Ringkasan Inovasi
Desa Kedungkarang, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membangun ekosistem inovasi ekonomi pesisir terpadu melalui tiga pilar utama: teknologi geomembran untuk produksi garam rakyat berkualitas tinggi, aplikasi digital ADIPTa-XSTAR untuk akses BBM bersubsidi nelayan, dan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok warga pesisir. Ketiga inovasi ini bekerja secara sinergis untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat Desa Kedungkarang dari hulu ke hilir.
Sebagai salah satu dari sepuluh desa penghasil garam utama di Kabupaten Demak, Kedungkarang memiliki posisi strategis dalam rantai produksi garam rakyat Jawa Tengah. [1] Dengan mengintegrasikan teknologi tepat guna, digitalisasi layanan publik, dan program ketahanan pangan, desa ini membuktikan bahwa desa pesisir mampu bertransformasi menjadi model pembangunan berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.
| Nama Inovasi | : | Inovasi Ekonomi Pesisir Terpadu Desa Kedungkarang: Geomembran, ADIPTa-XSTAR, dan Gerakan Pangan Murah |
| Alamat | : | Desa Kedungkarang, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Kedungkarang (H. Muhdi, Kepala Desa), Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Demak (Nanang Tasunar), Bupati Demak Eisti’anah, dan petambak garam lokal |
| Kontak | : | Website Pemkab Demak: demakkab.go.id | Dinkominfo Demak: dinkominfo.demakkab.go.id |
Latar Belakang
Desa Kedungkarang berada di wilayah pesisir Kecamatan Wedung dengan dua sumber penghidupan utama warganya: produksi garam rakyat dan nelayan tangkap. Selama bertahun-tahun, petambak garam di Kedungkarang menggunakan metode tradisional yang menghasilkan garam berkualitas rendah—berwarna putih buram, kristal kecil 3–4 mm, dan produksi hanya sekitar 2 ton per meja kristal per musim panen. [2]
Di sisi nelayan, prosedur manual untuk mendapatkan surat rekomendasi pembelian BBM bersubsidi Solar mewajibkan nelayan datang langsung ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan. [3] Prosedur ini menghabiskan waktu dan biaya transportasi, sementara potensi penyalahgunaan dan manipulasi data BBM subsidi sulit dikontrol karena tidak ada sistem verifikasi digital yang terintegrasi.
Dua persoalan itu diperparah oleh tekanan ekonomi harga pangan yang tinggi di pasar. Sebagai desa pesisir dengan mayoritas warga yang bergantung pada penghasilan musiman dari garam dan ikan, lonjakan harga bahan pokok berdampak langsung pada daya beli warga Kedungkarang—menciptakan kerentanan sosial yang membutuhkan intervensi kebijakan yang tepat dan terkoordinasi. [4]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi pertama dan paling transformatif adalah adopsi teknologi geomembran HDPE (High Density Polyethylene) pada tambak garam. Geomembran adalah lembaran plastik hitam berlapis bahan polietilena bermutu tinggi yang dihamparkan pada meja kristalisasi garam—menggantikan tanah terbuka yang sebelumnya membuat garam terkontaminasi lumpur. [5] Warna hitam membran menyerap panas lebih tinggi sehingga mempercepat penguapan air, mengakselerasi kristalisasi, dan menghasilkan garam putih bening berkristal besar 4–5 mm yang memenuhi standar industri.
Inovasi kedua adalah digitalisasi layanan BBM bersubsidi nelayan melalui aplikasi ADIPTa (Aplikasi Data dan Informasi Produksi Perikanan Tangkap) yang terintegrasi dengan sistem XSTAR milik BPH Migas. [3] Melalui aplikasi ini, nelayan—termasuk warga Kedungkarang yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Rahayu—mengajukan surat rekomendasi pembelian Solar subsidi secara daring tanpa harus antre di kantor dinas, dengan masa berlaku surat yang lebih panjang: tiga bulan dibanding sebelumnya satu bulan. [6]
Proses Penerapan Inovasi
Penerapan teknologi geomembran di Kedungkarang berjalan secara bertahap melalui program bantuan dan penyuluhan pemerintah Kabupaten Demak. Bupati Demak Eisti’anah menyerahkan langsung bantuan geomembran kepada petambak garam wilayah Wedung—memastikan petani skala kecil yang tidak mampu membeli sendiri (harga pemasangan mencapai Rp 10 juta untuk 4 rol geomembran) dapat mengakses teknologi tersebut. [1]
Proses adopsi teknologi tidak selalu mulus. Awal-awal penggunaan geomembran, petani garam Kedungkarang menghadapi kurva belajar dalam teknik pemasangan yang benar agar tidak bocor dan memaksimalkan efek penyerapan panas. [7] Pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Demak menjadi kunci keberhasilan—memastikan petani memahami teknis pemasangan, perawatan, hingga siklus penggantian geomembran setiap 3–4 tahun.
Untuk inovasi ADIPTa-XSTAR, DKP Demak meluncurkan aplikasi secara resmi pada 6 Oktober 2025 bersamaan dengan penyerahan bantuan 7 unit mesin perahu 24 PK kepada Kelompok Nelayan Rahayu Desa Kedungkarang. [3] DKP Demak juga berkoordinasi dengan seluruh SPBU di wilayah Demak untuk segera melaporkan indikasi penyalahgunaan surat rekomendasi—membangun sistem pengawasan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Bupati Demak Eisti’anah yang proaktif turun ke lapangan—menyerahkan langsung bantuan geomembran dan mesin perahu—menjadi faktor motivasi yang kuat bagi warga pesisir. Komitmen Pemkab Demak melalui pendekatan padat karya dalam pengadaan geomembran memastikan teknologi tidak hanya dinikmati petani besar, tetapi juga petambak kecil yang selama ini terkendala modal. [1]
Kolaborasi kelembagaan lintas sektor menjadi kunci efektivitas inovasi. DKP Demak mengoordinasikan program bersama BPH Migas, Perum Bulog, SPBU, dan mitra swasta seperti pedagang telur lokal—memastikan setiap inovasi memiliki ekosistem pendukung yang lengkap. [8] Kepala Desa H. Muhdi berperan sebagai jembatan kepercayaan antara program pemerintah dan warga, memastikan partisipasi masyarakat yang tinggi dalam setiap program inovasi yang dijalankan.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak teknologi geomembran pada produksi garam Kedungkarang sangat terukur. Sebelum geomembran, petambak Ahmad dari Kedungkarang hanya mampu memproduksi 2 ton garam per meja kristal per musim. Setelah menggunakan geomembran, produksi melonjak menjadi 4–5 ton per meja—peningkatan 100–150% dalam produktivitas. [5] Penelitian nasional bahkan mencatat penggunaan geomembran dapat meningkatkan produksi garam hingga 460% dibanding metode tradisional. [9]
Kualitas garam yang dihasilkan petambak Kedungkarang dengan geomembran pun jauh lebih unggul: kristal besar 4–5 mm berwarna putih bening—memenuhi standar industri pengolahan pangan dan farmasi yang mensyaratkan kadar NaCl tinggi dan minim kontaminan. [2] Dengan kualitas premium ini, petambak dapat menegosiasikan harga jual yang lebih tinggi kepada pembeli industri, meningkatkan pendapatan musiman secara signifikan.
Untuk Gerakan Pangan Murah di Kedungkarang pada 12 September 2025, ratusan warga mengakses beras SPHP Rp 57.500 per 5 kg, minyak goreng Rp 15.500 per liter, dan telur Rp 26.000 per kg—lebih murah Rp 2.000–4.000 dari harga pasar, dengan penghematan per paket mencapai Rp 10.000 per keluarga. [10] Melalui ADIPTa-XSTAR, 753 nelayan di Demak (termasuk kelompok Kedungkarang) kini mengakses BBM subsidi lebih cepat dengan surat rekomendasi berlaku tiga bulan dan pengambilan yang dapat diwakilkan secara kolektif. [6]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar dalam keberlanjutan teknologi geomembran adalah biaya penggantian yang tidak kecil. Geomembran perlu diganti setiap 2–4 tahun dengan biaya sekitar Rp 10 juta per lahan—menjadi beban berat bagi petambak kecil yang belum memiliki modal cukup. [11] Produksi garam yang sudah anjlok 50 persen akibat cuaca tidak menentu pada 2025 memperparah ketidakmampuan petani kecil membiayai penggantian geomembran secara mandiri.
Pada sisi digitalisasi nelayan, tantangan literasi digital menjadi hambatan adopsi ADIPTa-XSTAR di kalangan nelayan tua. Tidak semua nelayan Kedungkarang memiliki smartphone atau akses internet yang stabil—kondisi infrastruktur digital di wilayah pesisir yang masih belum merata membatasi jangkauan manfaat aplikasi ini bagi seluruh kelompok nelayan. [3]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan teknologi geomembran ditopang melalui skema bantuan bergulir dari Pemkab Demak yang memastikan petambak kecil tidak tertinggal dari siklus penggantian geomembran. Integrasi program geomembran dalam agenda Dinas Kelautan dan Perikanan Demak sebagai program tahunan yang berkelanjutan menjamin pasokan teknologi kepada petambak garam desa pesisir Wedung, termasuk Kedungkarang. [1]
ADIPTa-XSTAR dirancang sebagai platform digital yang terus berkembang—Dinlutkan Demak berencana mengintegrasikan lebih banyak layanan perikanan dalam satu ekosistem aplikasi. Kepala Desa H. Muhdi dan kelompok nelayan juga mengajukan permintaan agar Gerakan Pangan Murah digelar secara rutin—menjadikan program yang semula berbasis momentum menjadi program ketahanan pangan terjadwal yang warga Kedungkarang dapat andalkan setiap musim. [4]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi ekonomi pesisir terpadu Kedungkarang sangat relevan direplikasi oleh sembilan desa penghasil garam lainnya di Kecamatan Wedung dan Kabupaten Demak. Penelitian IAIN Kudus tentang produksi garam geomembran di Kedungkarang secara akademis mendokumentasikan faktor-faktor keberhasilan yang dapat menjadi panduan replikasi: kondisi geografis pesisir, pendampingan penyuluhan, dan ketersediaan bantuan modal awal dari pemerintah. [2]
Pada skala nasional, paket inovasi ADIPTa-XSTAR telah dikembangkan untuk dapat diimplementasikan di seluruh kabupaten pesisir Indonesia. BPH Migas mendorong adopsi XStar secara masif ke kabupaten-kabupaten penghasil ikan di seluruh Indonesia sebagai standar digitalisasi layanan nelayan. [6] Desa Kedungkarang dengan pengalaman empirisnya menjadi rujukan desa pesisir yang membuktikan integrasi teknologi produksi, digitalisasi layanan, dan program ketahanan pangan dapat bekerja bersama meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan secara menyeluruh.
Daftar Pustaka
[1] Dinkominfo Demak, “Teknologi Geomembrane Sangat Membantu Petani Garam,” dinkominfo.demakkab.go.id, 27 Jul. 2022. [Online]. Available: https://dinkominfo.demakkab.go.id
[2] N. Afifah, “Analisis Kualitas Produksi dengan Menggunakan Geomembran di Desa Kedung Karang Kecamatan Wedung Kabupaten Demak,” Skripsi, IAIN Kudus, 2023. [Online]. Available: http://repository.iainkudus.ac.id/9980/
[3] Berita Jateng, “Sistem Digital Diterapkan, Nelayan di Demak Kini Mudah Mendapat BBM Subsidi,” beritajateng.id, 6 Okt. 2025. [Online]. Available: https://beritajateng.id
[4] Pemerintah Kabupaten Demak, “Gerakan Pangan Murah (GPM) dalam Rangka Stabilisasi dan Pasokan Harga Pangan,” demakkab.go.id, 2024. [Online]. Available: https://demakkab.go.id
[5] ISW Indonesia, “Cara Pintar Kelola Tambak Garam Memakai Geomembrane HDPE,” isw.co.id, 11 Jan. 2017. [Online]. Available: https://www.isw.co.id
[6] Detik Finance, “BPH Migas Sebut XStar Permudah Petani dan Nelayan Dapat BBM Bersubsidi,” finance.detik.com, 4 Agu. 2024. [Online]. Available: https://finance.detik.com
[7] N. Afifah, “BAB IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan – Pertanian Garam dengan Geomembran di Desa Kedung Karang,” Repository IAIN Kudus, 2023. [Online]. Available: http://repository.iainkudus.ac.id/9980/7/7.%20BAB%20IV.pdf
[8] Antara News, “Pemkab Demak Mudahkan Nelayan Ajukan Rekomendasi Beli BBM via Aplikasi,” antaranews.com, 4 Des. 2024. [Online]. Available: https://www.antaranews.com
[9] A. Supriyadi et al., “Produksi Garam di Lahan Geomembran: Perhitungan Kapasitas Produksi, Mutu dan Perbandingannya,” Jurnal Litbang Industri, 2020. [Online]. Available: https://media.neliti.com
[10] Berita Jateng, “Demak Gelar Gerakan Pangan Murah, Sediakan 2 Ton Beras per Kecamatan,” beritajateng.id, 30 Agu. 2025. [Online]. Available: https://beritajateng.id
[11] Tribun News Jateng, “Produksi Garam di Demak Anjlok 50 Persen, Petani Terdampak Cuaca Tak Menentu,” jateng.tribunnews.com, 6 Okt. 2025. [Online]. Available: https://jateng.tribunnews.com
[12] Antara Jateng, “Hari Tani Nasional di Demak Dimeriahkan dengan Gerakan Pangan Murah,” jateng.antaranews.com, 25 Sep. 2025. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.com
[1] Dinkominfo Demak, “Teknologi Geomembrane Sangat Membantu Petani Garam,” dinkominfo.demakkab.go.id, 27 Jul. 2022. [Online]. Available: https://dinkominfo.demakkab.go.id
[2] N. Afifah, “Analisis Kualitas Produksi dengan Menggunakan Geomembran di Desa Kedung Karang Kecamatan Wedung Kabupaten Demak,” Skripsi, IAIN Kudus, 2023. [Online]. Available: http://repository.iainkudus.ac.id/9980/
[3] Berita Jateng, “Sistem Digital Diterapkan, Nelayan di Demak Kini Mudah Mendapat BBM Subsidi,” beritajateng.id, 6 Okt. 2025. [Online]. Available: https://beritajateng.id
[4] Pemerintah Kabupaten Demak, “Gerakan Pangan Murah (GPM) dalam Rangka Stabilisasi dan Pasokan Harga Pangan,” demakkab.go.id, 2024. [Online]. Available: https://demakkab.go.id
[5] ISW Indonesia, “Cara Pintar Kelola Tambak Garam Memakai Geomembrane HDPE,” isw.co.id, 11 Jan. 2017. [Online]. Available: https://www.isw.co.id
[6] Detik Finance, “BPH Migas Sebut XStar Permudah Petani dan Nelayan Dapat BBM Bersubsidi,” finance.detik.com, 4 Agu. 2024. [Online]. Available: https://finance.detik.com
[7] N. Afifah, “BAB IV: Hasil Penelitian dan Pembahasan – Pertanian Garam dengan Geomembran di Desa Kedung Karang,” Repository IAIN Kudus, 2023. [Online]. Available: http://repository.iainkudus.ac.id/9980/7/7.%20BAB%20IV.pdf
[8] Antara News, “Pemkab Demak Mudahkan Nelayan Ajukan Rekomendasi Beli BBM via Aplikasi,” antaranews.com, 4 Des. 2024. [Online]. Available: https://www.antaranews.com
[9] A. Supriyadi et al., “Produksi Garam di Lahan Geomembran: Perhitungan Kapasitas Produksi, Mutu dan Perbandingannya,” Jurnal Litbang Industri, 2020. [Online]. Available: https://media.neliti.com
[10] Berita Jateng, “Demak Gelar Gerakan Pangan Murah, Sediakan 2 Ton Beras per Kecamatan,” beritajateng.id, 30 Agu. 2025. [Online]. Available: https://beritajateng.id
[11] Tribun News Jateng, “Produksi Garam di Demak Anjlok 50 Persen, Petani Terdampak Cuaca Tak Menentu,” jateng.tribunnews.com, 6 Okt. 2025. [Online]. Available: https://jateng.tribunnews.com
[12] Antara Jateng, “Hari Tani Nasional di Demak Dimeriahkan dengan Gerakan Pangan Murah,” jateng.antaranews.com, 25 Sep. 2025. [Online]. Available: https://jateng.antaranews.com
