Ringkasan Inovasi
BUMDes Kolarek, yang berdiri pada 2017 di Desa Sompang Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menghadirkan inovasi pengemasan gula aren tradisional menjadi produk bermerek yang disebut Gola Kolang. Inovasi ini mengangkat produk kearifan lokal — gula dari nira pohon aren (enau) yang sudah menjadi mata pencaharian turun-temurun warga — ke dalam segmen pasar yang lebih luas, khususnya hotel-hotel di kawasan wisata premium Labuan Bajo. [1]
Dengan memanfaatkan jaringan distribusi LSM YAKINESS dan peluang pasar dari lonjakan wisatawan di Labuan Bajo, BUMDes Kolarek berhasil mengubah gula aren curah yang dijual murah di pasar lokal menjadi produk kemasan brown sugar bertampilan modern bernilai ekonomi tinggi. [2] Modal usaha BUMDes Kolarek tercatat Rp125.000.000 berdasarkan data BUMDes Kabupaten Manggarai Barat tahun 2024, mencerminkan kepercayaan pemerintah desa terhadap keberlanjutan inovasi ini. [3]
| Nama Inovasi | : | Gola Kolang dalam Kemasan — Inovasi Pengemasan Gula Aren Berbasis BUMDes |
| Alamat | : | Desa Sompang Kolang, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur |
| Inovator | : | BUMDes Kolarek (akronim: Kolang, Lawi, Redek); Ketua: Wiliandy Say; difasilitasi LSM YAKINESS dan didukung Pemerintah Desa Sompang Kolang |
| Kontak | : | Wiliandy Say (Ketua BUMDes Kolarek) | Data BUMDes Kab. Manggarai Barat: Dinas PMD Manggarai Barat |
Latar Belakang
Kecamatan Kuwus Barat, tempat Desa Sompang Kolang berada, merupakan salah satu sentra penghasil gula aren di Kabupaten Manggarai Barat, Flores. Pohon enau (aren) tumbuh subur di kawasan pegunungan ini, dan masyarakatnya telah mewarisi keahlian menyadap nira serta mengolahnya menjadi gula merah selama bergenerasi. [4]
Namun selama bertahun-tahun, produksi gula aren warga dijual dalam bentuk curah tanpa kemasan dan tanpa merek ke pasar lokal. Nilai jual yang rendah tidak sepadan dengan kerja keras penyadapan nira yang membutuhkan keterampilan teknis dan fisik yang melelahkan setiap harinya. [1] Peluang besar tersimpan di hadapan mereka: lonjakan wisatawan di Labuan Bajo — yang hanya berjarak beberapa jam perjalanan — menciptakan permintaan tinggi terhadap brown sugar kemasan di hotel-hotel bintang, tetapi produk lokal belum hadir di sana.
Di sisi lain, ancaman mengintai dari dalam desa sendiri: nira aren yang sama juga menjadi bahan baku sopi (minuman beralkohol tradisional Flores), yang sering kali lebih dipilih warga karena dianggap lebih cepat menghasilkan uang. [5] Situasi ini memunculkan kebutuhan mendesak: menciptakan insentif ekonomi yang menjadikan gula aren lebih menguntungkan daripada sopi, agar ekosistem pohon aren dan tradisi pembuatan gula merah tetap lestari.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diterapkan BUMDes Kolarek sederhana namun tepat sasaran: mengemas gula aren produksi warga ke dalam kemasan modern berlabel merek Gola Kolang — nama yang menggabungkan kata gola (gula dalam bahasa lokal) dengan Kolang, salah satu kampung asal BUMDes. Proses produksi tidak mengubah cara tradisional pembuatan gula; yang berubah hanyalah cara produk itu dikemas dan dipresentasikan kepada konsumen. [6]
Gola Kolang dikemas dalam format sachet atau kemasan brown sugar siap saji yang lazim digunakan hotel sebagai pemanis meja. BUMDes Kolarek menjadi agregator: mengumpulkan produksi gula aren dari warga desa, menstandarkan kualitas, mengemasnya dalam kemasan bermerek, lalu mendistribusikannya ke hotel-hotel di Labuan Bajo melalui kemitraan dengan LSM YAKINESS sebagai fasilitator rantai pasok. [2]
Proses Penerapan Inovasi
Perjalanan Gola Kolang dimulai pada 2017 ketika LSM YAKINESS menginisiasi kemitraan dengan Pemerintah Desa Sompang Kolang. Dari kolaborasi tersebut lahirlah BUMDes Kolarek — nama yang merupakan akronim dari tiga kampung di desa: Kolang, Lawi, dan Redek — sebagai badan usaha resmi yang akan mengelola bisnis gula aren kemasan. [6]
Pengurus BUMDes kemudian melakukan riset pasar sederhana: mengidentifikasi bahwa hotel-hotel di Labuan Bajo secara konsisten membutuhkan brown sugar kemasan untuk sajian di kamar dan restoran. Temuan ini mendorong tim untuk merancang kemasan yang memenuhi standar visual dan higienitas yang diharapkan hotel. Penamaan merek, desain kemasan, dan proses pengiriman ke Labuan Bajo menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dilalui secara bertahap. [1]
Dalam proses pengembangannya, BUMDes menghadapi tantangan nyata: konsumen dari kalangan hotel mulai mempertanyakan legalitas produk — apakah kemasan Gola Kolang sudah memiliki sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ini menjadi pembelajaran kritis bahwa masuk ke pasar hotel premium bukan hanya soal rasa dan kemasan, tetapi juga membutuhkan kepastian regulasi dari otoritas yang berwenang. [1]
Faktor Penentu Keberhasilan
Faktor terpenting pertama adalah ketepatan identifikasi pasar. BUMDes Kolarek tidak mencoba bersaing di pasar komoditas gula merah curah yang margin tipis, melainkan langsung mengincar segmen premium hotel-hotel di Labuan Bajo yang membutuhkan produk higienis, bermerek, dan siap saji. [2] Pilihan strategis ini memungkinkan nilai jual produk lebih tinggi dibandingkan gula curah di pasar tradisional.
Faktor kedua adalah peran fasilitasi LSM YAKINESS yang menjembatani antara kapasitas produksi desa dan jaringan distribusi ke pasar hotel Labuan Bajo. Tanpa mitra yang sudah memiliki jaringan dan pemahaman pasar, BUMDes akan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk menembus pasar premium tersebut secara mandiri. [1] Riset menunjukkan bahwa inovasi pengemasan produk lokal yang disertai dengan strategi pemasaran digital dan dukungan fasilitator terbukti meningkatkan nilai ekonomi produk secara signifikan. [7]
Hasil dan Dampak Inovasi
Gola Kolang berhasil membuka akses pasar baru yang sebelumnya tidak pernah terjangkau oleh produk gula aren Desa Sompang Kolang. Hotel-hotel di Labuan Bajo — salah satu destinasi wisata premium dengan pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara tertinggi di Indonesia — menjadi pelanggan tetap yang menyerap produksi secara berkesinambungan. [1]
Secara kelembagaan, BUMDes Kolarek berhasil mengkapitalisasi modal penyertaan hingga Rp125.000.000 pada tahun 2024 — bukti nyata bahwa unit usaha jual beli Gola Kolang ini dianggap viable dan mendapat kepercayaan penuh dari pemerintah desa. [3] Warga yang sebelumnya hanya mendapat harga komoditas untuk gula curahnya kini mendapat harga yang lebih baik karena BUMDes bertindak sebagai agregator yang memberi nilai tambah melalui kemasan.
Dampak sosial inovasi ini juga nyata: pengakuan resmi terhadap gula aren sebagai produk unggulan desa mendorong lebih banyak warga untuk memilih memproduksi gula daripada sopi, memperkuat budaya produktif dan mengurangi ketergantungan pada minuman beralkohol sebagai sumber penghasilan. [5]
Tantangan dan Kendala
Tantangan terbesar yang dihadapi BUMDes Kolarek adalah persaingan bahan baku nira aren antara produksi gula dan produksi sopi. Karena sopi dianggap warga lebih cepat menghasilkan uang, BUMDes kerap mengalami kelangkaan pasokan nira di saat permintaan gula meningkat. [1] Tantangan ini diperparah oleh ancaman kepunahan pohon enau di Manggarai Barat akibat kurangnya program budidaya dari pemerintah daerah. [5]
Tantangan kedua adalah belum terpenuhinya sertifikasi BPOM pada kemasan produk, yang menjadi penghalang saat BUMDes ingin memperluas pasar ke hotel-hotel yang memiliki standar pengadaan lebih ketat atau ke pasar ritel modern. Sertifikasi produk membutuhkan proses panjang dan biaya yang belum mampu ditanggung BUMDes secara mandiri, sehingga dukungan pemerintah kabupaten menjadi kebutuhan yang mendesak. [1]
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Keberlanjutan jangka panjang Gola Kolang bertumpu pada dua hal. Pertama, BUMDes perlu mengamankan rantai pasok bahan baku dengan mendorong penanaman kembali pohon aren di desa secara terencana — program budidaya enau yang juga mendesak dilakukan Pemkab Manggarai Barat secara lebih sistematis. [5] Kedua, percepatan proses sertifikasi BPOM melalui fasilitasi Pemkab Manggarai Barat akan membuka pintu pasar yang lebih luas — dari hotel berbintang hingga supermarket dan platform e-commerce.
Pemanfaatan platform pemasaran digital — mulai dari media sosial, marketplace, hingga kemasan dengan QR code yang mengarahkan ke cerita produk — menjadi strategi promosi yang terbukti meningkatkan nilai tambah produk lokal dan memperluas jangkauan konsumen tanpa biaya distribusi fisik yang besar. [8] BUMDes Kolarek perlu mengadopsi strategi digital ini untuk menjangkau wisatawan dan konsumen premium di luar Labuan Bajo.
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model Gola Kolang sangat mudah direplikasi oleh desa-desa penghasil gula aren lain di Kecamatan Kuwus Barat dan Flores pada umumnya. Inti replikasinya sederhana: identifikasi produk kearifan lokal yang sudah ada, kemas dengan standar yang lebih baik, beri merek yang mencerminkan identitas desa, dan hubungkan dengan pasar premium yang relevan. [4]
Untuk scale up, Gola Kolang berpotensi menjadi produk kolektif lintas desa di Manggarai Barat dengan satu payung merek regional — misalnya Gola Flores — yang diekspor ke pasar nasional dan internasional. Penelitian tentang inovasi produk gula aren menunjukkan bahwa dengan penerapan teknologi tepat guna, standarisasi kualitas, dan digitalisasi pemasaran, produk gula aren lokal mampu bersaing di pasar nasional dan bahkan pasar ekspor sebagai produk organic palm sugar yang semakin diminati konsumen global. [9]
Daftar Pustaka
[1] Tim Inovasi Desa, “Gola Kolang, Produk Kemasan BUMDes Kolarek di Manggarai Barat,” Inovasi Desa, Jun. 21, 2020. [Online]. Available: https://inovasi.web.id/gola-kolang-produk-kemasan-bumdes-kolarek-di-manggarai-barat/
[2] FloresPedia – Kumparan, “‘Gola Kolang’, Produk Kemasan dari BUMDes KOLAREK di Manggarai Barat,” Kumparan, Mei 03, 2019. [Online]. Available: https://kumparan.com/florespedia/gola-kolang-produk-kemasan-dari-bumdes-kolarek-di-manggarai-barat-1r0xXzlnx3m
[3] Dinas PMD Manggarai Barat, “Data Unit Usaha dan Penyertaan Modal BUMDes Kabupaten Manggarai Barat Tahun 2024,” Scribd, 2024. [Online]. Available: https://id.scribd.com/document/995129788/Data-Unit-Usaha-Penyertaan-Modal-Bumdes-Copy
[4] INB Pramartha et al., “Pelatihan Pembuatan Gula Merah untuk Meningkatkan Pendapatan di Kecamatan Kuwus Barat, Manggarai Barat,” Jurnal JAPAKESADA – Universitas Yapakama, 2021. [Online]. Available: https://journal.yapakama.com/index.php/JAPAKESADA/article/download/112/103/337
[5] FloresPos, “Enau di Manggarai Barat Terancam Punah – Pemerintah Mesti Program Budidaya,” FloresPos.net, Jan. 19, 2026. [Online]. Available: https://florespos.net/2026/01/20/enau-di-manggarai-barat-terancam-punah-pemerintah-mesti-program-budidaya/
[6] Kompas Travel, “Gola Rebok, Kearifan Lokal Desa Sompang Kolang di Flores Barat,” Kompas.com, Apr. 29, 2019. [Online]. Available: https://travel.kompas.com/read/2019/04/30/123000827/gola-rebok-kearifan-lokal-desa-sompang-kolang-di-flores-barat-6-?page=all
[7] KKN PMD UNRAM, “Inovasi Pengemasan Produk Gula Aren Guna Meningkatkan Nilai Tambah,” Jurnal Wicara – Universitas Mataram, 2024. [Online]. Available: https://journal.unram.ac.id/index.php/wicara/article/download/5521/3017
[8] A. Harahap et al., “Inovasi Pemasaran Digital Gula Aren Melalui Kebijakan Hukum dalam Pengabdian Membangun Desa,” Community Development Journal – Universitas Pahlawan, Okt. 18, 2024. [Online]. Available: https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/cdj/article/view/35672
[9] Tim PKM Politeknik Kebumen, “Inovasi Produksi Gula Aren dalam Meningkatkan Kualitas dan Nilai Ekonomi Produk Lokal,” Jurpikat – Politeknik Kebumen, 2024. [Online]. Available: https://jurnal.politeknik-kebumen.ac.id/jurpikat/article/download/2857/1477

1) satu kotak itu beratnya berapa dan harganya berapa.
2) pohon nira perlu dilipatgandakan oleh petani, tidak cukup mengandalkan tanaman lama.