Ringkasan Inovasi

Posyandu Pering Ulung di Pekon Gunung Kemala, Kecamatan Way Krui, Kabupaten Pesisir Barat, mengembangkan dua inovasi layanan berbasis kebutuhan nyata keluarga. Inovasi itu adalah Demo Masak Gizi Tambahan atau Desak Gita dan Sertifikat Balita Lulus Imunisasi atau Setali. [page:1]

Desak Gita lahir untuk meningkatkan kunjungan posyandu dan memperbaiki status gizi balita dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Setali hadir untuk mendorong kepatuhan imunisasi dasar lengkap, dan hasilnya capaian imunisasi meningkat dari 95 persen pada 2022 menjadi 100 persen di Pekon Gunung Kemala. Prestasi ini mengantarkan kader Hasna Wati meraih penghargaan Kader Posyandu Berprestasi Tahun 2024 dari Kementerian Kesehatan. [page:1][web:66]

Nama Inovasi:Desak Gita dan Setali pada Posyandu Pering Ulung
Alamat:Pekon Gunung Kemala, Kecamatan Way Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung
Inovator:Hasna Wati, Kader Posyandu Pering Ulung, bersama Posyandu Pering Ulung, Pemerintah Pekon Gunung Kemala, dan dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Barat
Kontak:Website pemerintah daerah: https://pesisirbaratkab.go.id ; email dan telepon spesifik posyandu tidak tercantum pada sumber yang diakses

Latar Belakang

Pada 2021, Posyandu Pering Ulung menghadapi persoalan yang sangat mendasar. Kunjungan balita saat itu hanya mencapai 56 persen, dan terdapat tiga balita dengan status gizi kurang. Angka itu menunjukkan bahwa layanan posyandu belum sepenuhnya menarik dan belum cukup kuat mengubah perilaku keluarga. [page:1]

Masalah tersebut tidak berdiri sendiri. Posyandu bekerja di ruang sosial yang dipengaruhi kebiasaan makan, pengetahuan orang tua, dan tingkat motivasi keluarga untuk hadir setiap bulan. Literatur menunjukkan bahwa Posyandu menjadi ujung tombak perbaikan gizi anak, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dan strategi kader yang peka terhadap kondisi lokal. [web:79][web:85]

Setelah tantangan gizi mulai dibaca dengan lebih jelas, muncul persoalan lain pada layanan imunisasi. Pada 2022, capaian imunisasi dasar lengkap di Posyandu Pering Ulung baru mencapai 95 persen dari target 100 persen. Selisih kecil itu tampak sederhana, tetapi dalam layanan kesehatan dasar, satu anak yang tertinggal tetap berarti satu risiko yang harus dikejar. [page:1]

Inovasi yang Diterapkan

Desak Gita adalah inovasi edukasi gizi dalam bentuk demonstrasi memasak makanan tambahan setelah kegiatan posyandu. Orang tua tidak hanya menerima penyuluhan, tetapi melihat langsung cara mengolah bahan pangan lokal menjadi menu yang mudah, murah, dan bergizi untuk bayi serta balita. [page:1][web:66]

Setali adalah inovasi pemicu kepatuhan imunisasi melalui pemberian sertifikat bagi balita yang menuntaskan imunisasi dasar lengkap. Sertifikat ini bekerja sebagai pengingat sosial dan simbol keberhasilan keluarga, sehingga kunjungan ke posyandu tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai perjalanan tumbuh kembang anak yang patut dirayakan. [page:1]

Proses Penerapan Inovasi

Proses inovasi dimulai dari pembacaan data sederhana di tingkat posyandu. Hasna Wati dan tim melihat rendahnya kunjungan balita dan adanya kasus gizi kurang sebagai tanda bahwa pendekatan lama perlu diubah. Dari situ, mereka tidak memilih intervensi yang rumit, tetapi merancang kegiatan yang dekat dengan keseharian ibu dan anak. [page:1]

Pada tahap awal, Desak Gita diuji sebagai kegiatan lanjutan setelah pelayanan posyandu. Kader memanfaatkan bahan makanan lokal agar keluarga merasa menu sehat bukan sesuatu yang mahal atau sulit didapat. Pendekatan ini sejalan dengan berbagai kajian yang menunjukkan bahwa edukasi gizi dan praktik pengolahan pangan lokal dapat memperbaiki pengetahuan pengasuh dan pola makan anak. [web:79][web:82][web:73]

Setelah inovasi gizi berjalan, posyandu membaca bahwa imunisasi masih belum mencapai sasaran penuh. Dari sini lahir Setali sebagai pendekatan perilaku yang sederhana namun kuat. Penghargaan simbolik dalam bentuk sertifikat dipakai untuk memperkuat ingatan, kebanggaan, dan motivasi orang tua agar membawa anak menuntaskan jadwal imunisasi. [page:1][web:77]

Dalam prosesnya, kegagalan awal justru menjadi pelajaran penting. Rendahnya kunjungan 56 persen pada 2021 dan capaian imunisasi 95 persen pada 2022 membuktikan bahwa layanan rutin saja belum cukup. Posyandu lalu belajar bahwa keluarga membutuhkan pengalaman yang konkret, menyentuh, dan mudah dipahami agar mau hadir secara konsisten. [page:1]

Faktor Penentu Keberhasilan

Keberhasilan inovasi ini sangat ditentukan oleh peran kader sebagai penggerak perubahan perilaku. Hasna Wati tidak berhenti pada pencatatan layanan, tetapi menghadirkan solusi yang menjawab hambatan keluarga secara langsung, baik pada aspek gizi maupun imunisasi. Peran kader seperti ini banyak disebut dalam kajian sebagai faktor penting penurunan masalah gizi dan peningkatan partisipasi Posyandu. [page:1][web:78][web:85]

Faktor penting lain adalah pemanfaatan bahan pangan lokal dan dukungan lingkungan sekitar. Desak Gita lebih mudah diterima karena menu yang didemonstrasikan relevan dengan kemampuan keluarga. Dukungan pemerintah desa juga memperkuat inovasi ini, bahkan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyebut kegiatan Desak Gita telah teranggarkan melalui dana desa. [web:66][web:84]

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil yang paling tegas terlihat pada capaian imunisasi. Setali membantu mendorong pelayanan imunisasi dasar lengkap dari 95 persen pada 2022 menjadi 100 persen bagi seluruh bayi dan balita di Pekon Gunung Kemala. Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi kecil di tingkat posyandu dapat menghasilkan perubahan nyata pada indikator layanan dasar. [page:1]

Pada aspek gizi, Desak Gita dirancang sebagai respons terhadap kunjungan balita yang hanya 56 persen dan adanya tiga balita gizi kurang pada 2021. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyebut inovasi ini berhasil meningkatkan kunjungan masyarakat ke posyandu dan menurunkan kasus gizi kurang di wilayah kerja Posyandu Pering Ulung. [page:1][web:66]

Dampak kualitatifnya juga kuat. Orang tua belajar bahwa perbaikan gizi anak dapat dimulai dari dapur sendiri dengan bahan lokal. Posyandu berubah dari ruang timbang bulanan menjadi ruang belajar, ruang percaya, dan ruang perjumpaan antara pengetahuan kesehatan dengan pengalaman keluarga. Pengakuan nasional yang diterima Hasna Wati pada 2024 memperlihatkan bahwa inovasi berbasis komunitas dapat tumbuh dari desa kecil dan diakui di tingkat nasional. [page:1][web:61]

Tantangan dan Kendala

Tantangan utama inovasi ini adalah menjaga konsistensi perilaku keluarga setelah capaian awal diraih. Kehadiran ke posyandu dan kepatuhan imunisasi sangat dipengaruhi motivasi, waktu, pekerjaan orang tua, serta kemampuan kader menjaga komunikasi yang hangat dan berkelanjutan. [web:85][web:77]

Kendala lainnya adalah kebutuhan dokumentasi dampak yang lebih rinci. Posyandu sudah memiliki data dasar yang kuat, tetapi inovasi akan semakin kokoh bila disertai pencatatan rutin tentang tren kunjungan, perubahan berat badan, status gizi, dan keberlanjutan perilaku keluarga dari waktu ke waktu. [page:1][web:77]

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi perlu dijaga dengan menjadikan Desak Gita dan Setali sebagai bagian tetap dari siklus layanan Posyandu. Desak Gita dapat dikembangkan menjadi kurikulum menu bulanan berbasis bahan lokal, sedangkan Setali dapat dipadukan dengan pengingat jadwal imunisasi yang lebih sistematis. [web:66][web:77]

Dalam jangka panjang, kader perlu didukung dengan pelatihan, media edukasi, dan pembiayaan desa yang konsisten. Strategi ini penting agar inovasi tidak bergantung pada satu figur, tetapi menjadi budaya layanan kesehatan desa yang terus diwariskan kepada kader berikutnya. [web:66][web:73]

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Posyandu Pering Ulung sangat mungkin direplikasi di desa lain karena sederhana, murah, dan dekat dengan kebutuhan warga. Desa-desa lain dapat menyesuaikan resep Desak Gita dengan pangan lokal setempat dan mengembangkan Setali dalam bentuk penghargaan, kartu kontrol, atau pengingat keluarga. [page:1][web:79][web:84]

Untuk scale up, Dinas Kesehatan dan pemerintah desa dapat menyusun panduan inovasi kader berbasis praktik baik dari Gunung Kemala. Jika model ini diperluas, desa lain tidak perlu memulai dari nol, tetapi bisa langsung belajar dari pengalaman Hasna Wati tentang bagaimana inovasi kecil mampu mengubah capaian gizi dan imunisasi secara nyata. [page:1][web:61]

Daftar Pustaka

[1] Pemerintah Kabupaten Pesisir Barat, “Kader Posyandu Asal Pesibar Raih Prestasi Terbaik di Tingkat Nasional,” 16 Agustus 2024. [Online]. Tersedia: https://pesisirbaratkab.go.id/berita/kader-posyandu-asal-pesibar-raih-prestasi-terbaik-di-tingkat-nasional

[2] Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, “Raih Terbaik ke-2 Tingkat Nasional Poster Banner Inovasi Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Lampung,” 11 Juli 2024. [Online]. Tersedia: https://dinkes.lampungprov.go.id/raih-terbaik-ke-2-tingkat-nasional-inovasi-program-promosi-kesehatan-dan-pemberdayaan-masyaraka/

[3] T. S. Widodo et al., “Local-food-based complementary feeding for the nutritional status of children ages 6–36 months in rural areas of Indonesia,” J. Nutr. Sci. Vitaminol., 2017. [Online]. Tersedia: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5687979/

[4] A. A. Nuryanto et al., “Nutrition education in Southeast Sulawesi Province, Indonesia: A cluster randomized controlled study,” 2020. [Online]. Tersedia: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7507461/

[5] A. Zikri et al., “Balanced Nutrition and Healthy Menu Based Training Local Food during the COVID-19 Pandemic for Posyandu Cadres,” Dinamisia, 2023. [Online]. Tersedia: https://journal.unilak.ac.id/index.php/dinamisia/article/download/12836/4782/

[6] B. Y. S. Pratiwi, “The Role of Posyandu Cadres in Reducing Malnutrition Rates,” Journal of Nutrition Food and Community. [Online]. Tersedia: https://journal.unnes.ac.id/journals/jnfc/article/download/26749/6567/116245

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.