Ringkasan Inovasi

Desa Bale di Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, menerapkan inovasi pengembangan pariwisata alam berbasis konsep glamour camping (glamping). Inovasi ini menyulap kawasan bantaran sungai dan hutan agrowisata menjadi kawasan penginapan alam terbuka yang mewah namun tetap ramah lingkungan [1].

Tujuan utama program ini adalah menciptakan sumber pendapatan asli desa yang baru dengan melibatkan pemberdayaan masyarakat lokal. Dampaknya, ekonomi desa meningkat pesat, keasrian lingkungan sungai tetap terjaga, dan Desa Bale kini menjadi rujukan studi tiru bagi desa lain [2].

Nama Inovasi:Pengembangan Pariwisata Alam Glamping Terpadu Desa Bale
Alamat:Desa Bale, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah
Inovator:Pemerintah Desa Bale (Kepala Desa Adam) bersama Warga dan Pengelola Swasta
Kontak:Website: wisata.donggala.go.id, Email: pemdes.bale@donggala.go.id, Telepon: (Belum tersedia)

Latar Belakang

Sejak awal era 1990-an, kawasan Desa Bale yang berbatasan dengan Desa Guntarano sebenarnya sudah dikenal sebagai lokasi favorit untuk kegiatan kemah mahasiswa [3]. Desa ini memiliki pesona alam yang sangat asri, mulai dari hamparan pepohonan rindang hingga aliran air sungai pegunungan yang jernih. Warga setempat juga memiliki reputasi yang sangat baik dalam hal keramahan menyambut kedatangan para tamu luar daerah.

Namun, potensi alam terbuka tersebut selama puluhan tahun belum dikelola secara profesional untuk mendatangkan nilai ekonomis bagi warga setempat. Kunjungan kemah mahasiswa yang bersifat musiman tidak memberikan dampak perputaran uang yang signifikan untuk kas desa maupun penduduk. Kebutuhan warga akan lapangan pekerjaan mandiri yang dekat dengan rumah mereka masih belum bisa terpenuhi sepenuhnya.

Peluang ekonomi ini akhirnya memicu gagasan inovatif seiring dengan perubahan tren gaya liburan masyarakat urban pascapandemi [4]. Penduduk kota seperti Palu mulai menggemari aktivitas wisata alam yang menawarkan kenyamanan setara fasilitas hotel berbintang. Celah pasar inilah yang memantik lahirnya konsep pembangunan kawasan kemah mewah di sepanjang aliran sungai Desa Bale.

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan berupa pembangunan kawasan agrowisata terpadu berbasis glamour camping dengan pendekatan kolaborasi antara warga dan investor [1]. Konsep ini memadukan tenda-tenda penginapan eksklusif di bantaran sungai dengan kebun buah-buahan organik milik masyarakat. Desain kawasan sengaja dibuat sangat menyatu dengan kontur alam tanpa mengubah bentuk asli bantaran sungai.

Penerapan inovasi ini bekerja dengan menyediakan fasilitas liburan luar ruang yang komprehensif bagi keluarga maupun korporasi [5]. Fasilitas yang tersedia mencakup tenda antiair, kasur empuk, kamar mandi modern, hingga area barbekyu dan perapian unggun. Pengelola juga melengkapi kawasan tersebut dengan wahana petualangan memanah, kendaraan ATV, serta wahana permainan paintball [4].

Proses Penerapan Inovasi

Tahap awal penerapan dimulai dari proses pemetaan lahan potensial di sepanjang tepian sungai oleh aparat desa dan warga [3]. Pemerintah Desa Bale kemudian merangkum kesepakatan sosial dengan para penduduk mengenai batas zona pemanfaatan lahan komersial dan konservasi. Langkah ini menjamin pembangunan fasilitas wisata tidak merusak jalur tata air yang sangat diandalkan para petani sekitar.

Fase berikutnya adalah mendatangkan investor lokal untuk menanamkan modal pembangunan titik-titik glamping seperti Raqa River, Afan Place, dan Benkmor [3]. Warga desa dilibatkan secara aktif sebagai tenaga pembangunan fasilitas, petugas kebersihan, hingga penjaga keamanan lingkungan wisata. Pada tahap pengujian, pengelola merilis paket promo liburan akhir pekan untuk mengukur minat serta tingkat kepuasan warga Kota Palu.

Pembelajaran penting didapatkan ketika pengelola mendapati bahwa faktor keamanan menjadi pertimbangan utama wisatawan saat tidur di alam terbuka. Kegelisahan tersebut langsung direspons oleh pemangku adat desa dengan memberlakukan sanksi adat yang tegas bagi pelaku tindak kejahatan [3]. Regulasi desa yang ketat ini terbukti manjur memberikan rasa tenang yang paripurna bagi seluruh pengunjung.

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan adalah tingginya kesadaran komunal warga Desa Bale dalam menyambut dan melindungi setiap pendatang yang tiba [3]. Keramahan penduduk yang selalu siap membantu wisatawan tersesat menciptakan citra positif yang menyebar cepat melalui promosi mulut ke mulut. Hukum adat yang kuat juga sukses membentuk ekosistem kawasan wisata yang sangat aman tanpa gangguan kriminalitas.

Dukungan visioner dari Kepala Desa Adam untuk mengintegrasikan unit pariwisata ini ke dalam badan usaha milik desa (BUMDes) juga memegang peranan krusial [1]. Inisiatif kolaboratif ini memastikan bahwa setiap keuntungan komersial dari pihak swasta turut menyumbang pendapatan asli daerah. Kepemimpinan yang inovatif ini mendapatkan pujian langsung dari pejabat pemerintah kabupaten [2].

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara fisik, desa ini kini memiliki lebih dari tujuh titik lokasi glamping yang beroperasi aktif sepanjang minggu [3]. Lokasi wisata ini tidak pernah sepi pengunjung karena jarak tempuhnya hanya memakan waktu sekitar satu jam dari Kota Palu. Ratusan warga Kota Palu rutin melarikan diri ke Desa Bale untuk melepas penat dari rutinitas pekerjaan kota.

Kehadiran aneka destinasi wisata alam ini berdampak signifikan pada peningkatan serapan tenaga kerja lokal dari kalangan pemuda desa [1]. Mereka kini mendapatkan penghasilan rutin bulanan dari sektor jasa pariwisata, penyewaan alat, dan penjualan hasil kebun buah. Usaha warung kelontong milik warga di sepanjang jalan akses wisata juga mengalami pelonjakan angka penjualan harian.

Keberhasilan Desa Bale mengubah wajah desanya telah menginspirasi wilayah lain di Kabupaten Donggala untuk melakukan hal serupa [2]. Camat Tanantovea secara resmi menjadikan Bale sebagai proyek percontohan inovasi pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal. Pendekatan edukatif dan partisipatif warga Bale dinilai sukses mengangkat derajat kualitas hidup masyarakat pedesaan.

Tantangan dan Kendala

Kendala alamiah yang sering muncul adalah ancaman cuaca buruk yang berpotensi memicu luapan debit air sungai secara tiba-tiba [5]. Curah hujan tinggi di wilayah hulu pegunungan memaksa pengelola selalu memantau kondisi ketinggian air demi keselamatan tamu. Mitigasi bencana alam yang ketat harus senantiasa diterapkan agar musibah banjir tidak membahayakan area tenda pinggir sungai.

Tantangan manajerial terletak pada upaya menstandarisasi kualitas pelayanan antara satu lokasi glamping dengan lokasi lainnya [1]. Mengingat sebagian besar kawasan dikelola oleh entitas swasta yang berbeda, pemerintah desa harus menyamakan persepsi ihwal harga dan fasilitas. Regulasi tarif yang seragam dibutuhkan agar tidak terjadi perang harga yang merugikan sesama pelaku pariwisata desa.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Pemerintah Desa Bale tengah mematangkan penyusunan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur tata kelola kerja sama antara swasta dan BUMDes [1]. Payung hukum ini menjamin bahwa seluruh lokasi glamping akan menyetorkan bagi hasil yang adil untuk kas pendapatan desa. Dana kas ini selanjutnya dialokasikan kembali guna meningkatkan mutu pendidikan serta kesehatan para warga desa.

Kelestarian alam juga dijaga ketat dengan melarang penebangan pohon di sekitar area agrowisata penghasil buah durian dan alpukat [1]. Wisatawan terus diedukasi mengenai aturan dilarang membuang limbah plastik ke aliran sungai demi mempertahankan predikat desa wisata hijau. Harmonisasi antara kepentingan ekonomi dan ekologi inilah yang akan menggaransi umur panjang pariwisata Desa Bale.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Program pengembangan wisata alam ini sejalan dengan berbagai target global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Inovasi desa wisata membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis modern mampu berjalan beriringan dengan nilai kearifan lokal masyarakat adat.

No SDGs:Penjelasan
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:Kehadiran destinasi glamping membuka ragam profesi baru bagi pemuda serta mendongkrak pemasukan bisnis komersial milik penduduk asli desa.
SDGs 11: Kota dan Permukiman Berkelanjutan:Pengaturan zonasi bantaran sungai mencegah pengrusakan tata ruang desa serta melestarikan pesona keasrian ekologi lingkungan setempat.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh:Penerapan sanksi hukum adat yang tegas sukses menekan angka kriminalitas serta memberikan perlindungan utuh kepada setiap pengunjung wisata.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Desain pengelolaan desa wisata Bale sangat mudah direplikasi oleh berbagai desa yang dilewati jalur aliran sungai pegunungan. Desa lain cukup mencontoh ketegasan hukum adat serta budaya keramahan warga sebagai modal utama penarik kunjungan wisatawan luar [3]. Peran pemerintah daerah sangat krusial dalam menyosialisasikan model keberhasilan Desa Bale kepada para aparat desa tetangga.

Untuk fase peningkatan skala, Desa Bale berpeluang mengintegrasikan seluruh titik glamping ke dalam satu platform pemesanan kamar digital [1]. Kerja sama intensif dengan agen wisata nasional dapat menarik minat kedatangan wisatawan dari luar provinsi Sulawesi Tengah. Promosi digital berskala luas akan mengukuhkan status kawasan Tanantovea sebagai rujukan utama pariwisata alam nusantara.

Daftar Pustaka

[1] Media Alkhairaat, “Glamping Pinggir Sungai Bale Cocok untuk Healing,” media.alkhairaat.id, Apr. 2025. [Online]. Available: https://media.alkhairaat.id/glamping-pinggir-sungai-di-donggala-cocok-untuk-healing/

[2] Daily Kota, “Desa Bale Jadi Contoh Inovasi Pembangunan di Donggala,” dailykota.com, Feb. 2025. [Online]. Available: https://dailykota.com/read/stunting-donggala-naik-desa-bale-jadi-contoh-penurunan-angka-stunting/

[3] Mercusuar, “Desa Bale, Tanantovea, Bersiap menjadi Destinasi Unggulan Wisata Glamping,” mercusuar.web.id, Jul. 2025. [Online]. Available: https://mercusuar.web.id/sulteng-membangun/desa-bale-tanantovea-bersiap-menjadi-destinasi-unggulan-wisata-glamping/

[4] RRI Palu, “Pesona Indah di Glamour Camping Desa Bale,” rri.co.id, Feb. 2026. [Online]. Available: https://rri.co.id/palu/wisata/2164682/pesona-indah-di-glamour-camping-desa-bale

[5] Kompas TV, “Raqa River Camp, Wisata Alam Donggala dengan Konsep Berkemah di Tepi Sungai,” youtube.com, Sep. 2025. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=4AdJnywt3Dw

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.