Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, mengubah lahan desa yang tidak produktif menjadi wahana wisata bertema Suku Indian yang unik dan Instagramable. [1] Inovasi ini memanfaatkan Dana Desa untuk membangun destinasi wisata kreatif yang pengelolaannya diserahkan kepada BUMDes Penambangan sebagai mesin penggerak ekonomi desa—menjawab sekaligus kebutuhan warga akan sumber penghasilan baru dan kebutuhan wisatawan akan destinasi foto yang unik. [2]
Wahana Indian Camp hadir sejak 2019 menawarkan pengalaman imersif bertema suku asli Amerika Utara: tenda berwarna-warni, ruang selfie tematik, sewa kostum, hingga paket wisata keluarga yang edukatif dengan harga terjangkau. [3] Dampak utamanya terasa nyata—kunjungan wisatawan dari berbagai daerah meningkat, lapangan kerja lokal terbuka, dan Pendapatan Asli Desa bertumbuh secara signifikan berkat pengelolaan BUMDes yang konsisten. [2]
| Nama Inovasi | : | Indian Camp — Wahana Wisata Tematik Suku Indian Desa Penambangan |
| Alamat | : | Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur (±6 km dari pusat Kota Bondowoso, tempuh 15 menit) |
| Inovator | : | Martha Suprihasti (Kepala Desa Penambangan) bersama Pengelola BUMDes Desa Penambangan |
| Kontak | : | Telepon/WhatsApp: +62-812-4971-0091 dan +62-896-4643-5304 | Media Sosial: Instagram dan Facebook Indian Camp Penambangan |
Latar Belakang
Desa Penambangan di Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso, selama ini tidak memiliki destinasi wisata yang mampu menarik pengunjung dari luar wilayah. [2] Lahan kosong yang tersebar di desa terbengkalai tanpa memberikan manfaat ekonomi bagi warga maupun kas desa, sementara potensi pengembangan ekonomi desa tampak stagnan karena tidak ada inisiatif yang memanfaatkan aset desa secara kreatif. [1] Kondisi ini menjadi ironi karena Bondowoso sebetulnya memiliki posisi strategis di antara destinasi wisata Ijen dan Kawah Wurung yang sudah dikenal luas. [5]
Kepala Desa Martha Suprihasti jeli membaca perubahan perilaku generasi muda yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas swafoto dan pencarian lokasi Instagramable. [2] Tren wisata foto yang sedang meledak di kalangan milenial menjadi peluang besar yang belum direspons oleh satu pun desa di sekitar Kecamatan Curahdami. [3] Kebutuhan warga akan sumber penghasilan tambahan dan kebutuhan wisatawan akan destinasi foto unik bertemu dalam satu peluang yang sangat strategis dan mendesak untuk dimanfaatkan.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso mendorong desa-desa untuk lebih kreatif memanfaatkan potensi lokal guna mendukung pertumbuhan pariwisata daerah. [5] Penelitian tentang pengembangan menuju desa wisata di Desa Penambangan mengkonfirmasi bahwa faktor utama yang mendorong inisiatif ini adalah tekad pemerintah desa meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan membuka lapangan kerja baru bagi warga yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian. [6] Gabungan antara dorongan regulasi dari atas dan kreativitas warga dari bawah inilah yang melahirkan ide segar wahana Indian Camp.
Inovasi yang Diterapkan
Indian Camp lahir dari gagasan berani Martha Suprihasti yang menangkap fenomena wisata foto tematik dan menghadirkannya di desa dalam versi yang terjangkau namun tetap memukau. [2] Inovasi ini mengalihfungsikan lahan desa yang tidak produktif menjadi wahana wisata imersif bertema suku asli Amerika Utara—yang berdiri sejak 2019 menggunakan Dana Desa sebagai modal utama pembangunan seluruh fasilitas fisiknya. [1] Pengelolaan kemudian diserahkan sepenuhnya kepada BUMDes Penambangan agar keuntungan mengalir kembali ke kas desa secara mandiri dan berkelanjutan.
Secara teknis, Indian Camp bekerja sebagai ekosistem wisata lengkap dalam satu kunjungan. [3] Pengunjung disambut tenda segitiga warna-warni yang dilukis motif hewan khas suku Indian—elang, kuda, banteng, dan serigala—sebagai pintu masuk pengalaman imersif; di dalamnya terdapat ruang selfie khusus yang mengalunkan musik suku Indian, dengan sewa kostum lengkap seharga Rp 10.000 per paket dan tiket masuk hanya Rp 8.000. [3] Paket wisata keluarga yang menggabungkan hiburan malam, pengenalan potensi pertanian siang hari, dan permainan tradisional memperluas segmen pengunjung sekaligus memperpanjang durasi kunjungan. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Proses pembangunan Indian Camp dimulai dari identifikasi lahan desa tidak terpakai sebagai lokasi strategis yang mudah diakses dari pusat Kota Bondowoso—hanya enam kilometer dengan jarak tempuh 15 menit mengikuti penunjuk jalan yang terpasang di sepanjang jalur masuk desa. [3] Tim desa merancang konsep wahana secara partisipatif melalui forum musyawarah desa dengan masukan warga, menghasilkan keputusan memilih tema suku Indian yang eksotis, fotogenik, dan belum ada pesaing serupa di Kabupaten Bondowoso. [1] Tahap konstruksi berjalan dengan melibatkan tenaga kerja lokal untuk membangun tenda, ruang selfie, dan dekorasi tematik menggunakan bahan terjangkau namun tahan cuaca.
Pada fase awal pembukaan, pengelola melakukan uji coba operasional dengan mengundang kelompok warga dan pelajar lokal untuk menilai kenyamanan fasilitas dan alur kunjungan. [2] Masukan dari uji coba awal langsung ditindaklanjuti dengan penyesuaian tata letak spot foto dan penambahan elemen dekorasi agar alur wisatawan lebih nyaman dan terarah. [2] Tim BUMDes juga belajar cepat bahwa kapasitas kunjungan perlu dibatasi agar setiap pengunjung bisa menikmati tempat dengan nyaman tanpa berdesakan—melahirkan sistem pemesanan melalui media sosial dan nomor kontak pengelola yang mengatur arus kunjungan rombongan. [3]
Penelitian tentang perubahan sosial yang terjadi di sekitar wisata bertema Indian di Jawa Timur mengkonfirmasi bahwa pengelolaan yang baik—mulai dari fasilitas, pelayanan, hingga sistem pemesanan yang tertib—menjadi faktor pembeda yang menentukan apakah sebuah destinasi wisata tematik akan bertahan jangka panjang atau sekadar fenomena sesaat. [4] Pengalaman pengelolaan awal yang penuh iterasi di Indian Camp Penambangan ini menjadi sekolah berharga bagi BUMDes dalam membangun standar layanan wisata yang semakin profesional dari waktu ke waktu.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kepemimpinan Martha Suprihasti yang berani mengambil risiko investasi Dana Desa untuk konsep wisata yang belum pernah dicoba di daerah ini menjadi faktor paling menentukan. [2] Kemampuan beliau membaca tren perilaku generasi milenial dan menerjemahkannya ke dalam produk wisata yang relevan menunjukkan kepekaan terhadap dinamika pasar yang luar biasa. [1] Tanpa visi kepemimpinan yang tegas dan berani, ide segar ini bisa saja terhenti di tahap wacana tanpa pernah terwujud menjadi destinasi nyata yang menggerakkan ekonomi desa.
Strategi promosi digital melalui Instagram dan Facebook yang dijalankan BUMDes terbukti menjadi mesin penarik kunjungan yang sangat efektif dengan biaya minimal. [2] Konten visual yang menarik dari pengunjung yang secara sukarela membagikan foto mereka di media sosial menciptakan efek promosi viral yang tidak bisa dibeli dengan uang—membuktikan bahwa produk wisata fotogenik mengandung mekanisme pemasaran diri yang inheren. [3] Dukungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang membangun akses infrastruktur pendukung menuju lokasi juga turut memperkuat daya tarik Indian Camp bagi wisatawan dari luar daerah. [2]
Hasil dan Dampak Inovasi
Segera setelah peresmian, Indian Camp disambut antusias wisatawan terutama dari kalangan pelajar dan keluarga muda yang berdatangan setiap akhir pekan dan hari libur dari Bondowoso dan kabupaten sekitarnya. [3] Tiket masuk Rp 8.000 dan sewa kostum Rp 10.000 per paket menjadikan destinasi ini pilihan wisata terjangkau untuk semua kalangan—menghasilkan aliran pendapatan rutin bagi BUMDes dan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang terus meningkat. [3] Volume kunjungan yang tinggi setiap akhir pekan membuktikan bahwa wisata bertema unik dengan harga rakyat adalah formula yang sangat efektif untuk desa di sekitar kota kabupaten.
Dampak ekonomi yang dirasakan warga melampaui sekadar tiket masuk karena Indian Camp juga menciptakan lapangan kerja baru di bidang pengelolaan, pelayanan tamu, dan penyewaan kostum. [1] Penelitian tentang pengembangan desa wisata di Desa Penambangan mengidentifikasi bahwa kehadiran Indian Camp mendorong pertumbuhan ekonomi informal di sekitar destinasi—dari pedagang makanan ringan, jasa transportasi lokal, hingga perajin aksesori tematik yang ikut meraup manfaat dari arus wisatawan. [6] Secara kualitatif, keberhasilan Indian Camp mengangkat citra Desa Penambangan sebagai desa inovatif dan membuktikan bahwa kreativitas desa mampu bersaing dengan destinasi wisata komersial di perkotaan.
Inovasi Desa Penambangan mendapat apresiasi formal dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso sebagai contoh kreativitas desa yang perlu direplikasi. [2] Penelitian tentang strategi pengembangan BUMDes di Kabupaten Bondowoso mengkonfirmasi bahwa unit usaha wisata yang dikelola BUMDes dengan orientasi pasar yang jelas—seperti model Indian Camp—mampu menjadi sumber PADes yang berkelanjutan sekaligus mendorong kemandirian ekonomi desa dalam jangka panjang. [7]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi pengelola Indian Camp adalah menjaga konsistensi kualitas dekorasi dan properti tematik yang terpapar cuaca ekstrem secara terus-menerus. [1] Material tenda dan ornamen lukis berbahan dasar kain dan kayu rentan mengalami kerusakan lebih cepat dari perkiraan awal sehingga membutuhkan biaya perawatan rutin yang tidak sedikit—memaksa BUMDes mengalokasikan sebagian pendapatan secara disiplin untuk dana renovasi berkala. [1] Tanpa disiplin alokasi biaya pemeliharaan, daya tarik visual destinasi akan memudar dan mengikis kepercayaan pengunjung yang datang dengan ekspektasi berdasarkan foto-foto media sosial.
Persaingan dengan berbagai wahana wisata bertema Indian yang mulai bermunculan di Jawa Timur—seperti Cowboy and Indian Camp di Desa Modangan, Blitar yang terbukti memicu perubahan sosial signifikan di sekitarnya—menciptakan tekanan kompetitif yang nyata. [4] Wisatawan yang semakin kritis menuntut Indian Camp terus berinovasi menambah atraksi baru agar tidak terasa membosankan bagi pengunjung yang datang berulang. [1] Tantangan persaingan dan ekspektasi pengunjung yang terus meningkat ini mendorong pengelola untuk secara aktif memikirkan pengembangan konten wisata agar Indian Camp selalu memiliki kejutan baru.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan Indian Camp dijaga melalui mekanisme reinvestasi sebagian keuntungan BUMDes untuk pembaruan fasilitas, penambahan spot foto baru, dan pengembangan paket wisata yang lebih beragam. [2] Pemerintah Kabupaten Bondowoso turut mendukung keberlanjutan ini dengan membangun akses infrastruktur pendukung—jalan dan penunjuk arah menuju lokasi—yang memperlancar mobilitas wisatawan dari berbagai penjuru. [2] Sinergi antara pendapatan mandiri BUMDes dan dukungan fiskal pemerintah kabupaten menciptakan fondasi keberlanjutan yang kokoh dan tidak rapuh terhadap perubahan kebijakan Dana Desa.
Diversifikasi produk wisata menjadi pilar penting dalam strategi jangka panjang: mengembangkan paket wisata edukasi pertanian, permainan tradisional, dan aktivitas malam hari memperluas segmen pengunjung sekaligus memperpanjang durasi kunjungan sehingga pengeluaran wisatawan per kepala meningkat. [1] Pendekatan wisata edukatif yang memperkaya pengalaman pengunjung ini selaras dengan tren sustainable tourism global yang mengutamakan pengalaman bermakna di atas sekadar hiburan visual. [6] Dengan memperkaya nilai pengalaman, Indian Camp dirancang untuk menjadi destinasi yang layak dikunjungi berulang kali—bukan hanya satu kali untuk kebutuhan konten media sosial semata.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Indian Camp Desa Penambangan membuktikan bahwa inovasi wisata kreatif berbasis Dana Desa mampu menciptakan dampak pembangunan yang merentang lintas tujuan SDGs—dari pengentasan kemiskinan hingga pemberdayaan ekonomi dan pelestarian budaya lokal. [1] Setiap komponen inovasi—dari tiket terjangkau yang mendemokratisasi akses wisata, hingga lapangan kerja bagi warga lokal yang tercipta dari pengelolaan BUMDes—adalah kontribusi nyata pada agenda pembangunan berkelanjutan yang dilokalkan ke tingkat desa. [7]
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 1: Tanpa Kemiskinan | : | Pendapatan Asli Desa yang meningkat dari pengelolaan Indian Camp oleh BUMDes dialokasikan kembali untuk program pemberdayaan warga miskin, sementara lapangan kerja baru yang tercipta—pengelola, pemandu, penjaga kostum—memberikan penghasilan langsung kepada warga yang sebelumnya bergantung sepenuhnya pada pertanian. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Wahana Indian Camp yang dikelola BUMDes menciptakan lapangan kerja lokal yang layak di sektor pariwisata kreatif, mendorong pertumbuhan ekonomi informal di sekitar destinasi (pedagang, jasa transportasi, perajin aksesori), dan menghasilkan PADes berkelanjutan yang membiayai layanan publik desa. |
| SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan | : | Tiket masuk Rp 8.000 dan sewa kostum Rp 10.000 menjadikan Indian Camp destinasi wisata yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat—dari pelajar hingga keluarga petani—mendemokratisasi akses pada pengalaman wisata berkualitas yang sebelumnya hanya dinikmati kalangan mampu. |
| SDGs 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan | : | Pengalihfungsian lahan tidur tidak produktif menjadi destinasi wisata yang hidup dan bermanfaat adalah contoh sempurna pengelolaan ruang desa yang berkelanjutan—menciptakan komunitas yang lebih aktif, bangga pada desanya, dan mampu menarik manfaat ekonomi dari aset lokal yang sebelumnya terbuang. |
| SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan | : | Kolaborasi antara Pemerintah Desa Penambangan, BUMDes, dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang membangun infrastruktur akses menuju Indian Camp membuktikan kemitraan lintas tingkat pemerintahan yang efektif dalam mendorong pertumbuhan destinasi wisata desa secara komprehensif. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Indian Camp membuktikan bahwa konsep wisata tematik unik berbasis Dana Desa mampu mengubah lahan tidur menjadi sumber PADes berkelanjutan tanpa membutuhkan modal investasi besar. [1] Desa Penambangan membuka pintu bagi desa-desa lain di Kabupaten Bondowoso yang ingin belajar dari pengalaman membangun dan mengelola destinasi wisata kreatif bertema unik—dokumentasi konsep, biaya pembangunan, dan sistem operasional yang sudah tersusun menjadi panduan replikasi yang realistis. [2] Penelitian tentang pengelolaan wisata berbasis community-based tourism mengkonfirmasi bahwa model seperti Indian Camp—di mana komunitas lokal menjadi pemilik, pengelola, dan penerima manfaat utama—adalah model yang paling lestari dan paling mudah direplikasi oleh desa-desa lain. [8]
Strategi scale up diarahkan pada pengembangan Indian Camp menjadi kawasan wisata terpadu yang mengintegrasikan wisata alam, edukasi pertanian, dan paket glamping tematik dalam satu destinasi komprehensif. [1] Pengembangan kawasan terpadu ini akan meningkatkan daya saing Indian Camp di tingkat regional Jawa Timur, menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal secara permanen, dan memperkuat posisi Desa Penambangan sebagai pusat rujukan pengembangan wisata desa kreatif di Kabupaten Bondowoso. [6] Dengan pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Bondowoso dan jejaring inovasi desa tingkat nasional, Desa Penambangan siap menjadi inspirasi nyata bagi ribuan desa lain yang memiliki lahan tidur dan kreativitas yang belum tersalurkan.
Daftar Pustaka
[1] Portal Inovasi Desa, “ID 00845: Desa Penambangan Bondowoso Hadirkan Wisata Indian Camp dan Gerakkan Ekonomi Warga,” inovasi.web.id, 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/desa-penambangan-bondowoso-hadirkan-wisata-indian-camp-dan-gerakkan-ekonomi-warga/
[2] Portal Inovasi Desa, “Indian Camp, Desa Penambangan Kembangkan Wisata ala Suku Indian di Bondowoso,” inovasi.web.id, 21 Jun. 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/indian-camp-desa-penambangan-kembangkan-wisata-ala-suku-indian-di-bondowoso/
[3] Y. ErLyn, “Serasa di Camp Dayak!! Wisata Home Selfie Camp Indiana Desa Penambangan Bondowoso,” YouTube, 2 Nov. 2019. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=jUilPL1RNBQ
[4] Y. K. Wulandari et al., “Perubahan Sosial Masyarakat Sekitar Wisata Cowboy and Indian Camp di Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar,” Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-Ilmu Sosial, vol. 3, no. 4, pp. 384–393, 2023. [Online]. Available: http://journal3.um.ac.id/index.php/fis/article/download/3488/2247
[5] D. D. Harjo, “Program Pemerintah Daerah Kabupaten Bondowoso dalam Mengembangkan Obyek Wisata Kawah Wurung,” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Jember. [Online]. Available: http://repository.unmuhjember.ac.id/4108/1/ARTIKEL.pdf
[6] A. Maulana et al., “Pengembangan Menuju Desa Wisata di Desa Penambangan, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat,” Jurnal Riset Pembangunan dan Pengembangan (RPP), UNISMA. [Online]. Available: https://jim.unisma.ac.id/index.php/rpp/article/download/18735/14236
[7] M. F. Hidayat et al., “Strategi Pengembangan Potensi Desa melalui Badan Usaha Milik Desa: Studi Kasus BUMDes Sumber Agung Desa Alassumur, Kabupaten Bondowoso,” Jurnal Agriscience, Universitas Trunojoyo Madura, Mar. 2023. [Online]. Available: https://journal.trunojoyo.ac.id/agriscience/article/view/15708
[8] IPDN, “Pengelolaan Objek Wisata Berbasis Community Based Tourism,” eprints.ipdn.ac.id. [Online]. Available: http://eprints.ipdn.ac.id/16003/1/PENGELOLAAN%20OBJEK%20WISATA%20BERBASIS%20COMMUNITY%20BASED%20TOURISM%20OLEH.pdf
[9] Travel Kompas, “Berburu Foto Selfie di Indian Camp, Tempat Wisata Terbaru di Bondowoso,” travel.kompas.com, 9 Feb. 2020. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2020/02/09/150518427/berburu-foto-selfie-di-indian-camp-tempat-wisata-terbaru-di-bondowoso
[10] Mitra Jatim, “Desa Penambangan Memajukan Wisata Bondowoso dengan Kampung Selfinya,” mitrajatim.com, 21 Okt. 2019. [Online]. Available: https://www.mitrajatim.com/2019/10/desa-penambangan-memajukan-wisata.html
