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | BUMDes Pelambik sebagai pengelola rantai nilai songket menciptakan pekerjaan layak bagi perajin, penyedia bahan baku, tenaga pengepak, dan pengelola pemasaran, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif desa yang berbasis potensi budaya lokal. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Pengembangan songket Pelambik memecah monopoli industri tenun Lombok yang selama ini terkonsentrasi di Desa Sukarara, membuka akses pasar dan kesempatan ekonomi yang lebih adil bagi perajin di desa-desa yang selama ini terpinggirkan. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan | : | Pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya memperkuat identitas Desa Pelambik sebagai komunitas yang membanggakan warisan leluhurnya, mendorong warga muda untuk tetap tinggal dan berkarya di desa alih-alih bermigrasi ke kota. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, DPRD Lombok Tengah, Dinas Perindag, Dinas Koperasi dan UKM, serta pengelola Kawasan Mandalika menciptakan kemitraan multipihak yang mengakselerasi pengembangan industri songket Pelambik secara terpadu. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pelambik sangat relevan direplikasi oleh desa-desa penghasil tenun di NTB dan wilayah Indonesia Timur lainnya yang memiliki tradisi menenun namun belum mendapat pengakuan pasar yang setimpal dengan kualitas produk mereka. [4] Kunci replikasinya adalah dua elemen inti: pertama, identifikasi motif eksklusif yang menjadi identitas tak tertandingi — setiap desa pasti memiliki satu motif atau teknik yang tidak ada di desa lain jika digali dengan serius; kedua, pembentukan BUMDes sebagai agregator rantai nilai yang menghubungkan produksi perajin rumahan dengan pasar yang lebih luas. [6]
Untuk scale up, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perindustrian dapat mengembangkan program “Desa Tenun Nusantara” yang mendampingi desa-desa penghasil tenun tradisional untuk memperoleh paten motif, sertifikasi GI (geographical indication), standarisasi kemasan premium, dan akses pasar di kawasan ekonomi khusus pariwisata seperti Mandalika, Labuan Bajo, dan destinasi super-prioritas lainnya. [5] Kekuatan songket Pelambik justru terletak pada keberaniannya berbeda — dan itulah pesan terpenting bagi setiap desa yang ingin bersaing di pasar ekonomi kreatif yang semakin global dan haus akan keotentikan. [6]
Daftar Pustaka
[1] Lombok Post/JawaPos Group, “Yuk Lihat, Songket Selingkuh Khas Desa Pelambik, Loteng,” lombokpost.jawapos.com, 22 Feb. 2020. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/praya/2002220007/yuk-lihat-songket-selingkuh-khas-desa-pelambik-loteng
[2] Budaya Indonesia, “Kerajinan Tenun Lombok,” budaya-indonesia.org, 22 Feb. 2017. [Online]. Available: https://budaya-indonesia.org/Kerajinan-Tenun-Lombok
[3] Antara NTB, “Kain Songket Lombok Tengah di Antara Budaya dan Agama,” antaranews.com, 30 Okt. 2022. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/3213737/kain-songket-lombok-tengah-di-antara-budaya-dan-agama
[4] Diskominfo Lombok Tengah, “Promosi UMKM: Tenun Tenar, Warisan Rasa Lombok Tengah,” Facebook Diskominfo Lombok Tengah, 21 Jan. 2026. [Online]. Available: https://www.facebook.com/diskomdigilomboktengahkab
[5] Kementerian Pariwisata RI, “Pengembangan Destinasi Pariwisata Super Prioritas Mandalika,” Laporan Program Pariwisata, 2022.
[6] Fitinline, “Jenis-Jenis Motif Kain Songket Lombok Lengkap dengan Fungsi dan Makna Filosofinya,” fitinline.com, 8 Ags. 2019. [Online]. Available: https://fitinline.com/article/read/jenis-jenis-motif-kain-songket-lombok-lengkap-dengan-fungsi-dan-makna-filosofinya/
[7] I. Riska, “Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Kain Tenun Songket di Desa Setanggor Kecamatan Praya Barat,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Mataram, Sep. 2022. [Online]. Available: https://repository.ummat.ac.id/5959/
[8] Ida Songket Lombok, “Ready Stok Motif Keker, Asli Tenun Lombok Tengah,” Instagram @ida_songket_lombok, Desa Pelambik, Praya Barat Daya, 22 Mar. 2026. [Online]. Available: https://www.instagram.com/p/DWOaBiOE6Fs/
[9] Repositori Kemdikbud, “Kain Songket Lombok,” Museum Negeri Provinsi NTB — Kemendikbud RI. [Online]. Available: https://repositori.kemdikbud.go.id/29785/1/KAIN%20SONGKET%20LOMBOK.PDF
[10] M. Aseani, “Sesek Lombok, Tenun Songket Tradisi dan Kekinian,” muslifaaseani.com, 15 Okt. 2015. [Online]. Available: https://www.muslifaaseani.com/2015/10/sesek-lombok-tenun-songket-tradisi-dan.html
