Subbab Ringkasan Inovasi
Desa Bonjeruk di Lombok Tengah menciptakan inovasi apotek hidup organik di lingkungan pekarangan warga. Inovasi ini bertujuan menyediakan tanaman obat herbal untuk menjaga stamina masyarakat pada masa pandemi korona.
Dampak utama program ini adalah peningkatan kesehatan warga dan terciptanya peluang ekonomi yang baru. Tanaman herbal bernilai jual tinggi sukses memberikan tambahan penghasilan yang sangat signifikan bagi masyarakat desa.
| Nama Inovasi | : | Apotek Hidup Kampung Sehat Bonjeruk |
| Alamat | : | Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat |
| Inovator | : | Usman dan Kelompok Sadar Wisata Permai Bonjeruk |
| Kontak | : | – (website), – (email), – (telepon) |
Subbab Latar Belakang
Pandemi virus korona membawa dampak yang sangat memprihatinkan terhadap kesehatan masyarakat secara global. Warga desa sangat membutuhkan solusi praktis untuk menjaga daya tahan tubuh mereka secara mandiri.
Kondisi sulit ini mengilhami seorang penggerak desa bernama Usman untuk memanfaatkan potensi alam pedesaan. Lahan kosong di sekitar rumah warga ternyata belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kesehatan lingkungan.
Peluang ini ditangkap dengan segera menginisiasi pembuatan apotek hidup organik di setiap area pekarangan. Langkah strategis ini juga mendukung kesiapan Desa Bonjeruk untuk menyambut tatanan kehidupan baru yang sehat.
Subbab Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah program penanaman apotek hidup yang dikelola Kelompok Sadar Wisata Permai. Program ini memadukan konsep ketahanan kesehatan warga pedesaan dengan sektor pengembangan pariwisata yang berkelanjutan [1].
Inovasi ini bekerja dengan cara mendorong setiap kepala keluarga menanam berbagai jenis tanaman obat. Tanaman seperti lengkuas, jahe merah, kunyit, dan kencur ditanam secara berdampingan bersama aneka jenis sayuran.
Subbab Proses Penerapan Inovasi
Penerapan inovasi ini diawali dengan sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah kepada seluruh warga desa. Usman bersama anggotanya memberikan pendampingan teknis mengenai tata cara menanam tanaman herbal organik secara mandiri [2].
Pada tahap eksperimen, para warga menanam aneka bibit jahe merah seluas tiga puluh are. Mereka menguji teknik penanaman organik tanpa cairan bahan kimia agar hasil panennya jauh lebih sehat.
Beberapa kegagalan sempat terjadi ketika banyak tanaman mati akibat kurangnya sistem irigasi yang memadai. Pembelajaran penting ini membuat pihak pengelola akhirnya segera membangun sistem pengairan yang jauh lebih baik.
Subbab Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu keberhasilan utama adalah tingginya tingkat kesadaran warga dalam menerapkan pola hidup sehat. Partisipasi aktif masyarakat ini memastikan apotek hidup terus terawat dan mampu menghasilkan panen yang berlimpah.
Peran aparat kepolisian dan pemerintah daerah juga sangat krusial dalam memberikan dukungan moril [1]. Kolaborasi semua pihak ini sukses melancarkan peluncuran program Kampung Sehat yang mengedukasi warga secara masif.
Subbab Hasil dan Dampak Inovasi
Secara kualitatif, apotek hidup berhasil menjadi media edukasi yang sangat efektif bagi warga desa. Kesehatan masyarakat terbukti semakin tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman penularan virus berbahaya di lingkungan mereka.
Secara kuantitatif, inovasi ini memberikan keuntungan ekonomi yang sangat menjanjikan bagi para petani herbal. Harga jual kunyit dan jahe merah sempat menembus angka enam puluh ribu rupiah per kilogram [1].
Dampak lainnya adalah mengukuhkan status Bonjeruk sebagai salah satu destinasi desa wisata unggulan berkelanjutan [3]. Kehadiran apotek hidup menambah daya tarik wisata ekologi yang memikat banyak wisatawan dari luar daerah.
Subbab Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi semangat warga untuk terus merawat tanaman setelah pandemi berakhir. Euforia sesaat sering kali membuat para warga lupa memberikan pupuk sehingga pertumbuhan tanaman menjadi terhambat.
Kendala lain meliputi fluktuasi harga jual komoditas tanaman herbal saat persediaan pasar melimpah ruah. Penurunan harga ini sempat memengaruhi motivasi sebagian warga untuk memperluas area tanam apotek hidup mereka.
Subbab Strategi Keberlanjutan Inovasi
Strategi keberlanjutan dikelola dengan cara mengintegrasikan apotek hidup ke dalam paket ekowisata Desa Bonjeruk [3]. Kelompok sadar wisata menjadikan kebun herbal ini sebagai atraksi edukasi alam bagi para pengunjung desa.
Pemerintah desa juga berkomitmen penuh untuk memberikan pembinaan rutin kepada seluruh masyarakat secara berkelanjutan. Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat memastikan program positif ini terus memberi manfaat ekonomi jangka panjang [3].
Subbab Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model apotek hidup ala Bonjeruk ini sangat mudah direplikasi oleh desa lainnya di Lombok. Pemerintah daerah bahkan menjadikan kawasan ini sebagai desa percontohan dalam perlombaan Kampung Sehat tingkat provinsi [1].
Strategi perluasan skala dilakukan dengan menggandeng desa tetangga untuk membentuk kawasan agrowisata herbal terpadu. Kolaborasi antardesa ini akan menciptakan pusat produksi tanaman obat tradisional terbesar di wilayah Nusa Tenggara.
Subbab Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi apotek hidup di Bonjeruk memberikan kontribusi nyata terhadap agenda pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Program ini secara simultan menyentuh sektor kesehatan masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal yang sangat inklusif.
Penjabaran rinci mengenai kontribusi inovasi terhadap beberapa target pembangunan disajikan dalam tabel di bawah. Keberhasilan desa memadukan kesehatan dan ekowisata memperkuat fondasi pembangunan kawasan perdesaan secara menyeluruh dan berkesinambungan.
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera | : | Penanaman apotek hidup menyediakan pasokan obat herbal mandiri yang sangat efektif menjaga imunitas warga desa. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Penjualan hasil panen tanaman herbal sukses memberikan sumber penghasilan tambahan yang signifikan bagi kelompok masyarakat. |
Daftar Pustaka
[1] Lombok Post, “Kampung Sehat ala Bonjeruk, Punya Apotek Hidup, Jaga Stamina Lawan Korona,” lombokpost.jawapos.com, 23 Jun. 2020. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/praya/1502774905/kampung-sehat-ala-bonjeruk-punya-apotek-hidup-jaga-stamina-lawan-korona.
[2] M. Budiatiningsih, B. N. Ulya, dan R. Kurniansah, “Potensi Desa Bonjeruk Sebagai Desa Wisata Berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah,” Jurnal Kepariwisataan, vol. 24, no. 1, 2025. [Online]. Available: https://ejournal.stipram.ac.id/index.php/kepariwisataan/article/view/576.
[3] M. Aseani, “Ecotourism Spot Desa Wisata Bonjeruk Siap Bermetamorfosa,” muslifaaseani.com, 17 Jul. 2019. [Online]. Available: https://www.muslifaaseani.com/2019/07/ecotourism-spot-desa-wisata-bonjeruk.html.
