Ringkasan Inovasi
Desa Pejambon di Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, mengembangkan model pembangunan menyeluruh yang bertumpu pada aspirasi warga, partisipasi tinggi masyarakat, dan tata kelola desa yang transparan. [1] Inovasi ini menggabungkan pembangunan fisik, penguatan layanan dasar, pemberdayaan perempuan, digitalisasi pemantauan sosial melalui aplikasi Dasa Wisma, serta penguatan ekonomi desa lewat BUMDes dan industri rumah tangga berbasis potensi lokal. [2]
Tujuan utama inovasi ini adalah memastikan Dana Desa benar-benar menyentuh kebutuhan paling mendesak warga sambil mendorong perubahan sosial yang berkelanjutan. [3] Hasilnya terlihat pada meningkatnya partisipasi warga dalam pembangunan, membaiknya kualitas lingkungan permukiman, menguatnya kelembagaan desa, dan tumbuhnya usaha lokal berbasis kedelai, batik Jonegoroan, serta kerajinan keset. [4]
| Nama Inovasi | : | Pembangunan Menyeluruh Berbasis Aspirasi dan Partisipasi Masyarakat Desa Pejambon |
| Alamat | : | Desa Pejambon, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur |
| Inovator | : | Abd. Rokhman (Kepala Desa Pejambon) bersama Pemerintah Desa, Pokja GDSC, BUMDes Sarana Mandiri, kader perempuan Dasa Wisma, dan masyarakat Desa Pejambon |
| Kontak | : | Website: pejambon-bjn.desa.id | E-mail : pejambonbestari@gmail.com | FB: PEJAMBON BESTARI |Twitter : @PEJAMBONBESTARI |
Latar Belakang
Desa Pejambon adalah desa agraris dengan jumlah penduduk sekitar 2.000 jiwa yang menggantungkan hidup terutama pada sektor pertanian, khususnya kedelai. [5] Di balik potensi itu, desa ini menghadapi tantangan klasik pedesaan: kualitas permukiman warga miskin yang belum sehat, kebutuhan sanitasi lingkungan, keterbatasan layanan dasar, dan perlunya saluran ekonomi yang lebih kuat agar hasil pertanian tidak berhenti pada bahan mentah. [1] Pemerintah desa melihat bahwa pembangunan tidak bisa lagi berjalan sektoral dan parsial jika ingin menjawab persoalan warga secara tuntas.
Sejak 2015, Dana Desa yang diterima Pejambon terus meningkat, bahkan pada 2017 tercatat naik 27 persen dibanding 2016. [1] Pada 2017, alokasi Dana Desa mencapai Rp 789 juta dan realisasi semester awalnya sebesar Rp 431 juta untuk infrastruktur, sarana-prasarana, kegiatan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. [1] Kenaikan anggaran ini membuka peluang besar, tetapi juga menuntut tata kelola yang lebih matang agar setiap rupiah benar-benar menjawab kebutuhan nyata warga.
Peluang perubahan itu kemudian dipadukan dengan semangat Gerakan Desa Sehat dan Cerdas (GDSC) yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui Perbup Nomor 47 Tahun 2014. [6] Pejambon tidak hanya mengikuti program ini secara administratif, tetapi menjadikannya sebagai kerangka pembangunan desa yang hidup di lapangan. [7] Dari sini lahir pendekatan pembangunan menyeluruh yang menempatkan aspirasi warga sebagai titik tolak seluruh keputusan pembangunan.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Pejambon adalah cara menggabungkan pembangunan fisik, pemberdayaan sosial, layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi ke dalam satu desain pembangunan partisipatif. [3] Pemerintah desa menempatkan musyawarah, transparansi, dan akuntabilitas sebagai fondasi, lalu menerjemahkannya ke dalam program nyata seperti plesterisasi lantai 115 rumah warga miskin, pembangunan saluran pembuangan air limbah sepanjang 277 meter, penyusunan rencana tata ruang RT/RW, penguatan Posyandu, aplikasi Dasa Wisma, dan penguatan BUMDes. [1]
Inovasi ini bekerja melalui dua lapis mekanisme. [7] Lapis pertama adalah pembangunan berbasis kebutuhan yang dihimpun dari warga dan dikerjakan oleh masyarakat sendiri agar manfaatnya langsung terasa dan menciptakan tambahan pendapatan keluarga. [7] Lapis kedua adalah penguatan kelembagaan lokal, terutama kelompok perempuan, Posyandu, dan BUMDes Sarana Mandiri, sehingga desa tidak hanya membangun fisik tetapi juga membangun kemampuan kolektif untuk mengelola perubahan secara berkelanjutan. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Proses inovasi dimulai dengan pembentukan dasar hukum dan organisasi kerja. [7] Pemerintah Desa Pejambon menetapkan Perdes Nomor 03 Tahun 2016 tentang percepatan program GDSC dan membentuk Tim Pokja melalui SK Kepala Desa Nomor 07 Tahun 2016. [7] Langkah ini penting karena membuat pembangunan tidak bergantung pada figur semata, tetapi ditopang sistem dan pembagian peran yang jelas.
Pada tahap perencanaan, usulan warga dan lembaga desa dikumpulkan, dipilah, lalu diprioritaskan sesuai indikator desa sehat dan cerdas. [7] Pemerintah desa mengoptimalkan alokasi APBDes untuk program yang langsung menyentuh kualitas hidup warga, bahkan pada pelaksanaan awal GDSC disebutkan sekitar 90 persen dari 70 persen APBDes diarahkan untuk usulan warga dan lembaga desa. [7] Pendekatan ini menumbuhkan rasa memiliki karena warga melihat usulan mereka benar-benar diterjemahkan menjadi kegiatan nyata.
Pada tahap implementasi, hampir seluruh pekerjaan pembangunan dilakukan oleh masyarakat Desa Pejambon sendiri. [7] Cara ini bukan hanya menekan biaya, tetapi juga menjadikan pembangunan sebagai sarana pemberdayaan ekonomi lokal. [1] Dalam prosesnya, desa juga belajar bahwa tidak semua kebutuhan bisa ditangani sekaligus, sehingga prioritisasi menjadi keterampilan penting agar pembangunan tetap realistis, bertahap, dan terukur.
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu pertama adalah kepemimpinan desa yang konsisten memegang asas transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. [1] Pernyataan Kepala Desa Abd. Rokhman bahwa dana desa harus “betul-betul bisa bermanfaat dan berjalan secara maksimal” mencerminkan orientasi pelayanan yang jelas dan membumi. [1] Ketika pemerintah desa membuka ruang informasi dan memberi tempat bagi suara warga, partisipasi masyarakat tumbuh sebagai energi utama pembangunan.
Faktor kedua adalah kekuatan lembaga lokal yang aktif bekerja, bukan sekadar tercatat di struktur organisasi. [2] Pokja GDSC memastikan agenda kesehatan dan pendidikan bergerak, kader Dasa Wisma memantau perkembangan sosial warga secara rutin, dan BUMDes Sarana Mandiri membuka saluran ekonomi desa melalui unit usaha yang relevan. [8] Kunci keberhasilan Pejambon bukan hanya pada besarnya anggaran, tetapi pada kemampuan mengubah anggaran menjadi gerak kolektif warga.
Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kuantitatif, Desa Pejambon berhasil memplester lantai 115 rumah warga miskin, membangun saluran pembuangan air limbah sepanjang 277 meter, dan menyusun rencana tata ruang RT/RW sebagai dasar pengelolaan ruang desa. [1] Sebanyak 48 persen APBDes diarahkan untuk pembangunan fisik prioritas, 12 persen untuk pembinaan kemasyarakatan, dan sekitar 10 persen untuk pemberdayaan BUMDes. [1] Angka-angka ini menunjukkan bahwa desa tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga menyiapkan fondasi sosial dan ekonomi secara seimbang.
Secara kualitatif, perubahan paling terasa hadir di lingkungan tempat tinggal warga. [7] Rumah yang lebih sehat, sanitasi yang lebih baik, serta penguatan Posyandu dan layanan kesehatan dasar membuat kualitas hidup warga meningkat secara bertahap. [1] Di sisi lain, aplikasi Dasa Wisma membantu kader perempuan memantau kondisi sosial warga secara lebih teratur sehingga intervensi sosial bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Dampak ekonomi juga tumbuh lewat penguatan usaha lokal. [4] Potensi kedelai diolah menjadi susu kedelai, keripik tempe, tahu, dan tempe melalui kelompok usaha bersama, sementara industri rumah tangga lain menghasilkan batik Jonegoroan, batik painting, dan keset lantai. [9] BUMDes Sarana Mandiri kemudian memperluas peran desa melalui wisata edukasi museum pertanian, layanan pembayaran listrik, jaringan WiFi, jasa konstruksi, dan niaga air minum mineral, yang menjadikan ekonomi desa lebih beragam dan tangguh. [8]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama Desa Pejambon adalah menjaga ritme partisipasi masyarakat agar tetap tinggi dari tahun ke tahun. [10] Partisipasi yang kuat pada awal program bisa melemah jika warga merasa usulan mereka tidak lagi relevan atau jika proses komunikasi pemerintah desa tidak konsisten. [7] Karena itu, transparansi bukan boleh menjadi slogan sesaat, melainkan harus terus dipelihara melalui komunikasi terbuka dan evaluasi bersama.
Tantangan lainnya adalah meningkatkan kapasitas kelembagaan ekonomi desa agar mampu bersaing di tengah perubahan pasar. [8] Produk olahan kedelai, batik, dan kerajinan memerlukan inovasi desain, pengemasan, dan pemasaran agar tidak kalah oleh produk luar. [4] Jika penguatan kapasitas usaha tidak berjalan seiring dengan pembangunan fisik, maka manfaat ekonomi jangka panjang bisa tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi di Pejambon dijaga melalui pelembagaan program dan pembagian peran antaraktor desa. [7] Selama program bertumpu pada Perdes, Pokja aktif, kader perempuan, Posyandu, dan BUMDes, maka inovasi tidak mudah berhenti ketika terjadi pergantian kepemimpinan. [2] Inilah kekuatan utama model Pejambon: membangun sistem kerja, bukan hanya membangun proyek.
Di sisi ekonomi, strategi keberlanjutan diarahkan pada penguatan unit usaha berbasis potensi lokal dan layanan desa yang dibutuhkan warga setiap hari. [8] BUMDes Sarana Mandiri sudah menunjukkan arah itu melalui diversifikasi usaha yang tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja. [8] Jika diversifikasi ini terus diperkuat dengan peningkatan kualitas produk dan pemasaran, maka Desa Pejambon memiliki fondasi yang cukup kuat untuk menjaga keberlanjutan inovasinya dalam jangka panjang.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Pembangunan menyeluruh berbasis aspirasi di Desa Pejambon berkontribusi pada sejumlah tujuan SDGs karena inovasi ini menyentuh kesehatan, ekonomi, tata kelola, permukiman, dan penguatan kelembagaan warga secara sekaligus. [6] Model ini memperlihatkan bahwa ketika pembangunan desa dilakukan secara partisipatif, satu program dapat menghasilkan banyak dampak pembangunan secara bersamaan. [3]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Plesterisasi lantai 115 rumah warga miskin dan pembangunan berbasis padat karya membantu memperbaiki kualitas hidup keluarga rentan sekaligus memberi tambahan pendapatan bagi warga yang terlibat dalam pelaksanaan pembangunan. |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | : | Pembangunan saluran pembuangan air limbah, penguatan Posyandu, dan pelaksanaan indikator Desa Sehat dan Cerdas meningkatkan sanitasi, memperkuat layanan kesehatan dasar, dan mendorong lingkungan permukiman yang lebih sehat bagi warga Desa Pejambon. |
| SDGs 5: Kesetaraan Gender | : | Pemberdayaan lembaga perempuan melalui aplikasi Dasa Wisma dan kegiatan kesehatan berbasis kader menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku penting dalam pemantauan sosial dan pengambilan keputusan di tingkat desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Pengolahan kedelai menjadi produk makanan, produksi batik Jonegoroan, batik painting, dan keset, serta penguatan BUMDes Sarana Mandiri memperluas lapangan usaha warga dan memperkuat ekonomi desa berbasis potensi lokal. |
| SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan | : | Perbaikan kualitas rumah, pembangunan sanitasi, dan penyusunan rencana tata ruang RT/RW menjadikan desa lebih tertata, sehat, dan siap berkembang tanpa kehilangan kendali atas penggunaan ruangnya. |
| SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh | : | Penerapan asas transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas dalam penggunaan Dana Desa membangun tata kelola pemerintahan desa yang terbuka, meningkatkan kepercayaan warga, dan memperkuat kelembagaan lokal. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Pejambon sangat mungkin direplikasi oleh desa-desa lain karena inti inovasinya bukan teknologi mahal, melainkan cara kerja yang menempatkan warga sebagai pusat pembangunan. [3] Desa lain dapat mengadopsi langkah Pejambon dengan membentuk dasar hukum program, mengaktifkan Pokja lintas sektor, membuka ruang musyawarah yang jujur, dan memastikan pelaksanaan kegiatan melibatkan warga setempat. [7] Komponen-komponen ini relatif mudah ditiru selama ada kepemimpinan yang konsisten dan komitmen transparansi.
Untuk scale up, pengalaman Pejambon dapat dikembangkan menjadi model pelatihan pembangunan desa partisipatif di tingkat kecamatan maupun kabupaten. [8] Jejak keberhasilan BUMDes Sarana Mandiri yang pernah mewakili Bojonegoro hingga masuk 12 besar lomba BUMDes tingkat Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa praktik baik dari Pejambon sudah memiliki legitimasi sebagai contoh pembelajaran. [11] Jika dikemas sebagai paket pembelajaran yang memadukan tata kelola, kesehatan, pemberdayaan perempuan, dan ekonomi desa, model Pejambon dapat memberi manfaat luas bagi banyak desa agraris lainnya.
Daftar Pustaka
[1] KPPN Bojonegoro, “Success Story Dana Desa di Desa Pejambon Kec. Sumberrejo Kab. Bojonegoro,” YouTube, 2017. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=DTMJpT03wL4
[2] Pemerintah Desa Pejambon, “Badan Usaha Milik Desa,” pejambon-bjn.desa.id, 26 Sep. 2021. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/bumdes/
[3] Pemerintah Desa Pejambon, “GDSC Pejambon,” pejambon-bjn.desa.id, 12 Mei 2017. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/gdsc/
[4] Pemerintah Desa Pejambon, “Kelompok Informasi Masyarakat,” pejambon-bjn.desa.id. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/kelompok-informasi-masyarakat/
[5] Pemerintah Desa Pejambon, “Potensi Desa,” pejambon-bjn.desa.id, 22 Sep. 2018. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/potensi-desa/
[6] Dinas PMD Kabupaten Bojonegoro, “Bojonegoro Canangkan Gerakan Desa Sehat dan Cerdas,” dinpmd.bojonegorokab.go.id, 18 Jun. 2023. [Online]. Available: https://dinpmd.bojonegorokab.go.id/berita/baca/4
[7] Pemkab Bojonegoro, “Strategi Pejambon Penuhi Indikator GDSC,” bojonegorokab.go.id, 24 Jan. 2016. [Online]. Available: https://bojonegorokab.go.id/berita/907/strategi-pejambon-penuhi-indikator-gdsc
[8] Pemkab Bojonegoro, “BUMDes Harus Mampu Dorong Ekonomi Desa, Kembangkan Usaha Berbasis Lokal,” bojonegorokab.go.id, 20 Mei 2021. [Online]. Available: https://bojonegorokab.go.id/berita/5825/bumdes-harus-mampu-dorong-ekonomi-desa-kembangkan-usaha-berbasis-lokal
[9] Pemerintah Desa Pejambon, “Kelompok Usaha Bersama Maju Makmur,” pejambon-bjn.desa.id. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/kelompok-usaha-bersama-maju-makmur/
[10] Pemerintah Desa Pejambon, “Indikator Sehat,” pejambon-bjn.desa.id. [Online]. Available: https://pejambon-bjn.desa.id/indikator-sehat/
[11] Bojonegoro.com, “Wakil Bojonegoro, BUM Desa Sarana Mandiri Pejambon Masuk 12 Besar Tingkat Provinsi,” bojonegoro.com, 14 Jun. 2022. [Online]. Available: https://www.bojonegoro.com/wakil-bojonegoro-bum-desa-sarana-mandiri-pejambon-masuk-12-besar-tingkat-provinsi/
