Ringkasan Inovasi
BUMDes Kertamukti di Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, menciptakan inovasi ekonomi dengan membangun sentra produksi roti. Inovasi ini menyatukan keterampilan memasak ibu-ibu Kampung Bojongkerta ke dalam satu unit usaha produktif di bawah naungan BUMDes. [1][2]
Tujuan utamanya adalah menciptakan lapangan kerja desa dan memperluas jangkauan pasar kuliner lokal. Dampak inovasi ini terlihat dari hadirnya Roti BUMDes Kertamukti Bakery yang mampu menembus perkantoran, perusahaan, toko, hingga warung kecil. [1][2]
| Nama Inovasi | : | Sentra Produksi Roti dan Bakery BUMDes Kertamukti |
| Alamat | : | Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat |
| Inovator | : | BUMDes Kertamukti bersama ibu-ibu Kampung Bojongkerta, didukung Kepala Desa Kertamukti, Dede Kusnadi |
| Kontak | : | Dede Kusnadi (Kepala Desa Kertamukti); Telepon: +62-856-2413-1324; Kantor Desa Kertamukti |
Latar Belakang
Di Kampung Bojongkerta, sekelompok ibu rumah tangga sebenarnya sudah lama memiliki keterampilan memproduksi roti. Namun, usaha mereka berjalan secara mandiri dan berskala kecil. Mereka tidak memiliki dukungan modal maupun jaringan pemasaran yang cukup luas untuk berkembang. [1]
Pemerintah desa melihat kondisi tersebut sebagai sebuah peluang ekonomi yang belum dikelola maksimal. Di sisi lain, BUMDes memerlukan unit usaha nyata yang mampu menyerap tenaga kerja. Literatur menunjukkan bahwa BUMDes sangat efektif ketika perannya diarahkan untuk mendampingi potensi ekonomi masyarakat yang sudah ada. [4]
Dari situlah muncul gagasan untuk mengelola usaha roti secara profesional. Desa membutuhkan produk unggulan yang memiliki keunggulan kompetitif. Roti tanpa pengawet yang tahan lama dan legit dianggap mampu menjadi identitas ekonomi baru bagi Desa Kertamukti. [1][2]
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan berupa pelembagaan keterampilan informal warga menjadi sentra produksi kuliner desa. BUMDes merangkul ibu-ibu pengrajin roti untuk bergabung dalam unit usaha bernama Roti BUMDes Kertamukti Bakery. Melalui skema ini, BUMDes bertindak sebagai penyokong modal dan ujung tombak pemasaran. [1]
Adapun proses produksinya tetap mengandalkan keahlian tangan para warga desa. Roti dibuat menggunakan bahan dasar tepung terigu, susu, dan gula tanpa penambahan zat pengawet. Roti tersebut kemudian dijual dengan harga yang sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp2.000 per buah. [1][2]
Proses Penerapan Inovasi
Penerapan inovasi ini berawal dari komunikasi terbuka antara kelompok ibu-ibu pengrajin dan Pemerintah Desa Kertamukti. Mereka sepakat bahwa usaha ini tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri jika ingin tumbuh lebih besar. BUMDes kemudian turun tangan menyiapkan manajemen usaha yang lebih terarah. [1]
Langkah berikutnya adalah memastikan konsistensi kualitas produk dalam jumlah yang lebih banyak. Proses penyesuaian takaran adonan dan durasi fermentasi dilakukan agar roti tetap lembut dan legit berhari-hari. Ini adalah tahapan eksperimen krusial mengingat produk ini sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet. [1]
Selama berjalan, inovasi ini menghadapi kenyataan bahwa kapasitas produksi belum cukup menampung tingginya pesanan. Keterbatasan alat dan tenaga menghambat kecepatan penyediaan stok. Hal ini menjadi pembelajaran berharga bagi BUMDes agar menyiapkan rencana ekspansi peralatan dan perluasan rekrutmen pekerja. [1][3]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor utama keberhasilan adalah potensi keterampilan masyarakat yang telah matang sebelum inovasi diluncurkan. BUMDes tidak perlu membuang waktu melatih warga dari nol. BUMDes hanya memfasilitasi keterampilan tersebut menuju proses komersialisasi yang lebih menjanjikan. [1]
Faktor pendukung lainnya adalah dukungan dari aparat desa, khususnya Kepala Desa Kertamukti, Dede Kusnadi. Peran desa memberi jaminan keberlangsungan unit usaha. Sinergi antara kelembagaan desa dan kapasitas masyarakat menjadi kunci utama pemberdayaan ekonomi di level perdesaan. [1][4]
Hasil dan Dampak Inovasi
Hasil paling nyata adalah meluasnya pasar produk roti dari yang semula berskala rukun tetangga menjadi komoditas tingkat kabupaten. Roti buatan desa ini berhasil masuk ke area perkantoran, perusahaan, hingga berbagai toko kelontong. Hal tersebut menandakan tingginya tingkat penerimaan masyarakat luas terhadap kuliner BUMDes ini. [1][2]
Dampak sosialnya pun sangat terasa pada kelompok perempuan di Kampung Bojongkerta. Ibu-ibu desa kini memiliki pekerjaan yang terstruktur dengan penghasilan yang jauh lebih terjamin. Pemberdayaan perempuan melalui sektor riil ini sejalan dengan tujuan utama program pembangunan ekonomi perdesaan. [1][4]
Secara kualitatif, Roti Kertamukti sukses membangun reputasi lokal yang tangguh. Permintaan yang jauh melampaui kemampuan produksi merupakan indikator kuat keberhasilan produk. Meskipun menghadapi keterbatasan alat, pertumbuhan minat pasar ini menjadi sinyal positif terhadap prospek bisnis masa depan. [1]
Tantangan dan Kendala
Tantangan internal paling mendesak adalah kemampuan memenuhi kapasitas pesanan. Permintaan pasar yang tinggi belum sebanding dengan jumlah pekerja dan kelengkapan peralatan produksi. Akibatnya, ada potensi pasar yang melayang akibat tidak tersedianya pasokan roti harian secara maksimal. [1]
Selain kendala teknis, ancaman stabilitas dari faktor luar juga pernah menghantam. Bisnis bakery yang dirintis BUMDes ini diketahui sempat mengalami hambatan operasional akibat pandemi COVID-19. Kondisi tak terduga tersebut menuntut BUMDes agar memiliki kerangka cadangan modal darurat pada masa mendatang. [3]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Untuk menjaga kelangsungan usaha, BUMDes harus merancang pembiayaan untuk penambahan alat pemanggang berskala besar. BUMDes Kertamukti juga perlu merekrut lebih banyak warga desa sebagai tenaga kerja baru. Cara ini diharapkan bisa menyelesaikan ketimpangan antara jumlah pesanan dan kapasitas stok harian. [1][3]
Lebih jauh, BUMDes harus segera merapikan pencatatan keuangan dan menyiapkan diversifikasi produk. Inovasi rasa baru atau penyesuaian bentuk kemasan bisa mempertahankan loyalitas konsumen. Langkah profesionalisasi ini penting agar sentra bakery tidak lagi berjalan layaknya industri rumahan tradisional. [4]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model sentra kuliner Kertamukti ini sangat cocok direplikasi di berbagai desa lain. Persyaratannya sederhana, yakni adanya keahlian memasak di kalangan warga dan komitmen pengelolaan oleh aparat desa. Setiap daerah dapat menyelaraskan model ini sesuai kearifan lokal kuliner masing-masing. [1][4]
Pada tahap akselerasi (scale up), pemerintah kabupaten bisa merangkul BUMDes semacam ini ke dalam jaringan distribusi terpadu. Pemerintah juga dapat memberikan dukungan berupa percepatan izin edar produk dan sertifikat halal. Dukungan ini akan memudahkan produk BUMDes Kertamukti berekspansi secara leluasa ke seluruh wilayah Jawa Barat. [2][4]
Daftar Pustaka
[1] Gemari, “BUMDes Kertamukti Sentra Produksi Aneka Roti,” Gemari.id, 15 Mar. 2020. [Online]. Tersedia: https://gemari.id/gemari/2020/3/16/bumdes-kertamukti-sentra-produksi-aneka-roti
[2] Sukabumi Update, “Roti BUMDes Kertamukti Bakery,” Kumparan.com, 12 Okt. 2019. [Online]. Tersedia: https://kumparan.com/sukabumi-update/roti-bumdes-kertamukti-bakery-1s2vw2uKAey
[3] Seputar Indonesia, “Kades Kertamukti Bantah Dana Desa Diselewengkan,” seputarindonesia.co.id, 20 Mei 2025. [Online]. Tersedia: https://seputarindonesia.co.id/2025/05/21/kades-kertamukti-bantah-dana-desa-diselewengkan/
[4] A. Ramadhan et al., “Pemberdayaan BUMDes dalam Meningkatkan Perkembangan UMKM di Desa Sambi Bulu,” Praja Objektif, vol. 5, no. 2, 2025. [Online]. Tersedia: https://aksiologi.org/index.php/praja/article/view/2174
[5] T. Hariyanti et al., “Pengembangan Inovasi Produk Roti pada Home Industry,” Garuda Kemdikbud. [Online]. Tersedia: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=3270334
[6] Sukabumi Update, “Modal dari Desa, Pangan untuk Rakyat: BUMDes di Purabaya Sukabumi Dapat Suntikan Strategis,” sukabumiupdate.com, 4 Jul. 2025. [Online]. Tersedia: https://www.sukabumiupdate.com/keuangan/160549
