Ringkasan Inovasi
Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, berhasil mentransformasi diri menjadi pusat ekonomi lokal yang mandiri melalui inovasi pengembangan terpadu berbasis Dana Desa. Desa ini mengintegrasikan tiga sektor unggulan—pariwisata berbasis alam dan kuliner, sentra industri garmen/konveksi rumahan, serta pertanian produktif—menjadi satu ekosistem ekonomi desa yang saling menopang.
Inovasi Kayugeritan bertujuan menciptakan lapangan kerja lokal yang luas, meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADesa), dan mengurangi angka urbanisasi warga produktif. [1] Hasilnya, desa seluas 145,895 hektare dengan sekitar 2.957 jiwa penduduk ini menjelma menjadi rujukan nasional dalam pemanfaatan Dana Desa secara kreatif dan berkelanjutan.
| Nama Inovasi | : | Pengembangan Ekonomi Desa Terpadu Kayugeritan: Wisata, Konveksi, dan Pertanian Berbasis Dana Desa |
| Alamat | : | Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Kayugeritan, Kelompok Tani Desa, Pelaku Industri Konveksi Lokal, dan BUMDes Kayugeritan |
| Kontak | : | Website Kab. Pekalongan: pekalongankab.go.id Informasi wisata: visitjawatengah.jatengprov.go.id |
Latar Belakang
Sebelum inovasi ini bergulir, Desa Kayugeritan menghadapi tantangan umum desa-desa dataran rendah di Kabupaten Pekalongan: minimnya lapangan kerja lokal, rendahnya PADesa, dan tingginya laju urbanisasi warga usia produktif yang pergi merantau ke kota. [1] Potensi alam, keahlian menjahit warga, dan lahan pertanian yang ada belum terkelola secara optimal sebagai sumber penghasilan desa.
Kebijakan nasional Dana Desa yang digulirkan sejak 2015 membuka peluang besar bagi desa untuk mendanai inovasinya sendiri. Namun banyak desa terjebak pada pola penggunaan dana yang seragam—infrastruktur fisik saja—tanpa mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. [2] Kayugeritan memilih jalan berbeda: memanfaatkan Dana Desa untuk menggali dan mengembangkan potensi lokal secara terintegrasi.
Kajian literatur menunjukkan bahwa sentra industri rumahan konveksi mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan berkontribusi signifikan terhadap pengurangan kemiskinan di desa jika didukung strategi pemberdayaan yang tepat. [2] Desa Kayugeritan menangkap peluang ini dengan mensinergikan keahlian konveksi yang telah dimiliki warganya dengan dukungan modal, pelatihan, dan pemasaran yang lebih terorganisasi.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi Desa Kayugeritan berwujud model pengembangan ekonomi terpadu yang terdiri atas tiga pilar. Pertama, pengembangan wisata melalui Telaga Kautsar (Wisata Danau Al-Kautsar) di Dukuh Kayunan Barat dan Wisata Kuliner Kampung Damai—dua destinasi rekreasi keluarga yang memanfaatkan potensi alam desa secara kreatif. [3] Kedua, penguatan sentra garmen dan konveksi rumahan yang menyerap tenaga kerja lokal dan menyuplai kebutuhan pakaian hingga ke luar daerah. Ketiga, modernisasi pertanian padi, palawija, durian, dan kerajinan kain perca yang diintegrasikan dalam rantai nilai ekonomi desa secara menyeluruh. [1]
Model inovasi ini bekerja dengan logika saling menopang: wisata menarik pengunjung yang kemudian membeli produk konveksi dan kuliner lokal, sementara pertanian menyuplai bahan baku usaha kuliner di kawasan wisata. [3] Seluruh rantai nilai ini dikelola oleh BUMDes Kayugeritan dan kelompok usaha masyarakat sebagai penyangga kelembagaan yang menjaga keberlanjutan ekonomi desa.
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan diawali dengan pemetaan potensi desa secara partisipatif bersama warga, kelompok tani, pelaku usaha konveksi, dan tokoh masyarakat melalui musyawarah desa. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) yang mengalokasikan Dana Desa secara strategis untuk tiga pilar pengembangan ekonomi. [1]
Pembangunan Telaga Kautsar sebagai destinasi wisata baru dimulai dari lahan yang sebelumnya kurang produktif di tepi Jalan Raya Kayugeritan–Karanganyar. Lokasi yang strategis ini diubah menjadi kolam wisata keluarga dengan fasilitas bermain anak, gazebo, dan area kuliner. [3] Pada awal pengembangan, pengelola sempat menghadapi tantangan standarisasi layanan dan manajemen pengunjung yang belum terbiasa dengan konsep wisata desa modern—namun umpan balik pengunjung menjadi bahan perbaikan yang konsisten.
Untuk sektor konveksi, pemerintah desa memfasilitasi pelatihan keterampilan menjahit, akses permodalan, dan jaringan pemasaran bagi pelaku usaha rumahan. Pendekatan ini mengadopsi praktik terbaik pemberdayaan sentra konveksi yang terbukti efektif di berbagai desa di Indonesia, di mana intervensi pemerintah desa dalam hal modal, pelatihan, dan pemasaran menjadi variabel penentu keberhasilan sentra industri rumahan. [4]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor terpenting keberhasilan inovasi Kayugeritan adalah keberanian pemerintah desa untuk mengalokasikan Dana Desa pada investasi produktif jangka panjang, bukan sekadar pembangunan fisik yang hasilnya bersifat satu kali. Visi integrasi tiga sektor—wisata, konveksi, dan pertanian—menciptakan rantai nilai ekonomi yang saling memperkuat dan tahan terhadap guncangan satu sektor.
Partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahap perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi menjadi kunci kedua. Penelitian tentang BUMDes menunjukkan bahwa keterlibatan warga dalam tata kelola usaha desa secara langsung berdampak pada keberlanjutan dan daya saing unit usaha yang dikelola. [5] Warga Kayugeritan tidak hanya menjadi objek program, tetapi menjadi subjek dan pengelola aktif inovasi yang mereka sendiri ciptakan.
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling nyata adalah terserapnya tenaga kerja lokal dalam sektor konveksi rumahan yang kini menyuplai kebutuhan pakaian hingga ke luar daerah, sehingga warga tidak perlu merantau ke kota untuk mendapatkan penghasilan. [1] Kajian tentang sentra konveksi desa menunjukkan bahwa industri rumahan semacam ini mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan berkontribusi nyata dalam mengurangi kemiskinan di tingkat desa. [2]
Wisata Telaga Kautsar menjadi destinasi keluarga favorit di Kabupaten Pekalongan, khususnya saat musim libur Lebaran, dengan daya tarik kolam bermain ramah anak yang terjangkau dan mudah diakses. [3] Kehadiran wisata ini menggerakkan ekonomi lokal: warung kuliner, parkir, dan penjualan produk kerajinan kain perca warga mendapat pelanggan langsung dari arus kunjungan wisatawan.
Secara makro, Desa Kayugeritan menjadi salah satu contoh sukses pemanfaatan Dana Desa yang sering dijadikan rujukan di Kabupaten Pekalongan. Keberhasilannya membuktikan bahwa dana publik yang dikelola kreatif dan partisipatif mampu mengubah desa dari penerima bantuan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri.
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama yang dihadapi adalah mempertahankan kualitas dan konsistensi produk konveksi agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Penelitian tentang sentra konveksi desa mengidentifikasi minimnya respons pengrajin terhadap peningkatan kualitas produk dan keterbatasan alat produksi sebagai hambatan struktural yang berulang dalam pengembangan industri rumahan. [4]
Di sektor wisata, pengelolaan manajemen pengunjung dan standarisasi fasilitas secara berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah yang harus terus ditingkatkan. Keterbatasan SDM pengelola yang belum memiliki kapasitas hospitality profesional berpengaruh pada pengalaman pengunjung yang kadang belum optimal, sehingga perlu intervensi pelatihan yang lebih sistematis.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi Kayugeritan ditopang oleh kelembagaan BUMDes yang mengelola aset wisata dan memfasilitasi jaringan pemasaran produk konveksi secara profesional. Penguatan BUMDes melalui peningkatan kapasitas SDM pengelola, diversifikasi unit usaha, dan kemitraan dengan sektor swasta menjadi strategi jangka panjang yang dikedepankan pemerintah desa. [5]
Pemerintah desa juga mengintegrasikan rencana pengembangan sentra konveksi dengan program Desa Wisata Jawa Tengah untuk membuka peluang promosi yang lebih luas. [6] Tradisi budaya lokal seperti Nyadran dan kesenian Kuda Lumping direncanakan menjadi paket wisata budaya yang menambah nilai dan daya tahan ekosistem ekonomi desa dalam jangka panjang.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pengembangan ekonomi terpadu Kayugeritan dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Kecamatan Karanganyar dan Kabupaten Pekalongan yang memiliki potensi serupa—kombinasi keahlian lokal, lahan produktif, dan potensi wisata yang belum terkelola optimal. Kunci replikasi terletak pada metodologi pemetaan potensi partisipatif yang bisa diadaptasi sesuai konteks lokal masing-masing desa.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas PMD dan DPMD dapat memfasilitasi studi tiru ke Desa Kayugeritan sebagai bagian dari program perluasan desa mandiri di Kabupaten Pekalongan. [7] Dengan total alokasi Dana Desa Kabupaten Pekalongan mencapai Rp 263,4 miliar pada tahun 2025, peluang untuk mereplikasi model Kayugeritan ke desa-desa lain terbuka sangat lebar—asalkan disertai pendampingan teknis dan penguatan kapasitas kelembagaan desa yang memadai.
Daftar Pustaka
[1] D. Yuliarti et al., “Profil Desa Kayugeritan, Kec. Karanganyar, Kabupaten Pekalongan,” KKN Unnes Tahap II, video dokumentasi, Nov. 2019. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=-SeLoHMhvAQ
[2] B. Subiantoro dan B. Satriawan, “Peran Industri Kecil dan Rumah Tangga Konveksi dalam Perekonomian Masyarakat Desa: Studi Sentra Konveksi Desa Tritunggal Kec. Babat Kab. Lamongan,” Business Economics and Entrepreneurship (BEP), vol. 4, no. 1, pp. 153–172, Feb. 2023. [Online]. Available: https://journal.trunojoyo.ac.id/bep
[3] H. Waluyo, “Manjakan Anak saat Libur Lebaran di Telaga Kautsar Karanganyar, Bisa Main Air Sepuasnya,” Radar Pekalongan, 24 Apr. 2023. [Online]. Available: https://radarpekalongan.id
[4] P. Maisarohtussa’diyah, M. R. Basamalah, dan S. P. Utama, “Strategi Pemberdayaan Sentra Industri Konveksi dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat,” Jurnal Riset Manajemen (JRM) UNISMA, 2023. [Online]. Available: https://jim.unisma.ac.id
[5] A. Nugraha et al., “Strategi Keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Karangtengah Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut,” Proceedings BCSES Unisba, 2022. [Online]. Available: https://proceedings.unisba.ac.id
[6] Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Prov. Jawa Tengah, “Destinasi Wisata Kabupaten Pekalongan,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 2024. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id
[7] P. Haryadi, “Simak Rincian Dana Desa 2025 Pekalongan Provinsi Jawa Tengah, Total Rp263,4 Miliar,” Rakyat Bengkulu Online, Nov. 2024. [Online]. Available: https://rakyatbengkulu.disway.id
[8] Badan Pusat Statistik, “Rincian Dana Desa 2024 untuk 15 Desa di Kecamatan Karanganyar Pekalongan,” jateng.bpk.go.id, 2024. [Online]. Available: https://jateng.bpk.go.id
[9] Kompasiana, “Belajar dari 18 BUMDes Sukses Mensejahterakan Desa,” kompasiana.com, 21 Feb. 2025. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com
[10] A. Prasetyo et al., “Upaya Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Sentra Konveksi dan Bordir,” JPPMR Undip. [Online]. Available: https://ejournal3.undip.ac.id
[1] D. Yuliarti et al., “Profil Desa Kayugeritan, Kec. Karanganyar, Kabupaten Pekalongan,” KKN Unnes Tahap II, video dokumentasi, Nov. 2019. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=-SeLoHMhvAQ
[2] B. Subiantoro dan B. Satriawan, “Peran Industri Kecil dan Rumah Tangga Konveksi dalam Perekonomian Masyarakat Desa: Studi Sentra Konveksi Desa Tritunggal Kec. Babat Kab. Lamongan,” Business Economics and Entrepreneurship (BEP), vol. 4, no. 1, pp. 153–172, Feb. 2023. [Online]. Available: https://journal.trunojoyo.ac.id/bep
[3] H. Waluyo, “Manjakan Anak saat Libur Lebaran di Telaga Kautsar Karanganyar, Bisa Main Air Sepuasnya,” Radar Pekalongan, 24 Apr. 2023. [Online]. Available: https://radarpekalongan.id
[4] P. Maisarohtussa’diyah, M. R. Basamalah, dan S. P. Utama, “Strategi Pemberdayaan Sentra Industri Konveksi dalam Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat,” Jurnal Riset Manajemen (JRM) UNISMA, 2023. [Online]. Available: https://jim.unisma.ac.id
[5] A. Nugraha et al., “Strategi Keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Karangtengah Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut,” Proceedings BCSES Unisba, 2022. [Online]. Available: https://proceedings.unisba.ac.id
[6] Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Prov. Jawa Tengah, “Destinasi Wisata Kabupaten Pekalongan,” visitjawatengah.jatengprov.go.id, 2024. [Online]. Available: https://visitjawatengah.jatengprov.go.id
[7] P. Haryadi, “Simak Rincian Dana Desa 2025 Pekalongan Provinsi Jawa Tengah, Total Rp263,4 Miliar,” Rakyat Bengkulu Online, Nov. 2024. [Online]. Available: https://rakyatbengkulu.disway.id
[8] Badan Pusat Statistik, “Rincian Dana Desa 2024 untuk 15 Desa di Kecamatan Karanganyar Pekalongan,” jateng.bpk.go.id, 2024. [Online]. Available: https://jateng.bpk.go.id
[9] Kompasiana, “Belajar dari 18 BUMDes Sukses Mensejahterakan Desa,” kompasiana.com, 21 Feb. 2025. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com
[10] A. Prasetyo et al., “Upaya Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah Sentra Konveksi dan Bordir,” JPPMR Undip. [Online]. Available: https://ejournal3.undip.ac.id
