Ringkasan Inovasi

Desa Kembang Kuning, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, menjadi rumah bagi satu inovasi seni kriya yang langka dan unik di Indonesia: Gula Batu Itik—kerajinan tangan berbahan dasar gula pasir yang diproses melalui teknik karamelisasi dan dibentuk menjadi aneka karya seni rupa tiga dimensi yang dapat dimakan. Inovasi ini lahir dari tangan Ma Aisyah—seorang perajin yang telah menggeluti kerajinan ini hampir 30 tahun—dengan menggabungkan keterampilan membuat gulali warisan orang tuanya dengan kreativitas membentuk identitas lokal Amuntai yang kental: Itik Alabio, ikon Kabupaten HSU. [1]

Gula Batu Itik bukan sekadar produk kuliner, melainkan ekspresi seni kriya tiga dimensi yang memiliki nilai estetika, nilai budaya, dan nilai ekonomi sekaligus. Tujuan inovasinya adalah mempertahankan warisan kerajinan tradisional Banjar yang hampir punah, memberdayakan industri rumahan berbasis kearifan lokal, dan mengangkat identitas budaya Amuntai ke pasar yang lebih luas melalui produk oleh-oleh khas daerah yang tak tertandingi. [2]

Nama Inovasi:Gula Batu Itik – Seni Kriya Tiga Dimensi Berbahan Gula Pasir Khas Amuntai
Alamat:Desa Kembang Kuning, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan
Inovator:Ma Aisyah (Perajin Pendiri, ~30 tahun berkarya); dikelola sebagai industri rumahan keluarga
Kontak:Elham Sarah (Pendamping Desa): +62 811 5186 477

Latar Belakang

Kabupaten Hulu Sungai Utara dikenal luas sebagai penghasil Itik Alabio—ras itik petelur produktif hasil persilangan itik lokal Kalimantan dengan itik Peking yang menjadi maskot daerah dan berdiri tegak dalam bentuk tugu di tepian Sungai Negara, Amuntai. [3] Identitas budaya Itik Alabio begitu kuat melekat pada Amuntai, namun selama bertahun-tahun potensi simbolis ini belum diterjemahkan menjadi produk kerajinan khas daerah yang bisa dibawa pulang oleh wisatawan sebagai cinderamata otentik.

Kerajinan tradisional Banjar yang memanfaatkan gula—dikenal secara lokal sebagai “gulali” atau “gula batu”—telah lama menjadi keterampilan rumahan yang diturunkan dalam keluarga tertentu. Namun keterampilan ini terancam punah karena tidak ada regenerasi pengrajin dan tidak ada upaya pengemasan produk yang menarik untuk bersaing dengan kerajinan modern. [1]

Di sisi ekonomi, para perajin lokal di Desa Kembang Kuning tidak memiliki produk kerajinan khas yang dapat berfungsi sebagai oleh-oleh identitas daerah—sebuah kebutuhan yang sangat nyata di tengah meningkatnya arus wisatawan domestik yang berkunjung ke situs kepurbakalaan Candi Agung Amuntai. [4] Peluang inilah yang kemudian ditangkap Ma Aisyah dengan mengembangkan gulali leluhurnya menjadi seni kriya Gula Batu Itik yang bernilai estetika tinggi.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Gula Batu Itik menggabungkan dua hal yang jarang bersanding: teknik kimia karamelisasi gula pasir dan keterampilan seni pahat tiga dimensi. Ma Aisyah mewarisi teknik dasar membuat gulali dari orang tuanya, lalu berinovasi dengan mengembangkan trik khusus mengatur suhu dan waktu pemanasan agar gula yang telah mencair dan berubah menjadi karamel dapat dibekukan pada konsistensi yang tepat—tidak terlalu keras sehingga bisa dibentuk, tidak terlalu lunak sehingga tidak cepat meleleh sebelum proses pembentukan selesai. [2]

Produk Gula Batu Itik hadir dalam dua varian utama berdasarkan ukuran dan fungsi. Varian besar (Rp 50.000–Rp 100.000) berbentuk kapal, kapal phinisi, atau parcel ulang tahun berisi aneka ornamen buah-buahan—difungsikan sebagai hadiah korporat dan cinderamata premium. Varian mini (Rp 1.000–Rp 5.000) berbentuk itik, bunga, dan ornamen kecil—digunakan sebagai hiasan permen di meja resepsi perkawinan adat Banjar. Semua produk menggunakan pewarna makanan sehingga aman dikonsumsi, dan selama tersimpan dalam plastik kedap udara, Gula Batu Itik tetap padat dan tahan lama sebagai hiasan. [5]

Proses Penerapan Inovasi

Proses pembuatan Gula Batu Itik dimulai dari pemanasan gula pasir di atas bara arang atau kayu bakar—teknik tradisional yang dipertahankan karena menghasilkan distribusi panas yang lebih merata dibandingkan kompor gas. Gula dipanaskan hingga mencair dan berubah menjadi karamel kecoklatan, lalu pada saat tepat ditambahkan pewarna makanan sesuai warna yang diinginkan. [2]

Tahap pembentukan adalah fase paling kritis dan membutuhkan kecepatan tinggi—perajin hanya memiliki jendela waktu sangat singkat saat karamel masih panas dan lentur untuk membentuknya menjadi itik, bunga, atau desain pesanan sebelum gula mengeras kembali. Kegagalan di fase ini berarti seluruh batch karamel harus dilelehkan ulang—sebuah pemborosan bahan dan waktu yang menjadi guru terbaik bagi perajin pemula dalam menguasai “titik emas” konsistensi gula. [1]

Pengembangan varian produk besar—seperti replika Kapal Phinisi—menuntut inovasi teknik yang lebih lanjut: membuat “cetakan” atau rangka pendukung dari bahan yang tidak bereaksi dengan gula panas agar bentuk kompleks dapat dibangun secara bertahap. Proses ini memerlukan eksperimen berulang selama bertahun-tahun sebelum tekniknya disempurnakan—sebuah perjalanan inovasi inkremental yang lahir bukan dari laboratorium tetapi dari dapur kecil di Desa Kembang Kuning.

Faktor Penentu Keberhasilan

Dedikasi dan semangat pelestarian Ma Aisyah selama hampir 30 tahun menjadi tulang punggung keberlanjutan seni kriya ini. Ia memahami bahwa kerajinannya bukan sekadar usaha dapur, melainkan warisan budaya yang perlu dijaga dari kepunahan—kesadaran inilah yang mendorongnya terus bereksperimen dan berinovasi memperluas varian produk jauh melampaui bentuk dasar gulali milik orang tuanya. [1]

Kekuatan identitas budaya lokal—keterkaitan bentuk itik dengan Itik Alabio sebagai maskot Kabupaten HSU—memberikan produk ini daya tarik yang tidak dapat ditiru oleh produk kerajinan daerah lain. Kekuatan narasi budaya ini diperkuat oleh peran pendamping desa yang memfasilitasi promosi produk dan menghubungkan perajin dengan jaringan pembeli dari luar daerah—termasuk pemesan dari Banjarmasin dan Balikpapan yang khusus datang memesan Kapal Phinisi untuk hadiah korporat. [2]

Hasil dan Dampak Inovasi

Gula Batu Itik telah menjadi produk kuliner khas Amuntai yang dikenal secara nasional. Program TRANS7 Ragam Indonesia (Mei 2020) mengangkat kisah inovasi ini ke layar televisi nasional—memberikan eksposur media yang signifikan dan meningkatkan permintaan dari pembeli di luar Kalimantan. [1] Produk ini kini tersedia tidak hanya di Pasar Induk Amuntai dan pertokoan Candi Agung, tetapi juga di marketplace digital—memungkinkan pemesanan dari seluruh Indonesia tanpa harus datang langsung ke Amuntai.

Selama musim lebaran, perajin gula batu meraih keuntungan berlipat ganda dari kunjungan wisatawan ke Candi Agung—dengan lebih dari 3.000 pengunjung selama libur lebaran membawa berkah langsung bagi perajin lokal. [4] Dampak yang paling bermakna adalah terpeliharanya warisan seni kriya tradisional Banjar yang unik—sebuah kekayaan budaya tak berwujud yang, tanpa inovasi Ma Aisyah, berisiko hilang tanpa jejak dari memori kolektif masyarakat Amuntai.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah keterbatasan regenerasi pengrajin—seni kriya ini hingga kini masih dikerjakan oleh satu keluarga saja, menjadikannya sangat rentan terhadap kepunahan jika tidak ada transfer keterampilan yang sistematis kepada generasi muda. [1] Ketergantungan pada satu keluarga pengrajin menciptakan bottleneck produksi yang membatasi kemampuan memenuhi lonjakan permintaan, terutama saat musim lebaran dan musim pernikahan yang permintaannya melonjak tajam.

Dari sisi bahan baku, fluktuasi harga gula pasir sebagai bahan utama langsung mempengaruhi biaya produksi dan margin keuntungan perajin—terutama saat harga gula naik signifikan di pasaran. Keterbatasan pengemasan yang masih konvensional (plastik sederhana) juga membatasi kemampuan produk bersaing di segmen oleh-oleh premium yang membutuhkan kemasan estetis dan branding yang lebih kuat untuk menembus pasar modern.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Gula Batu Itik membutuhkan program pewarisan keterampilan yang terstruktur—dari sekedar diwariskan dalam keluarga menjadi keterampilan yang dibagikan kepada muda-mudi desa melalui pelatihan terorganisir yang difasilitasi pemerintah desa dan pendamping desa. Digitalisasi pemasaran melalui marketplace dan media sosial yang telah berjalan perlu diperkuat dengan strategi konten yang menceritakan narasi budaya di balik setiap produk—meningkatkan nilai persepsi konsumen dan harga jual produk premium. [2]

Integrasi Gula Batu Itik ke dalam ekosistem pariwisata budaya Candi Agung Amuntai dan Wisata Itik Alabio akan menciptakan arus kunjungan yang lebih stabil sepanjang tahun—tidak hanya bergantung pada musim lebaran. Dukungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten HSU untuk memberikan sertifikasi halal, PIRT, dan kemasan standar ekspor akan membuka pasar yang jauh lebih luas bagi produk warisan budaya yang berharga ini.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Gula Batu Itik membuka template replikasi yang inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki tradisi kerajinan gula atau permen tradisional yang terancam punah. Kuncinya adalah mengidentifikasi “ikon daerah” yang kuat—seperti Itik Alabio bagi Amuntai—dan menerjemahkannya menjadi bentuk seni kriya yang dapat diproduksi dari bahan lokal tersedia dengan keterampilan yang dapat diajarkan. [6]

Riset dari berbagai program KKN dan pengabdian masyarakat membuktikan bahwa kerajinan tangan tradisional yang terintegrasi dengan program pelatihan terstruktur mampu meningkatkan keterampilan, produksi, dan perekonomian masyarakat secara bersamaan. [7] Gula Batu Itik dapat menjadi materi wisata edukasi bagi wisatawan yang ingin belajar langsung di Desa Kembang Kuning—mengubah desa ini menjadi destinasi wisata kriya yang autentik dan mendatangkan pendapatan tambahan bagi perajin dari jasa workshop pembuatan Gula Batu Itik.

Daftar Pustaka

[1] TRANS7, “GULA BATU ITIK Khas Amuntai Yang Mulai Langka | RAGAM INDONESIA,” YouTube, 5 Mei 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=YU-a25jvEcg

[2] Tia, “Gulaan Itik: Kuliner Khas HSU,” Radar Banjarmasin – Jawa Pos, 14 Sep. 2023. [Online]. Available: https://radarbanjarmasin.jawapos.com

[3] Pintasan.co, “Itik Alabio: Kelezatan Khas dan Warisan Budaya Kota Amuntai,” pintasan.co, 28 Okt. 2024. [Online]. Available: https://pintasan.co

[4] ANTARA News Kalsel, “Perajin Gula Batu Raih Untung Libur Lebaran,” kalsel.antaranews.com, 8 Mei 2022. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com

[5] Sekilas Info Amuntai, “Gula Batu, Produk Khas Amuntai,” Facebook Group, 12 Apr. 2025. [Online]. Available: https://www.facebook.com

[6] E. Sulastri et al., “Peristilahan Kerajinan Tangan Tradisional Kalimantan,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Untan, 2018. [Online]. Available: https://jurnal.untan.ac.id

[7] R. Wulandari et al., “Pemanfaatan Tali Rafia sebagai Produk Kerajinan Tangan Bernilai Ekonomi untuk Meningkatkan Kewirausahaan Kreatif Masyarakat,” Amal Ilmiah UHO, 2025. [Online]. Available: http://amalilmiah.uho.ac.id

[8] Kecamatan Amuntai Tengah, “Kerajinan Tangan Gula Batu Itik Khas Amuntai,” YouTube, 3 Apr. 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=fX8famxVUeE

[9] ANTARA, “Feature – Itik Alabio Warisan Budaya Hulu Sungai Utara,” kalsel.antaranews.com, Nov. 2024. [Online]. Available: https://kalsel.antaranews.com

[10] Banjarmasin Post, “Maskot Patung Itik Tegaskan HSU sebagai Penghasil Itik Alabio,” banjarmasin.tribunnews.com, 15 Mar. 2023. [Online]. Available: https://banjarmasin.tribunnews.com

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.