Ringkasan Inovasi

Pemerintah Desa Pagar Gunung, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, mengembangkan inovasi wisata embung dengan melakukan normalisasi Danau Sekintang secara bertahap menggunakan Dana Desa sejak tahun 2017. Danau yang semula terbengkalai kini berfungsi ganda sebagai embung irigasi pertanian sekaligus destinasi wisata air yang menjadi ikon baru Kabupaten Muara Enim. [1]

Inovasi ini lahir dari prakarsa warga Dusun V yang kemudian disepakati bersama oleh seluruh masyarakat desa. Dengan total investasi Dana Desa selama tiga tahun (2017–2019) sebesar Rp 802 juta ditambah dukungan APBD Kabupaten sebesar Rp 988 juta, Danau Sekintang telah bertransformasi menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes) yang mandiri dan berkelanjutan. [1]

Nama InovasiWisata Embung Desa Danau Sekintang
AlamatDesa Pagar Gunung, Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan
InovatorPemerintah Desa Pagar Gunung
KontakKepala Desa Pagar Gunung
Websitesisparnas.kemenpar.go.id/p/17303

Latar Belakang

Desa Pagar Gunung terletak di Kecamatan Lubai, sebuah wilayah pedalaman Kabupaten Muara Enim yang jauh dari pusat kota dan memiliki keterbatasan sumber pendapatan desa. Sebelum inovasi ini lahir, lahan di sekitar Danau Sekintang tidak terkelola secara optimal—danau mengalami pendangkalan dan tidak berfungsi sebagai penampung air yang memadai untuk kebutuhan irigasi pertanian warga. [2]

Di sisi pariwisata, Kabupaten Muara Enim belum memiliki banyak destinasi wisata alam berbasis desa yang dapat menarik kunjungan wisatawan lokal. Potensi Danau Sekintang yang terletak strategis—tepat di sebelah kantor desa dan dekat permukiman—belum pernah dimanfaatkan sebagai aset ekonomi desa. [1]

Penelitian tentang wisata embung di berbagai desa Indonesia menunjukkan bahwa embung yang semula hanya berfungsi sebagai sumber irigasi dapat bertransformasi menjadi destinasi wisata yang mendongkrak PADes secara signifikan. [3] Desa Pagar Gunung menangkap peluang ini dengan menggabungkan fungsi hidrologis dan pariwisata dalam satu objek pembangunan yang terintegrasi, sebuah pendekatan multifungsi yang semakin banyak diterapkan desa-desa inovatif di Nusantara. [4]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi Wisata Embung Danau Sekintang lahir dari usulan warga Dusun V yang disambut baik oleh seluruh dusun dalam forum musyawarah desa. Nama Sekintang sendiri bermakna “perjuangan bertahan hidup sekuat tenaga”—sebuah penamaan yang mencerminkan semangat kolektif warga untuk bangkit dan maju melalui potensi alam yang mereka miliki. [1]

Secara teknis, inovasi ini melakukan normalisasi danau melalui penggalian kolam, pembuatan tanggul embung, dan pengembangan sarana wisata air secara bertahap. Pengunjung dapat menikmati wahana perahu bebek, berjalan di atas dermaga, melintas jembatan kendaraan roda empat, serta memanfaatkan fasilitas toilet umum yang terbangun rapi di tepi danau. [1] Lokasi yang strategis—bisa dijangkau dengan sepeda motor atau mobil yang parkir langsung di tepi danau—menjadikan Danau Sekintang mudah diakses tanpa tenaga ekstra. [5]

Proses Penerapan Inovasi

Proses pembangunan berjalan tiga fase selama tiga tahun berturut-turut. Pada 2017, dengan anggaran Rp 135 juta, fokus pekerjaan mencakup pembersihan lahan, penggalian kolam, dan pembuatan tanggul embung sebagai fondasi fisik. [1] Pada 2018, dengan anggaran Rp 317 juta, pembangunan berlanjut pada tanggul pengaman dan pembelian wahana permainan air berupa perahu bebek untuk mulai menarik pengunjung. [1]

Pada 2019, anggaran Dana Desa sebesar Rp 350 juta difokuskan pada pembangunan sarana prasarana wisata: toilet/WC umum, dermaga, dan dua jembatan kendaraan roda empat yang memperkuat aksesibilitas kawasan. [1] Apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim tiba pada tahun yang sama, berupa suntikan APBD sebesar Rp 988.370.770 untuk pembangunan pagar keliling kawasan wisata—memperkuat keamanan dan kerapian estetika lokasi. [1]

Pendekatan bertahap ini merupakan strategi cerdas: setiap fase memberikan hasil yang bisa langsung dinilai warga dan pemangku kepentingan, sehingga momentum dukungan terus terjaga. Penelitian serupa tentang pengembangan embung wisata di desa-desa Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur bertahap terbukti lebih efektif menjaga partisipasi warga dibandingkan pembangunan serentak yang berisiko salah prioritas. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan Wisata Embung Danau Sekintang ditopang oleh dua pilar utama: legitimasi komunitas dan dukungan lintas pemerintahan. Gagasan yang lahir dari bawah—dari musyawarah warga Dusun V hingga kesepakatan seluruh dusun—memastikan bahwa seluruh masyarakat merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan program. [1]

Faktor kedua adalah konsistensi pemerintah desa mengalokasikan Dana Desa selama tiga tahun berturut-turut untuk satu program yang sama—sebuah komitmen jangka panjang yang jarang dilakukan desa-desa lain. Keberhasilan ini kemudian menarik kepercayaan Pemerintah Kabupaten Muara Enim untuk turut berinvestasi melalui APBD, membuktikan bahwa kinerja inovasi desa yang konsisten mampu membuka pintu kolaborasi vertikal yang lebih besar. [2]

Hasil dan Dampak Inovasi

Danau Sekintang kini telah menjadi ikon wisata baru Kabupaten Muara Enim, menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar daerah. Keberadaannya menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dari sektor pariwisata—sebuah sumber pendapatan baru yang sebelumnya tidak dimiliki Desa Pagar Gunung sama sekali. [2]

Total investasi yang masuk ke Desa Pagar Gunung untuk pengembangan Danau Sekintang mencapai lebih dari Rp 1,79 miliar (gabungan Dana Desa dan APBD), sebuah angka yang mencerminkan kepercayaan multipihak terhadap inovasi ini. Penelitian tentang wisata embung di desa-desa Jawa menunjukkan bahwa embung wisata yang dikelola dengan baik mampu menghasilkan pendapatan kios dan tiket masuk hingga Rp 5 juta per minggu—potensi serupa yang terbuka bagi Danau Sekintang jika pengelolaan terus dioptimalkan. [6]

Secara kualitatif, fungsi ganda Danau Sekintang sebagai embung irigasi menjamin bahwa petani desa tetap mendapatkan manfaat pengairan sepanjang tahun, sehingga sektor pertanian dan pariwisata tumbuh bersama secara harmonis. Studi tentang wisata embung di Indonesia mengonfirmasi bahwa keberadaan destinasi wisata berbasis embung desa juga menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal—dari pengelola wahana, pedagang makanan, hingga petugas parkir. [7]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama pengembangan wisata embung desa secara umum adalah keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam mengelola destinasi wisata secara profesional—mulai dari promosi digital, hospitality, hingga manajemen keuangan wisata. [8] Di Desa Pagar Gunung, keterbatasan ini berpotensi muncul karena pengelolaan objek wisata membutuhkan kemampuan yang berbeda dari tata kelola pemerintahan desa konvensional. [3]

Tantangan kedua adalah pemeliharaan infrastruktur wisata secara berkelanjutan, karena wahana air, dermaga, dan fasilitas umum memerlukan biaya operasional dan pemeliharaan rutin yang harus dianggarkan secara konsisten. Cuaca ekstrem dan musim hujan yang tinggi di Sumatera Selatan juga berpotensi mengancam stabilitas tanggul embung yang memerlukan pemantauan dan perawatan teknis berkala. [1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan wisata Danau Sekintang dirancang melalui skema pengelolaan berbasis komunitas di mana pendapatan dari tiket masuk dan wahana wisata diputar kembali untuk biaya operasional dan pengembangan fasilitas baru. Model pengelolaan ekowisata berbasis BUMDes terbukti efektif di banyak desa—mulai dari Umbul Ponggok di Klaten yang meraih PADes Rp 16 miliar hingga Boon Pring Andeman di Malang—dan menjadi rujukan yang relevan bagi Desa Pagar Gunung. [9]

Koordinasi yang sudah terjalin dengan Pemerintah Kabupaten Muara Enim menjadi modal penting untuk mendorong keberlanjutan melalui program promosi wisata daerah. Desa Pagar Gunung juga terdaftar di Sistem Informasi Pariwisata Nasional (Sisparnas) Kementerian Pariwisata, yang membuka akses terhadap jaringan promosi wisata nasional dan potensi program pendampingan dari pemerintah pusat. [5]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Wisata Embung Danau Sekintang sangat relevan untuk direplikasi oleh desa-desa lain yang memiliki potensi sumber air atau badan air yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pendekatan bertahap—dari normalisasi fungsi irigasi menuju pengembangan fasilitas wisata—meminimalkan risiko finansial dan memungkinkan desa menyesuaikan pengembangan dengan kapasitas anggaran Dana Desa yang tersedia setiap tahun. [4]

Pemerintah Kabupaten Muara Enim dapat menjadikan Desa Pagar Gunung sebagai percontohan kawasan wisata berbasis desa yang direplikasi ke desa-desa lain di Kecamatan Lubai maupun kecamatan tetangga dengan potensi danau atau embung serupa. [2] Integrasi Danau Sekintang ke dalam paket wisata kabupaten bersama destinasi lain di Muara Enim akan memperkuat daya tarik dan arus kunjungan wisatawan secara kolektif. [10]

Daftar Pustaka

[1] Redaksi, “Wisata Embung Desa, Desa Pagar Gunung Kembangkan Danau Sekintang Jadi Ikon Wisata Muara Enim,” inovasi.web.id, 16 Feb. 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/wisata-embung-desa-desa-pagar-gunung-kembangkan-danau-sekintang-jadi-ikon-wisata-muara-enim/

[2] Redaksi, “Danau Sekintang Bisa Menjadi Pilihan Warga Muara Enim untuk Berwisata,” Koran Sinar Pagi Juara, 29 Jan. 2020. [Online]. Available: https://www.koransinarpagijuara.com/2020/01/29/danau-sekintang-bisa-menjadi-pilihan-warga-muara-enim-untuk-berwisata/

[3] N. Rahmawati dkk., “Pendampingan Desa dalam Optimalisasi Pengelolaan Embung Menjadi Destinasi Wisata di Desa Giriasih, Purwosari, Gunung Kidul,” Jurnal Ilmu Bisnis, Sosial, Ekonomi dan JPM, STIEI Jogja, 2022. [Online]. Available: https://jurnal.steijogja.ac.id/index.php/ibsejpm/article/view/36

[4] A. Haris dkk., “Pengembangan Potensi Ekonomi Desa Melalui Wisata Embung Pintar,” Jurnal Berdikari, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. [Online]. Available: https://journal.umy.ac.id/index.php/berdikari/article/download/7411/5253

[5] Kementerian Pariwisata RI, “Danau Sekintang,” Sistem Informasi Pariwisata Nasional (Sisparnas). [Online]. Available: https://sisparnas.kemenpar.go.id/p/17303

[6] N. Firdaus dkk., “Desa Wisata Tegaren: SADEWA, JADESTA, ADWI dan Peningkatan PADes,” Tourism and Sustainable Journal, STIEPAR, 2022. [Online]. Available: http://jurnal.stiepar.ac.id/index.php/tsj/article/download/221/167

[7] Redaksi, “Pengaruh Wisata Embung Terhadap Pendapatan Masyarakat,” Ecodev Journal, Universitas Bung Hatta, Des. 2024. [Online]. Available: https://ecodev.bunghatta.ac.id/index.php/ecodev/article/view/92

[8] R. Anggraeni dkk., “Pengelolaan Ekowisata Boonpring oleh BUMDes dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Desa,” JATI: Jurnal Administrasi dan Tata Kelola, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2021. DOI: 10.18196/jati.v4i2.12414

[9] A. Ramadhan dkk., “Sinergitas Pemerintah Desa dan BUMDes dalam Pengembangan Pariwisata Desa Ponggok,” JURRISH, Universitas Padjadjaran. [Online]. Available: https://prin.or.id/index.php/JURRISH/article/download/5829/4338/19609

[10] Redaksi, “Ini Dua Danau Instagramable di Muara Enim Jadi Tempat Wisata,” Enim Ekspres, 7 Nov. 2024. [Online]. Available: https://enimekspres.bacakoran.co/sekundang/read/3474/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.