Ringkasan Inovasi
Desa Sikasur di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, membangun inovasi tata kelola desa wisata yang memadukan alam, budaya lokal, dan kewirausahaan warga dalam satu ekosistem layanan. Inovasi ini menempatkan BUMDes sebagai penggerak utama, lalu menghubungkan objek wisata, homestay, UMKM, pertunjukan budaya, dan pasar warga agar saling menguatkan. [1] [2] [3]
Tujuan inovasi ini adalah mengubah potensi alam yang tersebar menjadi sumber ekonomi desa yang tertata, inklusif, dan berkelanjutan. Dampak utamanya tampak ketika Sikasur dinobatkan sebagai Desa Wisata Maju terbaik pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang 2022, lalu tumbuh sebagai ruang usaha bersama bagi pedagang, pengelola wisata, pelaku homestay, dan kelompok seni desa. [1] [4] [5]
| Nama Inovasi | : | Tata Kelola Desa Wisata Sikasur Berbasis BUMDes dan Masyarakat |
| Alamat | : | Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Pemerintah Desa Sikasur dipimpin Kepala Desa Kusni bersama BUMDes, pelaku UMKM, kelompok seni, dan masyarakat Desa Sikasur |
| Kontak | : | email: indikabadanhanif@gmail.com, telepon: 082149023236; desawisatasikasurofficial@gmail.com, 082328775373 |
Latar Belakang
Sikasur berada di wilayah selatan Pemalang yang kaya lanskap alam, tetapi lama berada di pinggir arus utama pertumbuhan pariwisata. Potensi itu sebenarnya besar, namun belum seluruhnya terkelola sebagai pengalaman wisata yang utuh, mudah dijual, dan memberi manfaat luas bagi warga. [5] [3]
Sebelum inovasi ini menguat, kebutuhan utama desa adalah model pengelolaan yang mampu menyatukan objek wisata, pelaku usaha, dan budaya lokal dalam satu arus manfaat. Desa tidak cukup hanya memiliki air terjun, telaga, atau sungai, karena tanpa tata kelola yang jelas, pengunjung datang sesaat tetapi nilai ekonominya mudah bocor keluar desa. [6] [7]
Pandemi juga memperlihatkan betapa rapuhnya ekonomi lokal bila tidak ditopang inovasi yang adaptif. Ketika situasi mulai pulih, Sikasur menangkap peluang untuk menata wisata berbasis masyarakat agar desa tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga mampu memutar belanja wisata menjadi penghasilan warga. [1] [8]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah tata kelola desa wisata terpadu berbasis BUMDes dan partisipasi masyarakat. Desa menggabungkan Curug Bengkawah, Telaga Silating, rafting, homestay, pasar mingguan, UMKM, dan pertunjukan budaya menjadi paket pengalaman yang membuat pengunjung tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di desa. [1] [3] [9]
Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa wisata akan kuat bila desa menjual cerita, suasana, dan keterlibatan warga, bukan hanya pemandangan. Karena itu, BUMDes berperan sebagai simpul pengelola, sementara warga dibina agar mampu menangkap pasar melalui usaha kuliner, homestay, jasa wisata, kerajinan, dan atraksi budaya. [1] [8] [6]
Proses Penerapan Inovasi
Proses penerapan dimulai dari pemetaan potensi desa dan pembentukan alur kerja yang lebih terintegrasi. Pemerintah desa lalu menempatkan BUMDes sebagai pengelola, agar keputusan bisnis, pengembangan atraksi, dan pembinaan warga berjalan dengan arah yang sama. [1] [8]
Tahap berikutnya adalah eksperimen pasar dan pengujian model layanan. Desa tidak hanya memoles objek utama, tetapi mencoba menggabungkan wisata alam dengan budaya lokal seperti kuda lumping, sintren, calung, dan karawitan agar pengalaman wisata terasa khas dan tidak mudah ditiru. [1] [5]
Saat pandemi mereda, desa menguji penguatan ekonomi warga melalui Pasar Krempyeng dengan melibatkan 80 pedagang lokal dan menyediakan ruang usaha yang khusus untuk warga Sikasur. Langkah ini menjadi pembelajaran penting bahwa wisata yang sehat harus cepat menyalurkan manfaat ekonomi ke pelaku kecil, bukan hanya ke pengelola utama. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Keberhasilan Sikasur bertumpu pada kepemimpinan desa yang mampu menghubungkan visi pariwisata dengan kerja kolektif masyarakat. Kepala desa, BUMDes, pelaku seni, pelaku UMKM, dan warga bergerak dalam peran yang saling melengkapi, sehingga inovasi tidak berhenti pada promosi, tetapi hidup dalam aktivitas sehari-hari. [1] [8]
Faktor lain yang sangat menentukan ialah kemampuan desa mengemas wisata sebagai ekosistem, bukan lokasi tunggal. Ketika telaga, air terjun, rafting, homestay, seni, dan pasar warga saling terhubung, pengunjung mendapat pengalaman yang lengkap dan desa memperoleh sumber pendapatan yang lebih beragam. [3] [5] [7]
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil yang paling terukur adalah keberhasilan Desa Sikasur meraih predikat terbaik kategori Desa Wisata Maju pada Festival Lomba Desa Wisata Kabupaten Pemalang 2022. Dalam ajang itu, Sikasur unggul di antara 15 desa wisata peserta yang dinilai dari dukungan kebijakan, partisipasi warga, sarana prasarana, dan keterlibatan UMKM. [1] [10]
Dampak ekonomi terlihat dari tumbuhnya homestay, rafting, UMKM, dan pasar warga yang memperluas titik perputaran uang di desa. Kehadiran 80 pedagang dalam Pasar Krempyeng menunjukkan bahwa inovasi ini tidak hanya menghadirkan destinasi, tetapi juga membuka ruang usaha yang cepat menyentuh pendapatan rumah tangga. [1] [11]
Dampak kualitatifnya juga kuat. Sikasur berhasil membangun identitas desa wisata yang menggabungkan keindahan alam dengan kebudayaan lokal, sehingga warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama yang merasa memiliki arah pembangunan desanya. [5] [6]
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama inovasi desa wisata adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kunjungan dan kelestarian sumber daya alam. Curug Bengkawah misalnya, berada dalam konteks perlindungan kawasan, sehingga pengembangan wisata harus berhati-hati agar daya tarik alam tidak rusak oleh tekanan kunjungan dan pembangunan fasilitas. [1] [5]
Kendala lain terletak pada kebutuhan promosi digital, kapasitas SDM, dan kesinambungan kualitas layanan. Jika pelatihan warga, pengelolaan data kunjungan, dan standar pelayanan tidak diperkuat, maka desa wisata mudah ramai sesaat, tetapi sulit mempertahankan reputasi dalam jangka panjang. [8] [7]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan inovasi perlu dijaga dengan memperkuat kelembagaan BUMDes, menyusun standar layanan, dan memperbarui paket wisata sesuai tren pasar. Desa juga perlu memastikan bahwa pendapatan dari wisata diputar kembali untuk perawatan fasilitas, pelatihan warga, promosi, dan konservasi lingkungan. [8] [6]
Strategi jangka panjang lainnya ialah memperkuat kanal digital resmi, memperluas jejaring pemasaran, dan menjaga kalender atraksi desa agar kunjungan tidak bergantung pada musim tertentu. Dengan pola ini, Sikasur dapat tumbuh stabil sambil tetap menjaga karakter lokal yang menjadi sumber daya utamanya. [2] [3]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Sikasur dapat direplikasi oleh desa lain melalui langkah yang sederhana tetapi disiplin, yaitu memetakan aset wisata, menunjuk pengelola yang jelas, lalu menghubungkan objek wisata dengan usaha warga. Replikasi akan lebih berhasil bila desa tidak hanya fokus pada spot foto, tetapi membangun rantai nilai yang membuat belanja wisata menetap di desa. [7] [6]
Scale up dapat dilakukan melalui kerja sama antardesa dalam kawasan wisata seperti Dewi Nadulang, sehingga promosi, rute kunjungan, dan paket pengalaman bisa dijual bersama. Pendekatan kawasan akan membuat manfaat wisata menyebar lebih luas, sekaligus memperkuat posisi desa-desa selatan Pemalang sebagai destinasi yang saling terhubung. [10] [12]
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Sikasur Dinobatkan sebagai Desa Wisata Maju,” Mar. 2022. [Online]. Available: https://pemalangkab.go.id/2022/03/sikasur-dinobatkan-sebagai-desa-wisata-maju
[2] Kementerian Pariwisata, “Desa Wisata Sikasur – Jadesta,” [Online]. Available: https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/21296
[3] Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, “Desa Wisata Sikasur,” [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/sikasur_2
[4] Kabar Pemalang, “Sikasur Menjadi Desa Wisata Terbaik 2022,” 29-Mar-2022. [Online]. Available: https://kabarpemalang.id/arsip/sikasur-menjadi-desa-wisata-terbaik-2022/
[5] Langit7, “Desa Wisata Sikasur, Padukan Budaya dan Potensi Alam yang Memukau,” 13-Jul-2022. [Online]. Available: https://langit7.id/read/19045/1/desa-wisata-sikasur-padukan-budaya-dan-potensi-alam-yang-memukau-1657746449
[6] Journal of Administration, Governance, and Political Issues, “Peran BUMDes dalam Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat.” [Online]. Available: https://journal.pubmedia.id/index.php/jagpi/article/download/2516/2822/5250
[7] Journal Center, “Strategi Pembangunan Desa Wisata untuk Peningkatan Ekonomi Masyarakat.” [Online]. Available: https://journalcenter.org/index.php/jempper/article/download/5614/4318
[8] JSPM, “Peran BUMDes dalam Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat.” [Online]. Available: https://ojs.unimal.ac.id/jspm/article/download/22124/9464/60116
[9] Jadesta Jawa Tengah, “Atraksi Telaga Silating,” [Online]. Available: https://jateng.jadesta.com/atraksi/telaga_silating
[10] Pemerintah Kabupaten Pemalang, “Bangkitkan Pariwisata di Pemalang, Disparpora Kembangkan Potensi 27 Desa Wisata,” 11-Apr-2022. [Online]. Available: https://pemalangkab.go.id/2022/04/bangkitkan-pariwisata-di-pemalang-disparpora-kembangkan-potensi-27-desa-wisata
[11] Jadesta Jawa Tengah, “Produk Wisata Nasi Tenong,” [Online]. Available: https://jateng.jadesta.com/paket/nasi_tenong
[12] Suara.com, “Kembangkan Ekonomi Daerah, Ganjar Gelontorkan Bantuan untuk Bangun Desa Wisata,” 01-Aug-2022. [Online]. Available: https://www.suara.com/bisnis/2022/08/02/081444/kembangkan-ekonomi-daerah-ganjar-gelontorkan-bantuan-untuk-bangun-desa-wisata
___________________________________________
