Ringkasan Inovasi

Di Desa Jambangan, lahan desa tidak lagi dipandang sebagai ruang kosong yang menunggu musim tanam biasa. BUMDes Karya Maju mengubahnya menjadi Jatera Agro, destinasi edukasi agrowisata yang berfokus pada budidaya melon hidroponik di dalam greenhouse.

Inovasi ini dirancang untuk menggerakkan ekonomi desa melalui wisata petik buah, penjualan melon premium, dan kunjungan belajar anak-anak sekolah. Sejak dikembangkan pada 2024, Jatera Agro telah panen empat kali, dengan hasil sekitar satu ton melon pada setiap siklus panen.​

Nama Inovasi:Jatera Agro, wisata edukasi petik melon hidroponik
Alamat:Desa Jambangan, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
Inovator:BUMDes Karya Maju Desa Jambangan
Kontak:0812 1785 8830
Email:Email: pemdesjamabangan5@gmail.com
Website:https://jambangan.magetan.go.id

Latar Belakang

Desa Jambangan berada di Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di tengah dorongan kemandirian desa, BUMDes Karya Maju melihat bahwa ekonomi desa perlu ditopang unit usaha yang lebih kreatif dan memberi nilai tambah.

Peluang itu muncul dari sektor agrowisata edukasi yang belum digarap serius di wilayah mereka. Pengurus BUMDes ingin menghadirkan ruang belajar pertanian modern bagi anak-anak TK dan SD, sekaligus membuka destinasi baru yang menarik keluarga.​

Sebelum menemukan bentuk usaha yang tepat, BUMDes sempat mencoba budidaya pisang dan pepaya hawai. Kedua upaya itu gagal karena serangan hama, sehingga usaha belum memberi hasil yang diharapkan. Pengalaman itu justru memperjelas kebutuhan akan sistem tanam yang lebih terkontrol dan lebih aman dari risiko lapangan.​

Inovasi yang Diterapkan

Inovasi yang diterapkan adalah Jatera Agro, sebuah agrowisata edukasi berbasis greenhouse dengan sistem hidroponik untuk melon jenis Sweet Hami. Model ini menggabungkan pertanian modern, wisata petik buah, dan pembelajaran langsung tentang cara menanam tanpa tanah.​

Cara kerjanya sederhana, tetapi kuat sebagai pengalaman wisata. Melon ditanam dalam greenhouse hidroponik, lalu saat memasuki masa panen, pengunjung dapat datang, memilih, dan memetik buah langsung dari kebun. Anak-anak sekolah juga dapat melakukan reservasi kunjungan belajar melalui BUMDes untuk mengenal budidaya hidroponik secara praktis.​

Proses Penerapan Inovasi

Perjalanan menuju Jatera Agro tidak dimulai dari keberhasilan, melainkan dari keberanian mencoba dan gagal. Setelah pisang dan pepaya hawai tidak berhasil karena hama, pengurus BUMDes menyadari bahwa pola budidaya lama tidak cukup aman untuk dikembangkan sebagai usaha desa.​

Titik balik datang pada akhir 2024, ketika BUMDes menerima bantuan usaha pemberdayaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Bantuan itu dipakai untuk melakukan perubahan strategi menuju greenhouse hidroponik, yang memberi kontrol lebih baik terhadap lingkungan tanam.

Dari situ, pengurus memulai budidaya melon sebagai usaha ketiga mereka. Mereka memilih varietas Sweet Hami, menyiapkan greenhouse, mengelola nutrisi hidroponik, lalu membangun pola promosi wisata saat musim panen tiba. Proses ini menunjukkan bahwa kegagalan sebelumnya tidak dibuang, tetapi diubah menjadi dasar keputusan yang lebih matang.​

Pelajaran penting juga muncul dari sisi pemasaran. BUMDes tidak berhenti pada produksi, tetapi membuka penjualan langsung untuk umum dan mengemas panen sebagai pengalaman wisata petik melon. Pendekatan itu membuat hasil panen tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga menjadi atraksi yang memberi nilai tambah lebih tinggi.​

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor penentu pertama adalah kepemimpinan usaha yang berani belajar dari kegagalan. Cahyo Susilo sebagai Direktur BUMDes Karya Maju menegaskan bahwa inovasi ini memang disiapkan untuk menambah daya tarik wisata dan membuka pertumbuhan ekonomi lokal.​

Faktor kedua adalah pilihan teknologi yang tepat. Greenhouse hidroponik memberi sistem budidaya yang lebih terkontrol dibanding upaya sebelumnya, sehingga risiko hama dapat ditekan dan kualitas hasil menjadi lebih terjaga.

Faktor ketiga adalah kemampuan BUMDes membaca pasar dengan cermat. Mereka menyasar dua pasar sekaligus, yakni sekolah untuk wisata edukasi dan masyarakat umum untuk wisata petik serta pembelian melon premium. Kombinasi ini membuat Jatera Agro tidak bergantung pada satu jenis pengunjung saja.​

Hasil dan Dampak Inovasi

Hasil paling nyata terlihat pada produktivitas usaha. Dalam waktu sekitar 70 hari tanam, Jatera Agro dapat memasuki masa panen, dan setiap panen menghasilkan sekitar satu ton melon yang langsung diserbu pembeli.​

Dampak ekonominya juga sudah terukur. Harga jual melon ditetapkan sekitar Rp25.000 per kilogram, sedangkan omzet pada pembukaan pertama masa panen mencapai Rp5 juta. Selama masa panen sekitar tiga sampai lima hari, pendapatan bisa meningkat hingga sekitar Rp20 juta.​

Dampak pasar terlihat dari jangkauan pengunjung yang terus meluas. Saat panen tiba, pengunjung tidak hanya datang dari Magetan, tetapi juga dari Madiun dan Ponorogo untuk merasakan sensasi petik sendiri. Testimoni pengunjung juga menegaskan bahwa buahnya lebih manis, tempatnya bersih, dan pengalaman memetiknya terasa berbeda dari membeli di pasar.​

Dampak kualitatif lainnya muncul pada citra desa dan fungsi BUMDes. Jambangan tidak lagi hanya dilihat sebagai desa biasa, tetapi sebagai desa yang mampu menghadirkan pertanian modern menjadi wahana edukasi dan sumber pendapatan. BUMDes Karya Maju pun memperkuat posisinya sebagai lokomotif ekonomi desa, sejalan dengan dorongan Pemkab Magetan terhadap peran BUMDes.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan Jatera Agro bertumpu pada dua hal, yaitu mutu budidaya dan kesinambungan pasar. Selama greenhouse, nutrisi hidroponik, dan kualitas buah tetap terjaga, pengunjung akan terus melihat Jatera Agro sebagai tempat belajar sekaligus belanja hasil panen premium.​

BUMDes juga memiliki fondasi kelembagaan yang cukup kuat untuk menopang keberlanjutan itu. Laporan pertanggungjawaban BUMDes Karya Maju menyebut usaha greenhouse melon hidroponik NFT memberi kontribusi signifikan terhadap pendapatan BUMDes, sementara total pendapatan BUMDes pada 2023/2024 mencapai Rp96.143.116. Dengan dasar itu, pengembangan kapasitas SDM, promosi, dan kerja sama pihak ketiga menjadi langkah logis untuk memperpanjang umur usaha ini.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Model Jatera Agro layak direplikasi oleh desa lain karena menawarkan formula yang jelas. Desa dapat memulai dari lahan terbatas, memilih komoditas bernilai tinggi, lalu menggabungkan produksi pertanian dengan pengalaman wisata dan pendidikan.

Untuk scale up, desa lain perlu meniru cara berpikir Jambangan, bukan sekadar meniru greenhouse-nya. Kuncinya ada pada keberanian mengevaluasi kegagalan, memilih teknologi yang sesuai, dan membangun pasar sejak awal melalui kunjungan sekolah dan wisata keluarga. Ketika model itu diperluas, desa-desa lain bisa menciptakan sumber PAD baru, lapangan kerja lokal, dan identitas ekonomi yang lebih kuat.