Ringkasan Inovasi

BUMDes Palugon, Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap mengembangkan unit usaha produksi pupuk organik berbahan dasar kotoran ternak yang melimpah di desa. Inovasi ini lahir dari kebutuhan mendesak para petani hortikultura lokal yang menghadapi penurunan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan selama bertahun-tahun.

Tujuan utama inovasi ini adalah meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi hortikultura, khususnya cabai sebagai komoditas unggulan Desa Palugon yang berada di ketinggian 800–1.000 mdpl. Dampak utamanya mencakup pemulihan kesuburan lahan pertanian, peningkatan pendapatan petani, pengurangan limbah ternak, dan penguatan pendapatan asli desa melalui unit usaha BUMDes yang produktif.

Nama Inovasi:Usaha Produksi Pupuk Organik BUMDes Palugon
Alamat:Desa Palugon, Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
Inovator:Pemerintah Desa Palugon dan BUMDes Palugon
Kontak: Tasja Suryana (Kepala Desa Palugon)
Telepon: +62-878-3746-3802

Latar Belakang

Desa Palugon terletak di kawasan pegunungan Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada ketinggian antara 800–1.000 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini menjadikan Desa Palugon sangat ideal untuk budidaya berbagai jenis cabai dan komoditas hortikultura lainnya yang bernilai ekonomi tinggi.

Namun di balik potensi besar itu, para petani Desa Palugon menghadapi masalah serius yang kian memburuk dari tahun ke tahun. Ketergantungan pada pupuk kimia sintetis dalam jangka panjang telah menguras kesuburan tanah secara drastis. Kualitas cabai yang dihasilkan merosot, produktivitas lahan menurun, dan biaya produksi petani terus meningkat karena harga pupuk kimia yang tidak stabil [1].

Di sisi lain, sebagian besar warga Desa Palugon memelihara ternak ruminansia dan unggas sebagai sumber penghasilan tambahan. Kotoran ternak yang dihasilkan setiap harinya justru dibuang begitu saja tanpa pemanfaatan, menjadi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan. BUMDes Palugon melihat ironi ini sebagai peluang strategis: melimpahnya bahan baku pupuk organik tersedia gratis di desa, sementara petani justru mengeluarkan biaya besar untuk membeli pupuk kimia dari luar desa.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang dikembangkan adalah unit usaha produksi pupuk organik berbasis kotoran ternak lokal di bawah naungan BUMDes Palugon, yang mulai beroperasi secara resmi pada tahun 2020. Gagasan ini lahir dari diskusi internal antara pengurus BUMDes, Pemerintah Desa Palugon, dan kelompok tani setempat yang secara bersama-sama mengidentifikasi akar masalah penurunan produktivitas lahan.

Inovasi ini bekerja melalui rantai nilai yang sederhana namun efektif: peternak warga menyetor kotoran ternak ke unit produksi BUMDes, kemudian tim BUMDes mengolahnya melalui proses pengomposan terstandar menjadi pupuk organik padat dan cair. Produk pupuk yang dihasilkan didistribusikan pertama kali kepada petani hortikultura di Desa Palugon dengan harga terjangkau, dan kelebihan produksi dipasarkan ke desa-desa sekitar. Pendekatan ini selaras dengan konsep pertanian sirkular yang terbukti mampu meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem tanah [2].

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi diawali dengan pemetaan potensi bahan baku yang tersedia di desa, termasuk jenis ternak, volume kotoran yang dihasilkan per hari, dan kebutuhan pupuk petani hortikultura lokal. Data ini menjadi dasar perhitungan kapasitas produksi yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan pasar internal desa.

Tahap berikutnya adalah pembangunan unit produksi sederhana menggunakan dana desa dan modal awal BUMDes. BUMDes memilih teknologi pengomposan aerobik yang mudah dioperasikan oleh tenaga lokal tanpa keahlian teknis khusus. Pada fase uji coba awal, beberapa batch pupuk mengalami kegagalan proses akibat ketidaktepatan rasio bahan campuran dan kelembaban selama fermentasi. Kegagalan ini menjadi pembelajaran berharga yang mendorong BUMDes untuk menyusun prosedur standar operasional (SOP) produksi secara tertulis agar kualitas pupuk konsisten di setiap batch produksi [3].

Setelah SOP produksi tersusun dan kualitas pupuk stabil, BUMDes mulai mendistribusikan pupuk organik kepada kelompok tani sebagai program percontohan. Petani yang menggunakan pupuk organik BUMDes pada lahan percobaan mencatat peningkatan kondisi fisik tanah yang terasa nyata dalam dua hingga tiga siklus tanam pertama. Keberhasilan percontohan ini memperkuat kepercayaan petani lain untuk beralih dari pupuk kimia ke produk organik BUMDes secara bertahap.

Faktor Penentu Keberhasilan

Ketersediaan bahan baku kotoran ternak yang berlimpah sepanjang tahun menjadi keunggulan kompetitif utama inovasi ini yang tidak dimiliki semua desa. Kondisi ini memungkinkan BUMDes Palugon menekan biaya produksi secara signifikan sehingga harga jual pupuk organik jauh lebih terjangkau dibandingkan pupuk kimia komersial di pasaran.

Dukungan penuh Pemerintah Desa Palugon di bawah Kepala Desa Tasja Suryana, baik dalam penyediaan modal awal maupun fasilitasi lahan produksi, menjadi fondasi kelembagaan yang tak tergantikan. Komitmen pemerintah desa untuk menjadikan cabai kembali sebagai produk unggulan desa memberikan arah dan tujuan yang jelas bagi seluruh ekosistem inovasi, mulai dari produksi pupuk hingga pemasaran hasil panen petani [4].

Hasil dan Dampak Inovasi

Sejak unit produksi beroperasi pada 2020, BUMDes Palugon berhasil mengubah limbah ternak yang sebelumnya tidak bernilai menjadi produk pertanian komersial yang mendatangkan pendapatan bagi desa. Petani yang beralih ke pupuk organik melaporkan perbaikan tekstur dan kesuburan tanah yang terukur setelah beberapa siklus tanam, seiring pemulihan populasi mikroorganisme tanah yang sempat mati akibat paparan kimia jangka panjang.

Secara ekonomi, petani cabai Desa Palugon merasakan efisiensi biaya produksi karena harga pupuk organik BUMDes lebih terjangkau daripada pupuk kimia subsidi yang ketersediaannya sering tidak menentu. Kualitas cabai yang dihasilkan berangsur membaik, membuka peluang untuk menembus pasar dengan harga premium. Kondisi ini mendukung visi Pemerintah Desa Palugon untuk mengembalikan cabai sebagai komoditas unggulan yang kompetitif di tingkat regional [1].

Dari sisi lingkungan, inovasi ini secara efektif mengurangi limbah kotoran ternak yang sebelumnya mencemari saluran air dan lingkungan permukiman. Peternak warga juga memperoleh nilai tambah dari kotoran ternak mereka, baik dalam bentuk kompensasi langsung maupun keringanan harga pupuk, menciptakan ekosistem ekonomi sirkular tingkat desa yang berkelanjutan.

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama yang dihadapi BUMDes Palugon adalah mengubah kebiasaan petani yang sudah lama bergantung pada pupuk kimia dan merasa enggan bereksperimen dengan produk baru. Proses edukasi dan demonstrasi lapangan membutuhkan waktu yang tidak singkat sebelum petani benar-benar yakin bahwa pupuk organik mampu menyamai atau bahkan melampaui efektivitas pupuk kimia dalam jangka panjang.

Kendala teknis berupa ketidakstabilan kualitas produk pada fase awal produksi juga sempat mengurangi kepercayaan petani terhadap produk BUMDes. Fluktuasi kualitas terjadi karena variasi kandungan nutrisi bahan baku dari berbagai jenis ternak yang berbeda. Tantangan ini mendorong BUMDes untuk menetapkan standar penerimaan bahan baku dan memperbaiki proses formulasi campuran pupuk secara lebih ketat [5].

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Palugon merancang keberlanjutan inovasi melalui pengembangan kapasitas produksi secara bertahap seiring meningkatnya permintaan dari petani desa dan desa-desa sekitar. Reinvestasi sebagian keuntungan penjualan pupuk organik untuk pembelian peralatan produksi yang lebih efisien menjadi prioritas agar biaya produksi per unit terus menurun seiring skala produksi yang membesar.

Integrasi program pupuk organik dengan agenda revitalisasi cabai sebagai komoditas unggulan desa menciptakan ekosistem pertanian yang saling menopang secara jangka panjang. Semakin banyak petani yang beralih ke cabai organik berkualitas tinggi, semakin besar permintaan pupuk organik BUMDes, dan semakin kuat pula pendapatan asli desa yang dihasilkan dari siklus ini [6].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi BUMDes Palugon sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa agraris lain di Indonesia yang memiliki populasi ternak besar namun belum mengoptimalkan kotoran ternak sebagai sumber daya produktif. Kunci replikasinya hanya membutuhkan tiga elemen: bahan baku kotoran ternak yang tersedia, komitmen BUMDes untuk mengelola unit produksi, dan petani yang siap beralih ke pertanian organik.

BUMDes Palugon berpotensi menjadi pusat pembelajaran dan percontohan bagi desa-desa di Kecamatan Wanareja maupun Kabupaten Cilacap yang ingin mereplikasi model serupa. Dengan fasilitasi dari Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap dan Kementerian Desa, program pelatihan pengomposan berbasis BUMDes dapat disebarluaskan sebagai bagian dari gerakan pertanian organik desa secara nasional, sejalan dengan target pengurangan penggunaan pupuk kimia yang diamanatkan dalam kebijakan pertanian berkelanjutan Indonesia [7].

Daftar Pustaka

[1] Redaksi Gatra, “Genjot Produksi Hortikultura, BUMDes Palugon Kembangkan Unit Usaha Produksi Pupuk Organik,” gatra.com, 2020. [Online]. Available: https://www.gatra.com

[2] Tim Sewagati ITS, “Pemanfaatan Limbah Organik untuk Produksi Pupuk Kompos Berbasis Komunitas,” Sewagati: Jurnal Pengabdian Masyarakat ITS, 2022. [Online]. Available: https://journal.its.ac.id

[3] Tim LPM, “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Organik sebagai Pupuk dan Pakan Ternak,” Ethos Journal, Universitas Islam Bandung, 2021. [Online]. Available: https://ejournal.unisba.ac.id

[4] Bumdes.id, “Mendorong Inovasi dalam Industri Kecil dan Kerajinan melalui Badan Usaha Milik Desa,” bumdes.id, 2025. [Online]. Available: https://bumdes.id

[5] I. Suryani et al., “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Organik sebagai Pakan Ternak dan Pupuk,” Academia.edu, 2021. [Online]. Available: https://www.academia.edu

[6] Kementerian Dalam Negeri RI, “Dokumen Pembelajaran Inovasi Desa,” ppid.kemendagri.go.id. [Online]. Available: https://ppid.kemendagri.go.id

[7] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Panduan Pengembangan BUMDes Berbasis Potensi Lokal,” kemendesa.go.id. [Online]. Available: https://www.kemendesa.go.id