Ringkasan Inovasi

BUMDes Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, menjalankan inovasi model pemberdayaan ekonomi desa terpadu yang mengintegrasikan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan pengembangan tujuh unit usaha berbasis potensi lokal. Inovasi ini lahir dari sinergi unik antara pemerintah desa, BUMDes, dan program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang diinisiasi APP Sinar Mas melalui PT Wirakarya Sakti (WKS). [1]

Dipimpin Direktur BUMDes Zuvita Erdaningsih yang saat itu berusia 25 tahun, BUMDes Desa Delima mencatatkan PADes sebesar Rp138 juta pada 2018 dan Rp145 juta pada akhir 2019 — sebuah prestasi luar biasa bagi desa baru hasil pemekaran wilayah. [2] BUMDes Desa Delima bahkan meraih predikat terbaik pertama BUMDes Nasional pada 2018 dan direkomendasikan Kementerian Desa untuk studi banding ke Cina pada Maret 2019. [3]

Nama Inovasi:BUMDes Desa Delima — Model Inovasi BUMDes Multi-Usaha Terintegrasi Program DMPA untuk Pemberdayaan dan Pencegahan Karhutla
Alamat:Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi
Inovator:Zuvita Erdaningsih (Direktur BUMDes Desa Delima); Pemerintah Desa Delima; PT Wirakarya Sakti (WKS) / APP Sinar Mas melalui Program DMPA
Kontak:app.co.id | sinarmas.com | Dinas PMD Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi

Latar Belakang

Desa Delima adalah desa pemekaran baru yang berbatasan langsung dengan area konsesi hutan produksi PT Wirakarya Sakti (WKS), mitra pemasok APP Sinar Mas di Provinsi Jambi. Kedekatan geografis dengan kawasan hutan menciptakan risiko tinggi: pembakaran lahan ilegal oleh warga yang membuka lahan, konflik sosial antara masyarakat dan perusahaan, serta ketergantungan warga pada sumber daya hutan. [4]

Sebagai desa baru, Desa Delima tidak memiliki PADes mandiri dan bergantung sepenuhnya pada dana transfer untuk membiayai pembangunan. Dengan penduduk sekitar 1.500 jiwa, desa ini memiliki potensi pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan yang melimpah namun belum terorganisasi menjadi unit usaha produktif yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan. [4]

APP Sinar Mas melihat ancaman karhutla dari desa-desa sekitar konsesinya sebagai risiko operasional dan reputasi yang serius. Sejak 2016, perusahaan menginvestasikan dana hingga Rp45 miliar untuk program DMPA di ratusan desa sekitar konsesi — memposisikan pemberdayaan masyarakat sebagai solusi struktural pencegahan karhutla, bukan sekadar pemadaman setelah kebakaran terjadi. [5]

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah model BUMDes multi-usaha yang diintegrasikan dengan program pemberdayaan korporasi-desa (DMPA), menciptakan ekosistem ekonomi desa yang sekaligus berfungsi sebagai mekanisme pencegahan karhutla dari hulu. BUMDes Desa Delima menjalankan tujuh unit usaha dalam dua sektor: sektor perdagangan (minimarket desa dan air isi ulang) dan sektor produksi (pupuk kompos, budidaya ikan lele, mesin cacah kelapa sawit, serta komoditas pertanian dan perkebunan lainnya). [1]

Mekanisme keuangan BUMDes ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan manfaat bagi desa: setiap tahun, 30 persen dari Sisa Hasil Usaha (SHU) dikembalikan ke PADes untuk membiayai infrastruktur dan program sosial. [2] Sistem ini menciptakan rantai nilai yang menutup sendiri (self-sustaining): semakin produktif BUMDes, semakin besar PADes yang bisa membiayai infrastruktur desa tanpa bergantung pada bantuan dari pusat.

Proses Penerapan Inovasi

Penerapan inovasi dimulai ketika Desa Delima bergabung dalam program DMPA yang dijalankan PT WKS. Program ini memberikan modal permodalan, pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan kepada desa-desa sekitar konsesi — dengan alokasi per desa sekitar Rp200–270 juta, disesuaikan kebutuhan spesifik masing-masing desa. [6]

Zuvita Erdaningsih yang saat itu masih berusia 25 tahun terpilih sebagai Direktur BUMDes dan langsung mengidentifikasi tujuh jenis usaha yang sesuai potensi lokal desa. Setiap unit usaha dirintis bertahap: minimarket dan air isi ulang berjalan lebih awal sebagai unit yang relatif mudah dan langsung menghasilkan pendapatan, sementara unit produksi seperti pupuk kompos dan mesin cacah kelapa sawit membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kapasitas penuh. [4]

Komunikasi intensif antara BUMDes dan APP Sinar Mas tidak pernah terputus — perusahaan terus memberikan pendampingan teknis dan pembinaan, bukan sekadar suntikan modal di awal. Pola pendampingan dari hulu ke hilir ini, termasuk akses ke jaringan pasar produk DMPA, menjadi faktor kritis yang membedakan BUMDes Desa Delima dari BUMDes lain yang sering kandas setelah modal awal habis. [7]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor pertama adalah kepemimpinan Zuvita Erdaningsih yang muda, berani, dan memiliki visi bisnis yang kuat. Kemampuannya memimpin tujuh unit usaha sekaligus di usia 25 tahun, sambil menjaga komunikasi aktif dengan perusahaan mitra, menunjukkan kapasitas wirausaha sosial yang melampaui rata-rata pengelola BUMDes di desa-desa serupa. [3]

Faktor kedua adalah kemitraan strategis dengan APP Sinar Mas melalui program DMPA — sebuah model kemitraan korporasi-desa yang melampaui pola CSR konvensional. Program DMPA memberi desa akses ke tiga hal sekaligus yang jarang dimiliki BUMDes lain: modal awal, pendampingan teknis berkelanjutan, dan akses pasar untuk produk yang dihasilkan. [7] Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo bahkan secara langsung mengapresiasi program DMPA sebagai model yang sejalan dengan program Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades). [7]

Hasil dan Dampak Inovasi

BUMDes Desa Delima menghasilkan PADes sebesar Rp138 juta pada 2018 — naik menjadi Rp145 juta pada akhir 2019. Angka ini sangat signifikan bagi desa baru yang sebelumnya tidak memiliki sumber PADes mandiri sama sekali. [2] Kontribusi 30 persen SHU ke PADes secara langsung membiayai infrastruktur desa dan program sosial yang dibutuhkan warga.

Prestasi yang diraih BUMDes Desa Delima sangat luar biasa: terbaik pertama BUMDes Nasional 2018, mewakili Jambi dalam Musyawarah Nasional Forum BUMDes di Padang, dan pada Maret 2019 direkomendasikan Kementerian Desa untuk studi banding ke Cina. [3] Pengakuan nasional ini membuktikan bahwa inovasi dari desa terpencil di perbatasan hutan Jambi mampu menjadi contoh bagi ribuan BUMDes di seluruh Indonesia.

Di luar dampak ekonomi, program DMPA yang menjadi tulang punggung BUMDes terbukti efektif mengurangi niat warga membakar lahan. [8] Ketika warga memiliki pekerjaan dan sumber penghasilan yang cukup dari BUMDes, motivasi untuk membuka lahan dengan cara dibakar — yang sebelumnya menjadi ancaman serius — menurun secara signifikan.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar yang diakui langsung oleh Zuvita adalah soal pemasaran dan sumber daya manusia. Beberapa produk BUMDes seperti pupuk kompos dan hasil ternak masih mengandalkan jaringan pemasaran lokal yang terbatas, sehingga kapasitas produksi tidak bisa ditingkatkan secara maksimal karena pasar yang tersedia belum cukup besar. [1]

Dari sisi SDM, mengelola tujuh unit usaha sekaligus membutuhkan personel dengan beragam keahlian yang sulit ditemukan di desa. Ketergantungan pada satu sosok pemimpin yang kuat seperti Zuvita juga menjadi risiko keberlanjutan: jika pemimpin kunci tidak ada, kesinambungan tujuh unit usaha bisa terganggu. [4]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

BUMDes Desa Delima sudah merencanakan dua pengembangan strategis untuk jangka panjang. Pertama, budidaya ikan lele akan beralih dari kolam terpal ke kolam bioflok — teknologi yang terbukti meningkatkan produktivitas lele dua hingga tiga kali lipat dengan penggunaan lahan yang lebih efisien, sekaligus mengurangi risiko penyakit dan kegagalan panen. [1]

Kedua, pengembangan desa wisata bekerja sama dengan PT WKS akan membuka sumber pendapatan baru yang tidak bergantung pada produksi komoditas. Program DMPA dari APP Sinar Mas sendiri terus berkembang — hingga 2022, program ini telah memberdayakan masyarakat di 405 desa di lima provinsi melalui beragam produk holtikultura, peternakan, perikanan, dan kerajinan. [9]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model inovasi BUMDes Desa Delima sangat relevan direplikasi di ratusan desa lain yang berbatasan dengan kawasan konsesi hutan produksi di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Kunci modelnya adalah sinergi tiga pihak yang saling menguatkan: pemerintah desa yang memiliki legitimasi dan akses dana desa, BUMDes yang menjalankan unit usaha produktif, dan perusahaan mitra yang menyediakan modal, pendampingan, dan akses pasar. [10]

Untuk scale up, program DMPA APP Sinar Mas sendiri menargetkan implementasi di 500 desa di lima provinsi dengan total investasi USD10 juta hingga 2020. [6] Pengakuan dari Kementerian Desa PDTT bahwa model DMPA sejalan dengan program Prukades membuka peluang replikasi model kemitraan korporasi-desa ini secara sistematis melalui kebijakan nasional, menjangkau ribuan desa lain yang saat ini masih bergulat dengan ancaman karhutla dan kemiskinan secara bersamaan.

Daftar Pustaka

[1] Tempo Info, “Peran BUMDes Berdayakan Masyarakat Desa Delima,” tempo.co, Nov. 27, 2019. [Online]. Available: https://www.tempo.co/info-tempo/peran-bumdes-berdayakan-masyarakat-desa-delima-680202

[2] Tempo Nasional, “Peran BUMDes Berdayakan Masyarakat Desa Delima,” nasional.tempo.co, Nov. 2019. [Online]. Available: https://nasional.tempo.co/read/1277516/peran-bumdes-berdayakan-masyarakat-desa-delima

[3] Kementerian LHK, “Perempuan Berkarya Menggapai Mimpi Masyarakat Sejahtera — BUMDes Desa Delima,” phl.kehutanan.go.id, 2023. [Online]. Available: https://phl.kehutanan.go.id/media/publikasi/publikasi_file_1689911148.pdf

[4] UN SDGs Partnership, “BUMDes and Community Empowerment in Delima Village,” sdgs.un.org. [Online]. Available: https://sdgs.un.org/partnerships/bumdes-and-community-empowerment-delima-village

[5] Detik News, “Sejak 2016, APP Sinar Mas Danai Desa Makmur Peduli Api hingga Rp45 M,” detik.com, Jul. 23, 2019. [Online]. Available: https://news.detik.com/berita/d-4637585/sejak-2016-app-sinar-mas-danai-desa-makmur-peduli-api-hingga-rp-45-m

[6] Neraca.co.id, “Desa Makmur Peduli Api — Salah Satu Solusi Wujudkan Desa Bebas Api,” neraca.co.id, Jul. 24, 2016. [Online]. Available: https://www.neraca.co.id/article/72279/desa-makmur-peduli-api-salah-satu-solusi-wujudkan-desa-bebas-api

[7] Sinar Mas, “Mendes Apresiasi Program DMPA APP Sinar Mas,” sinarmas.com, Sep. 2018. [Online]. Available: https://www.sinarmas.com/blog/?p=1102

[8] Antara News, “Program Desa Makmur Peduli Api Tepat Cegahan Karhutla di Jambi,” antaranews.com, Jul. 27, 2020. [Online]. Available: https://www.antaranews.com/berita/1636570/program-desa-makmur-peduli-api-tepat-cegahan-karhutla-di-jambi

[9] Antara News Jambi, “Dukung UMKM Naik Kelas, APP Sinar Mas Bina Masyarakat Sekitar Perusahaan,” jambi.antaranews.com, Okt. 2, 2022. [Online]. Available: https://jambi.antaranews.com/berita/523761/dukung-umkm-naik-kelas-app-sinar-mas-bina-masyarakat-sekitar-perusahaan

[10] Wikiwirausaha, “APP Sinar Mas: MADU — Program Desa Makmur Peduli Api,” wikiwirausaha.id. [Online]. Available: https://wikiwirausaha.id/app-sinar-mas-madu-program-desa-makmur-peduli-api/

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.