Ringkasan Inovasi
Pemerintah Desa Botohili Sorake, Kecamatan Lagundri, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, memanfaatkan Dana Desa untuk merevitalisasi Pantai Sorake — destinasi surfing kelas dunia yang mengalami penurunan daya tarik pascagempa dan tsunami 2004. Inovasi utama berupa pembangunan wahana permainan anak dan ruang publik di kawasan pantai yang dikelola oleh BUMDes Sorake, dengan penyertaan modal awal Rp 45 juta dari APBDes. [1]
Strategi inovasi ini melampaui sekadar pembenahan fisik: ia menjadi simbol kebangkitan Desa Botohili Sorake dari trauma bencana menuju destinasi wisata yang kembali berdenyut dan inklusif — tidak hanya menarik peselancar kelas dunia, tetapi juga keluarga, anak-anak, dan wisatawan lokal. [2] Hadirnya BUMDes sebagai pengelola wahana membuka era baru pengelolaan wisata berbasis komunitas yang mengalirkan manfaat langsung ke pendapatan asli desa dan perekonomian warga setempat.
| Nama Inovasi | : | Revitalisasi Wisata Pantai Sorake Berbasis Dana Desa dan BUMDes — Wahana Bermain Anak dan Ruang Publik untuk Pemulihan Pariwisata Pascabencana Desa Botohili Sorake |
| Alamat | : | Desa Botohili Sorake, Kecamatan Lagundri, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara |
| Inovator | : | Pilipis Jagote (Kepala Desa Botohili Sorake); Pengurus BUMDes Sorake; didukung Kemendes PDTT RI dan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan |
| Kontak | : | niasselatankab.go.id | Dinas PMD Kabupaten Nias Selatan | Kantor Kepala Desa Botohili Sorake, Kec. Lagundri |
Latar Belakang
Pantai Sorake bukan pantai biasa. Bersama Pantai Lagundri yang bersebelahan dengannya, Sorake diakui sebagai salah satu lokasi surfing terbaik di dunia — sering disebut sebagai peringkat kedua terbaik di dunia setelah Hawaii, karena ombaknya yang besar, konsisten, dan sempurna untuk surfing kelas internasional. [3] Pantai ini sudah menarik peselancar dari mancanegara sejak era 1970-an dan masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional sesuai PP No. 50 Tahun 2011. [4]
Namun gempa dan tsunami dahsyat 2004 mengubah segalanya. Desa Botohili Sorake menjadi salah satu desa yang paling parah terdampak bencana. Perubahan alam akibat gempa menyebabkan air laut surut dan tidak lagi mencapai bibir pantai — meninggalkan karang berlumut dan bau tidak sedap yang secara dramatis menurunkan daya tarik visual kawasan. [5]
Penelitian tentang persepsi wisatawan terhadap Pantai Sorake pascagempa menemukan hambatan serius: selain perubahan fisik pantai, citra Nias sebagai wilayah rawan bencana membuat banyak calon wisatawan mengurungkan niat berkunjung. [4] Diperlukan inovasi yang mampu mengubah citra dan menarik segmen wisatawan baru — tidak hanya peselancar mancanegara yang sudah mengenal Sorake, tetapi juga wisatawan keluarga yang selama ini belum memiliki alasan kuat untuk datang.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan adalah pemanfaatan Dana Desa untuk membangun wahana permainan anak dan ruang publik di kawasan Pantai Sorake — langkah yang lahir dari hasil musyawarah desa pada September 2017 di mana masyarakat sepakat bahwa ruang publik untuk wisatawan adalah kebutuhan mendesak yang belum tersedia. Kepala Desa Pilipis Jagote kemudian mengarahkan alokasi dana desa 2019 khusus untuk mewujudkan wahana bermain ini. [1]
BUMDes Sorake difungsikan sebagai pengelola wahana bermain anak sekaligus unit usaha komunitas yang lebih luas. Dengan penyertaan modal Rp 45 juta dari APBDes pada 2018, BUMDes mempersiapkan desain besar rencana usaha yang dikelola secara bertahap — termasuk rencana pengadaan wahana seperti mobil-mobilan anak dan penyediaan saung-saung toko untuk pedagang lokal di sekitar pantai. [1]
Proses Penerapan Inovasi
Proses dimulai dari musyawarah desa September 2017 yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Desa Botohili Sorake dalam mengidentifikasi kebutuhan pengembangan wisata. Hasilnya tegas: belum ada ruang publik untuk wisatawan di sekitar pantai, sementara pengunjung yang datang sudah cukup banyak terutama di hari libur. Keputusan musyawarah ini kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah desa dengan mempersiapkan alokasi dana desa untuk wahana bermain anak. [1]
Tahun 2018 menjadi tahun pondasi: penyertaan modal BUMDes sebesar Rp 45 juta dari APBDes digunakan untuk mempersiapkan desain besar rencana usaha — bukan langsung dibelanjakan ke wahana, melainkan untuk perencanaan yang matang terlebih dahulu. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian yang tepat: BUMDes yang baru berdiri satu tahun perlu memiliki cetak biru usaha yang jelas sebelum berinvestasi di infrastruktur wisata. [6]
Pembangunan fisik wahana bermain dan saung-saung pedagang kemudian membawa perubahan yang terlihat nyata. Pengunjung semakin bervariasi — tidak hanya peselancar mancanegara, tetapi juga keluarga dengan anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki alasan spesifik untuk datang ke Sorake. Kehadiran pedagang di saung-saung kecil di sekitar pantai menciptakan ekosistem ekonomi lokal baru yang langsung menguntungkan warga desa. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor pertama adalah reputasi internasional Pantai Sorake sebagai destinasi surfing kelas dunia yang tidak pernah sepenuhnya padam meski sempat terpukul pascabencana. Pada 2022, Kementerian Pariwisata menyelenggarakan kompetisi selancar internasional “Nias Pro 2022” di Pantai Sorake yang diikuti 201 peselancar dari 15 negara — membuktikan bahwa ombak Sorake tetap menjadi magnet kelas dunia yang menjamin arus wisatawan baik lokal maupun internasional. [7]
Faktor kedua adalah mekanisme musyawarah desa yang memastikan inovasi lahir dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan dari atas ke bawah. Kepemimpinan Kepala Desa Pilipis Jagote yang responsif terhadap aspirasi musyawarah dan berani mengalokasikan dana desa untuk wisata menjadi faktor kunci yang mengubah keputusan musyawarah menjadi tindakan nyata. [1]
Hasil dan Dampak Inovasi
Dampak paling segera terlihat adalah diversifikasi segmen pengunjung. Kawasan Pantai Sorake yang semula identik eksklusif dengan wisata surfing mancanegara kini mulai ramai oleh keluarga lokal yang datang untuk menikmati wahana bermain anak dan saung-saung pedagang di tepi pantai. [1] Keberagaman profil pengunjung ini memperkuat ketahanan ekonomi wisata desa dari ketergantungan pada satu segmen saja.
Riset sejarah pariwisata Pantai Sorake dari Universitas Sumatera Utara mengungkap bahwa perkembangan wisata pantai ini secara historis terbukti mempengaruhi pendapatan, kehidupan sosial, dan akses pendidikan masyarakat sekitar secara positif. [2] Tren ini diperkuat kembali oleh kehadiran wahana bermain dan saung pedagang yang membuka lapangan ekonomi baru bagi warga yang selama ini hanya menjadi penonton dari aktivitas wisata surfing internasional.
Agenda Nias Pro — kompetisi surfing internasional yang kembali digelar di Sorake sejak 2022 dengan 201 peserta dari 15 negara — membuktikan bahwa revitalisasi wisata Pantai Sorake sudah cukup meyakinkan bagi pemerintah pusat untuk kembali menjadikannya panggung kompetisi kelas dunia. [7] Momentum ini secara signifikan meningkatkan visibilitas global Pantai Sorake dan mendorong arus kunjungan wisatawan yang lebih besar ke Desa Botohili Sorake.
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar adalah warisan fisik dari bencana 2004: perubahan kontur pantai yang menyebabkan air laut tidak lagi mencapai bibir pantai membatasi daya tarik visual dan pengalaman berenang di pantai ini. [5] Kondisi ini tidak bisa diatasi dengan dana desa semata — dibutuhkan intervensi lingkungan yang lebih besar dan waktu jangka panjang untuk pemulihan ekosistem pantai secara alami.
Tantangan kedua adalah citra Nias sebagai wilayah rawan bencana yang masih memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung. [4] BUMDes dan pemerintah desa membutuhkan strategi komunikasi dan promosi yang kuat untuk mengubah narasi ini — dari “daerah bencana” menjadi “destinasi surfing kelas dunia yang bangkit dan aman dikunjungi”.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan wahana wisata Pantai Sorake bertumpu pada reinvestasi pendapatan BUMDes untuk mengembangkan wahana secara bertahap sesuai pertumbuhan pengunjung. Rencana pengadaan mobil-mobilan anak dan pengembangan wahana keluarga lainnya yang sudah direncanakan sejak awal mencerminkan visi BUMDes sebagai pengelola destinasi wisata keluarga yang bertumbuh organik. [1]
Agenda Nias Pro yang rutin diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata menjadi jangkar keberlanjutan wisata Sorake di level internasional — sebuah aset promosi yang tidak perlu dibiayai oleh dana desa. BUMDes perlu memanfaatkan momentum event internasional ini untuk mengembangkan paket wisata lokal yang melengkapi pengalaman peselancar: akomodasi, kuliner khas Nias, dan wisata budaya yang dipromosikan bersama agenda Nias Pro. [3]
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model pemanfaatan Dana Desa untuk wahana wisata pantai yang dikelola BUMDes di Desa Botohili Sorake relevan direplikasi desa-desa pesisir lain di Nias Selatan yang memiliki potensi pantai belum terkelola. Kunci replikasinya sederhana dan terstandar: awali dari musyawarah desa yang partisipatif, alokasikan dana desa secara terencana, bentuk BUMDes sebagai motor pengelola, dan bangun wahana yang menjangkau segmen wisatawan terluas. [6]
Untuk scale up, pengembangan kluster wisata Sorake-Lagundri sebagai kawasan wisata surfing sekaligus wisata keluarga terintegrasi menjadi peluang strategis yang bisa dikembangkan bersama antardesa di Kecamatan Lagundri. [8] Kolaborasi antardesa dalam membangun paket wisata terpadu — surfing, wisata pantai keluarga, wisata budaya Nias, dan kuliner lokal — akan menciptakan daya tarik yang lebih kuat dan merata bagi seluruh komunitas di kawasan Sorake dan sekitarnya.
Daftar Pustaka
[1] Detik Finance, “Pantai Sorake Dipercantik Pakai Dana Desa, Ini Hasilnya,” finance.detik.com, Sep. 14, 2019. [Online]. Available: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4707422/pantai-sorake-dipercantik-pakai-dana-desa-ini-hasilnya
[2] T. Lase, “Objek Wisata Pantai Sorake di Desa Botohilitano Kabupaten Nias Selatan tahun 1980–2005,” Skripsi, Universitas Sumatera Utara, 2020. [Online]. Available: https://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/26485
[3] Superlive, “Sorake dan Lagundri, Punya Kita, Surfing Kelas Internasional,” superlive.id, Feb. 26, 2026. [Online]. Available: https://superlive.id/superadventure/artikel/wilderness/sorake-dan-lagundri-punya-kita-surfing-kelas-internasional
[4] R. Prasetyo, “Persepsi Wisatawan terhadap Objek Wisata Pantai Sorake Kabupaten Nias Selatan,” Tesis, Universitas Diponegoro, 2015. [Online]. Available: https://eprints.undip.ac.id/72813/2/Bab_I.pdf
[5] Penulis Anonim, “Pengembangan Wisata Pantai Sorake Nias,” Karya Tulis, Scribd, 2019. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/438501852/Karya-Tulis-docx
[6] Inovasi Web, “Desa Botohili Sorake Manfaatkan Dana Desa untuk Pengembangan Wisata Pantai Sorake,” inovasi.web.id, Feb. 17, 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/desa-botohili-sorake-manfaatkan-dana-desa-untuk-pengembangan-wisata-pantai-sorake/
[7] Kementerian Pariwisata RI, “Nias Pro 2022 | Dahsyatnya Ombak Pantai Sorake,” YouTube, Jun. 28, 2022. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=G-L7KG9mckU
[8] V. Hulu, “Explore Sorake Beach on Nias Island: A Travel Guide,” TikTok, Jan. 3, 2025. [Online]. Available: https://www.tiktok.com/@vincent.hulu/video/7456247927938223365
