Ringkasan Inovasi
Desa Masaingi di Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala menerapkan inovasi edukasi ekowisata berbasis partisipatif bagi masyarakat pesisir Pantai Pangi [1]. Inovasi ini menyasar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan pelaku UMKM lokal guna mentransformasi pola pikir mereka tentang pengelolaan pariwisata laut yang ramah lingkungan [2].
Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran warga pesisir mengenai urgensi pelestarian alam sekaligus membekali mereka keterampilan mengelola bisnis pariwisata berkelanjutan [1]. Dampak nyatanya terlihat dari 85 persen peserta pelatihan yang kini memahami konsep ekowisata dan mulai mempraktikkannya untuk memajukan kesejahteraan kampung halaman [2].
| Nama Inovasi | : | Edukasi Konsep Ekowisata Partisipatif Pantai Pangi Masaingi |
| Alamat | : | Desa Masaingi, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah |
| Inovator | : | Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bersama Pokdarwis Desa Masaingi |
| Kontak | : | Email: almarif1977@gmail.com, Telepon: 0853-7425-9907 (Bapak Almarif) |
Latar Belakang
Pantai Pangi di Desa Masaingi menyimpan potensi wisata bahari yang sangat luar biasa berkat keindahan pasir dan pepohonan pantainya [3]. Sayangnya, pemanfaatan anugerah alam ini selama puluhan tahun berjalan sangat lambat karena rendahnya literasi warga setempat mengenai industri pariwisata modern [1]. Masyarakat pesisir masih cenderung menganggap laut sebatas tempat mencari ikan semata tanpa menyadari besarnya nilai ekonomi pariwisata laut tersebut.
Masalah utama yang membelenggu desa ini adalah ketiadaan pemahaman dasar mengenai konsep tata kelola ekowisata berkelanjutan di kalangan masyarakat [2]. Fasilitas infrastruktur penunjang pariwisata sangat minim, sementara koordinasi antara aparat desa dengan warga pemilik lahan pantai kerap berjalan sangat tersendat [1]. Kebutuhan akan hadirnya fasilitator ahli untuk membimbing warga menjadi hal mendesak yang belum pernah terpenuhi sebelumnya.
Kondisi tertinggal inilah yang memantik kepedulian tim akademisi untuk turun langsung menyelenggarakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) [2]. Tim akademisi melihat peluang besar mengubah nasib warga dengan menanamkan keterampilan bisnis ekowisata yang tidak merusak tatanan ekologi laut [1]. Momentum ini menjadi titik balik kebangkitan masyarakat Masaingi dalam merajut mimpi membangun desa wisata pesisir unggulan berskala nasional.
Inovasi yang Diterapkan
Inovasi yang diusung berupa program edukasi partisipatif dua arah yang menyasar langsung anggota Pokdarwis dan pelaku usaha kecil keliling pantai [1]. Alih-alih menceramahi warga dari atas podium, tim instruktur turun berbaur memberikan contoh nyata pengelolaan kawasan pantai bebas sampah plastik [2]. Edukasi ini juga mendampingi masyarakat cara membuat lapak jualan estetik tanpa menebang pohon pangi yang bersejarah.
Penerapan inovasi ini bekerja secara sistematis dengan mengajarkan keterampilan operasional harian manajemen destinasi wisata pesisir kepada penduduk lokal [1]. Warga dilatih menyusun paket wisata berbasis pelestarian lingkungan, mengatur sistem retribusi tiket yang transparan, dan mengelola pembukuan keuangan warung [3]. Pendekatan holistik ini menyulap warga biasa menjadi barisan pemandu wisata lokal yang memiliki daya saing layaknya tenaga profesional.
Proses Penerapan Inovasi
Langkah pertama dimulai dengan kegiatan observasi lapangan untuk memetakan kesenjangan pengetahuan warga terkait pengelolaan pariwisata dan pelestarian alam pantai [2]. Berbekal data pemetaan sosial tersebut, tim pengabdi lantas menyusun modul kurikulum pelatihan sederhana yang sangat mudah dicerna oleh warga pesisir [1]. Modul edukasi disesuaikan dengan ragam dialek lokal agar materi tentang pentingnya ekowisata mudah merasuk ke sanubari peserta pelatihan.
Tahap eksperimen penerapan metode edukasi ini melibatkan warga untuk mempraktikkan langsung penataan ulang lokasi pendirian tenda kemah dan warung makan [3]. Anggota Pokdarwis secara bahu-membahu berlatih membuat papan petunjuk arah jalan serta tong sampah organik menggunakan bahan baku bambu alam [2]. Pendampingan pemasaran digital melalui media sosial Instagram juga diajarkan guna menggaet minat wisatawan dari ibu kota provinsi.
Kegagalan awal sempat terjadi ketika sebagian warga senior enggan mengikuti kelas karena merasa sudah puluhan tahun paling mengenal karakter lautnya [1]. Hambatan kultural ini membelajarkan tim pengabdi untuk mengubah strategi dengan merekrut ketua adat desa sebagai duta kampanye pelestarian lingkungan pantai. Figur keteladanan ketua adat akhirnya meluluhkan keraguan warga senior untuk ikut bergabung mendukung suksesnya edukasi ekowisata desa.
Faktor Penentu Keberhasilan
Kunci kesuksesan program edukasi ini adalah komitmen kuat kelompok pemuda sadar wisata desa yang sangat haus akan wawasan pariwisata modern [2]. Semangat gotong royong warga Sindue mempercepat proses adopsi ilmu menjadi tindakan nyata yang mengubah tampilan fisik fasilitas Pantai Pangi [3]. Partisipasi kolektif ini membuktikan bahwa program pembangunan akan selalu sukses jika masyarakat lokal dilibatkan secara penuh sejak tahap perencanaan.
Kepiawaian tim fasilitator akademik dalam mentransfer pengetahuan teknis wisata berkelanjutan juga memainkan peranan yang sangat sentral [1]. Mereka sukses menerjemahkan istilah ekowisata yang terkesan elitis menjadi bahasa tindakan nyata yang ramah lingkungan dan menguntungkan kantong warga desa [2]. Kerjasama harmonis antara intelektual kampus dan kebijaksanaan warga lokal ini menjadi energi utama pendorong perubahan desa.
Hasil dan Dampak Inovasi
Evaluasi program membuktikan tingkat keberhasilan mencengangkan dengan 85 persen peserta pelatihan kini mampu mendeskripsikan secara tepat makna pariwisata berkelanjutan [2]. Sebanyak 90 persen warga yang dibina memberikan umpan balik sangat positif mengenai kesesuaian materi edukasi dengan masalah ekonomi harian mereka [1]. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia desa ini langsung berdampak pada perbaikan mutu pelayanan pengunjung di kawasan Pantai Pangi.
Dampak ekonomi terealisasi lewat peningkatan kualitas lapak kuliner UMKM lokal yang kini tertata rapi dan menjaga standar kebersihan kebersihan makanan [1]. Wisatawan yang menempuh perjalanan sejauh 38 kilometer dari Kota Palu kini merasa jauh lebih nyaman dan bersedia tinggal lebih lama [3]. Lama kunjungan yang meningkat otomatis mendongkrak pemasukan sewa ban pelampung, jasa penyewaan tenda, hingga penjualan jajanan pisang goreng warga.
Di ranah pelestarian lingkungan, edukasi ini sukses menanamkan sikap protektif warga terhadap kebersihan hamparan pasir dari ancaman sampah plastik laut [2]. Warga bersepakat menetapkan larangan membuang sampah sembarangan dan rutin menggelar kegiatan bakti sosial membersihkan areal pantai setiap hari Jumat [3]. Semangat menjaga Pantai Pangi mencerminkan kebanggaan identitas baru Desa Masaingi sebagai kampiun pelestari lingkungan hidup laut Sulawesi Tengah.
Tantangan dan Kendala
Tantangan klasik masih tersisa pada ketersediaan akses pasar digital yang belum merata akibat koneksi jaringan internet seluler yang fluktuatif [1]. Kendala sinyal telekomunikasi acap kali menyulitkan pengurus Pokdarwis untuk melakukan promosi daring harian maupun membalas pesan pertanyaan calon wisatawan jarak jauh. Pemerintah daerah dituntut segera memfasilitasi pembangunan menara pemancar internet desa demi menopang geliat ekosistem digital wisata Masaingi.
Keterbatasan modal usaha pribadi menjadi kendala berikutnya bagi pelaku UMKM saat ingin merenovasi warung makannya menjadi lebih menarik secara visual [2]. Mayoritas pelaku usaha kecil ini tidak memiliki akses perbankan yang cukup memadai untuk mengajukan pinjaman kredit permodalan komersial yang berskala menengah. Peran pemerintah untuk mengucurkan bantuan hibah modal koperasi wisata sangat diharapkan guna menjawab kebuntuan pembiayaan sektor akar rumput ini.
Strategi Keberlanjutan Inovasi
Pemerintah Desa Masaingi mengunci keberlanjutan program melalui penerbitan peraturan desa mengenai standar minimal kebersihan dan kenyamanan kawasan wisata pantai [2]. Pokdarwis diberikan mandat resmi mengumpulkan sebagian persentase retribusi lapak jualan untuk membiayai pengadaan sapu lidi serta kantong plastik sampah secara swadaya [3]. Penguatan lembaga komunal ini menjamin kemandirian desa merawat aset pariwisata meski kegiatan pendampingan pengabdian akademik telah resmi berakhir.
Masyarakat desa berencana terus mengembangkan atraksi wisata terpadu dengan menambahkan paket peluncuran flying fox dan penyewaan pondok rumah hobbit [3]. Edukasi ekowisata juga perlahan dimasukkan ke dalam obrolan santai antarwarga guna menciptakan kesadaran komunal menjaga ekosistem hutan mangrove yang tersisa [1]. Perputaran uang yang bersumber dari kekayaan alam yang lestari akan menjadi benteng ekonomi terkuat bagi generasi muda Donggala mendatang.
Kontribusi Pencapaian SDGs
Inovasi pemberdayaan masyarakat pesisir di Desa Masaingi ini sangat mendukung visi pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di wilayah kepulauan Nusantara. Pembekalan literasi ekowisata menjadi senjata utama mengikis kemiskinan akut sekaligus menyelamatkan warisan keanekaragaman hayati wilayah pesisir lautan [2].
| No SDGs | : | Penjelasan |
| SDGs 4: Pendidikan Bermutu | : | Akses pelatihan manajemen ekowisata yang inklusif memberikan wawasan literasi ekonomi pariwisata yang sangat berharga bagi kalangan nelayan lokal. |
| SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi | : | Perbaikan standar tata kelola destinasi memperbesar nilai pendapatan harian warung pesisir dan merintis lapangan kerja baru bagi pemuda karang taruna. |
| SDGs 14: Ekosistem Lautan | : | Kesadaran kolektif membasmi penumpukan limbah plastik berhasil melestarikan kejernihan air laut, terumbu karang, dan keindahan bentang alam pesisir Pantai Pangi. |
Replikasi dan Scale Up Inovasi
Model edukasi partisipatif ekowisata Pantai Pangi sangat mudah diadaptasi oleh berbagai kelompok masyarakat pesisir lain di Nusantara [1]. Desa lain hanya perlu meniru keluwesan fasilitator dalam menggunakan kearifan bahasa lokal untuk meruntuhkan resistensi warga akan konsep tata kelola ekologi [2]. Dinas pariwisata dapat menjadikan modul PkM ini sebagai kurikulum baku pelatihan sadar wisata keliling wilayah garis pantai provinsi Sulawesi Tengah.
Untuk menaikkan skala perekonomian, Pantai Pangi harus segera menjalin integrasi layanan perjalanan liburan lengkap dengan puluhan destinasi desa wisata tetangganya [3]. Pengurus Pokdarwis wajib merangkul platform aplikasi liburan daring ternama nasional untuk mendaftarkan nama Desa Masaingi di ranah pasar wisatawan global dunia [1]. Transformasi skala masif ini bakal mengantarkan masyarakat Donggala menuju era keemasan kebangkitan kesejahteraan peradaban maritim Indonesia bagian timur.
Daftar Pustaka
[1] E. Sastrawan, et al., “Edukasi Konsep Ekowisata Pada Masyarakat Pesisir Pantai Pangi Desa Masaingi Kecamatan Sindue,” Jurnal Abdi Karya Masyarakat, vol. 1, no. 2, 2024. [Online]. Available: https://ejournal.stebisigm.ac.id/index.php/AKM/article/view/1251
[2] Jadesta Kemenparekraf, “Desa Wisata Pantai Pangi Masaingi,” jadesta.kemenparekraf.go.id, Des. 2023. [Online]. Available: https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pantai_pangi_masaingi
[3] Aco Lele, “Keindahan Wisata Pantai Pangi Masaingi Sidue kabupaten Donggala Sulawesi Tengah,” Youtube.com, Apr. 2020. [Online]. Available: https://www.youtube.com/watch?v=Tv5DV_wMqYg
[4] W. A. Djirimu, “Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Wisata Pantai Pangi Desa Masaingi,” Repository Universitas Tadulako, Okt. 2023. [Online]. Available: https://repository.untad.ac.id/id/eprint/121168/
