Ringkasan Inovasi
Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi wisata desa berbasis dana desa dengan membangun wahana ekstrem Ondo Langit di kawasan Gumuk Reco, lereng Gunung Telomoyo. Wahana ini mengajak pengunjung berjalan menyusuri jembatan di pinggir tebing curam setinggi 45–50 meter, menawarkan sensasi adrenalin sekaligus panorama alam lembah yang memukau. [1]
Dikelola oleh BUMDes Mandiri Jaya dan didukung penuh oleh Pemerintah Desa Sepakung di bawah kepemimpinan Kepala Desa Ahmad Nuri, inovasi ini menghasilkan pendapatan Rp50–60 juta per bulan hanya dari wahana Ondo Langit saja. [2] APBDes Desa Sepakung melonjak dari Rp1,5 miliar pada 2015 menjadi Rp2,1 miliar pada 2019, membuktikan bahwa inovasi wisata berbasis dana desa mampu menggerakkan perekonomian desa secara signifikan. [3]
| Nama Inovasi | : | Wahana Wisata Ondo Langit — Inovasi Desa Wisata Berbasis Dana Desa di Kawasan Gumuk Reco |
| Alamat | : | Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah |
| Inovator | : | Kepala Desa Sepakung Ahmad Nuri; BUMDes Mandiri Jaya; didukung Pemkab Semarang dan Pemprov Jawa Tengah |
| Kontak | : | jatengprov.go.id | semarangkab.go.id | BUMDes Mandiri Jaya Sepakung |
Latar Belakang
Desa Sepakung adalah desa terpencil di lereng Gunung Telomoyo, berjarak sekitar 35 km dari Kota Semarang. Akses menuju desa ini melewati tanjakan ekstrem yang bahkan ditandai papan peringatan: “Anda memasuki wilayah spot jantung.” [4] Keterpencilan ini selama bertahun-tahun membuat Sepakung terisolasi dari perkembangan ekonomi.
Sebelum pengembangan wisata, Desa Sepakung mengandalkan pertanian sebagai sumber penghidupan utama dengan APBDes hanya Rp1,5 miliar pada 2015. [3] Kawasan Gumuk Reco — bukit bersejarah dengan batuan yang dipercaya peninggalan Kerajaan Majapahit — terbengkalai begitu saja padahal menyimpan panorama yang luar biasa: hamparan Rawa Pening, Gunung Merbabu, Gunung Ungaran, dan lembah hijau sejauh mata memandang. [5]
Program dana desa yang digulirkan pemerintah membuka peluang nyata: desa bisa memanfaatkan anggaran untuk mengembangkan potensi wisata yang selama ini tersembunyi. Kepala Desa Ahmad Nuri dan BUMDes Mandiri Jaya menangkap peluang ini dengan berani, merancang wahana wisata ekstrem yang belum ada tandingannya di kawasan Kabupaten Semarang. [6]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pembangunan wahana wisata ekstrem Ondo Langit — nama dalam Bahasa Jawa yang berarti “tangga langit” — berupa jembatan yang menempel di tepi tebing curam setinggi 45–50 meter. Pengunjung berjalan menyusuri jembatan besi yang menantang sembari menikmati panorama lembah, Bukit Gajah, dan Kota Salatiga dari ketinggian yang memompa adrenalin. [4]
Ondo Langit adalah bagian dari ekosistem wisata Gumuk Reco yang dikelola BUMDes Mandiri Jaya secara terpadu. Di dalam kawasan yang sama tersedia wahana Ayunan Langit, Rumah Pohon, Flying Fox, Cemoro Sewu, Air Terjun Gua Semar, dan Bumi Perkemahan Balong. [2] Sistem keamanan yang ketat diterapkan secara profesional: seluruh peralatan dicek berkala, pengelola memiliki audit sistem keselamatan (safety audit), dan tiket masuk dibuat terjangkau — hanya Rp5.000, dengan tambahan Rp2.000 untuk akses Wi-Fi. [5]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari perencanaan matang oleh Pemerintah Desa Sepakung bersama BUMDes Mandiri Jaya yang mengidentifikasi potensi alam Gumuk Reco sebagai aset wisata yang belum tergarap. Rancangan wahana Ondo Langit terinspirasi dari wisata tebing dunia, namun disesuaikan dengan kondisi topografi lokal lereng Gunung Telomoyo. [7]
Pembangunan fisik Ondo Langit menggunakan dana desa secara bertahap — mulai dari konstruksi jembatan tebing, pemasangan sistem keamanan, hingga pembangunan fasilitas pendukung. Pemkab Semarang dan Pemprov Jawa Tengah turut memberikan bantuan untuk peningkatan infrastruktur akses menuju objek wisata. [1]
Pembelajaran penting dari proses ini adalah pentingnya sistem keselamatan yang terstandar sejak awal. Pengelola sempat menghadapi kekhawatiran warga soal risiko kecelakaan, yang mendorong BUMDes untuk mengimplementasikan prosedur safety audit yang justru menjadi nilai jual tersendiri — hingga membuat Gubernur Ganjar Pranowo menyebut Sepakung lebih siap dibanding BUMDes wisata lainnya di Jawa Tengah. [5]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah kepemimpinan visioner Kepala Desa Ahmad Nuri yang berani mengalokasikan dana desa untuk investasi wisata jangka panjang, bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik konvensional. Keberaniannya mengambil risiko dengan membangun wahana ekstrem di desa terpencil merupakan keputusan yang tidak lazim namun terbukti tepat. [6]
Faktor kedua adalah standar keamanan yang tinggi dan tiket yang terjangkau — kombinasi yang menciptakan proposisi nilai tidak tertandingi bagi wisatawan. [5] Viral organik di media sosial — diperkuat oleh repost Gubernur Ganjar Pranowo yang mengundang jutaan perhatian — menjadi mesin pemasaran digital yang tidak ternilai harganya dan tanpa biaya promosi.
Hasil dan Dampak Inovasi
Wahana Ondo Langit menghasilkan pendapatan Rp50–60 juta per bulan, sementara total pendapatan desa dari seluruh wahana wisata di Gumuk Reco bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan. [2] APBDes Desa Sepakung melonjak 40% dari Rp1,5 miliar pada 2015 menjadi Rp2,1 miliar pada 2019 — sebuah lompatan fiskal yang luar biasa bagi desa terpencil. [3]
Antrian ratusan pengunjung setiap akhir pekan menjadi pemandangan lumrah di Gumuk Reco. Popularitas Ondo Langit menggerakkan seluruh ekosistem ekonomi desa: warga membuka warung makan, menjual produk lokal seperti gula semut, kopi, dan keripik, serta menyewakan penginapan rumahan. [8]
Dampak terbesar yang terasa adalah naiknya Indeks Desa Membangun (IDM) Desa Sepakung secara signifikan. [7] Desa yang dulu terisolasi kini menjadi destinasi wisata viral yang dikenal di seluruh Indonesia — namanya bahkan disebut Gubernur Ganjar Pranowo sebagai salah satu desa wisata paling siap dan profesional di Jawa Tengah.
Tantangan dan Kendala
Tantangan utama adalah aksesibilitas menuju Desa Sepakung yang sangat menantang — tanjakan tajam yang membuat kendaraan roda empat tidak bisa mencapai lokasi wisata utama. Wisatawan yang membawa mobil harus menitipkan kendaraannya di bawah dan melanjutkan perjalanan dengan ojek atau berjalan kaki. [4] Keterbatasan akses ini membatasi volume kunjungan dari wisatawan yang kurang berpetualang.
Tantangan internal juga muncul dari kapasitas pengelolaan BUMDes. Riset menunjukkan beberapa kelemahan BUMDes Mandiri Jaya: terbatasnya modal pengembangan, belum maksimalnya wadah penyalur hasil pertanian ke pasar, dan kurangnya pemahaman sebagian pengelola tentang tata kelola BUMDes yang profesional. [6] Tantangan ini berpotensi menghambat ekspansi wahana baru yang dibutuhkan untuk menjaga pertumbuhan kunjungan wisatawan.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang Ondo Langit ditopang oleh dua strategi. Pertama, pengembangan berkelanjutan wahana baru secara bertahap menggunakan reinvestasi pendapatan wisata — bukan lagi sepenuhnya bergantung pada dana desa. Gubernur Ganjar bahkan mengundang relawan profesional di bidang desain dan arsitektur untuk membantu mengembangkan lanskap Gumuk Reco secara lebih profesional tanpa biaya. [5]
Kedua, integrasi ke dalam Ekowisata Budaya Sekkaron — platform kolaborasi empat desa (Sepakung, Kemambang, Kebumen, dan Tegaron) — memperluas ekosistem wisata jauh melampaui satu wahana atau satu desa. [8] Diversifikasi produk wisata — dari wisata petualangan ke wisata pendidikan, pertanian, dan budaya — menjamin ketahanan destinasi terhadap fluktuasi tren wisatawan.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model inovasi Ondo Langit sangat relevan direplikasi oleh desa-desa di kawasan pegunungan yang memiliki tebing, jurang, atau relief alam dramatis namun belum terkelola sebagai destinasi wisata. Kuncinya bukan modal besar, melainkan kreativitas dalam melihat potensi alam yang ada dan keberanian mengalokasikan dana desa untuk investasi wisata. [1]
Bupati Kabupaten Semarang menjadikan Sepakung sebagai laboratorium pembelajaran bagi desa-desa lain, mendorong studi banding secara aktif. [2] Untuk scale up, model Ekowisata Sekkaron — kolaborasi lintas desa dalam satu kawasan destinasi wisata terpadu — menjadi template yang paling menjanjikan bagi kawasan-kawasan pegunungan di Jawa Tengah dan Indonesia yang ingin membangun destinasi wisata berskala lebih besar dari kapasitas satu desa saja. [8]
Daftar Pustaka
[1] Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, “Dari Dana Desa Sepakung, Tercipta Wahana Wisata Ondo Langit yang Ngehits,” jatengprov.go.id, Sep. 8, 2025. [Online]. Available: https://jatengprov.go.id/publik/dari-dana-desa-sepakung-tercipta-wahana-wisata-ondo-langit-yang-ngehits/
[2] Esposin, “Dana Desa di Semarang Jadi Objek Wisata Ondo Langit,” Espos.id Regional, Apr. 11, 2019. [Online]. Available: https://regional.espos.id/dana-desa–984578
[3] R. Susanto et al., “Perencanaan Dana Desa untuk Pengembangan Wisata Desa Sepakung Kabupaten Semarang,” Edunomika – STIE AAS, vol. 05, no. 02, 2021. [Online]. Available: https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jie/article/download/2557/pdf/10526
[4] CNN Indonesia, “Berayun di Ketinggian Desa Sepakung Semarang,” CNNIndonesia.com, Okt. 10, 2020. [Online]. Available: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20201011102125-275-556992/berayun-di-ketinggian-desa-sepakung-semarang
[5] Humas Jateng, “Dari Dana Desa, Tercipta Wahana Wisata Ondo Langit yang Ngehits (Kunjungan Gubernur Ganjar),” humas.jatengprov.go.id, Nov. 2019. [Online]. Available: https://humas.jatengprov.go.id/detail_berita_gubernur?id=2538
[6] A. R. Puspita and N. Murwani, “Peran Pencapaian Tujuan BUMDes Mandiri Jaya dalam Pengelolaan Dana Desa di Desa Sepakung Kabupaten Semarang,” International Journal of Social Science and Business – Undiksha, vol. 4, no. 1, Mar. 2020. DOI: https://doi.org/10.23887/ijssb.v4i1.21190
[7] Tim Peneliti, “Perencanaan Dana Desa untuk Pengembangan Pariwisata Desa Sepakung,” Neliti / Media Jurnal, 2020. [Online]. Available: https://media.neliti.com/media/publications/464484-none-8df874fc.pdf
[8] Sindonews Lifestyle, “Ekowisata Budaya Sekkaron Bidik Pasar Eropa,” SINDOnews.com, Mei 13, 2018. [Online]. Available: https://lifestyle.sindonews.com/berita/1305532/156/ekowisata-budaya-sekkaron-bidik-pasar-eropa
