Ringkasan Inovasi

Kampung Aisandami di Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, menjadi pelopor ekowisata berbasis kearifan lokal dengan mengintegrasikan tradisi sasi laut—yang dalam bahasa setempat disebut kadup—ke dalam paket wisata bahari dan budaya yang dikelola mandiri oleh masyarakat adat. [1] Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin yang dipimpin Thonci Somisa mengelola homestay, tiga paket wisata, dan kawasan sasi laut di Pulau Numamuram serta perairan Homestay Busayor seluas sekitar 109 hektare secara kolektif. [2]

Tujuan inovasi ini adalah membuktikan bahwa pelestarian ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bukan dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan satu sistem yang saling menghidupi. [3] Hasilnya terbukti: Pemkab Teluk Wondama menetapkan Aisandami sebagai Kampung Ekowisata resmi pada 2016, menerima penghargaan ProKlim 2021, dan pada Desember 2024 berhasil menggelar buka sasi yang menarik warga dari beberapa kampung sekitar setelah empat tahun masa sasi ditutup. [4]

Nama Inovasi:Ekowisata Berbasis Sasi Kadup — Pengelolaan Laut Adat dan Paket Wisata Komunitas Kampung Aisandami
Alamat:Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat
Inovator:Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin (Ketua: Thonci Somisa; Pengelola: Melania Hegemur), didukung LPPM UNIPA, WWF Indonesia, Balai TNTC, dan Pemkab Teluk Wondama
Kontak:Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama — ±50 km dari Wasior (ibu kota kabupaten)

Latar Belakang

Kampung Aisandami terletak di tepi Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC)—kawasan laut terlindungi terbesar di Indonesia—dengan perairan Selat Numamuram yang kaya terumbu karang keras berpenutupan 45,10%, ekosistem lamun, dan hutan mangrove yang lebat. [5] Kekayaan alam luar biasa ini menjadikan kampung yang berjarak kurang lebih 50 km dari Wasior ini sebagai lokasi ideal untuk wisata bahari. [6] Namun tanpa pengelolaan yang terstruktur, potensi besar ini berisiko terkuras oleh nelayan luar yang masuk tanpa izin dan mengancam kelestarian ekosistem.

Sebelum ekowisata dan sasi diperkuat, aktivitas penangkapan ikan yang tidak terkontrol mengancam kelangsungan ekosistem laut di sekitar kampung. [7] Masyarakat Aisandami merasakan penurunan kelimpahan biota laut di perairan kampung akibat eksploitasi berlebihan oleh nelayan dari luar. [1] Sementara itu, potensi pariwisata bahari dan budaya yang sangat kaya belum terorganisasi dalam paket yang bisa mendatangkan pendapatan nyata bagi warga.

Peluang muncul ketika komunitas menyadari bahwa tradisi kadup—yang sudah lama dipraktikkan leluhur masyarakat Menarbu sebagai “tutup tempat”—bisa direvitalisasi dan diintegrasikan dengan pengelolaan ekowisata modern. [1] WWF Indonesia Program Papua yang hadir mendampingi masyarakat Teluk Wondama sejak 2009 membantu masyarakat memahami potensi ekologis dan ekonomi dari praktik sasi melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan konservasi berbasis komunitas. [7] Kesadaran kolektif ini mendorong lahirnya Kelompok Ekowisata Wadowun Beberin sebagai motor penggerak transformasi kampung.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi lahir dari penggabungan dua elemen: revitalisasi sasi laut (kadup) sebagai instrumen konservasi kolektif, dan pengembangan tiga paket ekowisata terstruktur yang menjadikan kekayaan alam dan budaya kampung sebagai produk wisata bernilai jual. [3] Sejak 2021, Kelompok Wadowun Beberin bersama pemerintah kampung dan gereja memberlakukan sasi di dua zona: Pulau Numamuram (±98 hektare) dan sekitar Homestay Busayor (±11 hektare), berdasarkan Peta Areal Sasi yang dibuat Balai TNTC. [4] Sasi bekerja sebagai mekanisme “tutup-buka”: biota laut dibiarkan berkembang biak bebas selama periode sasi ditutup, lalu dipanen secara kolektif dan terkontrol saat sasi dibuka.

Tiga paket wisata yang dikembangkan menawarkan pengalaman yang saling melengkapi: paket mengenal kehidupan kampung (4 jam, Rp450.000/orang) mencakup trekking ke air terjun Mambi dan canoeing; paket alam (6 jam, Rp650.000/orang) mencakup pengamatan Cenderawasih liar, snorkeling di Selat Numamuram, dan trekking mangrove bersama kelompok perempuan; serta paket budaya (4 jam, Rp600.000/orang) menonjolkan tarian adat, permainan tradisional Aikikis, dan pertunjukan musik suling tambur. [6] Wisatawan disambut dengan pengalungan sas—kalung kayu simbol ucapan selamat datang—dan menikmati kuliner lokal autentik seperti sagu bungkus, sagu buah hitam, dan tombelo (cacing bakau) yang dimasak ibu-ibu kampung. [6]

Proses Penerapan Inovasi

Proses dimulai dengan penetapan resmi Aisandami sebagai Kampung Ekowisata oleh Pemkab Teluk Wondama pada 2016, yang memberikan legitimasi kelembagaan bagi kelompok untuk mengembangkan paket wisata secara formal. [1] Peluncuran resmi Paket Ekowisata Kampung Aisandami oleh Bupati Bernadus Imburi pada 17 Agustus 2017 menjadi tonggak penting yang memvalidasi inovasi di depan publik dan menarik perhatian wisatawan serta media. [6] LPPM UNIPA kemudian masuk pada 2024 untuk membantu kelompok melakukan survei dan monitoring sumber daya laut secara ilmiah agar pengelolaan sasi didasarkan pada data yang akurat. [8]

Penerapan sasi laut secara resmi di kawasan Pulau Numamuram dimulai pada 2020 dengan kesepakatan komunal antara kelompok ekowisata, gereja, dan pemerintah kampung. [3] Selama empat tahun masa sasi, kelompok mendokumentasikan pemulihan ekosistem yang terlihat secara visual—semakin banyak ikan, karang yang lebih sehat, dan munculnya kembali biota kharismatik seperti dugong di sekitar kawasan sasi. [4] Pada 5 Desember 2024, buka sasi digelar dengan ketentuan hasil tangkapan dibagi dua: 50% untuk pembangunan Gereja Sion Aisandami dan 50% untuk nelayan yang menangkap, memastikan insentif ekonomi sekaligus investasi sosial terdistribusi secara adil. [4]

Selama proses, kelompok menghadapi tantangan pembelajaran penting: setelah sasi dibuka pada Desember 2024, belum ada mekanisme untuk menutup kembali sasi secara tepat waktu akibat tekanan permintaan dari warga yang ingin terus memanen. [4] Pengalaman ini mendorong kelompok dan pemerintah kampung untuk merancang regulasi sasi yang lebih ketat dengan jadwal tutup-buka yang terikat aturan formal. [7] Pelajaran ini menjadi warisan berharga bagi kampung-kampung lain yang ingin mereplikasi model serupa.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu utama adalah kepemimpinan Thonci Somisa sebagai ketua kelompok yang tidak hanya mengorganisasi wisata, tetapi juga aktif meyakinkan komunitas—termasuk Tete Bosayor, tokoh adat setempat—bahwa sasi adalah cara terbaik menjaga kekayaan laut kampung untuk jangka panjang. [1] Dukungan gereja dan pemerintah kampung yang mengintegrasikan sasi ke dalam sistem tata kelola sosial memberikan otoritas moral dan kelembagaan yang membuat aturan sasi ditaati seluruh anggota komunitas. [4] Tanpa legitimasi ganda dari adat dan gereja, sasi tidak akan bisa bertahan menghadapi tekanan ekonomi jangka pendek dari nelayan yang ingin segera panen.

Pendampingan ilmiah jangka panjang dari WWF Indonesia (2009–2020) dan LPPM UNIPA memberikan kelompok akses pada data saintifik yang memperkuat keyakinan mereka bahwa sasi efektif secara ekologis. [7] Riset Jantewo dan Lazuardi (2021) yang membuktikan kelimpahan megabentos di area sasi hampir tiga kali lipat dibanding area non-sasi menjadi senjata advokasi yang kuat. [9] Bukti ilmiah ini memperkuat argumen kelompok kepada pemerintah daerah dan pihak luar bahwa sasi bukan hanya tradisi, melainkan instrumen konservasi berbasis bukti yang teruji.

Hasil dan Dampak Inovasi

Dampak ekologis sasi terbukti secara saintifik: penelitian Jantewo dan Lazuardi di Jurnal Igya Ser Hanjop (2021) mencatat 1.027 individu megabentos di area sasi dibanding hanya 330 individu di area non-sasi—hampir tiga kali lebih banyak. [9] Tim gabungan FPIK UNIPA, WWF, dan Dinas Perikanan (2021) menemukan kekayaan ikan karang di Menarbu sebanyak 30 spesies dan di Yop Meos 29 spesies, dengan tutupan karang keras di Yop Meos mencapai 54,46%. [5] Temuan penting lainnya adalah kehadiran populasi ikan kakatua (Scarus frenatus) yang masih berlimpah di Teluk Wondama—spesies kunci untuk ekosistem terumbu karang yang semakin langka di tempat lain di Papua. [9]

Secara ekonomi, data dari Kampung Sombokoro yang menerapkan sasi serupa menunjukkan pendapatan kelompok bisa mencapai Rp10 juta sekali panen dari hasil sasi, dibanding kurang dari Rp1 juta di lokasi non-sasi. [7] Di Kampung Menarbu, pembukaan sasi 2024 menghasilkan kompensasi Rp79 juta dari dua kapal nelayan luar yang meminta izin mencari teripang di wilayah sasi—pendapatan komunal yang langsung mengalir ke kas gereja. [7] Dinas Perikanan Teluk Wondama berkomitmen membangun cold storage mini di Teluk Duairi pada 2025 untuk menjaga kualitas hasil sasi agar bisa dijual dengan harga optimal. [4]

Pengakuan nasional atas inovasi ini datang melalui penghargaan ProKlim 2021 dari Kementerian Lingkungan Hidup atas praktik adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat kampung. [2] Bupati Teluk Wondama Elysa Auri juga berencana menyiapkan regulasi daerah tentang sasi dan menghubungkan hasil sasi dengan program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan pasokan ikan untuk 4.900 anak dari PAUD hingga SMA. [7] Keterhubungan antara konservasi tradisional dan program pemerintah ini menjadikan sasi bukan sekadar tradisi, melainkan pilar ketahanan pangan lokal yang aktual.

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar adalah mempertahankan disiplin sasi saat tekanan ekonomi jangka pendek meningkat—terutama setelah buka sasi Desember 2024 yang belum diikuti penutupan kembali secara tepat waktu. [4] Thonci Somisa sendiri mengakui kekhawatirannya: jika kunjungan wisatawan berhenti, motivasi masyarakat untuk mempertahankan sasi bisa melemah karena ketiganya—homestay, Pulau Numamuram, dan sasi—adalah satu sistem yang saling bergantung. [1] Keberlangsungan sasi memerlukan wisatawan yang terus datang, dan wisatawan datang karena kekayaan laut yang dijaga oleh sasi.

Potensi blue carbon di kawasan sasi Teluk Wondama juga menyimpan risiko: skema perdagangan karbon bisa memicu perampasan lahan dan memarjinalkan perempuan adat yang paling bergantung pada sumber daya pesisir. [7] Peneliti FPIK UNIPA Nurhani Widiastuti menegaskan bahwa implementasi blue economy dan blue carbon hanya berhasil jika bersifat inklusif, sensitif gender, dan menghormati hak-hak masyarakat adat secara penuh. [7] Peringatan ini harus menjadi pertimbangan utama setiap kebijakan pengembangan ekonomi berbasis konservasi di Teluk Wondama ke depan.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan jangka panjang membutuhkan regulasi daerah yang mengikat secara hukum terkait jadwal buka-tutup sasi, sistem pemantauan ekosistem berbasis data, dan mekanisme distribusi manfaat ekonomi yang transparan dan adil. [7] Bupati Elysa Auri telah berkomitmen menyiapkan regulasi tersebut bersama Dinas Perikanan dan kepala-kepala distrik, memberikan fondasi hukum yang selama ini masih bergantung pada otoritas adat dan sosial semata. [7] Sinergi riset dari LPPM UNIPA yang membantu kelompok melakukan survei rutin akan memastikan keputusan pengelolaan sasi selalu didukung data ilmiah yang mutakhir.

Pengembangan cold storage mini di Teluk Duairi yang dijanjikan Dinas Perikanan pada 2025 akan meningkatkan nilai jual hasil sasi secara signifikan dan memperkuat argumen ekonomi bagi generasi muda untuk meneruskan tradisi ini. [4] Integrasi hasil sasi ke program Makan Bergizi Gratis yang menjangkau 4.900 anak di Teluk Wondama akan menciptakan pasar captive yang menjamin pendapatan rutin bagi nelayan sasi. [7] Dengan pasar yang terjamin, insentif untuk menjaga sasi menjadi lebih kuat dari sekadar nilai budaya—ia menjadi kalkulasi ekonomi yang rasional.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Ekowisata sasi Kampung Aisandami adalah contoh langka implementasi konsep green economy, blue economy, dan blue carbon yang berjalan secara organik dari kearifan lokal masyarakat adat Papua jauh sebelum konsep-konsep itu didengungkan secara global. [7] Inovasi ini membuktikan bahwa masyarakat adat di pesisir Papua adalah pelaku konservasi terdepan yang perlu didukung, bukan dilewati. [9]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Paket ekowisata dan insentif buka sasi memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga nelayan, dengan pendapatan komunal dari pembukaan sasi bisa mencapai Rp10 juta sekali panen.
SDGs 5: Kesetaraan Gender:Kelompok perempuan Aisandami berperan aktif sebagai pemandu wisata trekking mangrove, juru masak kuliner lokal, dan pengelola homestay, meningkatkan peran ekonomi perempuan adat secara nyata.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Tiga paket ekowisata menciptakan lapangan kerja bermartabat bagi pemuda dan perempuan kampung, mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis sumber daya alam yang dikelola secara berkelanjutan.
SDGs 13: Penanganan Perubahan Iklim:Penghargaan ProKlim 2021 mengakui kontribusi sasi dalam menjaga ekosistem karbon biru—mangrove, lamun, dan terumbu karang—sebagai penyerap karbon alami yang efektif di tingkat kampung.
SDGs 14: Ekosistem Lautan:Sasi melindungi spesies kharismatik (dugong, kima, penyu, napoleon) dan membuktikan kelimpahan megabentos hampir tiga kali lipat lebih tinggi di area sasi dibanding area non-sasi secara ilmiah.
SDGs 15: Ekosistem Daratan:Praktik trekking mangrove dan pengamatan Cenderawasih liar mendorong komunitas menjaga kelestarian hutan mangrove dan habitat burung surga yang menjadi aset ekowisata utama kampung.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara komunitas adat, WWF, LPPM UNIPA, BBTNTC, Dinas Perikanan, dan Pemkab Teluk Wondama menjadi model kemitraan multipihak yang mengintegrasikan sains, adat, dan kebijakan secara sinergis.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model ekowisata sasi Aisandami sangat relevan direplikasi di kampung-kampung pesisir lain di Kabupaten Teluk Wondama yang memiliki potensi ekosistem laut serupa, seperti Kampung Menarbu, Yop Meos, dan Sombokoro yang sudah menerapkan tradisi sasi di bawah nama lokalnya masing-masing. [7] Modul pengelolaan sasi yang menggabungkan peta areal sasi resmi dari Balai TNTC, protokol buka-tutup terjadwal, dan mekanisme distribusi manfaat berbasis kesepakatan komunal dapat menjadi panduan standar yang diadaptasi di seluruh kabupaten pesisir Papua. [5] Kementerian Pariwisata melalui platform Jadesta juga bisa mempromosikan model Aisandami sebagai desa wisata berbasis konservasi unggulan Papua Barat yang menginspirasi replikasi nasional.

Scale up model ini ke tingkat provinsi membutuhkan regulasi sasi yang seragam di level Provinsi Papua Barat sekaligus mekanisme sertifikasi ekowisata yang mengakui kualitas produk wisata berbasis sasi secara resmi. [7] Potensi blue carbon di kawasan sasi Teluk Wondama juga bisa dikembangkan menjadi proyek kredit karbon yang memberikan insentif finansial jangka panjang kepada komunitas, selama pengelolaan didasarkan pada prinsip inklusivitas, perlindungan hak adat, dan kesetaraan gender. [7] Dengan dukungan kebijakan yang tepat, Aisandami berpotensi menjadi pusat studi ekowisata berbasis konservasi adat terkemuka di kawasan Pasifik.

Daftar Pustaka

[1] Jubi, “Ketika Taman Nasional dan Konservasi Tradisional Menjadi Satu di Teluk Wondama,” jubi.id, Des. 2025. [Online]. Available: https://jubi.id/mendalam/2025/ketika-taman-nasional-dan-konservasi-tradisional-menjadi-satu-di-teluk-wondama/

[2] Science for Conservation LPPM UNIPA, “Program Sains untuk Konservasi LPPM UNIPA Membantu Kampung Aisandami Mengelola Laut Mereka,” science4conservation.com, Jul. 2024. [Online]. Available: https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka/

[3] Betahita Papua, “Melihat Burung yang Lepas dari Surga di Aisandami,” papua.betahita.id, Okt. 2024. [Online]. Available: https://papua.betahita.id/news/detail/10641/melihat-burung-yang-lepas-dari-surga-di-aisandami.html

[4] KabarTimur, “Melihat Tradisi Buka Tutup Sasi Laut di Kampung Aisandami Teluk Wondama,” kabartimur.com, Des. 2024. [Online]. Available: https://kabartimur.com/melihat-tradisi-buka-tutup-sasi-laut-di-kampung-aisandami-teluk-wondama

[5] FPIK UNIPA, WWF Indonesia, dan Dinas Perikanan Kab. Teluk Wondama, “Final Report Kajian Performa Pengelolaan Perikanan Karang pada Wilayah Penangkapan dengan Sasi dan BUMKam di Kabupaten Teluk Wondama dengan Pendekatan EAFM,” Jun. 2021.

[6] Dhean News, “Kampung Aisandami di Wondama Sajikan Wisata Alam dan Budaya,” dhean.news, Sep. 2018. [Online]. Available: https://www.dhean.news/2018/09/kampung-aisandami-di-wondama-sajikan.html

[7] Jubi, “Sasi, Ekowisata dan Potensi Karbon Biru di Teluk Wondama,” jubi.id, Nov. 2025. [Online]. Available: https://jubi.id/pulitzer/2025/sasi-ekowisata-dan-potensi-karbon-biru-di-teluk-wondama/

[8] Science for Conservation LPPM UNIPA, “Pengetahuan dan Konservasi: LPPM UNIPA Membantu Kelompok di Aisandami Melihat Sumberdaya Laut Mereka,” science4conservation.com, 2024. [Online]. Available: https://science4conservation.com/program-sains-untuk-konservasi-lppm-unipa-membantu-kampung-aisandami-mengelola-laut-mereka/

[9] Y. A. Jantewo dan M. Lazuardi, “Pengaruh Sasi pada Keragaman Jenis, Komposisi, dan Kelimpahan Megabentos di Perairan Kabupaten Teluk Wondama,” Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Igya Ser Hanjop, vol. 16, Des. 2021. [Online]. Available: https://www.academia.edu/89927864/Pengaruh_Sasi_pada_Keragaman_Jenis_Komposisi_dan_Kelimpahan_Megabentos_di_Perairan_Kabupaten_Teluk_Wondama

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.