Ringkasan Eksekutif

Masjid Ar-Ridwan, atau yang populer disebut “Masjid Cina”, di Desa Pakuan menghadirkan inovasi arsitektur religius yang unik dengan memadukan gaya bangunan khas Tionghoa di tengah lanskap pedesaan Lombok Barat. Inisiatif pembangunan masjid ini bertujuan menyediakan tempat ibadah yang nyaman sekaligus menjadi simbol persatuan umat di tengah keberagaman etnis.

Dampak utamanya adalah terciptanya destinasi wisata religi baru yang menarik kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara, yang secara tidak langsung menggerakkan ekonomi warga sekitar. Kehadiran masjid ini juga memperkuat citra toleransi di Pulau Lombok, membuktikan bahwa perbedaan latar belakang budaya dapat melebur indah dalam bingkai spiritualitas.

Nama Inovasi:Masjid Arsitektur Tionghoa (Masjid Ar-Ridwan/Masjid Cina)
Alamat:Dusun Jurang Malang, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat
Inovator:H. Muhammad Maliki (Wakif) & Masyarakat Desa Pakuan
Kontak:Pengurus Masjid Ar-Ridwan

Latar Belakang dan Masalah

Desa Pakuan yang terletak di dataran tinggi Kecamatan Narmada memiliki udara sejuk dan pemandangan alam asri, namun belum memiliki ikon wisata religi yang kuat. Di sisi lain, isu intoleransi dan sentimen SARA seringkali menjadi tantangan sosial di berbagai daerah, yang membutuhkan simbol nyata persatuan untuk meredamnya. Masyarakat membutuhkan ruang publik yang tidak hanya berfungsi ritual, tetapi juga sosial dan edukatif mengenai keberagaman.

Keinginan seorang mualaf keturunan Tionghoa, H. Muhammad Maliki, untuk berkontribusi bagi masyarakat setempat bertemu dengan kebutuhan warga akan sarana ibadah yang representatif. Peluang untuk menciptakan sesuatu yang berbeda di “Pulau Seribu Masjid” diambil dengan tidak membangun masjid bergaya kubah konvensional, melainkan mempertahankan identitas kultural sang wakif. Pendekatan ini berisiko jika tidak dikelola dengan komunikasi yang baik, namun justru menjadi kekuatan utama masjid ini.

Inovasi yang Diterapkan

H. Muhammad Maliki menerapkan inovasi arsitektur dengan mengadopsi desain bangunan Tionghoa yang kental, didominasi warna merah menyala dan kuning keemasan, serta bentuk atap bertumpuk layaknya kelenteng atau istana kekaisaran. Inovasi ini lahir dari mimpi dan filosofi pribadi sang pendiri yang ingin menyatukan akar budayanya dengan keyakinan barunya sebagai muslim. Masjid ini didesain langsung oleh arsitek dari Tiongkok untuk memastikan keaslian detail ornamennya.

Penerapan inovasi terlihat pada struktur bangunan segi delapan yang sarat makna, berbeda dengan masjid umum di Lombok yang biasanya persegi. Ornamen kaligrafi Arab bersanding harmonis dengan tulisan Mandarin yang bermakna persaudaraan sesama muslim, menciptakan dialog visual yang indah. Inovasi ini bekerja dengan menjadikan masjid sebagai objek wisata tanpa mengurangi kesakralan fungsinya sebagai tempat sujud.

Fitur pendukung seperti jembatan penghubung sepanjang seratus meter dengan lampion gantung menambah nuansa eksotis yang instagramable, menarik minat generasi muda untuk berkunjung. Lansekap masjid yang dilengkapi taman, gazebo, dan kolam renang menjadikannya pusat rekreasi keluarga yang inklusif dan gratis bagi siapa saja.

Metodologi dan Proses Inovasi

Pembangunan masjid dimulai pada tahun 2007 di atas lahan seluas sembilan puluh are dan diresmikan penggunaannya pada tahun 2010. Proses konstruksi melibatkan tenaga ahli untuk memastikan detail arsitektur Tionghoa, seperti atap tumpuk tiga yang menyimbolkan perjalanan hidup manusia (rahim, dunia, akhirat), terwujud sempurna. H. Maliki secara konsisten memantau pembangunan meski sibuk dengan usahanya di Kota Mataram, memastikan visi spiritualnya tertuang dalam fisik bangunan.

Pendekatan kultural dilakukan dengan melibatkan masyarakat Dusun Jurang Malang dalam proses pembangunan dan pengelolaan sehari-hari, sehingga tidak ada resistensi terhadap gaya arsitektur yang tidak lazim tersebut. Eksperimen sosial ini berhasil karena warga melihat ketulusan niat wakif yang ingin memberikan manfaat, bukan sekadar pamer kemewahan. Masjid ini kemudian diserahkan sepenuhnya untuk dikelola oleh warga setempat sebagai aset umat.

Tantangan aksesibilitas sempat muncul akibat bencana alam longsor yang memutus jalan utama, namun hal ini menjadi pembelajaran pentingnya mitigasi bencana bagi lokasi wisata di perbukitan. Evaluasi fungsi ruang terus dilakukan dengan menambahkan fasilitas pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bagi anak-anak di sore hari, menjadikan masjid hidup sepanjang waktu.

Manfaat, Hasil, dan Dampak

Keberadaan Masjid Ar-Ridwan telah mengubah wajah Desa Pakuan menjadi destinasi wisata religi yang dikenal hingga ke mancanegara, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina. Kunjungan wisatawan yang datang menggunakan bus pariwisata memberikan peluang ekonomi bagi warga sekitar yang membuka warung makan dan jasa parkir. Masjid ini menjadi bukti nyata bahwa pariwisata dan religiusitas dapat berjalan beriringan saling menguntungkan.

Secara sosial, masjid ini menjadi perekat toleransi yang kuat, menghapus sekat-sekat prasangka etnis melalui interaksi yang terjadi di dalamnya. Pesan damai yang tertulis dalam aksara Mandarin di pintu masjid menjadi edukasi bisu namun efektif bagi setiap pengunjung tentang universalitas Islam. Warga desa merasa bangga memiliki ikon unik yang membedakan desa mereka dengan ribuan desa lain di Lombok.

Fasilitas publik yang disediakan secara gratis, mulai dari tempat wudu yang bersih hingga area rekreasi, memberikan kenyamanan lebih bagi jamaah dan wisatawan. Masjid ini juga sering menjadi lokasi akad nikah favorit karena keunikannya, bahkan sang pemilik kerap memberikan hadiah bagi pasangan yang menikah di sana, menambah kebahagiaan warga.

Rencana Keberlanjutan

Strategi keberlanjutan dikelola dengan menyerahkan operasional harian kepada marbot dan pengurus masjid dari warga lokal, seperti Bapak Satral dan Sadli. Biaya perawatan bangunan yang cukup besar didukung oleh wakif dan sumbangan sukarela pengunjung, tanpa membebankan tiket masuk komersial. Strategi ini menjaga niat ikhlas pendirian masjid sekaligus memastikan aksesibilitas bagi semua kalangan ekonomi.

Pengembangan ke depan diarahkan pada perbaikan akses jalan yang sempat rusak agar bus pariwisata dapat kembali menjangkau lokasi dengan mudah. Promosi digital melalui media sosial pengunjung terus didorong secara organik karena visual masjid yang sangat fotogenik. Pengurus juga berencana melengkapi fasilitas edukasi tentang sejarah masuknya Islam di Lombok dan akulturasi budaya untuk memperkaya wawasan pengunjung.

Kelestarian lingkungan sekitar masjid yang asri dengan pepohonan rimbun akan terus dijaga sebagai satu kesatuan paket wisata religi dan alam. Sinergi dengan pemerintah desa dan dinas pariwisata diperlukan untuk memasukkan Masjid Ar-Ridwan dalam peta resmi destinasi wisata Lombok Barat. Visi jangka panjangnya adalah menjadikan masjid ini sebagai pusat kebudayaan Islam Tionghoa di Nusa Tenggara Barat.

Strategi Replikasi dan Scale Up

Konsep masjid berarsitektur unik berbasis akulturasi budaya ini dapat direplikasi di daerah lain sebagai simbol keberagaman dan daya tarik wisata. H. Maliki sendiri telah melakukan scale up ide ini dengan membangun masjid serupa, Masjid Abu Bakar Siddiq, di Desa Langko, Lingsar. Kunci keberhasilannya terletak pada keterbukaan masyarakat menerima perbedaan dan niat tulus untuk kemaslahatan umat.

Strategi replikasi dapat dilakukan dengan menggali potensi budaya lokal masing-masing daerah untuk dipadukan dengan arsitektur masjid, menciptakan identitas “Islam Nusantara” yang kaya warna. Pemerintah daerah dapat mendorong pembangunan rumah ibadah tematik sebagai bagian dari strategi city branding atau village branding.

Kolaborasi dengan organisasi mualaf Tionghoa (PITI) dapat diperluas untuk menjadikan masjid-masjid seperti ini sebagai pusat pembinaan mualaf dan dialog antarbudaya. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga pusat peradaban yang inklusif dan mencerahkan.