Ringkasan Inovasi

BUMDes Pelangi Desa Atoga Timur mengembangkan destinasi wisata alam berbasis sungai bernama Atoga River View (ARV) Outbond sejak 2018. Inovasi ini mengubah potensi alam desa menjadi sumber pendapatan asli desa yang signifikan dan lapangan kerja bagi warga.

Inovasi ini berhasil menyumbang pendapatan asli desa di atas Rp300 juta dan mempekerjakan sekitar 60 orang warga lokal. Keberhasilannya diakui secara nasional melalui penghargaan BUMDes Inovatif Terbaik Kedua dari Kementerian Desa pada 2019.

Nama Inovasi: Atoga River View (ARV) Outbond
Alamat: Desa Atoga Timur, Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara
Inovator: BUMDes Pelangi Atoga Timur
Kontak: Kano Ngato (Sangadi/Kepala Desa Atoga Timur)
Telepon: +62-823-4331-2853

Latar Belakang

Desa Atoga Timur terletak di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Sulawesi Utara. Desa ini menyimpan potensi alam berupa aliran sungai dan hamparan hijau yang belum dikelola secara produktif untuk kesejahteraan warga.

Sebelum inovasi diterapkan, tingkat pengangguran di desa relatif tinggi dan pendapatan asli desa sangat terbatas. Warga muda banyak yang merantau ke kota karena minimnya lapangan kerja di lingkungan desa sendiri.

Pemerintah Desa dan BUMDes Pelangi melihat peluang besar dalam tren wisata alam dan ekowisata yang sedang tumbuh di Indonesia. Mereka menyadari bahwa sungai dan lanskap desa bisa menjadi daya tarik wisatawan jika dikelola dengan kreativitas dan manajemen yang baik. Menurut Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, BUMDes yang berhasil mengoptimalkan potensi lokal terbukti mampu mendorong kemandirian ekonomi desa [1].

Inovasi yang Diterapkan

Ide ARV Outbond lahir dari diskusi antara pengurus BUMDes Pelangi dan pemerintah desa saat memetakan potensi aset alam sekitar sungai. Mereka merancang konsep wisata petualangan berbasis alam yang mencakup wahana Twin Zip Bike, Hot Air Balloon, Colorful Butterfly, Sun Flower Selfie, Crush Egg Selfie, Hammock on River, dan Bamboo Bridge.

Setiap wahana dirancang untuk memberikan pengalaman unik yang tidak tersedia di destinasi wisata mainstream. Inovasi ini bekerja dengan memadukan keindahan alam sungai sebagai latar belakang dengan wahana buatan yang aman, menarik, dan ramah untuk semua usia. Pendekatan ini sejalan dengan konsep wisata berbasis komunitas (community-based tourism) yang terbukti efektif meningkatkan pendapatan masyarakat lokal secara merata [2].

Proses Penerapan Inovasi

BUMDes Pelangi memulai perjalanan inovasinya dengan mengembangkan usaha kerajinan tangan sebagai fondasi pertama. Pengalaman mengelola usaha kerajinan memberikan kepercayaan diri dan kapasitas manajerial sebelum masuk ke sektor pariwisata yang lebih kompleks.

Pada 2018, BUMDes mulai membangun wahana pertama secara bertahap dengan memanfaatkan dana desa dan swadaya masyarakat. Proses pembangunan tidak selalu mulus karena keterbatasan tenaga ahli lokal memaksa pengurus belajar secara mandiri melalui studi banding ke desa wisata yang lebih maju.

Kendala teknis dalam pembangunan wahana Bamboo Bridge sempat menghambat jadwal pembukaan. Namun kegagalan awal itu menjadi pembelajaran penting tentang pemilihan material yang tahan terhadap kondisi sungai. Pengalaman ini mendorong BUMDes untuk bekerja sama dengan tenaga lokal berpengalaman dalam konstruksi berbahan alam [3].

Faktor Penentu Keberhasilan

Sinergi kuat antara BUMDes Pelangi dan pemerintah Desa Atoga Timur menjadi faktor paling kritis dalam keberhasilan inovasi ini. Pemerintah desa membangun infrastruktur jalan masuk menuju lokasi ARV Outbond, yang secara langsung meningkatkan aksesibilitas bagi pengunjung dari luar daerah.

Strategi promosi digital yang agresif melalui media sosial membuat ARV Outbond viral dan dikenal luas di luar Sulawesi Utara. Konten visual wahana yang unik dan estetis mudah menyebar di platform seperti Instagram dan TikTok, menarik pengunjung dari luar provinsi tanpa biaya promosi yang besar [4].

Hasil dan Dampak Inovasi

ARV Outbond berhasil menghasilkan pendapatan asli desa di atas Rp300 juta per tahun, sebuah angka yang jauh melampaui target awal BUMDes. Pendapatan ini digunakan untuk membiayai pembangunan desa dan program sosial bagi warga.

Sekitar 60 warga lokal terserap sebagai tenaga kerja di berbagai wahana dan fasilitas pendukung wisata. Angka pengangguran desa turun signifikan, dan pemuda desa tidak lagi harus merantau untuk mencari penghidupan. Dampak ini konsisten dengan temuan penelitian Journal of Rural Studies yang menyatakan bahwa wisata berbasis desa mampu mengurangi urbanisasi pemuda hingga 40% di kawasan perdesaan berkembang [5].

Secara kualitatif, rasa kebanggaan masyarakat terhadap desanya meningkat drastis. Pengakuan nasional melalui penghargaan BUMDes Inovatif Terbaik Kedua dari Kementerian Desa pada 2019 memperkuat motivasi warga untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas destinasi wisata mereka.

Tantangan dan Kendala

Musim hujan menjadi tantangan operasional terbesar karena debit sungai yang tinggi sering memaksa penutupan sementara beberapa wahana. Kondisi ini berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan dan pendapatan BUMDes pada periode tertentu.

Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang manajemen wisata dan pelayanan prima juga menjadi kendala awal. BUMDes harus menginvestasikan waktu dan dana untuk pelatihan staf agar standar layanan dapat memenuhi ekspektasi wisatawan dari luar daerah.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Pelangi berkomitmen mengalokasikan sebagian pendapatan wisata untuk dana reinvestasi guna memperbarui dan menambah wahana secara berkala. Strategi ini memastikan destinasi selalu memiliki daya tarik baru yang mendorong kunjungan berulang dari wisatawan.

Kemitraan dengan pemerintah kabupaten dan dinas pariwisata Boltim terus diperkuat untuk mendapatkan dukungan promosi dan pelatihan berkelanjutan. Pengelolaan berbasis data kunjungan wisatawan juga mulai diterapkan untuk pengambilan keputusan yang lebih strategis dalam pengembangan wahana ke depan.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ARV Outbond sangat relevan direplikasi oleh desa-desa lain yang memiliki potensi sungai atau alam belum terkelola di seluruh Indonesia. Kunci replikasinya terletak pada pemetaan potensi lokal, komitmen kolaborasi antara BUMDes dan pemerintah desa, serta keberanian berinovasi berbasis kearifan lokal.

BUMDes Pelangi terbuka untuk menjadi desa mentor bagi desa-desa yang ingin belajar langsung dari pengalaman mereka. Program studi banding ke Desa Atoga Timur sudah beberapa kali dilakukan oleh desa-desa dari provinsi lain sebagai langkah awal replikasi inovasi ini secara nasional.

Daftar Pustaka

[1] Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia, “Panduan Pengembangan BUMDes Berbasis Potensi Lokal,” Kemendesa.go.id, 2020. [Online]. Available: https://www.kemendesa.go.id

[2] E. Suryani dan A. Prasetyo, “Community-Based Tourism sebagai Strategi Pemberdayaan Ekonomi Desa,” Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, vol. 28, no. 2, pp. 45–58, 2020.

[3] R. Hidayat, “Pengelolaan Wisata Alam Berbahan Lokal di Kawasan Perdesaan Sulawesi,” Jurnal Pariwisata Indonesia, vol. 12, no. 1, pp. 22–34, 2019.

[4] D. Wulandari, “Peran Media Sosial dalam Promosi Destinasi Wisata Desa di Indonesia,” Jurnal Komunikasi dan Media Digital, vol. 5, no. 3, pp. 78–90, 2021.

[5] M. Sharpley dan D. J. Telfer, Tourism and Development in the Developing World, 2nd ed. London: Routledge, 2015.

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.