Ringkasan Inovasi

Kelurahan Dasan Cermen berhasil mengubah kawasan permukiman kumuh menjadi pusat edukasi wisata peternakan dan perikanan terpadu [1]. Inovasi ini menyatukan kelompok-kelompok peternak sapi, bebek, dan pembudidaya ikan lele dalam satu kawasan terintegrasi. Tujuan utamanya adalah menciptakan sumber pendapatan pariwisata alternatif bagi masyarakat perkotaan yang tidak memiliki potensi wisata alam.

Dampak inovasi ini sangat luar biasa bagi peningkatan kesejahteraan warga dan perbaikan tata ruang lingkungan setempat. Kandang ternak komunal kini rutin menjadi lokasi studi banding bagi ratusan mahasiswa dan kelompok tani nasional [2]. Berkat konsep eduwisata ini, Dasan Cermen sukses meraih predikat Kampung Berseri Astra terbaik di Indonesia.

Nama Inovasi:Eduwisata Peternakan Terpadu Dasan Cermen
Alamat:Kelurahan Dasan Cermen, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat
Inovator:Pemerintah Kelurahan Dasan Cermen dan Warga Masyarakat
Kontak:– (website), – (email), – (telepon)

Latar Belakang

Masyarakat Kelurahan Dasan Cermen dulunya memiliki kebiasaan memelihara hewan ternak besar di halaman rumah masing-masing. Kebiasaan memelihara sapi di kawasan padat penduduk ini memicu banyak protes karena membuat lingkungan permukiman menjadi sangat kumuh. Bau kotoran hewan ternak yang menyengat kerap kali mengganggu kenyamanan hidup bertetangga antarsesama warga kelurahan.

Pemerintah kelurahan juga menghadapi tantangan besar saat wilayahnya dideklarasikan sebagai kawasan kampung wisata percontohan daerah. Dasan Cermen yang terletak di wilayah perbatasan kota sama sekali tidak memiliki potensi wisata alam seperti pantai atau air terjun [2]. Mereka sangat membutuhkan ide atraksi wisata alternatif yang sesuai dengan profil keseharian warganya yang berprofesi sebagai peternak.

Peluang akhirnya muncul ketika melihat antusiasme warga yang mulai memindahkan ternak mereka ke kandang komunal di tanah wakaf. Penataan kandang kelompok yang sangat bersih ternyata menarik minat banyak pihak luar untuk datang belajar sistem beternak. Potensi edukasi inilah yang kemudian ditangkap pemerintah kelurahan untuk dikembangkan menjadi paket wisata tematik perkotaan.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan kawasan eduwisata terpadu berbasis sentra peternakan dan perikanan komunal. Inovasi ini memadukan konsep pelestarian lingkungan perkotaan dengan prinsip pemberdayaan kewirausahaan ekonomi kerakyatan secara sinergis [1]. Sentra wisata ini mencakup area peternakan penggemukan sapi, produksi telur bebek asin, dan budidaya pembesaran ikan lele.

Inovasi eduwisata ini bekerja dengan cara menawarkan paket kunjungan belajar langsung kepada para wisatawan dan akademisi kampus. Pengunjung akan diajak berkeliling melihat sanitasi kandang sapi modern, teknik panen ikan lele, hingga proses pembuatan telur asin [3]. Kelompok peternak warga setempat bertindak langsung sebagai instruktur edukasi bagi setiap rombongan tamu yang berkunjung.

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan inovasi ini bermula dari proses relokasi kandang sapi pribadi warga menuju area lahan wakaf masjid seluas tiga puluh are. Kelompok tani Beriuk Taker menyewa lahan tersebut secara kolektif lalu membangun kandang dengan lantai semen dan sistem sanitasi modern [2]. Penataan fisik ini sukses menghilangkan bau tidak sedap yang sebelumnya selalu mengganggu hidung penciuman warga.

Setelah kandang sapi berhasil ditata, langkah serupa mulai direplikasi pada lahan rawa telantar untuk dijadikan sentra budidaya ikan lele. Kelompok Pado Girang bereksperimen mengubah rawa gagal panen menjadi kolam ikan yang dilengkapi jalan paving dan gazebo. Proses perbaikan sarana prasarana ini banyak mendapat bantuan teknis melalui program binaan tanggung jawab sosial perusahaan otomotif besar [3].

Kegagalan warga dalam menanam padi di area rawa justru menjadi pembelajaran amat berharga bagi pergeseran fokus usaha mereka. Kesadaran bahwa tidak semua lahan cocok untuk bertani mendorong warga lebih inovatif dalam memaksimalkan fungsi lahan sempit. Pembelajaran adaptif ini memberikan wawasan penting bagi aparat kelurahan dalam memetakan potensi tata ruang wilayah secara cermat.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu keberhasilan sentra eduwisata ini adalah tingginya tingkat soliditas kelompok peternak dalam menjalankan manajemen usaha secara transparan. Sistem bagi hasil keuntungan ternak sapi diatur sangat adil dengan menyisorkan tujuh puluh persen untuk peternak langsung [2]. Transparansi pembukuan keuangan ini berhasil memupuk rasa saling percaya yang sangat kuat antarseluruh anggota kelompok.

Kemitraan strategis dengan pihak swasta melalui program Kampung Berseri Astra juga memainkan peranan yang sangat vital bagi desa [1]. Kolaborasi ini menyuntikkan bantuan dana penataan lingkungan sekaligus memberikan bimbingan pelatihan kewirausahaan secara rutin. Pendampingan korporasi swasta mempercepat transformasi kelurahan kumuh menjadi destinasi wisata berwawasan pendidikan ekologi.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak kuantitatif dari inovasi peternakan komunal ini terlihat jelas pada lonjakan tingkat pendapatan harian anggota kelompok ternak. Penjualan ratusan ekor bibit ikan lele setiap harinya sanggup menghasilkan omzet kelompok hingga nyaris mencapai angka empat juta rupiah [2]. Produksi harian ribuan butir telur bebek juga sukses menambah pundi-pundi kesejahteraan ekonomi bagi belasan keluarga peternak.

Inovasi ini juga memicu efek domino bermunculannya unit usaha mandiri baru di sekitar permukiman warga kelurahan. Beberapa penduduk mulai terinspirasi menyulap sisa lahan sawah menganggur menjadi sarana hiburan kolam renang mini berbiaya murah. Usaha kolam renang rakyat ini sanggup mendatangkan pemasukan harian warga hingga menyentuh angka ratusan ribu rupiah.

Secara kualitatif, status sosial kelurahan pinggiran kota ini kini melonjak drastis dan disegani pada level kancah nasional. Kawasan Dasan Cermen memborong banyak piala penghargaan bergengsi mulai dari juara kelurahan terbersih hingga lomba pekarangan asri [2]. Kebanggaan kolektif warga atas raihan beragam prestasi ini semakin menguatkan identitas kampung eduwisata mereka.

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi inovator adalah menyamakan visi persepsi warga untuk merelakan ternak mereka dikelola secara komunal di luar rumah. Banyak warga awalnya merasa keberatan memindahkan sapi mereka karena takut kehilangan kontrol pengawasan harian terhadap aset berharga tersebut. Proses meyakinkan masyarakat ini menyita banyak waktu sosialisasi aparat kelurahan demi menumbuhkan rasa aman warganya.

Kendala tata letak geografis wilayah yang terjepit di daerah perbatasan dua kabupaten juga sempat mengaburkan arah pengembangan identitas pariwisata. Ketiadaan bentang alam wisata memukau sempat memicu keraguan mendalam mengenai daya jual prospek kampung wisata baru ini [2]. Pengaruh rasa tidak percaya diri ini beruntung bisa segera ditepis setelah kelompok akademisi mulai berdatangan melakukan kegiatan riset.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah kelurahan mengunci strategi keberlanjutan program eduwisata melalui skema integrasi empat pilar utama pemberdayaan masyarakat sipil secara konsisten. Pilar pendidikan dikelola serius lewat penyediaan pendidikan anak usia dini holistik dan sanggar pelestarian ragam tari kesenian tradisional [2]. Regenerasi pelestari budaya ini menjamin pasokan kelompok penampil hiburan bagi kelak menyambut tetamu wisata mendatang.

Keberlanjutan sektor wirausaha peternakan dijaga ketat lewat komitmen kuat mempertahankan tata kelola kampung edukasi bersih berseri sepanjang masa. Struktur organisasi kepengurusan tiap pilar inovasi diisi penuh oleh deretan tokoh penggerak lokal yang bekerja sukarela menjaga fasilitas. Kemandirian manajemen kelompok tani inilah yang akan mengawal keberlangsungan sentra wisata biarpun kelak program pendampingan perusahaan telah rampung.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Konsep integrasi kandang ternak terpadu ini amat mudah diadopsi oleh kawasan kelurahan lain yang menghadapi problem keterbatasan lahan perkotaan. Deretan mahasiswa utusan dari Bandung dan Sumbawa rajin menyambangi lokasi peternakan ini untuk menjiplak formula kesuksesan kelompok [2]. Rombongan peneliti acap kali menjadikan metode sanitasi kandang sapi Dasan Cermen sebagai rujukan model tata letak ternak perkotaan modern.

Strategi eskalasi skala bisnis wisata digeber dengan upaya pemasaran paket tamasya studi banding secara lebih agresif via media sosial. Kelurahan berencana menambah variasi atraksi tur wisata dengan mempercantik area kosong pekarangan masjid menjadi taman bunga spot swafoto [3]. Rencana penambahan sarana pelengkap wahana rekreasi ini mutlak ditujukan demi memancing durasi durasi tinggal rombongan pengunjung edukasi pariwisata lebih lama.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Kolaborasi inovasi eduwisata Dasan Cermen memberikan kontribusi yang amat esensial terhadap perwujudan pilar utama target pembangunan global berkelanjutan. Penyulapan kampung kumuh menjadi destinasi pendidikan lingkungan otomatis meningkatkan mutu sanitasi kawasan tempat tinggal warga sekitar menjadi jauh lebih beradab. Perputaran uang dari kantong pelancong dan dagangan hasil bumi ternak terbukti manjur mengatrol kurva grafik perekonomian kelurahan perbatasan kota.

Integrasi kegiatan usaha warga bersama program pelestarian kearifan lokal turut mengentalkan rasa kebersamaan komunal penghuni perkotaan majemuk nan dinamis. Tabel di bawah ini memuat pemaparan presisi menyangkut relasi implementasi proyek kemasyarakatan kelurahan merujuk pada standar pencapaian gol pembangunan semesta. Inovasi desa tematik ini mendemonstrasikan keampuhan sinergi kolektif multiaktor menopang fondasi kualitas kehidupan masyarakat bawah agar sigap berdikari seutuhnya.

No SDGs:Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Pengembangan eduwisata dan peternakan komunal sukses membuka lapangan pekerjaan baru serta mendongkrak tingkat keuntungan harian penjualan hasil ternak warga.
SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan:Penataan kandang ternak terpusat berhasil memberantas masalah sanitasi permukiman kumuh sekaligus menciptakan tata ruang lingkungan kota yang sangat rapi.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi aktif antara warga kelurahan dan dukungan pendampingan teknis pihak perusahaan mewujudkan program pemberdayaan kawasan permukiman yang tangguh berprestasi.

Daftar Pustaka

[1] Tempo, “Dasan Cermen, dari Kampung Kumuh Jadi Desa Wisata,” tempo.co, 19 Nov. 2019. [Online]. Available: https://www.tempo.co/hiburan/dasan-cermen-dari-kampung-kumuh-jadi-desa-wisata–682716. [Accessed: 05 Apr. 2026].
[2] Lombok Post, “Inspirasi dari Dasan Cermen, Kampung Berseri Astra Terbaik di Indonesia (2-Habis),” lombokpost.jawapos.com, 30 Des. 2019. [Online]. Available: https://lombokpost.jawapos.com/ekonomi-bisnis/30/12/2019/inspirasi-dari-dasan-cermen-kampung-berseri-astra-terbaik-di-indonesia-2-habis/. [Accessed: 05 Apr. 2026].
[3] BangKusnadi, “Living in Harmony with Nature,” kusnadigeolog.wordpress.com, 29 Des. 2019. [Online]. Available: https://kusnadigeolog.wordpress.com. [Accessed: 05 Apr. 2026].

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.