Ringkasan Inovasi
Desa Sukadamai di Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, mengembangkan kawasan Mada Oi Kampasi menjadi agrowisata dan taman buah yang memadukan wisata alam, hasil hutan bukan kayu, dan kebun produktif masyarakat. [1] Inovasi ini tumbuh dari inisiatif Kelompok Tani dan Kelompok Sadar Wisata Kampasi yang melihat mata air, lahan hijau, dan kawasan hutan sekitar bukan sebagai ruang pasif, melainkan sebagai sumber ekonomi desa yang harus dijaga sekaligus dimanfaatkan secara lestari. [2]
Tujuan utama inovasi ini adalah mengubah kawasan yang sebelumnya kurang tertata menjadi ruang ekonomi baru yang memberi manfaat langsung bagi petani, pelaku wisata, dan Pemerintah Desa melalui potensi PADes. [3] Dukungan monitoring, evaluasi, dan supervisi Dana Desa dari Dinas PMDPD Kabupaten Dompu serta keterlibatan KPH Tambora memperkuat arah pengembangan Mada Oi Kampasi sebagai agrowisata berbasis lingkungan yang semakin dikenal masyarakat. [1]
| Nama Inovasi | : | Agrowisata dan Taman Buah Mada Oi Kampasi |
| Alamat | : | Desa Sukadamai, Kecamatan Manggelewa, Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat |
| Inovator | : | Kelompok Tani Mada Oi Kampasi dan Kelompok Sadar Wisata Kampasi bersama Pemerintah Desa Sukadamai, didukung KPH Tambora dan Pemerintah Kabupaten Dompu |
| Kontak | : | Pemerintah Desa Sukadamai, Kecamatan Manggelewa, Dompu | Komunitas Wisata Alam Oi Kampasi |
Latar Belakang
Di tengah bentang alam Manggelewa yang panas dan kering pada sebagian musim, mata air Kampasi menjadi sumber kehidupan yang amat penting bagi masyarakat sekitar. [4] Namun potensi kawasan ini lama dipandang sebatas ruang alam biasa, padahal ia memiliki air jernih, vegetasi yang sejuk, dan lanskap yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis pertanian dan hutan. [2] Kebutuhan terbesar warga saat itu adalah membuka sumber ekonomi baru yang tidak semata bergantung pada pola pertanian konvensional.
Sejak 2015, masyarakat Desa Sukadamai di kawasan Kampasi mulai melakukan rehabilitasi areal yang sebelumnya hanya menjadi ladang dan ruang terbuka yang belum tertata optimal. [5] Mereka menanam pohon, menghijaukan kawasan, dan perlahan membangun kesadaran bahwa hutan bukan kayu serta jasa lingkungan wisata alam dapat memberi nilai tambah ekonomi tanpa merusak fungsi ekologis kawasan. [5] Kesadaran ini menjadi titik balik yang mengubah cara pandang warga terhadap hubungan antara hutan, air, dan kesejahteraan.
Peluang itu semakin terbuka ketika pemerintah daerah dan KPH Tambora melihat semangat warga yang konsisten. [6] Pemerintah Kabupaten Dompu melalui Dinas PMDPD turun melakukan monitoring dan evaluasi, sementara BKPH/KPH Tambora mendorong pengembangan kawasan wisata alam dan kebun buah berbasis lingkungan pada lahan sekitar 25 hektare. [6] Dari sinilah Mada Oi Kampasi lahir bukan sebagai proyek sesaat, melainkan sebagai ikhtiar bersama untuk membangun ekonomi desa dari sumber daya alam yang dijaga.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan di Desa Sukadamai adalah pengembangan agrowisata ruang terbuka yang memadukan wisata pemandian, wisata petik buah dan sayur, pola tanam tumpang sari, serta pengalaman berwisata di kawasan hutan yang tetap lestari. [3] Mada Oi Kampasi tidak hanya menjual pemandangan, tetapi menghadirkan ekosistem produksi dan rekreasi sekaligus—pengunjung datang untuk menikmati kolam mata air, sementara kawasan kebun dan tanaman buah dibangun sebagai basis nilai ekonomi jangka panjang bagi masyarakat. [7]
Secara teknis, inovasi ini bekerja melalui pengelolaan kolaboratif. [2] Poktan mengelola penanaman, pemeliharaan kebun, dan penguatan hasil hutan bukan kayu, sedangkan Pokdarwis mengelola kunjungan, kenyamanan wisatawan, dan promosi destinasi. [1] Mata air Oi Kampasi menjadi inti daya tarik dengan kolam pemandian berukuran sekitar 8 x 30 meter untuk dewasa dan anak-anak, sedangkan kebun buah, sayuran, serta ruang hijau membentuk pengalaman agrowisata yang berbeda dari objek wisata air biasa. [7]
Proses Penerapan Inovasi
Proses inovasi dimulai dari kerja sunyi masyarakat yang merehabilitasi kawasan sejak 2015. [5] Mereka menanam pohon, menjaga mata air, dan membersihkan kawasan yang sebelumnya belum tertata. [5] Pada tahap awal ini, keberhasilan belum terlihat dalam bentuk infrastruktur megah, tetapi dalam lahirnya komitmen warga untuk bekerja bersama menjaga sumber air dan ruang hijau yang mereka miliki.
Tahap berikutnya bergerak ke arah penataan fungsi kawasan. [6] KPH Tambora bersama kelompok masyarakat merancang kawasan untuk kolam pemandian, kebun buah-buahan, kolam ikan, area kuliner tradisional, dan beberapa fasilitas pendukung wisata alam. [6] Pada fase ini, desa belajar bahwa membangun destinasi wisata tidak cukup dengan membuka lokasi, tetapi harus menata alur kunjungan, menyiapkan atraksi, dan memastikan pengunjung datang tanpa merusak kawasan.
Pada tahap implementasi, pemerintah daerah ikut masuk melalui fungsi supervisi dan dukungan anggaran Dana Desa. [1] Tim monitoring turun langsung ke lapangan untuk mengevaluasi perkembangan kawasan, sementara dukungan tambahan anggaran disiapkan untuk percepatan pembangunan wisata dan kebun buah. [1] Dalam praktiknya, proses ini juga menghadapi pembelajaran penting: penelitian Universitas Udayana menemukan bahwa Oi Kampasi masih tergolong agrowisata berkembang yang belum tertata optimal dan belum buka setiap hari, sehingga pengelola harus terus memperbaiki tata kelola dan konsistensi layanan. [3]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah ketekunan masyarakat lokal yang tidak menunggu perubahan datang dari luar. [5] Poktan dan Pokdarwis Kampasi bergerak dari bawah dengan modal utama kerja bersama, kesabaran menanam, dan kemauan menjaga kawasan agar tetap hijau serta menarik. [2] Semangat warga inilah yang membuat dukungan pemerintah kemudian memiliki tempat berpijak yang kuat.
Faktor kedua adalah kolaborasi lintas pihak yang terbangun cukup baik. [1] Dinas PMDPD Dompu menjalankan peran monitoring dan evaluasi, KPH Tambora membuka dukungan teknis serta jejaring kehutanan, dan pemerintah desa memberi ruang pemanfaatan Dana Desa untuk pengembangan kawasan. [6] Dalam pengembangan agrowisata berbasis hasil hutan bukan kayu, dukungan semacam ini sangat penting karena pengelolaan wisata alam membutuhkan kerja bersama, bukan kerja satu lembaga saja.
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara fisik, Mada Oi Kampasi berubah menjadi kawasan yang lebih hijau, lebih tertata, dan lebih hidup dibanding sebelumnya. [1] Pengunjung kini dapat menikmati pemandian dari mata air alami, suasana yang sejuk, dan kawasan yang dipadati pohon buah. [1] Perubahan visual ini penting karena menjadi bukti bahwa rehabilitasi kawasan dapat berjalan seiring dengan penciptaan nilai ekonomi desa.
Secara ekonomi, agrowisata ini mulai menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan membuka peluang PADes pada masa depan. [1] Saat Oi Kampasi mulai ramai dikunjungi, harga tiket masuk tercatat sekitar Rp 5.000 per orang, angka yang cukup terjangkau untuk menarik kunjungan massal pada akhir pekan dan musim kemarau. [7] Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Dompu memiliki daya beli yang cukup baik untuk membeli hasil panen kebun Oi Kampasi, sehingga kawasan ini tidak hanya hidup dari tiket, tetapi juga berpotensi dari penjualan buah, sayur, dan produk lokal lainnya. [3]
Secara kualitatif, dampak lain yang menonjol adalah tumbuhnya kebanggaan warga terhadap kawasan mereka sendiri. [8] Mada Oi Kampasi menjadi ruang belajar bahwa hutan dan mata air tidak harus dijaga dengan cara menutup akses sepenuhnya, melainkan dapat dikelola bijak agar memberi manfaat ekonomi tanpa kehilangan fungsi ekologisnya. [3] Inovasi ini juga menumbuhkan harapan baru bahwa desa dapat menciptakan masa depan yang lebih baik melalui pengelolaan sumber daya lokal secara kreatif.
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar Mada Oi Kampasi adalah konsistensi penataan dan pelayanan wisata. [3] Penelitian Universitas Udayana menegaskan bahwa kelemahan Oi Kampasi masih terlihat pada tata ruang yang belum rapi, operasional yang belum buka setiap hari, dan kebutuhan penguatan daya tarik wisata agar pengunjung datang lebih rutin. [3] Kelemahan ini membuat potensi ekonomi belum sepenuhnya berubah menjadi hasil optimal.
Tantangan lain datang dari faktor eksternal seperti keamanan, persaingan antarobjek wisata, dan kebutuhan investasi lanjutan untuk fasilitas pendukung. [3] Kawasan wisata berbasis alam juga sangat bergantung pada kemampuan menjaga kebersihan, kualitas air, dan kenyamanan pengunjung. [7] Jika aspek-aspek ini tidak dijaga, maka keunggulan utama Mada Oi Kampasi sebagai wisata alam yang asri justru bisa memudar perlahan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan Mada Oi Kampasi bertumpu pada penguatan model kolaborasi antara Poktan, Pokdarwis, pemerintah desa, KPH Tambora, dan pemerintah kabupaten. [1] Selama pembagian peran antaraktor tetap jelas, kawasan ini dapat terus berkembang tanpa kehilangan arah dasarnya sebagai agrowisata berbasis konservasi. [3] Reinvestasi dari pendapatan wisata dan dukungan Dana Desa yang diawasi secara baik akan menjadi bahan bakar penting bagi keberlanjutan tersebut.
Dari sisi usaha, keberlanjutan perlu dijaga melalui diversifikasi sumber pendapatan. [3] Pengembangan kebun buah, wisata petik, kuliner tradisional, kolam ikan, gazebo, dan produk hasil hutan bukan kayu akan membuat Mada Oi Kampasi tidak hanya bergantung pada tiket pemandian semata. [6] Pendekatan ini akan membuat kawasan lebih tahan terhadap fluktuasi kunjungan dan memberi manfaat ekonomi yang lebih merata bagi warga.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Agrowisata Mada Oi Kampasi berkontribusi pada sejumlah tujuan SDGs karena inovasi ini menghubungkan konservasi lingkungan, kerja kelompok masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, dan penguatan kelembagaan desa dalam satu ruang yang sama. [3] Desa Sukadamai menunjukkan bahwa pembangunan berbasis sumber daya alam dapat berjalan searah dengan prinsip keberlanjutan jika masyarakat menjadi aktor utamanya. [5]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Pengembangan agrowisata dan taman buah membuka peluang pendapatan baru bagi kelompok tani, pengelola wisata, penjual kuliner, dan warga sekitar, sehingga membantu memperluas sumber nafkah rumah tangga desa di luar pertanian biasa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Mada Oi Kampasi menciptakan aktivitas ekonomi baru berbasis wisata alam, petik buah, dan hasil hutan bukan kayu, sekaligus berpotensi menjadi sumber PADes yang memperkuat pertumbuhan ekonomi desa secara lebih berkelanjutan. |
| SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab | : | Pengelolaan kawasan berbasis hasil hutan bukan kayu dan pola tanam tumpang sari menunjukkan praktik pemanfaatan sumber daya yang tetap menjaga fungsi ekologis, sehingga produksi ekonomi tidak dilakukan dengan merusak hutan. |
| SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim | : | Penghijauan kawasan sejak 2015, perlindungan mata air, dan rehabilitasi vegetasi lokal berkontribusi pada upaya adaptasi lingkungan desa terhadap tekanan iklim dan penurunan kualitas lahan. |
| SDGs 15: Ekosistem Daratan | : | Agrowisata ini menghidupkan kembali kawasan hutan dan mata air melalui pendekatan konservasi produktif, memperlihatkan bahwa perlindungan ekosistem daratan dapat berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan warga. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara Poktan, Pokdarwis, Pemerintah Desa Sukadamai, Dinas PMDPD Dompu, dan KPH Tambora menunjukkan bahwa inovasi desa akan berkembang lebih cepat ketika dibangun melalui kemitraan multipihak yang saling menguatkan. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Mada Oi Kampasi sangat relevan direplikasi di desa-desa lain yang memiliki mata air, kawasan hijau, atau lahan hutan yang selama ini belum dikelola secara produktif. [3] Inti pelajarannya bukan pada bentuk fisik kolam atau kebun buah semata, melainkan pada kemampuan masyarakat memulai dari rehabilitasi, menata kawasan secara bertahap, lalu membangun kelembagaan pengelola yang berbagi peran jelas. [5] Desa lain bisa meniru pendekatan ini dengan menyesuaikannya pada potensi lokal masing-masing.
Untuk scale up, Mada Oi Kampasi dapat dikembangkan menjadi pusat agrowisata desa berbasis HHBK dan jasa lingkungan wisata alam di Kabupaten Dompu. [1] Pengembangan lebih lanjut dapat mencakup promosi terpadu tingkat kabupaten, penyusunan paket wisata edukasi, peningkatan kualitas fasilitas, dan penguatan pasar untuk produk kebun serta kuliner lokal. [6] Jika langkah ini dijalankan konsisten, Desa Sukadamai berpeluang menjadi rujukan penting bagi desa-desa lain di NTB dalam mengembangkan wisata alam yang lestari sekaligus produktif.
Daftar Pustaka
[1] Kahaba.net, “Mada Oi Kampasi Terus Disulap Jadi Agrowisata dan Taman Buah,” kahaba.net, 22 Des. 2018. [Online]. Available: https://kahaba.net/mada-oi-kampasi-terus-disulap-jadi-agrowisata-dan-taman-buah
[2] Kahaba.net, “Bangun Agro Wisata, BKPH Tambora Cari Investor,” kahaba.net, 4 Okt. 2018. [Online]. Available: https://kahaba.net/bangun-agro-wisata-bkph-tambora-cari-investor
[3] I. K. W. Adinata, I. M. Sarjana, dan I. G. S. A. Putra, “Strategi Pengembangan Agrowisata Oi Kampasi di Desa Sukadamai Kecamatan Manggelewa Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat,” Jurnal Agribisnis dan Agrowisata, Universitas Udayana. [Online]. Available: https://ejournal1.unud.ac.id/index.php/JAA/article/download/4315/2342/23477
[4] Kompasiana, “Destinasi Wisata Oi Kampasi Manggelewa, Butuh Perhatian Semua Pihak,” kompasiana.com, 8 Jul. 2020. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/suradin/5f074ad9097f360d730ddf22/destinasi-wisata-oi-kampasi-manggelewa-butuh-perhatian-semua-pihak
[5] Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, “Bekerja dari Tapak,” Buletin SI PHL, edisi 8. [Online]. Available: https://phl.kehutanan.go.id/media/buletin/1605717957-edisi8.pdf
[6] TalikaNews, “BKPH Tambora Cari Investor Bangun Agro Wisata di Dompu,” talikanews.com, 6 Okt. 2018. [Online]. Available: https://www.talikanews.com/2018/10/06/bkph-tambora-cari-investor-bangun-agro-wisata-di-dompu/
[7] Kumparan, “Oi Kampasi, Kolam di Dompu NTB yang Ramai Dikunjungi saat Kemarau,” kumparan.com, 10 Des. 2019. [Online]. Available: https://kumparan.com/infodompu/oi-kampasi-kolam-di-dompu-ntb-yang-ramai-dikunjungi-saat-kemarau-1sQFX1Cr8H9
[8] Bimakini, “Wisata Agro Oi Kampasi Meci Ramai Dikunjungi Warga,” bimakini.com, 16 Jan. 2020. [Online]. Available: https://www.bimakini.com/wisata-agro-oi-kampasi-meci-ramai-dikunjungi-warga/
[9] YouTube, “Dompu NTB Manggelewa // Wisata Pemandian Mada Oi Kampasi,” YouTube, 27 Mar. 2021. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=KY77rIuyZWw
