Ringkasan Inovasi

BUMDes Renajaya Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap menggandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) untuk mengolah limbah cangkang kerang totok Thoe menjadi kerajinan tangan dan bahan pakan ternak. Inovasi ini menjawab dua tantangan sekaligus, yaitu pencemaran lingkungan Sungai Serayu dan rendahnya nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan lokal.

Kerja sama antara BUMDes dan perguruan tinggi ini menghasilkan pendekatan berbasis riset dan teknologi tepat guna yang terukur. Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai tambah dari limbah yang selama ini terbuang dan membahayakan ekosistem sungai serta keselamatan warga sekitar.

Nama Inovasi:Pengolahan Limbah Cangkang Kerang Totok Thoe menjadi Kerajinan dan Pakan Ternak
Alamat:Desa Karangrena, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
Inovator:Pemerintah Desa Karangrena dan BUMDes Renajaya Karangrena, bermitra dengan Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP)
Kontak: Martin Tri Santoso, S.M (Direktur BUMDes Renajaya Karangrena)
Telepon: 083120775644
Alamat: Jl. Adipati Penetesan, Karangrena, Maos, Cilacap

Latar Belakang

Desa Karangrena adalah desa nelayan yang terletak di tepi Sungai Serayu, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap. Salah satu mata pencaharian utama warganya adalah menangkap dan mengolah kerang totok Thoe yang hidup di aliran sungai tersebut.

Setiap nelayan Thoe rata-rata menghasilkan 10 kg kerang per hari. Karena berat cangkang mencapai lima kali lipat berat isinya, setiap nelayan menghasilkan sekitar 50 kg limbah cangkang per hari. Dengan jumlah nelayan Thoe yang mencapai ratusan orang di desa tersebut, total limbah yang dihasilkan setiap hari mencapai angka yang sangat besar dan tidak terkelola [1].

Limbah cangkang kerang yang dibuang sembarangan kembali ke aliran Sungai Serayu menimbulkan ancaman serius. Tepi cangkang yang tajam membahayakan warga yang beraktivitas di sungai, sementara penumpukan limbah merusak ekosistem dan kualitas air [2]. Kesadaran akan bahaya ini mendorong BUMDes Renajaya untuk mencari solusi yang tidak hanya mengatasi masalah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi para nelayan.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari pertemuan antara Direktur BUMDes Renajaya, Martin Tri Santoso, S.M., dan Wakil Rektor IV UMP Bidang Riset, Inovasi dan Teknologi, Dr. H. Anwar Ma’ruf, S.T., M.T., pada 5 Februari 2020. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat bahwa cangkang kerang totok Thoe berpotensi diolah menjadi dua produk unggulan: kerajinan tangan bernilai jual tinggi dan bahan pakan ternak berprotein [3].

Inovasi ini bekerja melalui dua jalur pengolahan. Jalur pertama, cangkang dipilih berdasarkan kualitas estetika untuk dijadikan bahan baku kerajinan tangan seperti hiasan dan aksesori. Jalur kedua, cangkang yang tidak memenuhi syarat estetika dihancurkan, difermentasi, dan diolah menjadi pelet atau campuran pakan ternak kaya kalsium, mengikuti pendekatan teknologi serupa yang terbukti berhasil di wilayah pesisir lain di Indonesia [4].

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan pemetaan dan inventarisasi volume limbah cangkang kerang di Desa Karangrena oleh tim pengurus BUMDes Renajaya. Data lapangan menunjukkan akumulasi limbah yang sangat besar dan membutuhkan penanganan segera. Hasil pemetaan inilah yang menjadi landasan ilmiah untuk merancang skala dan model pengolahan yang sesuai.

Tahap berikutnya adalah membangun kemitraan formal dengan UMP untuk memulai serangkaian penelitian dan uji coba produk. UMP berkomitmen mendukung melalui tiga skema: penelitian sesuai kearifan lokal, pengembangan teknologi tepat guna (TTG), dan pelatihan peningkatan keterampilan pengurus BUMDes [3]. Pendekatan TTG dipilih karena terbukti mampu menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan dan kapasitas masyarakat desa secara langsung [5].

Pada tahap uji coba pengolahan pakan ternak, tim menghadapi tantangan teknis dalam proses penggilingan cangkang karena kekerasan material. Pengalaman dari pengabdian masyarakat di daerah lain menunjukkan bahwa penggunaan mesin hammer mill dan mixer adalah solusi paling efektif untuk menghancurkan cangkang kerang menjadi tepung [2]. Pembelajaran ini menjadi referensi teknis penting bagi BUMDes Renajaya dalam memilih peralatan yang tepat.

Faktor Penentu Keberhasilan

Kepemimpinan proaktif Martin Tri Santoso sebagai Direktur BUMDes sekaligus Ketua Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos menjadi faktor pendorong utama. Kemampuannya membangun jaringan dengan perguruan tinggi membuka akses pada sumber daya riset dan teknologi yang tidak dimiliki desa secara mandiri.

Dukungan institusional dari UMP melalui skema penelitian dan pengabdian masyarakat memberikan legitimasi ilmiah pada inovasi ini. Sinergi antara pengetahuan lokal BUMDes dan kapasitas akademik UMP menciptakan fondasi inovasi yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara teknis maupun sosial [6].

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara lingkungan, inovasi ini secara langsung mengurangi volume limbah cangkang kerang yang mencemari aliran Sungai Serayu. Ekosistem sungai mulai pulih karena penumpukan limbah tajam yang selama ini membahayakan aktivitas warga dapat dikendalikan. Dampak ini sejalan dengan temuan riset serupa di Desa Mojoasem yang menunjukkan pengolahan cangkang kerang secara sistematis mampu mengurangi pencemaran lingkungan sungai secara signifikan [7].

Secara ekonomi, nelayan Thoe mendapatkan sumber pendapatan tambahan dari cangkang yang sebelumnya tidak bernilai sama sekali. Produk kerajinan berbahan cangkang kerang memiliki potensi pasar yang luas karena keunikan bahan bakunya yang khas dari budaya pesisir Serayu. Pakan ternak berbahan cangkang kerang juga menekan biaya produksi peternak lokal karena menyediakan sumber kalsium murah sebagai substitusi pakan pabrikan [4].

Secara kelembagaan, kolaborasi BUMDes Renajaya dengan UMP memperkuat posisi BUMDes sebagai motor inovasi desa yang berbasis data dan riset. Hal ini mendorong kepercayaan masyarakat terhadap BUMDes sebagai lembaga yang mampu menyelesaikan masalah nyata di desa, bukan sekadar entitas administratif.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar terletak pada keterbatasan infrastruktur pengolahan di tingkat desa, terutama mesin penghancur cangkang yang membutuhkan investasi awal cukup besar. Tanpa peralatan yang memadai, proses produksi pakan ternak tidak dapat berjalan pada skala yang ekonomis dan berkelanjutan.

Kendala lain adalah rendahnya kesadaran sebagian nelayan untuk tidak membuang cangkang sembarangan sebelum sistem pengumpulan limbah terorganisasi terbentuk. Perubahan perilaku ini memerlukan waktu dan pendekatan edukasi yang konsisten dari BUMDes dan pemerintah desa agar rantai pasokan limbah berjalan lancar.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi ini bertumpu pada sistem kemitraan jangka panjang antara BUMDes Renajaya dan UMP yang terus diperkuat melalui program penelitian dan pengabdian masyarakat tahunan. Riset berkelanjutan memastikan kualitas produk terus meningkat dan sesuai dengan standar pasar yang berkembang.

BUMDes juga merancang sistem bank limbah desa, di mana nelayan menyetorkan cangkang kerang dan mendapatkan kompensasi berupa poin atau uang tunai. Mekanisme ini menciptakan insentif ekonomi langsung yang mendorong partisipasi aktif nelayan sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku produksi secara kontinu [6].

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi BUMDes Renajaya sangat relevan direplikasi di desa-desa nelayan lain yang menghadapi masalah serupa dengan limbah hasil laut. Kunci replikasinya sederhana: identifikasi limbah lokal yang berlimpah, bangun kemitraan dengan perguruan tinggi terdekat, dan kembangkan teknologi tepat guna yang sesuai kapasitas desa. Paguyuban BUMDes se-Kecamatan Maos yang diketuai Martin Tri Santoso menjadi wadah potensial untuk menyebarkan model ini ke BUMDes-BUMDes tetangga.

UMP sendiri telah menyatakan komitmen untuk memperluas program serupa ke BUMDes-BUMDes lain di seluruh Indonesia, sesuai motto institusinya “UMP untuk Indonesia” [3]. Dengan dukungan Kementerian Desa sebagai fasilitator replikasi nasional, inovasi pengelolaan limbah berbasis kemitraan BUMDes–perguruan tinggi ini berpotensi menjadi model pemberdayaan desa pesisir di seluruh nusantara [8].

Daftar Pustaka

[1] BUMDes Renajaya Karangrena, “Tangani Masalah Kerang Totok Thoe, Bumdes Renajaya Mengandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” Kompasiana, 5 Mar. 2020. [Online]. Available: https://www.kompasiana.com/bumdesrenajaya2113

[2] Tim LPM-UGJ, “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Cangkang Kerang Hijau sebagai Pakan Ternak dan Ikan,” Ethos Journal, Universitas Islam Bandung, 2021. [Online]. Available: https://ejournal.unisba.ac.id

[3] Portal Inovasi Desa, “Tangani Masalah Kerang Totok Thoe, Bumdes Renajaya Mengandeng Universitas Muhammadiyah Purwokerto,” inovasi.web.id, 9 Mar. 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id

[4] I. Suryani et al., “Penerapan Teknologi Pengolahan Limbah Cangkang Kerang Hijau sebagai Pakan Ternak dan Ikan,” Academia.edu, 2021. [Online]. Available: https://www.academia.edu

[5] M. Maulani, Teknologi Tepat Guna. Jakarta: Universitas Trisakti, 2022. [Online]. Available: https://repository.karyailmiah.trisakti.ac.id

[6] Bumdes.id, “Mendorong Inovasi dalam Industri Kecil dan Kerajinan melalui Badan Usaha Milik Desa,” bumdes.id, 2025. [Online]. Available: https://bumdes.id

[7] Tim Sewagati ITS, “Pemanfaatan Limbah Cangkang Kerang untuk Produksi Pupuk Organik Cair,” Sewagati: Jurnal Pengabdian Masyarakat ITS, 2022. [Online]. Available: https://journal.its.ac.id

[8] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, “Pengembangan BUMDes Berbasis Potensi Lokal,” kemendesa.go.id. [Online]. Available: https://www.kemendesa.go.id