Ringkasan Inovasi

Di lereng perbukitan Kampung Kokobaya, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah, seorang petani adat bernama Akulian Pakage merintis inovasi perkebunan teh yang kini dikenal sebagai Teh Cendrawasih. Kebun teh ini menjadi satu-satunya perkebunan teh yang dikelola masyarakat adat Papua secara mandiri tanpa pembukaan hutan secara masif [1].

Inovasi ini bertujuan mengubah lahan adat yang selama ini belum dimanfaatkan optimal menjadi sumber ekonomi produktif berkelanjutan bagi warga Kokobaya. Dengan dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai, kebun teh ini membuka peluang bagi Deiyai untuk memiliki industri teh lokal dengan nama produk “Teh Sariwangi Deiyai” sebagai produk unggulan Papua Tengah [2].

Nama Inovasi:Kebun Teh Cendrawasih — Inovasi Perkebunan Teh Berbasis Masyarakat Adat di Kampung Kokobaya, Deiyai
Alamat:Kampung Kokobaya, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah
Inovator:Akulian Pakage (Petani Pelopor) bersama Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai (Kepala Dinas: Alex Pigai)
Kontak:Dinas Pertanian Kabupaten Deiyai | Website: new.deiyaikab.go.id | Kampung Kokobaya, Distrik Tigi, Deiyai

Latar Belakang

Kabupaten Deiyai adalah daerah pemekaran Kabupaten Paniai yang terdiri atas 5 distrik dan 30 kampung dengan luas wilayah ±41.231,6 km² di dataran tinggi Papua Tengah [3]. Selama ini, ekonomi masyarakat bertumpu pada komoditas subsisten seperti ubi jalar dan sayuran lokal, sementara potensi perkebunan komersial sama sekali belum tergarap. Kondisi ini membuat masyarakat adat Deiyai terjebak pada pola pertanian subsisten yang menghasilkan pendapatan minimal.

Ekologi dataran tinggi Deiyai dengan curah hujan tinggi, tanah vulkanik subur, dan suhu sejuk sebenarnya sangat ideal untuk perkebunan teh. Kajian agroindustri teh Papua menunjukkan bahwa dataran tinggi Papua memiliki karakter tanah dan iklim yang mirip dengan kawasan perkebunan teh unggulan Indonesia di ketinggian 1.000–2.000 mdpl [4]. Potensi ekologis besar ini belum pernah dimanfaatkan karena tidak ada yang berani menjadi pelopor pertama.

Masyarakat adat Papua umumnya menghadapi tantangan struktural dalam berinovasi secara pertanian komersial. Riset tentang ekologi dan budaya petani asli Papua menunjukkan bahwa pola pertanian tradisional cenderung bersifat “ambil, petik, dan konsumsi” daripada “tanam, rawat, dan kembangkan” secara komersial [5]. Akulian Pakage hadir sebagai figur pengecualian yang membuktikan masyarakat adat mampu bertransisi ke pertanian perkebunan komersial berbasis kearifan lokal.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir lima tahun sebelum 2025 ketika Akulian Pakage mulai menanam tanaman teh di lereng perbukitan lahan adat miliknya di Kampung Kokobaya secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Ia mengolah daun teh secara tradisional tanpa pewarna dan bahan pengawet, menghasilkan produk yang dikenal sebagai Teh Cendrawasih — teh alami khas pegunungan Papua Tengah [1]. Nama “Cendrawasih” sengaja dipilih sebagai simbol kebanggaan identitas Papua dalam setiap cangkir teh yang tersaji.

Inovasi ini bekerja dengan memanfaatkan lahan adat lereng bukit yang selama ini terbengkalai untuk ditanami bibit teh secara bertahap. Proses pengolahan dilakukan secara manual tradisional, mulai dari petik pucuk daun teh, pelayuan, penggulungan, fermentasi alami, pengeringan, hingga pengemasan sederhana [2]. Model ini sepenuhnya menempatkan masyarakat adat sebagai pemilik dan pengelola, bukan hanya tenaga kerja dalam kebun milik pihak luar.

Proses Penerapan Inovasi

Akulian Pakage memulai proses penanaman teh sekitar lima tahun sebelum kunjungan resmi dinas pertanian, tanpa panduan teknis formal maupun dukungan pemerintah. Ia belajar secara otodidak tentang cara tanam, pemupukan, perawatan, hingga teknik panen dan pengolahan daun teh [2]. Proses panjang tanpa pendampingan ini menjadi ujian nyata sekaligus bukti komitmen luar biasa seorang petani adat dalam berinovasi.

Tahun 2025 menjadi titik balik penting ketika Kepala Dinas Pertanian Deiyai Alex Pigai bersama Kepala BPMPK Dr. Ferdinan Pakage melakukan kunjungan resmi pertama ke kebun teh Kokobaya. Dalam dialog tersebut, Akulian mengungkapkan kebutuhan mendesak: mesin babat rumput, gunting besar, pupuk, dan mesin giling daun teh [2]. Kunjungan inilah yang menjadi awal dari komitmen pemerintah daerah untuk hadir mendukung inovasi yang selama ini berjalan sendirian.

Dinas Pertanian Deiyai segera berkomitmen memberikan dana pembelian alat-alat kebutuhan jangka pendek, sementara mesin pengolah teh dianggarkan untuk tahun berikutnya. Pemerintah Provinsi Papua Tengah juga turut hadir melalui penyaluran bantuan bibit dan mesin pertanian kepada masyarakat Deiyai sebagai bagian dari program ketahanan pangan provinsi [6]. Langkah bertahap ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang responsif terhadap kebutuhan nyata petani lapangan.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah keberanian dan ketekunan Akulian Pakage sebagai pelopor yang bersedia menanggung risiko bertahun-tahun tanpa dukungan formal. Semangatnya yang tidak pernah padam dalam merawat kebun teh meskipun sendirian menjadi fundasi moral yang menginspirasi seluruh komunitas Kokobaya [1]. Kepercayaannya bahwa lahan adat adalah hak yang harus dipertahankan melalui produktivitas menjadi narasi kuat yang menggerakkan dukungan masyarakat sekitar.

Faktor kedua adalah respons cepat dan konkret Kepala Dinas Pertanian Alex Pigai yang tidak hanya hadir berkunjung, tetapi langsung berkomitmen memberikan bantuan nyata. Sikap responsif pemerintah daerah ini mematahkan kebiasaan lama di mana perhatian terhadap petani adat terpencil kerap hanya berhenti di tataran wacana [2]. Sinergi antara inisiatif bawah ke atas dari petani dan respons dari atas ke bawah dari pemerintah inilah yang menjadikan inovasi ini bermakna.

Hasil dan Dampak Inovasi

Kebun teh Kokobaya telah menghasilkan produk Teh Cendrawasih yang merupakan teh alami pertama dari Papua Tengah yang diolah secara tradisional tanpa bahan kimia tambahan. Produk ini menjadi bukti konkret bahwa lahan dataran tinggi Papua mampu menghasilkan komoditas perkebunan bernilai tinggi di luar sekadar tanaman pangan subsisten [1]. Kehadiran produk ini membuka imajinasi baru bagi warga Deiyai dan kampung-kampung sekitarnya tentang apa yang bisa dicapai dari tanah adat mereka sendiri.

Secara sosial, kebun teh Kokobaya membuka lapangan kerja bagi warga sekitar yang terlibat dalam proses perawatan, panen, dan pengolahan daun teh. Dinas Pertanian berencana mendatangkan mesin giling teh dan membangun industri pengolahan teh di Deiyai yang akan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal [2]. Visi ini didukung perkembangan di Papua Tengah secara lebih luas, di mana Kabupaten Mimika pun mulai menyiapkan lahan perkebunan teh seluas 150 hektare [7].

Dampak terbesar adalah pengakuan resmi pemerintah bahwa potensi perkebunan teh di Deiyai layak dikembangkan menjadi produk unggulan daerah yang meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kisah Akulian Pakage menjadi inspirasi bagi kampung-kampung lain di Deiyai untuk aktif mencari komoditas unggulan berbasis potensi lokal masing-masing [8]. Model ekonomi adat produktif yang dirintisnya membuktikan bahwa masyarakat adat Papua mampu membangun ekonomi sendiri tanpa kehilangan identitas dan kearifan lokal.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang dihadapi Akulian Pakage selama lima tahun pertama adalah ketidakhadiran sama sekali pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat dalam memberikan pendampingan teknis maupun dukungan sarana. Minimnya alat pertanian seperti mesin babat rumput, gunting pangkas, dan mesin pengolah teh memaksa seluruh proses dilakukan secara manual dengan tenaga terbatas [2]. Kondisi ini memperlambat skala produksi dan menghambat kualitas produk akhir secara signifikan.

Kendala distribusi dan pemasaran produk juga menjadi hambatan nyata bagi Teh Cendrawasih. Keterbatasan akses infrastruktur jalan di wilayah pegunungan Deiyai mempersulit pengiriman produk ke pasar yang lebih luas di luar kabupaten [9]. Belum adanya sertifikasi produk dan sistem pengemasan modern juga membatasi daya saing Teh Cendrawasih di pasar regional maupun nasional dalam jangka pendek.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijamin melalui rencana Dinas Pertanian Deiyai untuk menganggarkan mesin pengolah teh pada tahun anggaran berikutnya, menjadikan Deiyai sebagai kabupaten dengan industri pengolahan teh pertama di Papua Tengah. Kepala Dinas Alex Pigai juga mendorong warga Deiyai untuk mengambil bibit teh dari Kampung Kokobaya dan menanamnya di lahan masing-masing, membangun jaringan perkebunan teh yang lebih luas [2].

Pemerintah Provinsi Papua Tengah turut mendukung keberlanjutan melalui program bantuan komprehensif kepada masyarakat Deiyai untuk mendongkrak ketahanan pangan dan ekonomi lokal [6]. Strategi jangka panjang mengarah pada pengembangan Teh Sariwangi Deiyai sebagai merek produk unggulan kabupaten yang dipasarkan secara regional dan nasional. Model pertanian tradisional yang ramah lingkungan menjadi nilai jual unik yang membedakan produk ini dari teh industri konvensional.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Inovasi kebun teh Kampung Kokobaya berkontribusi pada beberapa tujuan SDGs secara nyata dan terukur. Inovasi ini secara khusus menggabungkan pendekatan ekologi lokal dengan pembangunan ekonomi yang inklusif, selaras dengan semangat pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan masyarakat adat [10].

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Perkebunan teh membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat adat Kokobaya yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian subsisten dengan penghasilan sangat terbatas.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Kebun teh Cendrawasih menciptakan lapangan kerja produktif bagi warga Deiyai, meningkatkan nilai ekonomi lahan adat, dan membuka jalur menuju industri pengolahan teh lokal yang berkelanjutan.
SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan:Inovasi berbasis masyarakat adat ini mengurangi kesenjangan ekonomi antara wilayah pegunungan Papua Tengah dengan daerah yang lebih berkembang, dengan cara mengoptimalkan potensi lokal.
SDGs 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab:Pengolahan teh secara tradisional tanpa pewarna dan bahan pengawet menghasilkan produk pangan alami yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan konsumen.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Pengelolaan kebun teh tanpa pembukaan hutan secara masif menjaga keseimbangan ekosistem lereng perbukitan Deiyai dan melestarikan keanekaragaman hayati tanah adat.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Sinergi antara petani adat Akulian Pakage, Dinas Pertanian Deiyai, dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah mewujudkan kemitraan multi-pihak yang efektif dalam pembangunan ekonomi daerah tertinggal.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model kebun teh Kokobaya sangat potensial direplikasi di kampung-kampung lain di Deiyai maupun seluruh wilayah dataran tinggi Papua Tengah yang memiliki kondisi agroekologi serupa. Kepala Dinas Pertanian Alex Pigai secara eksplisit mendorong warga Deiyai mengambil bibit dari Kampung Kokobaya dan menanamnya di wilayah masing-masing [2]. Kebun Kokobaya secara organik telah berfungsi sebagai pusat pembibitan dan pusat pembelajaran teknis bagi calon petani teh di Deiyai.

Scale up inovasi pada level yang lebih besar dapat belajar dari Kabupaten Mimika yang telah merencanakan pembukaan lahan perkebunan teh seluas 150 hektare di kaki Pegunungan Papua [7]. Dokumentasi pengalaman Akulian Pakage — termasuk teknik tanam tradisional, pengolahan tanpa bahan kimia, dan model pengelolaan lahan adat — dapat menjadi kurikulum pelatihan petani teh baru di seluruh Papua Tengah. Branding Teh Cendrawasih sebagai produk autentik adat Papua Tengah memberi nilai tambah kompetitif yang tidak bisa ditiru oleh perkebunan industri manapun.

Daftar Pustaka

[1] Deiyai TV, “Teh Cendrawasih — Kekayaan Alam dari Deiyai, Pegunungan Papua Tengah,” YouTube, 18 Okt. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=-oJribmSZ3Y

[2] Papua Pos Nabire, “Kadis Pertanian Kunjungi Kebun Teh di Kampung Kokobaya Deiyai,” papuaposnabire.com. [Online]. Available: https://papuaposnabire.com/news/kadis-pertanian-kunjungi-kebun-teh-di-kampung-kokobaya-deiyai

[3] Papua.us, “Kabupaten Deiyai — Papua Untuk Semua,” papua.us. [Online]. Available: http://www.papua.us/p/kabupaten-deiyai.html

[4] Tim Peneliti, “Analisis Kelayakan Bisnis Usaha Teh Papua: Teknologi dan Agroindustri,” Studocu — Universitas Jember, Manajemen Agribisnis. [Online]. Available: https://www.studocu.id

[5] S. Agustina dan I. Susilawati, “Ekologi dan Budaya Petani Asli Papua dalam Usahatani,” Sosiohumaniora — Jurnal Universitas Padjadjaran, vol. 16, no. 3, 2014. [Online]. Available: https://jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/download/5762/3074

[6] Tribun Papua Tengah, “Pemprov Papua Tengah Salurkan Bantuan Bibit, Ternak, dan Mesin Olah kepada Masyarakat Deiyai,” papuatengah.tribunnews.com, 11 Nov. 2025. [Online]. Available: https://papuatengah.tribunnews.com

[7] Antara News, “Kabupaten Mimika Siapkan Lahan Perkebunan Teh 150 Hektare,” antaranews.com, 31 Jan. 2024. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/3942018

[8] Pemerintah Kabupaten Deiyai, “Pengembangan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal,” new.deiyaikab.go.id, 25 Sep. 2024. [Online]. Available: https://new.deiyaikab.go.id

[9] DPMPTSP Paniai, “Menggali Potensi Unggulan di Kabupaten Dogiyai, Deiyai, Paniai, dan Nabire,” dpmptsppaniai.co.id, 23 Jul. 2024. [Online]. Available: https://dpmptsppaniai.co.id

[10] Tim Peneliti, “Pengetahuan Lokal dan Pertanian Berkelanjutan: Perspektif Masyarakat Adat Papua,” Jurnal IndonesiaBedampak, Indo Publishing, Feb. 2026. [Online]. Available: https://ojs.indopublishing.or.id

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.