Ringkasan Inovasi
Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi agrowisata berbasis pertanian lokal melalui pengelolaan kebun durian Montong Cane seluas lima hektar di lahan kas desa oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Inovasi ini mengubah lahan pertanian yang selama ini dikelola secara konvensional oleh kelompok tani menjadi destinasi wisata petik buah yang terintegrasi dengan embung desa, curug, dan potensi kuliner lokal—menjadikan Desa Limbangan sebagai destinasi wisata alternatif yang menarik di kawasan pegunungan Cilacap Barat. [1]
Tujuan inovasi ini adalah mendiversifikasi sumber pendapatan desa, meningkatkan kesejahteraan 28 petani anggota Kelompok Tani Desa Limbangan, dan menggerakkan ekosistem ekonomi lokal yang mencakup perdagangan, kuliner, dan industri kreatif. Keberhasilan agrowisata durian Desa Limbangan mencerminkan semangat Gerakan Desa Membangun—bahwa potensi alam pedesaan, bila dikelola dengan inovasi dan kreativitas yang tepat, dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan. [2]
| Nama Inovasi | : | Agrowisata Durian Montong Cane – BUMDes Limbangan Kelola Kebun Durian 5 Hektar Terintegrasi Embung dan Curug Wisata |
| Alamat | : | Desa Limbangan, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah (53265) |
| Inovator | : | Harsono (Kepala Desa Limbangan), BUMDes Desa Limbangan, Kelompok Tani Desa Limbangan (28 anggota petani) |
| Kontak | : | Jl. Brujulan No. 1 Limbangan, Wanareja, Cilacap | Email: limbanganbalaidesa@gmail.com | Telp: +6285700639870 |
Latar Belakang
Desa Limbangan berada di kawasan pegunungan Kecamatan Wanareja—wilayah Cilacap Barat yang dikenal dengan bentang alam hijau berupa sawah, perkebunan, dan aliran sungai dengan curug-curug alami yang belum banyak dikenal wisatawan. [3] Kecamatan Wanareja menyimpan kekayaan alam luar biasa, namun potensi tersebut belum dikelola secara optimal menjadi sumber pendapatan masyarakat yang terorganisir dan berkelanjutan.
Lahan kas desa seluas lima hektar yang ditanami pohon durian Montong Cane sejak tahun 2012 dikelola secara konvensional oleh 28 petani anggota Kelompok Tani—hanya memanen dan menjual buah tanpa menambahkan nilai lebih melalui konsep wisata. Pendapatan petani sangat bergantung pada fluktuasi harga durian di tingkat pasar, yang kerap merugikan petani saat produksi berlimpah namun pasar tidak mampu menyerap dengan harga layak. [4]
Di sisi kelembagaan, BUMDes Limbangan yang telah terbentuk belum beroperasi seproduktif yang direncanakan. Potensi besar yang dimiliki desa—perkebunan buah, embung desa yang telah selesai dibangun, curug alami, serta potensi perikanan—memerlukan satu instrumen kelembagaan yang mampu mengintegrasikan semua aset tersebut ke dalam satu sistem bisnis wisata yang terpadu dan menguntungkan desa. [1]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi utama Desa Limbangan adalah mengalihfungsikan kebun durian lahan kas desa yang semula hanya berfungsi sebagai kebun produksi menjadi destinasi agrowisata petik buah langsung dari pohon. Kepala Desa Harsono dan BUMDes merancang konsep wisata terpadu—wisatawan tidak hanya membeli buah, tetapi merasakan pengalaman memetik durian Montong Cane langsung dari pohon setinggi produktif di tengah kebun seluas lima hektar yang asri dan sejuk. [1]
Inovasi ini bekerja dengan menggabungkan daya tarik ganda: produk durian Montong Cane berkualitas tinggi—berbobot tiga hingga tujuh kilogram per buah dengan rasa manis legit berpadu sedikit pahit yang khas—dan pengalaman wisata alam autentik di kawasan pegunungan. BUMDes merancang paket wisata terintegrasi yang menghubungkan kebun durian dengan embung desa untuk wisata perikanan dan rekreasi air, serta jalur menuju curug sebagai bagian dari paket ekowisata satu kawasan. [5]
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama BUMDes adalah melakukan pendataan dan pemetaan potensi desa secara menyeluruh—mengidentifikasi kondisi pohon durian, kapasitas embung, aksesibilitas jalur curug, dan kesiapan infrastruktur jalan menuju kawasan wisata. Pada 2020, seluruh pohon durian Montong Cane di kebun lima hektar telah memasuki fase produktif penuh—setiap pohon mampu menghasilkan 20–60 butir per musim—memberikan dasar pasokan yang kuat untuk operasional agrowisata musiman. [1]
Pemerintah desa secara paralel memprioritaskan perbaikan infrastruktur jalan desa untuk mempermudah akses wisatawan—sebuah investasi infrastruktur dasar yang menjadi prasyarat mutlak pengembangan pariwisata pedesaan. BUMDes kemudian memperbaiki tata kelola manajemen dengan mengadopsi sistem pencatatan keuangan yang lebih transparan, pembagian hasil yang lebih adil kepada petani anggota, dan mekanisme pemesanan kunjungan wisatawan yang lebih terstruktur. [2]
Proses awal pengelolaan agrowisata tidak berjalan tanpa hambatan—koordinasi antara BUMDes dan 28 petani anggota kelompok tani memerlukan waktu untuk membangun kepercayaan bersama. Petani yang terbiasa dengan pola panen-jual konvensional perlu diyakinkan bahwa model wisata petik durian akan memberikan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih stabil dibandingkan penjualan buah biasa kepada tengkulak. Pembelajaran dari fase transisi ini mendorong BUMDes untuk lebih intensif melibatkan petani dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pengelolaan agrowisata.
Faktor Penentu Keberhasilan
Ketersediaan aset produktif yang matang menjadi fondasi utama keberhasilan—kebun durian yang ditanam sejak 2012 dan mulai berproduksi penuh pada 2020 memberikan BUMDes modal alam yang tidak perlu dibangun dari nol. Jenis Montong Cane yang dipilih merupakan varietas unggulan dengan daya tarik pasar yang tinggi—ukurannya besar, rasanya khas, dan harganya premium—sehingga mampu bersaing di pasar wisata agro yang semakin kompetitif. [6]
Kepemimpinan Kepala Desa Harsono yang mendorong sinergi antara pemerintah desa, BUMDes, dan kelompok tani memastikan keselarasan visi antara ketiga aktor utama pembangunan desa. Komitmen pemerintah desa untuk terus memperbaiki infrastruktur jalan—sebagai enabler fundamental pengembangan wisata—menunjukkan keseriusan dalam mewujudkan agrowisata yang dapat diakses dan dinikmati wisatawan dari berbagai daerah. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Sejak seluruh pohon durian berproduksi penuh pada 2020, kebun agrowisata Desa Limbangan mampu menghasilkan total produksi berlimpah setiap musim—dengan setiap pohon menghasilkan 20–60 butir buah berbobot tiga hingga tujuh kilogram per buah. Produksi ini tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga menarik pengunjung yang rela datang langsung ke desa untuk merasakan pengalaman petik durian dari pohon—sebuah daya tarik wisata yang tidak dapat direplikasi di supermarket atau pasar buah konvensional. [1]
Dampak ekonomi yang paling nyata adalah terbukanya rantai nilai baru: kunjungan wisatawan menggerakkan penjualan kuliner lokal di warung-warung sekitar kawasan wisata, membuka peluang industri kreatif berbasis olahan durian (dodol durian, bolu durian, keripik), dan meningkatkan pendapatan petani yang kini mendapatkan nilai jual lebih tinggi dari sistem wisata dibandingkan menjual langsung ke tengkulak. Embung desa yang telah rampung dibangun juga membuka lini wisata tambahan berupa perikanan rekreatif dan piknik keluarga yang memperpanjang durasi kunjungan wisatawan di desa. [5]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah musimalitas produksi durian—agrowisata petik durian hanya dapat beroperasi selama musim buah yang berlangsung beberapa bulan dalam setahun. Di luar musim durian, BUMDes perlu mengembangkan daya tarik wisata lain—seperti embung, curug, dan wisata alam—agar arus kunjungan dan pendapatan desa tidak terpusat hanya pada satu musim. [7]
Kapasitas manajemen BUMDes yang masih perlu diperkuat menjadi kendala tersendiri—pengelolaan wisata membutuhkan kompetensi baru di bidang pemasaran digital, manajemen tamu, dan pengembangan paket wisata yang belum sepenuhnya dikuasai oleh pengelola BUMDes saat ini. Keterbatasan infrastruktur akses jalan yang masih terus diperbaiki juga sesekali membatasi kenyamanan kunjungan wisatawan—terutama dari daerah yang jauh yang memerlukan kondisi jalan prima selama perjalanan menuju desa.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
BUMDes Limbangan merancang konsep wisata terpadu yang menghubungkan seluruh aset desa—kebun durian, embung, dan curug—dalam satu paket kunjungan yang dapat dinikmati dalam satu hari. Konsep integrasi ini memastikan bahwa kunjungan wisatawan tidak hanya terfokus pada satu atraksi sehingga nilai belanja wisatawan per kunjungan meningkat dan multiplier effect ekonomi lokal tercipta secara optimal. [1]
Untuk memastikan keberlanjutan produksi, BUMDes berencana melakukan peremajaan dan perluasan kebun durian secara bertahap—menanam varietas-varietas unggulan lain untuk memperpanjang musim panen dan memperkaya pilihan wisatawan. Kolaborasi dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Cilacap dan program pendampingan BUMDes dari pemerintah akan terus diperkuat untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan dan memperluas jangkauan pemasaran digital. [8]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model agrowisata durian BUMDes Desa Limbangan sejalan dengan praktik terbaik yang telah dibuktikan di Cilacap—seperti kolaborasi BUMDes Pesahangan dan Negarajati di Pegunungan Cimanggu yang berhasil membangun agrowisata durian 5 hektar dengan 500 batang tanaman dan menghasilkan pendapatan miliaran rupiah melalui sinergi antar-BUMDes dan kemitraan dengan Perum Perhutani. [4] Model kolaborasi lintas-BUMDes ini dapat diadopsi Desa Limbangan untuk memperluas skala agrowisata dengan menggandeng desa-desa tetangga di Kecamatan Wanareja.
Kecamatan Wanareja sendiri telah mendapat sorotan sebagai kawasan dengan potensi agrowisata luar biasa—dari sawah, perkebunan buah, hingga pantai. [3] Desa Limbangan dapat memainkan peran sebagai simpul wisata utama di Kecamatan Wanareja dengan mengembangkan jaringan rute wisata yang menghubungkan beberapa desa—menjadikan seluruh kawasan sebagai koridor agrowisata terpadu Cilacap Barat yang menarik minat wisatawan dari seluruh Jawa Tengah.
Kata Kunci: Desa Limbangan Wanareja Cilacap, BUMDes agrowisata durian, durian Montong Cane, kebun durian lahan kas desa, Kelompok Tani Limbangan, embung desa wisata, curug Cilacap Barat, Harsono kepala desa, wisata petik durian, ekowisata pegunungan Cilacap, Gerakan Desa Membangun, pariwisata desa BUMDes, industri kreatif kuliner durian, agrowisata terpadu, Kecamatan Wanareja, diversifikasi ekonomi desa, infrastruktur wisata desa, wisata alam Cilacap, kolaborasi BUMDes, perikanan embung wisata
Daftar Pustaka
div class=”references”>
[1] Liputan6.com, “Pagi Rupawan Curug Bandung, Surga Tersembunyi Pegunungan Cilacap Barat,” liputan6.com, 1 Feb. 2020. [Online]. Available: https://www.liputan6.com/regional/read/4169228
[2] Kanal Desa, “Kolaborasi Dua BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian,” kanaldesa.com, 2021. [Online]. Available: https://kanaldesa.com
[3] TV Tani – Kementan RI, “Mengolah Potensi Alam Agrowisata Wanareja, Cilacap, Jawa Tengah,” YouTube, 21 Sep. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=KqeVCq0DPgo
[4] Gatra, “BUMDes Kembangkan Agrowisata Durian di Pegunungan,” gatra.com, 12 Sep. 2021. [Online]. Available: https://www.gatra.com
[5] Instamajennang, “Embung Curug Bandung Wanareja Mulai Dibangun,” Facebook, 26 Jun. 2019. [Online]. Available: https://www.facebook.com/instamajenang/posts
[6] Y. N. Afni, “Strategi Pengembangan Agrowisata Durian (Studi Kasus),” Skripsi, UIN Saizu Purwokerto, 2022. [Online]. Available: https://repository.uinsaizu.ac.id
[7] K. Angganarsati, “Strategi Pengembangan Agrowisata Kebun Durian di Kecamatan Mijen Kota Semarang Berdasarkan Daya Dukung Lahan,” Tugas Akhir, ITS Surabaya, 2019. [Online]. Available: https://repository.its.ac.id
[8] Gemari.id, “Kolaborasi BUMDes Hasilkan Cuan Miliaran dari Agrowisata Durian,” gemari.id, 2 Okt. 2021. [Online]. Available: https://gemari.id
[9] Antara Jateng, “Cilacap Siap Kembangkan Agrowisata di Desa Madura,” jateng.antaranews.com, 25 Apr. 2019. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.com
[10] Tabloid Sinar Tani, “Kebun Buah Desa Madura Bakal Jadi Agrowisata,” tabloidsinartani.com, 23 Okt. 2019. [Online]. Available: https://tabloidsinartani.com
