Ringkasan Inovasi

BUM Desa Mandiri Jaya di Desa Tangsil Kulon, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur memilih jalan yang berbeda di tengah pandemi Covid-19 yang melumpuhkan ribuan BUMDes di seluruh Indonesia. Dipimpin oleh Athour Rahman, BUM Desa ini mengembangkan budidaya lobster air tawar sebagai core business, dimulai dari modal SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) sebesar Rp50.000.000,- yang dikelola secara cerdas dan terstruktur. [1]

Tujuan inovasi ini adalah membuktikan bahwa BUMDes dengan modal terbatas pun mampu menciptakan nilai ekonomi nyata bagi desa, sekaligus menggerakkan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui model kemitraan budidaya. Dampak utamanya adalah berputarnya roda ekonomi desa di tengah krisis, terbukanya pasar lobster air tawar ke Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang, serta tumbuhnya optimisme baru bahwa desa mampu bersaing melalui inovasi pertanian berbasis komoditas premium. [1][2]

Nama Inovasi:Budidaya Lobster Air Tawar — BUM Desa Mandiri Jaya
Alamat:Desa Tangsil Kulon, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
Inovator:Athour Rahman (Ketua BUM Desa Mandiri Jaya); didukung Kepala Desa Sugiyono dan Pendamping Desa Kecamatan Tenggarang, Fiqi Abdilla Ansori
Kontak: Sugiyono (Kades Tangsil Kulon): +62-851-0571-3161
Athour Rahman (Ketua BUM Desa Mandiri Jaya): +62-822-2901-6316
Website Kabupaten: https://bondowosokab.go.id

Latar Belakang

BUM Desa Mandiri Jaya berdiri namun selama bertahun-tahun nyaris tidak bergerak. Kondisi ini tidak lepas dari dinamika kepemimpinan desa yang sangat tidak stabil: sejak akhir 2018, Desa Tangsil Kulon berturut-turut dipimpin oleh Plt Kepala Desa hingga November 2018, disusul Pj pertama hingga November 2019, Pj berikutnya hingga Desember 2019, sebelum akhirnya Kepala Desa definitif dilantik menjelang tahun 2020. Pergantian kepemimpinan yang terus-menerus ini menyebabkan anggaran BUM Desa tidak terserap secara optimal dan lembaga ini nyaris kehilangan arah. [1]

Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada awal 2020, ribuan BUMDes di seluruh pelosok negeri masuk ke fase mati suri karena ketidakmampuan beradaptasi dan minimnya modal usaha. BUM Desa Mandiri Jaya menghadapi tantangan berlapis: di satu sisi modal yang sangat terbatas, di sisi lain kondisi pandemi yang memperburuk iklim usaha dan mengalihkan anggaran desa ke Bantuan Langsung Tunai. [1]

Di tengah tekanan itu, Athour Rahman yang baru terpilih sebagai Ketua BUM Desa di awal 2020 justru melihat peluang. Lobster air tawar adalah komoditas premium dengan permintaan pasar yang stabil dari restoran, hotel, dan pasar ekspor, namun harganya masih terjangkau untuk diproduksi secara lokal dengan modal kecil. Riset dari Universitas Jember mengonfirmasi bahwa budidaya lobster air tawar memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan masyarakat desa karena kebutuhan lahan yang minimal, siklus produksi yang terukur, dan nilai jual yang jauh melampaui ikan konsumsi konvensional. [3]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah pengembangan unit usaha budidaya lobster air tawar sebagai core business BUM Desa Mandiri Jaya, dengan strategi ganda yang cerdas: sebagian lobster dijadikan indukan untuk penangkaran dan pembibitan, sementara sebagian lain dibesarkan untuk memenuhi permintaan pasar daging lobster dari luar kota. Gagasan ini lahir dari proses belajar intensif Athour Rahman yang mendatangi kantor Tenaga Ahli P3MD Bondowoso, berdiskusi dengan pendamping desa, dan mengikuti kursus singkat budidaya lobster air tawar di Surabaya sebelum berani mengeksekusi ide ini dengan modal yang ada. [1]

Sistem kerja inovasi ini mengandalkan prinsip perputaran modal yang disiplin. Dari modal Rp50.000.000,-, BUM Desa berhasil mendapatkan sekitar 1.700 ekor lobster beserta seluruh peralatannya, dengan alokasi 100 ekor sebagai indukan, 50 ekor pejantan, dan selebihnya dibesarkan untuk dipasarkan. Setiap indukan berpotensi menghasilkan 200 butir telur, sehingga 100 indukan dapat berkembang menjadi 20.000 bibit lobster per siklus pemijahan — sebuah multiplication yang akan melipatgandakan nilai aset BUM Desa secara eksponensial tanpa membutuhkan tambahan modal besar. [1]

Proses Penerapan Inovasi

Proses penerapan dimulai dengan tahap akuisisi pengetahuan yang dilakukan secara serius oleh Athour Rahman. Ia tidak hanya mengandalkan teori, tetapi secara aktif mengikuti kursus budidaya lobster di Surabaya dan berdiskusi intensif dengan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) P3MD Bondowoso, membuktikan bahwa investasi pada kapasitas sumber daya manusia adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan. [1]

Tahap eksekusi dilakukan secara bertahap dan terukur. Modal awal Rp50.000.000,- digunakan untuk pembelian 1.700 ekor lobster air tawar lengkap dengan kolam, aerator, pakan, dan perlengkapan pendukung lainnya. Proses pemilahan antara indukan, pejantan, dan lobster komersial dilakukan secara hati-hati berdasarkan ukuran dan kondisi fisik, memastikan proses pemijahan berlangsung optimal sejak hari pertama operasional. [4]

Pada saat yang bersamaan, modal tambahan sebesar Rp100.000.000,- yang semula direncanakan untuk unit simpan-pinjam harus dialihkan menjadi BLT Dana Desa bagi 158 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) senilai hampir Rp300.000.000,- akibat keadaan darurat pandemi. Pengalaman ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya diversifikasi unit usaha BUM Desa agar ketergantungan pada satu sumber anggaran tidak mengganggu keberlangsungan unit usaha utama yang sedang dibangun. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah karakter kepemimpinan Athour Rahman yang menggabungkan keberanian berinovasi dengan kemauan belajar yang tidak pernah berhenti. Pemuda 35 tahun ini tidak menunggu kondisi ideal untuk memulai, melainkan memanfaatkan sumber daya yang ada — sekecil apapun — dan mengoptimalkannya melalui strategi yang terencana. Semangat yang ia ekspresikan dalam kalimat “BUM Desa dengan modal tak seujung kuku BUMN pun bisa berkarya untuk bangsa, dimulai dari Desa” menjadi kompas yang mengarahkan seluruh langkah inovasinya. [1]

Faktor kedua adalah kualitas pendampingan dari Fiqi Abdilla Ansori selaku Pendamping Desa Kecamatan Tenggarang yang memainkan peran krusial dalam mendorong BUM Desa bergerak kembali setelah periode stagnasi akibat pergantian kepemimpinan. Dukungan teknis dari TAPM P3MD Bondowoso yang secara aktif mendampingi proses perencanaan bisnis BUM Desa membuktikan bahwa sistem pendampingan desa yang berkualitas adalah katalisator yang tidak bisa diabaikan dalam membangkitkan BUMDes yang mati suri. [1]

Hasil dan Dampak Inovasi

Dari modal awal Rp50.000.000,-, BUM Desa Mandiri Jaya berhasil mengoperasikan unit budidaya dengan 1.700 ekor lobster air tawar yang terdiri dari indukan, pejantan, dan stok komersial. Proses pemijahan sudah berjalan dengan sebagian indukan bertelur dan menetas, membuka prospek pengembangan hingga 20.000 bibit per siklus — sebuah lompatan nilai aset yang sangat signifikan dari modal awal yang sangat terbatas. [1]

Secara pasar, BUM Desa Mandiri Jaya sudah menjalin kemitraan pemasaran dengan mitra di Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang, menjangkau pasar yang jauh melampaui batas Kabupaten Bondowoso. Penelitian tentang budidaya lobster air tawar di wilayah Jawa Timur mengonfirmasi bahwa lobster air tawar seperti jenis Cherax quadricarinatus memiliki nilai jual yang sangat kompetitif, yakni antara Rp150.000,- hingga Rp300.000,- per kilogram di pasar lokal, jauh di atas ikan konsumsi konvensional seperti lele dan gurami. [5]

Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah terjaganya kepercayaan masyarakat Desa Tangsil Kulon terhadap institusi BUM Desa di tengah pandemi yang melemahkan kepercayaan publik terhadap banyak lembaga ekonomi desa. Langkah Athour yang memilih terus berproduksi daripada berhenti di tengah krisis menjadi sinyal positif yang membangun optimisme kolektif bahwa ekonomi desa bisa bangkit dari dalam, bukan hanya bergantung pada bantuan dari luar. [2]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi BUM Desa Mandiri Jaya adalah keterbatasan modal yang sangat jauh dari ideal untuk skala bisnis budidaya yang kompetitif. Dengan modal awal hanya Rp50.000.000,-, kapasitas produksi BUM Desa masih sangat kecil untuk memenuhi permintaan pasar secara konsisten, dan setiap gangguan teknis — seperti kematian massal akibat penyakit atau fluktuasi kualitas air — berpotensi menghapus sebagian besar modal yang sudah diinvestasikan. [3]

Kendala kedua adalah kerentanan terhadap faktor eksternal yang tidak terprediksi, sebagaimana terbukti ketika pandemi Covid-19 memaksa alokasi modal tambahan Rp100.000.000,- yang semula untuk simpan-pinjam dialihkan sepenuhnya menjadi BLT bagi 158 KPM. Peristiwa ini menunjukkan bahwa BUM Desa di wilayah perdesaan harus selalu memperhitungkan risiko diversion anggaran akibat keadaan darurat sosial yang bisa datang kapan saja tanpa pemberitahuan. [1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan unit usaha lobster air tawar ini dijaga melalui strategi pemilahan produksi yang disiplin antara indukan untuk regenerasi stok dan lobster komersial untuk penjualan. Dengan pendekatan ini, modal BUM Desa tidak habis dalam satu siklus penjualan, melainkan terus berputar karena stok indukan yang terus berkembang biak menghasilkan bibit baru yang dapat dibesarkan atau dijual sebagai bibit kepada mitra komunitas. [1]

Untuk jangka panjang, Athour berencana mengintegrasikan unit budidaya lobster dengan program simpan-pinjam BUM Desa yang masih tertunda, sehingga masyarakat sekitar yang tertarik bermitra dapat mengakses modal usaha melalui BUM Desa sendiri. Pada September 2023, Bupati Bondowoso meresmikan BUMDes Bersama Tenggarang Mandiri LKD di tingkat kecamatan, sebuah perkembangan kelembagaan yang membuka peluang bagi BUM Desa Tangsil Kulon untuk bergabung dalam ekosistem BUMDes bersama yang lebih kuat secara finansial dan manajerial. [2]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model budidaya lobster air tawar BUM Desa Tangsil Kulon sangat layak direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Bondowoso dan seluruh Jawa Timur karena kebutuhan infrastrukturnya minimal — cukup kolam terpal, aerator, dan bibit indukan yang dapat dimulai dari modal kecil. Desa-desa yang belum memiliki unit usaha BUMDes yang aktif dapat menjadikan model ini sebagai pintu masuk pertama yang rendah risiko dan memiliki pasar yang sudah terbukti ada. [4]

Untuk scale up, Athour Rahman sudah merencanakan model kemitraan komunitas di mana masyarakat sekitar Desa Tangsil Kulon menjadi mitra produksi BUM Desa, menerima bibit dan pendampingan teknis dari BUM Desa, lalu menjual hasil panen kembali ke BUM Desa yang sudah memiliki jaringan pasar di Mojokerto, Banyuwangi, dan Malang. Model plasma-inti ini terbukti efektif dalam industri perikanan budidaya di seluruh Indonesia dan dapat mengubah BUM Desa Tangsil Kulon dari produsen kecil menjadi agregator lobster air tawar yang menggerakkan puluhan rumah tangga peternak di sekitarnya. [3][6]

Daftar Pustaka

[1] Portal Inovasi Desa, “BUMDes Tangsil Kulon Kembangkan Inovasi Budidaya Lobster Air Tawar,” Kabupaten Bondowoso. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/tag/kabupaten-bondowoso/

[2] Radar Bangsa, “Bupati Bondowoso Resmikan BUMDes Bersama Tenggarang Mandiri LKD,” 19 Sep. 2023. [Online]. Available: https://radarbangsa.co.id/bupati-bondowoso-resmikan-bumdes-bersama-tenggarang-mandiri-lkd/

[3] N. Nurhayati et al., “Pemberdayaan Masyarakat Desa Sukamakmur Kabupaten Jember Melalui Budidaya Lobster Air Tawar,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan dan Ilmu Pangan (JPMPI), Universitas Mataram, 2021. [Online]. Available: https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jpmpi/article/download/954/643/4585

[4] Pemerintah Kalurahan Margomulyo, Seyegan, “BUMDes Usaha Mulia Margomulyo Menjajagi Program Kemitraan Budidaya Lobster Air Tawar,” [Online]. Available: https://seyegan.slemankab.go.id/bumdes-usaha-mulia-margomulyo-menjajagi-program-kemitraan-budidaya-lobster-air-tawar/

[5] CNN Indonesia, “Budi Daya Lobster Air Tawar, Cuannya Lancar,” 14 Nov. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=UiFsP1JA3Ns

[6] Desa Pacellekang, “Budidaya Lobster Air Tawar oleh BUMDes Bumi Pacellekang Sejahtera,” 13 Mei 2024. [Online]. Available: https://pacellekang.digitaldesa.id/potensi/budidaya-lobster-air-tawar-oleh-bumdes-bumi-pacellekang-sejahtera

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.