Desa Krandegan Purworejo Terapkan AI dan IoT, Raih Juara Tiga Desa Digital Nasional

Ringkasan Inovasi

Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berhasil mentransformasi diri menjadi desa cerdas berbasis kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), dan energi terbarukan. [1] Inovasi tata kelola digital ini bertujuan meningkatkan kualitas layanan publik, memperkuat ketahanan pangan, dan mengangkat perekonomian warga melalui platform digital yang terintegrasi dan dikelola secara mandiri oleh SDM lokal desa. [3]

Krandegan meraih Juara 3 Lomba Desa Digital Tingkat Nasional 2025 yang penghargaannya diserahkan langsung oleh Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto kepada Kepala Desa Dwinanto, SE, pada puncak Hari Desa Nasional 15 Januari 2026 di Boyolali. [2] Desa ini juga telah berstatus Desa Mandiri berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) Kemendes PDT dan menjadi benchmarking resmi bagi 16 desa percontohan digital di Kabupaten Purworejo. [6]

Nama Inovasi:Ekosistem Desa Cerdas Krandegan — SiPolgan, Chatbot AI 24 Jam, Irigasi Tenaga Surya IoT, BUMDes Digital (Tokodesaku.id & Ngojol), dan Smart Environment berbasis CCTV & WiFi Desa
Alamat:Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah
Inovator:Dwinanto, SE (Kepala Desa Krandegan sejak 2013) bersama Tim Perangkat Desa dan Kader Digital Lokal Krandegan, didukung Pemprov Jawa Tengah dan Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)
Kontak:Website: krandegan.id | Chatbot WhatsApp: 0822-4149-9890 | Aplikasi Android: SiPolgan

Latar Belakang

Desa Krandegan yang berdiri di atas lahan seluas 800 hektare di Kabupaten Purworejo dulunya masuk dalam kategori desa tertinggal atau “desa merah.” [1] Infrastruktur layanan publik yang serba manual membuat warga kesulitan mengakses administrasi kependudukan secara cepat—setiap urusan surat-menyurat mengharuskan kunjungan fisik ke balai desa yang tidak selalu bisa dilakukan warga yang bekerja di luar desa. [3] Kondisi ini mendorong lahirnya kesadaran bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keniscayaan.

Di sektor pertanian, ratusan petani Krandegan hanya mampu panen sekali setahun akibat ketergantungan pada pompa diesel berbahan bakar solar yang menghabiskan biaya hingga Rp 800.000 per hari. [3] Biaya operasional irigasi yang sangat tinggi menggerus keuntungan petani dan membuat produktivitas lahan sawah seluas 200 hektare tidak pernah optimal sepanjang tahun. [3] Keterbatasan energi ini menjadi salah satu rantai kemiskinan paling nyata yang mendesak untuk segera diputus.

Kepala Desa Dwinanto yang mulai menjabat sejak 2013 menangkap peluang besar dari perkembangan teknologi digital untuk mengubah wajah Krandegan secara fundamental. [1] Secara kebetulan, hal ini selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021 Kabupaten Purworejo yang memiliki program smart village (desa cerdas) sebagai prioritas pembangunan daerah. [4] Sinergi antara visi kepala desa dan dukungan kebijakan kabupaten inilah yang menjadi bahan bakar seluruh proses inovasi panjang yang kini berbuah prestasi nasional.

Inovasi yang Diterapkan

Dwinanto merancang ekosistem digitalisasi desa secara berlapis yang mencakup lima pilar utama: smart government (SiPolgan dan chatbot AI), smart economy (Tokodesaku.id dan Ngojol), smart environment (CCTV pengawasan banjir dan WiFi desa), smart society (literasi digital warga), serta smart agriculture (irigasi tenaga surya berbasis IoT). [4] Inovasi ini lahir dari filosofi sederhana Dwinanto: “Digitalisasi bukan soal gaya-gayaan. Ini adalah keniscayaan yang harus kita jalani dan hadapi.” [3] Seluruh komponen dirancang, dikembangkan, dan dikelola secara mandiri oleh SDM lokal Krandegan tanpa bergantung pada vendor luar.

Secara teknis, chatbot AI yang diluncurkan pada Februari 2025 menjawab pertanyaan warga tentang KTP, Kartu Keluarga, status surat, dan profil desa secara real-time selama 24 jam melalui WhatsApp, laman krandegan.id, dan aplikasi Android SiPolgan. [3] Sistem irigasi tenaga surya berkekuatan 18.000 watt yang dikembangkan bersama Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) menggerakkan pompa berdebit 77 liter per detik secara gratis melalui kontrol IoT dari ponsel—menggantikan diesel yang boros dan mencemari lingkungan. [3] BUMDes digital mengelola Tokodesaku.id sebagai marketplace produk lokal dan Ngojol sebagai layanan ojek lokal dengan bagi hasil 80% untuk pengemudi dan 20% masuk kas BUMDes Krandegan. [4]

Proses Penerapan Inovasi

Proses digitalisasi Krandegan dibangun secara bertahap selama lebih dari satu dekade, dimulai sejak 2013 dengan penyiapan infrastruktur keras dan lunak secara paralel. [1] Dwinanto memprioritaskan penyediaan jaringan WiFi gratis di beberapa titik desa (sejak 2020), pemasangan CCTV pengawasan banjir, dan pengembangan aplikasi layanan dasar sebagai fondasi awal ekosistem digital yang kokoh. [4] Krandegan tercatat sebagai desa pertama di Kabupaten Purworejo yang memperoleh status IDM Desa Mandiri—pencapaian yang menjadi pendorong kepercayaan diri untuk terus berinovasi. [6]

Pengembangan sistem irigasi tenaga surya melewati proses panjang: dimulai dari program irigasi gratis berbasis donatur yang berjalan selama sembilan tahun, lalu Dwinanto mengajukan proposal PLTS kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. [1] Pemprov Jateng akhirnya mengucurkan dana Rp 450 juta untuk mewujudkan sistem irigasi surya yang mandiri dan berkelanjutan, dengan dukungan teknis dari UNS Surakarta dalam integrasi sistem IoT-nya. [3] Desa juga memasang alat pengusir hama burung berbasis sensor ultrasonik yang aman bagi manusia dan efektif melindungi panen petani dari gangguan burung pemangsa.

Pada Februari 2025, tim digital lokal meluncurkan chatbot AI setelah melalui fase eksperimen intensif dalam mengintegrasikan kecerdasan buatan ke sistem layanan yang sudah berjalan. [5] Pengujian awal menghadapi tantangan dalam memahami pertanyaan warga yang menggunakan bahasa Jawa dialek lokal—mendorong penyempurnaan database respons secara berulang hingga sistem semakin responsif dan akurat. [3] Dari 900 Kepala Keluarga di Desa Krandegan, 800 di antaranya telah mengunduh dan menggunakan aplikasi SiPolgan—tingkat adopsi 89% yang luar biasa untuk sebuah desa di pedesaan Jawa Tengah. [3]

Faktor Penentu Keberhasilan

Faktor utama keberhasilan inovasi ini adalah kepemimpinan visioner Dwinanto yang konsisten mendorong digitalisasi selama lebih dari satu dekade tanpa mengubah arah di tengah jalan. [4] Penelitian dari Universitas Diponegoro tentang Desa Krandegan menyimpulkan bahwa digitalisasi desa terjadi karena didorong oleh kepala desa berjiwa wirausaha (entrepreneurial spirit), didukung generasi milenial yang melek teknologi, dan dipercepat oleh momentum pandemi Covid-19 yang memaksa percepatan layanan digital. [4] Konsistensi visi kepemimpinan inilah yang menjaga momentum inovasi melampaui berbagai tantangan anggaran dan pergantian prioritas.

Keberadaan kader digital lokal yang terlatih menjadi pilar teknis yang memastikan setiap sistem berjalan tanpa bergantung pada vendor luar. [1] Dukungan institusional dari Universitas Sebelas Maret Surakarta dalam pengembangan sistem IoT irigasi dan dari Pemprov Jateng dalam pembiayaan PLTS Rp 450 juta memberikan booster yang mengakselerasi inovasi yang sebelumnya sudah berjalan secara mandiri. [3] Sinergi antara kepemimpinan desa, kader lokal, dan kemitraan akademik-pemerintah inilah yang menjadikan Krandegan berbeda dari ribuan desa pesaing di tingkat nasional.

Hasil dan Dampak Inovasi

Secara kuantitatif, pompa irigasi tenaga surya berhasil meningkatkan frekuensi panen petani Krandegan dari satu kali menjadi tiga kali dalam setahun. [1] Lebih dari 100 petani kini menikmati irigasi gratis—biaya irigasi yang sebelumnya mencapai Rp 800.000 per hari kini menjadi “hampir nol rupiah”—sehingga keuntungan petani melonjak signifikan dari lahan sawah seluas 200 hektare. [3] Lompatan produktivitas tiga kali panen setahun ini secara langsung melipatgandakan pendapatan petani dan memperkuat ketahanan pangan desa secara struktural.

Dari sisi layanan publik, chatbot AI dan SiPolgan memangkas waktu pengurusan administrasi menjadi cukup sepuluh detik melalui ponsel—tanpa harus hadir secara fisik ke balai desa. [5] Dashboard internal desa menunjukkan ratusan pengguna mengakses layanan chatbot setiap hari, baik dari dalam maupun luar desa, dengan 800 dari 900 KK (89%) telah mengunduh dan menggunakan aplikasi SiPolgan. [3] Warga yang bekerja di luar desa merasakan manfaat paling nyata: “Saya kerja di luar desa, tapi tetap bisa mengurus dokumen. Tidak perlu bolak-balik pulang ke desa, hemat waktu dan biaya,” ungkap Rina, salah satu warga Krandegan. [3]

Krandegan kini berstatus Desa Mandiri IDM—pertama di Kabupaten Purworejo—dan menjadi benchmarking resmi bagi 16 desa percontohan digital di Purworejo. [6] Prestasi Juara 3 Lomba Desa Digital Nasional 2025 yang diraih bersaing dengan ribuan desa dari seluruh Indonesia semakin mengukuhkan posisi Krandegan sebagai referensi nasional. [2] BUMDes digital yang mengoperasikan Tokodesaku.id dan Ngojol terus mengalirkan pendapatan ke kas desa sambil membuka lapangan kerja bagi pengemudi lokal dan UMKM desa. [4]

Tantangan dan Kendala

Tantangan terbesar dalam perjalanan inovasi ini adalah mengubah pola pikir sebagian warga dan perangkat desa yang masih mempercayai cara manual yang sudah puluhan tahun mereka jalani. [1] Resistensi perubahan sempat memperlambat adopsi beberapa platform digital terutama di kalangan warga lanjut usia dengan keterbatasan literasi teknologi—mendorong tim desa untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi door-to-door secara intensif. [1] Dwinanto dan perangkat desa rutin mengadakan pelatihan dan sosialisasi agar tidak ada warga yang tertinggal dari manfaat transformasi digital.

Keterbatasan anggaran menjadi tantangan nyata yang semakin menguat: program Desa Digital menghadapi disrupsi anggaran akibat kebijakan efisiensi Dana Desa yang memaksa pengelola berinovasi dalam mencari sumber pembiayaan alternatif. [7] Ketidakstabilan koneksi internet di wilayah pedesaan Purworejo pada jam-jam tertentu juga sempat mengganggu performa chatbot AI dan sistem layanan online yang membutuhkan koneksi data aktif. [7] Tantangan ini mendorong tim digital desa untuk merancang mekanisme layanan offline sebagai jaring pengaman saat jaringan internet terganggu.

Strategi Keberlanjutan Inovasi

Keberlanjutan inovasi dijaga melalui regenerasi kader digital desa yang dipersiapkan secara terencana agar sistem tidak bergantung penuh pada satu atau dua orang saja. [1] BUMDes digital yang mengelola Tokodesaku.id dan Ngojol menjadi sumber PADes mandiri yang sebagian hasilnya dialokasikan untuk pemeliharaan dan pengembangan infrastruktur teknologi desa—menciptakan ekosistem pembiayaan inovasi yang self-sustaining. [4] Ekosistem ekonomi digital ini memastikan roda pendapatan desa tetap berputar untuk membiayai inovasi berkelanjutan tanpa sepenuhnya bergantung pada Dana Desa.

Sistem irigasi tenaga surya yang tidak membutuhkan bahan bakar dan minim perawatan menjadi model infrastruktur berkelanjutan yang bisa beroperasi jangka panjang tanpa beban biaya operasional besar. [3] Pemerintah desa juga merancang pembaruan berkala pada seluruh platform digital agar teknologi yang digunakan selalu relevan dengan kebutuhan warga yang terus berkembang. [5] Dua pilar ini—BUMDes digital sebagai mesin pendapatan dan infrastruktur surya sebagai tulang punggung pertanian—bersama-sama menjamin inovasi Krandegan akan terus hidup jauh melampaui masa jabatan pemimpinnya saat ini.

Kontribusi Pencapaian SDGs

Ekosistem desa cerdas Krandegan berkontribusi pada setidaknya tujuh tujuan SDGs sekaligus—membuktikan bahwa inovasi berbasis teknologi di tingkat desa mampu menciptakan dampak lintas-dimensi yang jauh melampaui nilai investasinya. [4] Dari irigasi tenaga surya yang meningkatkan produksi padi hingga chatbot AI yang mendemokratisasi akses layanan publik, setiap komponen inovasi Krandegan merupakan kontribusi nyata pada agenda pembangunan berkelanjutan global yang dilokalkan hingga tingkat desa. [1]

No SDGs:Penjelasan
SDGs 1: Tanpa Kemiskinan:Irigasi tenaga surya gratis yang meningkatkan frekuensi panen dari 1 menjadi 3 kali setahun secara langsung melipatgandakan pendapatan petani dan mengangkat taraf hidup keluarga petani yang sebelumnya terperangkap kemiskinan akibat biaya diesel yang mencekik.
SDGs 2: Tanpa Kelaparan:Sistem irigasi IoT tenaga surya yang memenuhi sekitar 70% kebutuhan air sawah 200 hektare dan pengusir hama burung ultrasonik memperkuat ketahanan pangan desa secara struktural—menjamin ketersediaan pangan lokal sepanjang tahun.
SDGs 7: Energi Bersih dan Terjangkau:PLTS 18.000 watt yang menggantikan pompa diesel berbahan bakar solar adalah implementasi nyata transisi energi bersih di tingkat desa—menghapus emisi karbon dari sistem irigasi pertanian sekaligus menekan biaya energi petani hingga mendekati nol rupiah per hari.
SDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi:BUMDes digital yang mengoperasikan marketplace Tokodesaku.id dan layanan ojek Ngojol membuka lapangan kerja bagi pengemudi lokal dan UMKM desa, sekaligus mengalirkan pendapatan ke kas desa yang membiayai inovasi berkelanjutan.
SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur:Ekosistem teknologi desa yang mencakup WiFi gratis, CCTV, chatbot AI, IoT irigasi, dan aplikasi layanan publik SiPolgan membangun infrastruktur digital canggih di tingkat desa—membuktikan bahwa inovasi bukan monopoli kota besar.
SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh:Chatbot AI 24 jam dan SiPolgan yang memangkas waktu layanan administrasi menjadi 10 detik mewujudkan pelayanan publik yang inklusif, transparan, dan dapat diakses oleh seluruh warga—termasuk mereka yang bekerja di luar desa—tanpa diskriminasi.
SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan:Kolaborasi antara Pemerintah Desa Krandegan, Pemprov Jawa Tengah (hibah PLTS Rp 450 juta), Universitas Sebelas Maret Surakarta (dukungan teknis IoT), dan Pemkab Purworejo (penetapan sebagai benchmarking 16 desa) membuktikan model kemitraan multipihak yang efektif untuk akselerasi inovasi desa.

Replikasi dan Scale Up Inovasi

Krandegan telah menjadi destinasi studi banding resmi bagi puluhan desa dari berbagai wilayah Indonesia yang ingin mengadopsi model digitalisasi desa secara komprehensif. [6] Pemerintah Kabupaten Purworejo secara formal menetapkan Krandegan sebagai role model dan benchmarking bagi 16 desa percontohan digital yang akan dikembangkan di seluruh wilayah kabupaten—sebuah pengakuan kelembagaan tertinggi atas keunggulan inovasi Krandegan. [6] Modul pelatihan, dokumentasi sistem, dan panduan teknis yang telah tersusun menjadi paket transfer pengetahuan yang siap disebarluaskan ke desa-desa lain di Jawa Tengah dan seluruh Indonesia.

Strategi scale up diarahkan pada pembentukan klaster desa digital di Kecamatan Bayan yang saling terhubung dalam satu ekosistem layanan dan data terintegrasi. [1] Klaster ini memungkinkan berbagi infrastruktur server, sumber daya kader digital, dan platform pemasaran sehingga biaya transformasi digital dapat ditekan secara signifikan untuk desa-desa yang lebih kecil dan terbatas anggarannya. [4] Ketika model klaster terbukti efektif, Krandegan siap menjadi pusat pengembangan kapasitas desa digital di tingkat Provinsi Jawa Tengah—memberi manfaat nyata bagi ribuan desa lain di seluruh Nusantara.

Daftar Pustaka

[1] Kompas.com, “Di Puncak Hari Desa Nasional, Desa Krandegan Purworejo Ukir Prestasi Desa Digital,” regional.kompas.com, 15 Jan. 2026. [Online]. Available: https://regional.kompas.com/read/2026/01/15/193332178/di-puncak-hari-desa-nasional-desa-krandegan-purworejo-ukir-prestasi-desa

[2] Pituh News, “Desa Krandegan Jadi Inspirasi, Sukses Raih Juara 3 Lomba Desa Digital Tingkat Nasional 2025,” pituruhnews.com, 14 Jan. 2026. [Online]. Available: https://www.pituruhnews.com/2026/01/desa-krandegan-jadi-inspirasi-sukses.html

[3] GovInsider Asia, “Transformasi Desa Cerdas Krandegan: Dari Chatbot AI sampai IoT,” govinsider.asia, 5 Nov. 2025. [Online]. Available: https://govinsider.asia/indo-en/article/transformasi-desa-cerdas-krandegan-dari-chatbot-ai-sampai-iot

[4] R. Novita et al., “Peran Digitalisasi Desa terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Desa Krandegan, Kabupaten Purworejo,” Jurnal Kritis, Universitas Kristen Satya Wacana. [Online]. Available: https://ejournal.uksw.edu/kritis/article/download/8361/2454

[5] Pemerintah Desa Krandegan, “Pemerintah Desa Krandegan Maksimalkan Pelayanan Warga dengan Chatbot Kecerdasan Buatan (AI),” krandegan-bayan.desa.id, 7 Feb. 2025. [Online]. Available: https://krandegan-bayan.desa.id/artikel/2025/2/7/pemerintah-desa-krandegan-maksimalkan-pelayanan-warga-dengan-chatbot

[6] Kecamatan Bayan Purworejo, “Pemaparan Kepala Desa Krandegan dalam Ajang Lomba Desa Digital Nasional 2025,” kec-bayan.purworejokab.go.id, 11 Jul. 2025. [Online]. Available: https://kec-bayan.purworejokab.go.id/berita/detail/pemaparan-kepala-desa-krandegan-dalam-ajang-lomba-desa-digital-nasional-2025

[7] Pemerintah Desa Krandegan, “Nasib Program Desa Digital di Tengah Disrupsi Dana Desa,” krandegan-bayan.desa.id, 23 Jan. 2026. [Online]. Available: https://krandegan-bayan.desa.id/artikel/2026/1/24/nasib-program-desa-digital-di-tengah-disrupsi-dana-desa

[8] Radar Jogja, “Desa Krandegan, Purworejo Gunakan AI untuk Pelayanan Masyarakat, Pakai Chatbot,” radarjogja.jawapos.com, 2025. [Online]. Available: https://radarjogja.jawapos.com/jawa-tengah/2503230006/desa-krandegan-purworejo-gunakan-ai-untuk-pelayanan-masyarakat

[9] Universitas Diponegoro, “Mengenal Lebih Dekat Desa Krandegan, Kecamatan Bayan,” Jurnal JP-GS UNDIP. [Online]. Available: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jpgs/article/download/42273/30376

[10] Pituruhnews.com, “Desa Krandegan Mantap Menuju Smart Village, Hadirkan Chatbot AI dan Website Desa,” pituruhnews.com, 12 Des. 2025. [Online]. Available: https://www.pituruhnews.com/2025/12/desa-krandegan-mantap-menuju-smart.html

 


DISCLAIMER: Katalog Inovasi Desa dan Daerah Tertinggal ini merupakan hasil kerja sama antara Perkumpulan Gedhe Nusantara dengan Direktorat Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PPDT), Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Katalog ini berfungsi sebagai sumber rujukan untuk memudahkan pertukaran ide, pengalaman, praktik baik, dan kerja sama antardesa. Desa Bergerak Membangun Indonesia.