Ringkasan Inovasi

Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, memanfaatkan Dana Desa untuk menopang pendidikan anak berkebutuhan khusus melalui SLB rintisan yang mulai kesulitan biaya setelah dukungan PNPM berakhir. [1] Pada 2018, pemerintah desa menyalurkan bantuan untuk ongkos transportasi siswa, perlengkapan sekolah, transportasi guru, dan seragam guru agar layanan belajar tetap berjalan. [1]

Inovasi ini penting karena Desa Ngantru menunjukkan bahwa Dana Desa tidak hanya relevan untuk jalan, drainase, atau bangunan fisik, tetapi juga untuk menjaga hak pendidikan kelompok rentan. [2] SLB rintisan yang digagas mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang pada 2013 itu melayani anak tunawicara, tunagrahita, hiperaktif, dan autis, bahkan menarik murid dari wilayah perbatasan Kediri dan Blitar. [1] Dukungan desa membuat sekolah tetap hidup saat sumber pendanaan lama berhenti dan orangtua mulai enggan menyekolahkan anaknya. [1]

Nama Inovasi:Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus melalui dukungan Dana Desa untuk SLB Rintisan Ngantru
Alamat:Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
Inovator:Pemerintah Desa Ngantru; diinisiasi awal oleh mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang; dipimpin Kepala Desa Sholihin
Kontak:Pemerintah Desa Ngantru / Kepala Desa Sholihin / jejaring desa terkait

Latar Belakang

SLB rintisan Ngantru lahir pada 2013 sebagai inisiatif mahasiswa KKN Universitas Negeri Malang melalui dukungan Generasi Sehat Cerdas dalam kerangka PNPM. [1] Pada fase awal, sekolah ini memberi harapan bagi keluarga yang selama ini kesulitan menemukan layanan pendidikan khusus yang dekat dan terjangkau bagi anak mereka. [1]

Pendanaan PNPM mencakup biaya sekolah bagi ABK dan ongkos transportasi untuk empat guru, namun nilainya hanya Rp 800.000 per tahun dan berakhir bersama berhentinya program pada 2016. [1] Memasuki 2017, pengelola mulai kewalahan karena sekolah sama sekali tidak memiliki sokongan dana, sementara statusnya masih rintisan dan belum berizin formal. [1]

Kondisi sekolah juga serba terbatas karena belum memiliki gedung sendiri dan harus menumpang di aula PKK desa. [1] Saat aula dipakai untuk kegiatan desa, pembelajaran diliburkan, sehingga kontinuitas pendidikan anak sangat rentan terganggu. [1] Di saat yang sama, sebagian orangtua mulai enggan menyekolahkan anak karena sibuk bekerja di sawah dan harus menanggung ongkos harian. [1]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan Pemerintah Desa Ngantru adalah mengalihkan sebagian fungsi Dana Desa untuk menopang layanan pendidikan inklusif tingkat desa. [1] Dana itu dipakai untuk membayar ongkos transportasi agar anak mau sekolah, membeli perlengkapan sekolah, serta memberi transportasi dan seragam bagi guru yang mendampingi mereka. [1]

Skema ini bekerja sederhana namun efektif. [1] Desa menutup biaya yang paling menentukan keberlangsungan sekolah, lalu orangtua menambah dukungan melalui iuran Rp 2.000 setiap kali anak masuk sekolah, sehingga beban tidak sepenuhnya jatuh ke satu pihak. [1] Dengan pola ini, sekolah rintisan tetap berjalan meski belum punya legalitas penuh dan belum memiliki sarana permanen. [1]

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi tidak dimulai dari kantor desa, melainkan dari kebutuhan nyata di lapangan. [1] Ketika mahasiswa KKN UM merintis sekolah pada 2013, desa memperoleh bukti bahwa anak berkebutuhan khusus di wilayah ini memang membutuhkan layanan khusus yang dekat dari rumah. [1]

Uji pertama datang dari keberhasilan sekolah menghimpun 25 siswa pada fase awal. [1] Namun ketika pendanaan PNPM berhenti, sekolah memasuki fase rapuh dan menghadapi kegagalan operasional berupa absennya sokongan dana, melemahnya motivasi orangtua, dan berkurangnya kepastian layanan. [1]

Pemerintah desa lalu mengambil pembelajaran penting: masalah utama bukan semata metode mengajar, tetapi biaya akses. [1] Karena itu, pada 2018 desa memutuskan membantu komponen biaya yang paling krusial, yakni transportasi siswa, dukungan guru, dan perlengkapan belajar. [1] Keputusan itu menjaga sekolah tetap berjalan setiap Jumat dan Sabtu pukul 08.00 sampai 10.00 dengan tiga guru yang tersedia. [1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu pertama adalah keberanian pemerintah desa memandang pendidikan ABK sebagai hak warga, bukan beban tambahan. [1] Perspektif ini membuat Dana Desa dipakai secara lebih manusiawi dan lebih adaptif terhadap kebutuhan sosial yang sering luput dari prioritas pembangunan desa. [1]

Faktor kedua adalah kolaborasi banyak pihak sejak awal. [1] Mahasiswa KKN UM memantik inisiatif, PNPM memberi dukungan awal, pemerintah desa menutup kekosongan anggaran, guru tetap bertahan, dan orangtua ikut menanggung iuran kecil agar sekolah terus hidup. [1] Jejaring dukungan itu membuat sekolah rintisan tidak runtuh ketika satu sumber dana berhenti. [3]

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil yang paling penting adalah keberlanjutan layanan. [1] Tanpa Dana Desa, sekolah rintisan yang sudah kehabisan dana pada 2017 berisiko berhenti total, tetapi intervensi desa membuat kegiatan belajar tetap berlangsung. [1]

Dampak kedua terlihat pada akses pendidikan yang meluas. [1] Sekolah ini melayani anak dari Desa Ngantru, desa-desa sekitar, hingga wilayah perbatasan Kabupaten Kediri dan Blitar yang berjarak sekitar 18 kilometer, sehingga manfaatnya melampaui batas administrasi desa. [2]

Data operasional yang tersedia juga menunjukkan efisiensi sosial yang tinggi. [1] Dengan tiga guru, jadwal dua hari per pekan, dan iuran orangtua hanya Rp 2.000 per kehadiran, desa mampu menjaga layanan bagi anak tunawicara, tunagrahita, hiperaktif, dan autis yang sebelumnya sangat rentan tersisih dari sistem pendidikan. [1] Kehadiran sekolah ini juga memperkuat pesan moral bahwa desa dapat menjadi pelindung kelompok paling rentan. [2]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar tetap terletak pada status kelembagaan sekolah. [1] Karena masih berstatus SLB rintisan dan belum memiliki izin formal, ruang gerak pengembangan sekolah menjadi terbatas, termasuk akses ke dukungan program pendidikan yang lebih mapan. [1]

Kendala kedua adalah sarana belajar yang belum permanen. [1] Ketergantungan pada aula PKK membuat jadwal sekolah mudah terganggu dan menyulitkan penciptaan lingkungan belajar yang stabil bagi anak berkebutuhan khusus, yang umumnya memerlukan rutinitas konsisten. [1]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi perlu bertumpu pada dua jalur yang berjalan bersamaan. [1] Jalur pertama ialah menjaga alokasi Dana Desa untuk komponen biaya akses yang paling menentukan, terutama transportasi siswa, dukungan guru, dan alat belajar. [1]

Jalur kedua ialah mendorong peningkatan status sekolah dari rintisan menjadi layanan yang lebih formal dan berkelanjutan. [1] Kolaborasi kampus dan desa yang pernah melahirkan sekolah ini dapat diperluas untuk pendampingan legalitas, peningkatan kompetensi guru, dan penyusunan model pembelajaran yang lebih ajek. [3]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Inovasi Desa Ngantru layak direplikasi oleh desa lain yang memiliki ABK tetapi belum memiliki layanan khusus yang terjangkau. [1] Modelnya tidak rumit, karena desa cukup memetakan anak sasaran, menghitung biaya akses paling kritis, lalu menggunakan Dana Desa sebagai bantalan layanan dasar sambil menggandeng kampus atau komunitas pendidikan. [3]

Untuk scale up, Kecamatan Ngantang dan Kabupaten Malang dapat membangun skema pembiayaan bersama antardesa karena murid sekolah ini datang dari banyak wilayah. [4] Pendekatan gotong royong lintas desa akan membuat beban biaya lebih ringan, layanan lebih stabil, dan manfaat pendidikan inklusif menjangkau lebih banyak keluarga di kawasan pegunungan Ngantang. [4]

Daftar Pustaka

[1] Inovasi Desa, “Desa Ngantru Manfaatkan Dana Desa untuk Dukung Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus,” inovasi.web.id. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/category/sumber-daya-manusia/

[2] Jagad Tani, “Kisah Sukses Desa Kentang Ngantru,” 2020. [Online]. Available: https://jagadtani.com/read/967/kisah-sukses-desa-kentang-ngantru

[3] Langit7, “Sewindu UU Desa, Gus Halim: Kolaborasi Kampus dan Desa Harus Diperkuat,” 2022. [Online]. Available: https://langit7.id/read/10128/1/sewindu-uu-desa-gus-halim–kolaborasi-kampus-dan-desa-harus-diperkuat-1642316477

[4] YouTube, “Mereka juga punya kesempatan yang sama | SLB RAHARJA,” 2019. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=xWnvE7SYX30

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.