Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Malalin di Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan merespons ancaman pandemi Covid-19 dengan inovasi berbasis kearifan lokal: melatih warga membuat antiseptik alami dan jamu dari tanaman lokal seperti daun kelor, kunyit, jahe, temulawak, daun sirih, dan jeruk nipis. Pelatihan yang difasilitasi menggunakan Dana Desa ini juga mencakup pemeriksaan suhu tubuh warga secara berkala, menjadikan Desa Malalin sebagai contoh desa yang mandiri dalam mitigasi kesehatan berbasis sumber daya lokal yang tersedia di lingkungan desa sendiri. [1]
Tujuan inovasi ini adalah membangun kesadaran dan keterampilan warga agar mampu melindungi diri dari penyebaran Covid-19 secara mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada fasilitas kesehatan yang terbatas di tingkat desa. Dampak utamanya adalah meningkatnya literasi kesehatan warga Desa Malalin, terbentuknya kebiasaan hidup sehat baru yang bertumpu pada potensi tanaman lokal, serta terwujudnya sinergi antara kebijakan pemerintah kabupaten, gugus tugas Covid-19, dan inisiatif pemerintah desa dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi kehidupan normal baru. [1]
| Nama Inovasi | : | Pelatihan Pembuatan Jamu dan Antiseptik Alami — Desa Sehat Tanggap Covid-19 |
| Alamat | : | Desa Malalin, Kecamatan Cendana, Kabupaten Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan |
| Inovator | : | Sareng Toto, SE (Kepala Desa Malalin); Pendamping Kecamatan Mansur, SE dan Syahrir Mardua Mallapa; Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid |
| Kontak | : | Sareng Toto, SE (Kepala Desa Malalin): +62-813-4202-5097 Website Kabupaten Enrekang: https://enrekangkab.go.id |
Latar Belakang
Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal 2020 memaksa seluruh lapisan masyarakat, termasuk di desa-desa terpencil, untuk berhadapan langsung dengan ancaman kesehatan yang belum pernah ada sebelumnya. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, keterbatasan fasilitas kesehatan di tingkat desa menjadi kerentanan nyata yang berpotensi memperparah dampak pandemi jika masyarakat tidak memiliki kemampuan perlindungan mandiri. [2]
Desa Malalin, yang terletak di Kecamatan Cendana dengan akses ke fasilitas kesehatan yang tidak selalu mudah, menghadapi kebutuhan mendesak untuk membekali warganya dengan pengetahuan praktis tentang pencegahan penularan virus. Kebutuhan akan antiseptik dan suplemen imunitas melonjak tajam di seluruh Indonesia, sementara pasokan dari pasar seringkali terhambat dan harganya tidak terjangkau bagi sebagian warga desa. Kondisi ini menciptakan celah yang perlu diisi oleh solusi berbasis sumber daya lokal yang sudah tersedia di lingkungan desa sendiri. [3]
Di sisi lain, Desa Malalin memiliki potensi tanaman obat yang melimpah di sekitar lingkungan warga, termasuk daun kelor, kunyit, jahe, temulawak, daun sirih, dan jeruk nipis — tanaman yang secara ilmiah terbukti memiliki sifat antioksidan, antimikroba, dan imunomodulator yang memperkuat sistem imun tubuh. Potensi inilah yang menjadi peluang konkret untuk mengubah ancaman pandemi menjadi momentum pemberdayaan masyarakat berbasis kearifan dan sumber daya lokal. [4]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah program pelatihan terintegrasi pembuatan antiseptik alami dan jamu peningkat imunitas berbasis tanaman lokal, yang dibiayai melalui realokasi Dana Desa sesuai arahan pemerintah pusat untuk penanganan Covid-19. Inovasi ini lahir dari inisiatif Kepala Desa Sareng Toto yang bermitra dengan pendamping desa untuk mengalihkan potensi herbal yang sudah ada di sekitar warga menjadi produk kesehatan fungsional yang dapat diproduksi sendiri oleh setiap keluarga. [1]
Program pelatihan bekerja dalam tiga modul yang saling mendukung: pertama, pelatihan pembuatan antiseptik dari bahan alami seperti daun sirih dan jeruk nipis yang memiliki kandungan antibakteri dan antivirus; kedua, pelatihan pembuatan jamu dan minuman herbal dari daun kelor, kunyit, jahe, dan temulawak yang terbukti meningkatkan daya tahan tubuh; dan ketiga, praktik pemeriksaan suhu tubuh mandiri sebagai langkah deteksi dini gejala Covid-19. Ketiga modul ini dirancang agar setiap warga dapat mempraktikkannya secara mandiri di rumah menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh tanpa biaya tinggi. [4]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dengan koordinasi antara Kepala Desa Sareng Toto dan tim pendamping desa — Mansur, SE serta Syahrir Mardua Mallapa dari Pendamping Kecamatan, didukung Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid — untuk merancang kurikulum pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas warga Desa Malalin. Identifikasi tanaman lokal yang tersedia dan mudah diakses menjadi titik awal yang memastikan pelatihan ini bisa langsung dipraktikkan tanpa hambatan akses bahan baku. [1]
Pelaksanaan pelatihan dilakukan secara langsung dengan melibatkan warga dari berbagai kalangan usia, dengan suasana partisipatif yang mendorong peserta untuk aktif bertanya dan mencoba langsung proses pembuatan. Antusiasme warga yang tinggi selama pelatihan menjadi indikasi awal bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal — yang memanfaatkan pengetahuan turun-temurun tentang tanaman obat — jauh lebih mudah diterima masyarakat dibandingkan pendekatan medis teknis yang asing bagi mereka. [3]
Pemeriksaan suhu tubuh yang dilakukan bersamaan dengan pelatihan juga berfungsi sebagai sistem surveilans kesehatan desa yang informal namun efektif, memungkinkan pemerintah desa memantau kondisi kesehatan warga secara real-time tanpa memerlukan alat diagnostik yang mahal. Integrasi tiga komponen — produksi antiseptik, pembuatan jamu, dan pemeriksaan suhu — dalam satu program terpadu menjadi pembelajaran penting bahwa respons pandemi di tingkat desa paling efektif jika bersifat holistik, menyentuh aspek pencegahan, peningkatan imunitas, dan deteksi dini secara bersamaan. [4]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor penentu utama adalah kepemimpinan proaktif Kepala Desa Sareng Toto yang tidak menunggu instruksi dari atas, tetapi langsung mengambil inisiatif menggunakan Dana Desa untuk merespons darurat kesehatan dengan cara yang relevan bagi kondisi lokal desanya. Keputusannya untuk mengintegrasikan kearifan lokal — pengetahuan tentang tanaman obat yang sudah dimiliki warga — ke dalam program mitigasi pandemi menciptakan relevansi yang tinggi dan penerimaan yang cepat dari masyarakat. [1]
Faktor kedua adalah kualitas tim pendamping yang hadir tidak hanya sebagai instruktur teknis, tetapi sebagai fasilitator yang memahami konteks sosial-budaya Desa Malalin. Sinergi antara Pendamping Kecamatan Mansur dan Syahrir Mardua Mallapa dengan Tenaga Ahli Kabupaten Nurhaji Majid menghasilkan materi pelatihan yang secara teknis akurat sekaligus mudah dipahami dan dipraktikkan oleh warga desa tanpa latar belakang pendidikan kesehatan sekalipun. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak langsung yang paling terasa adalah meningkatnya keterampilan warga Desa Malalin dalam memproduksi antiseptik alami dan jamu peningkat imunitas secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada produk-produk pasar yang langka dan mahal selama masa pandemi. Warga yang sebelumnya tidak familiar dengan proses ekstraksi tanaman obat kini mampu memproduksi minuman herbal berbahan daun kelor, kunyit, jahe, dan temulawak yang dapat dikonsumsi secara rutin oleh seluruh anggota keluarga. [4]
Penelitian secara nasional mengonfirmasi efektivitas pendekatan yang diambil Desa Malalin. Temulawak mengandung kurkuminoid yang terbukti memiliki aktivitas imunomodulator, jahe mengandung gingerol dengan sifat anti-inflamasi dan antivirus, sementara daun kelor kaya vitamin C dan antioksidan yang mendukung sistem imun. Penggunaan daun sirih dan jeruk nipis sebagai bahan antiseptik alami juga memiliki dasar ilmiah kuat karena mengandung eugenol dan asam sitrat yang efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme patogen. [4][3]
Dampak sosial yang tidak kalah penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri komunitas bahwa mereka tidak harus menjadi penonton pasif dalam menghadapi pandemi. Inovasi ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah desa dengan gugus tugas kabupaten, membuktikan bahwa kebijakan penanganan pandemi paling efektif ketika pemerintah desa diberi ruang untuk beradaptasi dengan kondisi lokal mereka, bukan hanya mengikuti protokol seragam dari atas. [2]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah memastikan standarisasi dosis dan cara pembuatan antiseptik dan jamu yang dipraktikkan warga agar produk yang dihasilkan benar-benar efektif secara klinis, bukan sekadar ritual yang memberikan rasa aman semu. Tanpa panduan yang jelas tentang konsentrasi bahan aktif yang tepat, ada risiko produk yang dihasilkan tidak mencapai efektivitas yang diharapkan, terutama untuk antiseptik yang membutuhkan kadar tertentu untuk benar-benar membunuh virus. [3]
Kendala lain adalah menjaga keberlanjutan praktik pembuatan jamu dan antiseptik setelah momentum pelatihan berlalu, karena kebiasaan baru membutuhkan penguatan berulang agar benar-benar terinternalisasi menjadi gaya hidup sehari-hari. Tanpa sistem monitoring dan penguatan berkala, ada kecenderungan warga kembali ke pola konsumsi lama setelah rasa khawatir terhadap pandemi mulai mereda, yang justru menjadi momen paling kritis untuk mempertahankan kebiasaan sehat baru yang sudah berhasil dibangun. [4]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi ini didorong melalui pelembagaan program pelatihan sebagai bagian dari kegiatan rutin bidang kesehatan di APBDes, sehingga pelatihan serupa dapat diulang secara berkala dan menjangkau warga baru yang belum sempat mengikuti sesi pertama. Pengembangan Taman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di tingkat RT atau RW menjadi langkah lanjutan yang strategis untuk memastikan bahan baku antiseptik dan jamu selalu tersedia di lingkungan terdekat warga tanpa biaya pengadaan. [2][5]
Untuk jangka panjang, keterampilan pembuatan jamu dan antiseptik yang sudah dimiliki warga dapat dikembangkan menjadi unit usaha produktif melalui BUM Desa atau kelompok usaha perempuan desa, mengubah modal pengetahuan yang lahir dari respons darurat pandemi menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Pengembangan produk herbal kemasan dari bahan lokal Desa Malalin berpotensi menjadi komoditas ekonomi kreatif desa yang memiliki pasar di era kesadaran kesehatan masyarakat yang semakin tinggi pascapandemi. [4][6]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pelatihan Desa Malalin sangat mudah direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Enrekang maupun seluruh Sulawesi Selatan karena prasyaratnya sangat sederhana: ketersediaan tanaman obat lokal, fasilitator yang terampil, dan anggaran Dana Desa yang difokuskan pada bidang kesehatan. Dokumen pelatihan yang disusun oleh pendamping desa dapat dijadikan panduan standar yang disebarkan melalui forum pendamping desa kabupaten untuk memfasilitasi replikasi yang cepat dan sistematis. [1]
Untuk scale up nasional, Kementerian Desa PDTT dan Kementerian Kesehatan telah mendorong pengembangan program Desa Tanggap Covid-19 dan TOGA sebagai prioritas penggunaan Dana Desa, menciptakan ekosistem kebijakan yang mendukung replikasi model Desa Malalin ke ribuan desa di seluruh Indonesia. Desa Malalin dapat berperan sebagai desa percontohan di Sulawesi Selatan untuk program integrasi tanaman obat lokal dengan sistem kesehatan desa, terutama dalam konteks penguatan ketahanan kesehatan komunitas menghadapi ancaman pandemi atau wabah yang mungkin terjadi di masa mendatang. [2]
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi Desa Malalin dalam pelatihan pembuatan jamu dan antiseptik alami berkontribusi secara nyata pada empat tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang saling berkaitan. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini membuktikan bahwa desa — sekalipun dengan sumber daya terbatas — mampu menjadi aktor aktif dalam pencapaian agenda pembangunan global ketika diberi kepercayaan dan ruang untuk berinovasi sesuai kebutuhan dan potensi lokalnya. [7][8]
| SDGs | Penjelasan Kontribusi |
|---|---|
| SDG 1 Tanpa Kemiskinan | Pelatihan membuat antiseptik dan jamu dari tanaman lokal secara langsung mengurangi pengeluaran rumah tangga yang melonjak selama pandemi. Keluarga miskin tidak perlu membeli antiseptik dan suplemen mahal dari pasar karena sudah mampu memproduksinya sendiri dari pekarangan rumah. [6] |
| SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera | Ini adalah kontribusi inti dan terkuat dari inovasi Desa Malalin. Program memperkuat akses warga terhadap sarana pencegahan penyakit yang terjangkau, meningkatkan imunitas komunitas secara masif melalui konsumsi herbal berbasis bukti ilmiah, dan membangun sistem deteksi dini suhu tubuh di tingkat desa sebagai lini pertahanan pertama terhadap penyebaran Covid-19. [7][4] |
| SDG 8 Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | Keterampilan yang diperoleh warga berpotensi dikembangkan menjadi unit usaha produktif berbasis produk herbal kemasan melalui BUM Desa atau kelompok perempuan desa. Transformasi pengetahuan menjadi produk ekonomi menciptakan peluang kerja baru di desa tanpa memerlukan modal infrastruktur yang besar. [9] |
| SDG 17 Kemitraan untuk Tujuan | Inovasi ini terwujud melalui kemitraan nyata antara pemerintah desa, pendamping kecamatan, tenaga ahli kabupaten, dan gugus tugas Covid-19 dalam satu program terpadu. Kolaborasi multi-pihak ini membuktikan bahwa pencapaian SDGs di tingkat akar rumput hanya mungkin terjadi melalui sinergi lintas institusi yang terstruktur dan saling percaya. [2] |
Daftar Pustaka
[1] Portal Inovasi Desa, “Tangkal Covid-19, Desa Malalin Latih Warga Bikin Jamu dan Antiseptik,” [Online]. Available: https://inovasi.web.id
[2] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Panduan Penggunaan Dana Desa untuk Penanganan Covid-19,” 2020. [Online]. Available: https://www.kemendesa.go.id
[3] M. Sulistyorini et al., “Efektivitas Antiseptik Alami Berbasis Tanaman Lokal dalam Pencegahan Covid-19 di Masyarakat Pedesaan,” HIGEIA Journal of Public Health Research and Development, Universitas Negeri Semarang, 2021. [Online]. Available: https://journal.unnes.ac.id/sju/higeia/article/view/37792
[4] D. Rahmawati et al., “Potensi Tanaman Herbal Indonesia sebagai Imunomodulator di Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi (JMPF), Universitas Gadjah Mada, 2021. [Online]. Available: https://jurnal.ugm.ac.id/jmpf/article/view/57990
[5] Tim Pengabdian UHB, “Pemberdayaan Masyarakat Desa Tudungano Melalui Pengembangan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Upaya Kemandirian Kesehatan,” Jurnal PIMAS, 2025. [Online]. Available: https://ejournal.uhb.ac.id/index.php/PIMAS/article/view/2063
[6] LPPM Universitas Pakuan, “Pemberdayaan UMKM dalam Pembuatan Jamu Tradisional dari Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai Upaya Pencapaian SDGs,” [Online]. Available: https://fmipa.unpak.ac.id
[7] Bappenas / SDGs Indonesia, “Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera,” SDGs Universitas Brawijaya. [Online]. Available: https://sdgs.ub.ac.id/inacol-sdgs/17-goals-bappenas/sdgs-3-kehidupan-sehat-dan-sejahtera/
[8] Tim Pengabdian UMPR, “Edukasi dan Pelatihan Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga sebagai Upaya Pencapaian SDGs di Bidang Kesehatan,” PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 2025. [Online]. Available: https://journal.umpr.ac.id/index.php/pengabdianmu/article/view/10042
[9] UNUSA SDGs Center, “Konservasi Tanaman Herbal Dorong Konsumsi Minuman Sehat dan Pemberdayaan Ibu PKK,” 18 Sep. 2025. [Online]. Available: https://sdgs.unusa.ac.id
DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara
Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan
Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT),
Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa.
Desa Bergerak Membangun Indonesia.
