Ringkasan Inovasi

Desa Sendoyan, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, mengembangkan inovasi ganda yang mengintegrasikan dua potensi unggulan desa: kawasan wisata geologi-alam “Batu Layar” dan hilirisasi komoditas lada menjadi produk bernilai tambah. Melalui Program Inovasi Desa yang difasilitasi Kementerian Desa PDTT, desa ini membuktikan bahwa potensi alam dan pertanian yang selama ini belum terkelola optimal bisa menjadi mesin ekonomi desa yang kuat. [1]

Dua inovasi ini saling melengkapi: wisata Batu Layar menarik pengunjung ke desa, sementara produk “Lada Batu Layar” memberikan cenderamata khas bernilai tinggi yang bisa dibawa pulang. Desa Sendoyan bahkan berhasil dicanangkan sebagai kawasan industri lada oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI pada 2021, sebuah pengakuan nasional atas inovasi ekonomi berbasis komoditas lokal yang konsisten dibangun sejak 2018. [2]

Nama Inovasi:Wisata Geologi-Alam Batu Layar dan Sentra IKM Lada Batu Layar — Inovasi Pariwisata dan Agro-industri Terpadu Desa Sendoyan
Alamat:Desa Sendoyan (Dusun Batu Layar), Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat
Inovator:Juliansyah (Kepala Desa Sendoyan); Pokdarwis Batu Layar; Poktan Batu Layar Sejahtera; didukung Kemendes PDTT, BNPP RI, dan Diskumindag Sambas
Kontak:sambaskab.go.id | Diskumindag Kabupaten Sambas | Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Sambas

Latar Belakang

Desa Sendoyan adalah desa di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang secara geopolitik masuk dalam kawasan strategis percepatan pembangunan perbatasan. Hampir 100 persen penduduk Dusun Batu Layar menanam lada sebagai sumber pendapatan utama — namun selama bertahun-tahun, petani hanya menjual lada mentah dengan harga yang sangat bergantung pada fluktuasi pasar dan tengkulak. [2]

Di sisi lain, kawasan Dusun Batu Layar menyimpan keunikan geologi yang langka: deretan batu-batu dengan bentuk menyerupai layar kapal, ular sawak, kapal, lorong, bahkan gua kelelawar — semua muncul alami di permukaan tanah. Ditambah Bukit Penyupan dengan hutan tropis yang lebat, kawasan ini sesungguhnya memiliki daya tarik wisata alam yang unik, namun sama sekali belum tersentuh pengembangan. [3]

Kabupaten Sambas yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, memiliki lahan lada seluas 1.500 hektare — namun belum ada satu pun perusahaan yang masuk ke sektor ini, sehingga seluruh perkebunan lada masih dikelola perkebunan rakyat tanpa dukungan industri hilir yang memadai. [2] Kondisi ini mendorong pemerintah desa untuk mengambil inisiatif membangun hilirisasi lada secara mandiri, sebelum ada pihak luar yang melakukannya.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi pertama adalah pengembangan destinasi wisata alam terpadu “Batu Layar” melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan warga Dusun Batu Layar. Pokdarwis tidak hanya menjaga kelestarian batu-batu unik dan hutan Bukit Penyupan, tetapi juga membangun wahana outbond secara bertahap: flying fox, jembatan tali, kids army, panahan, paint ball, camping area, trekking, hiking, dan foto booth. [3]

Inovasi kedua adalah hilirisasi lada menjadi produk bernilai tambah dengan merek “Lada Batu Layar” — lada bubuk hitam dan putih dalam kemasan siap jual yang sudah mengantongi izin PIRT. Pada 2024, diversifikasi produk terus dikembangkan dengan menghasilkan saus lada hitam, tanak lada (makanan khas Sambas), ebi lada hitam, dan pasta lada — melalui kolaborasi dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak yang mendampingi proses riset dan pengembangan produk. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai pada 2018 ketika Pemerintah Desa Sendoyan di bawah Kepala Desa Juliansyah mulai mendorong dua agenda sekaligus: mengidentifikasi potensi wisata Dusun Batu Layar dan mendorong petani lada untuk mengolah hasil panennya menjadi produk siap konsumsi. Pendampingan awal dilakukan melalui Program Inovasi Desa yang difasilitasi Kemendes PDTT, yang mendorong desa mengembangkan produk unggulan secara partisipatif bersama masyarakat. [5]

Untuk wisata, Pokdarwis dibentuk dan memulai kerja dari nol — belajar mandiri, menggali potensi wilayah, dan membangun wahana outbond secara bertahap sesuai kemampuan anggaran desa. Strategi bertahap ini menghindarkan desa dari risiko investasi besar di awal dan memberi ruang bagi Pokdarwis untuk belajar mengelola wisata sambil berjalan. [6]

Untuk produk lada, tantangan awal adalah mengubah kebiasaan petani yang terbiasa menjual lada mentah. Pemerintah desa mendorong pengemasan lada bubuk sederhana terlebih dulu, lalu meningkatkan nilai tambah secara bertahap melalui pelatihan dan pendampingan Diskumindag Sambas dan Fakultas Pertanian Untan. Pada 2022, produk “Lada Batu Layar” sudah tampil di pameran produk unggulan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk — sebuah capaian promosi lintas batas yang luar biasa bagi produk desa. [7]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kepemimpinan Kepala Desa Juliansyah yang secara konsisten mendorong dua agenda inovasi sekaligus — wisata dan agroindustri — dan memastikan keduanya mendapat dukungan anggaran desa setiap tahun. Antusiasme, kekompakan, dan semangat masyarakat desa menjadi modal sosial yang tidak ternilai, membuat setiap program inovasi mendapat dukungan partisipatif dari bawah. [3]

Faktor kedua adalah sinergi multi-pihak yang kuat: Kemendes PDTT sebagai fasilitator program inovasi, BNPP RI yang mengakui Batu Layar sebagai kawasan industri lada strategis perbatasan, Diskumindag Sambas sebagai pembina IKM lada, dan Universitas Tanjungpura sebagai mitra penelitian diversifikasi produk. [4] Sinergi lintas lembaga ini menciptakan ekosistem dukungan yang komprehensif, dari hulu (budidaya) hingga hilir (pemasaran ekspor).

Hasil dan Dampak Inovasi

Dari sisi wisata, kawasan Batu Layar berkembang menjadi destinasi yang dikenal di Kabupaten Sambas — sebuah transformasi dari lahan yang tidak memiliki nilai ekonomi wisata menjadi destinasi dengan wahana outbond yang aktif melayani pengunjung. [6] Kehadiran Bukit Penyupan dengan hutan tropis juga menambahkan dimensi wisata edukasi lingkungan yang semakin diminati wisatawan urban.

Dari sisi agroindustri, hasil yang paling bersejarah adalah pengakuan BNPP RI yang menetapkan Dusun Batu Layar sebagai kawasan industri lada pada 2021 — sebuah status yang membuka peluang investasi dan program percepatan pembangunan dari kementerian terkait. [2] Produk “Lada Batu Layar” yang sudah ber-PIRT tampil di PLBN Aruk pada 2022 dan Peluncuran Program Prioritas Gema Membangun Desa Provinsi Kalimantan Barat — membuktikan produk desa ini sudah diakui di tingkat provinsi dan lintas batas negara. [8]

Kebijakan “one village one product” Kabupaten Sambas semakin mengukuhkan Desa Sendoyan sebagai representasi ideal desa yang membangun keunggulan dari komoditas lokal. Pada 2024, portofolio produk IKM lada Sendoyan sudah mencakup lada bubuk hitam-putih, saus lada hitam, tanak lada, dan ebi lada hitam — diversifikasi yang secara signifikan meningkatkan nilai jual dibanding sekadar menjual lada mentah. [4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar wisata Batu Layar adalah pengembangan infrastruktur yang membutuhkan investasi berkelanjutan di tengah kapasitas anggaran desa yang terbatas. Pembangunan wahana outbond secara bertahap menyebabkan beberapa wahana membutuhkan waktu lama untuk diselesaikan, sehingga pengunjung belum bisa menikmati pengalaman wisata yang lengkap dalam satu kunjungan. [6]

Untuk produk lada, tantangan utama adalah peningkatan mutu produksi dan jaminan keamanan pangan yang konsisten untuk memenuhi standar distribusi lebih luas — termasuk potensi ekspor langsung ke Sarawak, Malaysia melalui PLBN Aruk. [9] Ketergantungan pada satu komoditas (lada) juga membuat pendapatan petani rentan terhadap serangan hama dan fluktuasi harga global lada.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan wisata Batu Layar bertumpu pada penguatan kapasitas Pokdarwis melalui pelatihan manajemen wisata berkelanjutan dan pengembangan wahana outbond secara konsisten. Integrasi wisata Batu Layar ke dalam paket wisata cross-border Kabupaten Sambas yang menghubungkan destinasi wisata lokal dengan wisatawan Malaysia melalui PLBN Aruk membuka pasar wisatawan internasional yang sangat potensial. [1]

Keberlanjutan agroindustri lada didorong oleh program Sentra IKM Lada yang kini diperkuat Diskumindag Sambas bersama Universitas Tanjungpura. Pengembangan varian produk baru, sertifikasi halal, dan penguatan merek “Lada Batu Layar” menjadi agenda prioritas untuk meningkatkan daya saing produk di pasar nasional dan ekspor. [4]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi ganda Desa Sendoyan — mengombinasikan wisata alam berbasis geologi unik dengan hilirisasi komoditas pertanian lokal — sangat relevan direplikasi oleh desa-desa perbatasan lain di Kabupaten Sambas yang memiliki karakteristik serupa. Kecamatan Sejangkung sendiri sudah menunjukkan tren positif dengan Pokdarwis Bukit Piantus Desa Piantus yang juga mulai berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. [10]

Untuk scale up, pengembangan kawasan industri lada Batu Layar yang sudah diakui BNPP RI membuka peluang besar: pembangunan fasilitas pengolahan lada yang lebih besar, akses ke program KUR perkebunan, dan jalur ekspor langsung ke Sarawak via PLBN Aruk. [2] Kombinasi wisata geologi dan sentra lada yang unik di Desa Sendoyan menawarkan model desa inovasi perbatasan yang bisa menjadi inspirasi nasional bagi pengembangan ekonomi desa di wilayah terdepan Indonesia.

Daftar Pustaka

[1] Antara Kalbar, “Program Inovasi Desa Sendoyan Sasar Pengembangan Potensi Wisata Batu Layar,” kalbar.antaranews.com, 2020. [Online]. Available: https://kalbar.antaranews.com/berita/399692/program-inovasi-desa-sendoyan-sasar-pengembangan-potensi-wisata-batu-layar

[2] Antara Kalbar, “Dusun Batu Layar Disiapkan Jadi Kawasan Industri Lada di Sambas,” kalbar.antaranews.com, Feb. 19, 2021. [Online]. Available: https://kalbar.antaranews.com/berita/459600/dusun-batu-layar-disiapkan-jadi-kawasan-industri-lada-di-sambas

[3] Gemari, “Desa Sendoyan Kembangkan Batu Layar Jadi Destinasi Wisata Ngetop di Sambas,” gemari.id, Mar. 17, 2020. [Online]. Available: https://gemari.id/gemari/2020/3/17/desa-sendoyan-kembangkan-batu-layar-jadi-destinasi-wisata-ngetop-di-sambas

[4] Suara Indo, “Diskumindag Sambas Perkuat Sentra IKM Lada di Desa Sendoyan dengan Diversifikasi Produk,” suaraindo.id, Okt. 13, 2024. [Online]. Available: https://www.suaraindo.id/2024/10/diskumindag-sambas-perkuat-sentra-ikm-lada-di-desa-sendoyan-dengan-diversifikasi-produk/

[5] Antara Kalbar, “Cara Desa Sendoyan Tingkatkan Nilai Jual Lada,” kalbar.antaranews.com, Okt. 21, 2018. [Online]. Available: https://kalbar.antaranews.com/berita/366593/cara-desa-sendoyan-tingkatkan-nilai-jual-lada

[6] Gemari, “Destinasi Wisata Batu Layar Desa Sendoyan Sambas,” gemari.id, Jun. 20, 2020. [Online]. Available: https://gemari.id/gemari/2020/6/20/destinasi-wisata-batu-layar-desa-sendoyan-sambas

[7] Matra Bisnis, “Lada Batu Layar Produk Desa Sendoyan Ikut Pameran di Perbatasan,” matrabisnis.id, Okt. 23, 2022. [Online]. Available: https://matrabisnis.id/2022/10/23/lada-batu-layar-produk-desa-sendoyan-ikut-pameran-di-perbatasan/

[8] Poktan Batu Layar Sejahtera, “Lada Batu Layar di Program Gema Membangun Desa Kalbar,” Facebook @Poktan Batu Layar Sejahtera. [Online]. Available: https://www.facebook.com/p/Poktan-Batu-Layar-Sejahtera-100094666534288/

[9] Republika, “Diskumindag Sambas Latih Diversifikasi Lada Jalankan Inpres Perbatasan,” news.republika.co.id, Agu. 2, 2022. [Online]. Available: https://news.republika.co.id/berita/rfzxcp457/diskumindag-sambas-latih-diversifikasi-lada-jalankan-inpres-perbatasan

[10] Sambas News, “Pokdarwis Bukit Piantus Berbenah, Sediakan Spot Foto Nuansa Alam,” sambasnews.com, Nov. 15, 2021. [Online]. Available: https://www.sambasnews.com/2021/11/pokdarwis-bukit-piantus-berbenah.html

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.